
Ceklek
Pintu kamar terbuka. Tuan Robert langsung memejamkan matanya dan berbaring dengan tenang.
"Masih tidur yang." Aruna mengamit tangan Lais.
"Nggak papa. Aku hanya ingin memastikan dia baik-baik saja." Lais membawa Aruna mendekati papanya.
Setelah dekat, Lais memeriksa cairan infus dan selang oksigen papanya. Ia membetulkan letak selang oksigen yang agak bergeser.
"Tuan Robert kelihatan lebih tua dibanding dulu." Aruna memperhatikan wajah Tuan Robert.
Sialan. Gadis kampung ini mengatai aku tua.
"Mungkin karena penyakit yang bersarang ditubuhnya." Lais membalas sambil mengamati wajah papanya.
"Kau tahu sayang, saat papa masih muda aku paling takut melihat matanya."
"Kenapa?"
"Matanya itu sangat tajam dan dingin. Kalau aku menatapnya, aku merasa seperti berada di tempat yang sangat menakutkan. Tempat yang gelap dan sunyi. Makanya aku jarang menatap mata papa, dan itu sering membuat papa marah apalagi jika dia mengajakku bicara tapi aku tidak menatap matanya." Lais mendesah mengingat masa kecilnya.
Jadi itu sebabnya.
"Semakin marah aku semakin takut. Ditambah kejadian itu, membuatku membangun duniaku sendiri. Saat kecil, hanya Revan dan Risa temanku."
"Sudah jangan diingat. Sekarangkan kamu sudah nggak seperti itu." Aruna mengelus lengan Lais.
"Kamu sudah berubah menjadi pribadi yang perhatian dan hangat. Terutama pada calon anak kita. Aw.. eh mereka nendang. Mereka membenarkan ucapanku rupanya."
Lais mengelus perut Aruna.
"Tenang ya, Nak! Jangan nendangin perut mama."
"Sepertinya mereka juga ingin bertemu sama kakeknya. Sayangnya kakeknya belum mau menerima mereka." gumam Aruna sedih.
"Sudah jangan sedih."
"Aku berharap Tuan Robert mau menerima mereka. Walau tidak menerimaku, asal menerima darah dagingmu ini, aku ikhlas." bisik Aruna.
Wanita ini.
"Lais, Aruna, Mama ke hotel sebentar ya! Mau mandi dan ganti pakaian."
Nyonya Robert masuk bersama Mak Nah.
"Iya ma."
"Mama sebentar kok. Nanti juga segera balik lagi kemari."
"Ma! Mama istirahat saja dulu! Biar Aruna yang jagain Tuan Robert." Aruna menyentuh bahu Nyonya Robert.
"Iya, Ma. Aku sama Aruna akan di sini. Mama istirahat dulu! Beberapa hari ini mama tidak beristirahat dengan baik."
"Baiklah kalau begitu. Nanti sorean mama balik. Mama pergi dulu." Nyonya Robert memeluk Aruna dan Lais bergantian. Beliau lalu keluar dari kamar dengan diiringi oleh Mak Nah.
__ADS_1
"Sayang! Kita duduk yuk! Kamu pasti capek berdiri terus." Lais membimbing Aruna untuk duduk.
Kenapa mereka tidak keluar. Jika begini, sampai berapa lama aku harus pura-pura tidur. Kalau aku bangun, apa yang harus aku katakan pada Lais dan gadis kampung itu?
"Sayang, bagaimana dengan nyonya itu?" tanya Aruna sambil menyandarkan kepalanya di dada Lais.
Tuan Robert kembali memasang telinganya untuk mendengarkan obrolan Lais dan Aruna.
"Siapa?" Lais membelai kepala Aruna.
"Itu. Nyonya Angela."
Kenapa wanita ini menanyakan Angela?
"Aku akan memberikan hak anaknya."
Anak?
"Bagaimana kalau dia bukan anak papamu?"
Anakku? Apa Angela hamil? Tapi bagaimana bisa? Aku sudah lama tidak menyentuhnya.
"Kalau itu terjadi, aku hanya akan memberikan apa yang semula menjadi miliknya. Tapi tidak akan memberikan sepeserpun aset papa."
Apa maksud Lais? Aku harus bicara dengannya.
Tuan Robert memutuskan untuk menyudahi akting tidurnya. Ia menggeliat.
"Sayang, papamu bangun." Aruna menunjuk dengan matanya.
"Tuan! Anda sudah bangun?'" Lais tidak memanggil papa. Ia ingat saat papanya mengusirnya.
"Begitukah caramu bicara dengan ayahmu?" kata Tuan Robert dingin. Matanya menatap Lais tajam.
"Bukankah Anda yang sudah memutuskan hubungan dengan saya?"
Tuan Robert mendengus.
Tok tok tok
"Maaf Tuan. Saatnya makan siang." seorang perawat masuk sambil.membawa jatah makan untuk Tuan Robert.
"Silahkan dinikmati dan setelah makan tuan harus minum obat ya! Saya permisi."
"Terima kasih, Sus." Aruna mengucapkan terima kasih saat perawat itu keluar dari kamar.
"Tuan makanlah dulu!" Lais menaruh makanan di pangkuan tuan Robert lalu meninggalkannya. Ia kembali duduk di sebelah Aruna.
Tuan Robert menatap kesal pada anaknya itu.
"Sayang, papamu mana bisa makan sendiri. Tangan kanannya ada selang infus." Aruna berbicara perlahan.
"Bisa. Dia bisa hidup sendiri pasti bisa melakukan semuanya sendiri." sindir Lais.
"Sayang, jangan begitu. Sana! Suapin papamu!" Aruna memerintah dengan gerakan kepalanya.
__ADS_1
Lais menatap tidak percaya kalau Aruna menyuruhnya menyuapi Tuan Robert. Sementara Tuan Robert berusaha makan sendiri dengan menggunakan tangan kanannya. Nampak ia sangat kerepotan. Berkali-kali makanan yang ia ambil jatuh kembali karena tangan kanannya yang terpasang selang tidak leluasa bergerak.
"Sayang, lihatlah beliau! Kasihan."
"Ck." Lais akhirnya bangun. Bagaimanapun ia mengeraskan hati, tetap saja ia tidak bisa melihat orang yang mengukir raganya itu dalam kesulitan.
Tanpa bicara, Lais mengambil tempat makanan dari pangkuan Tuan Robert. Ia kemudian menengadahkan tangan meminta sendok yang dipegang Tuan Robert.
"Kamu yang mau, bukan aku yang minta." ucap Tuan Robert angkuh sambil menaruh sendok di telapak tangan Lais.
" Jika bukan demi menyenangkan istriku, aku juga nggak mau melakukan ini." balas Lais tak kalah dingin.
Aruna menggelengkan kepalanya.
Ayah dan anak sama saja.
Lais menyorongkan sendok penuh dengan makanan kepada Tuan Robert. Pria paruh baya itu hanya menatap sendok yang berada di depan mulutnya kemudian beralih memandang Lais.
Lais menggerakkan tangannya minta Tuan Robert membuka mulutnya. Tuan Robert malah melengos.
Dia kira aku apa. Makanan sebanyak itu.
Aruna yang sudah tidak sabar melihat interaksi keduanya bangkit lalu mendekati mereka.
"Kalau sebanyak itu bagaimana papamu mau makan? Apa papamu harus membuka mulutnya lebar-lebar kayak kuda nil?" ucap Aruna memberi pengertian Lais dan tanpa sadar ia malah mengatai Tuan Robert mirip kuda nil.
What?!?Wanita kampung ini malah menyamakanku dengan kuda nil.
Lais tertawa dalam hati. Ia tahu Aruna melakukan itu tanpa sadar.
Aruna lalu mengambil sendok dari tangan Lais. Ia mengurangi isi sendok itu lalu memberikannya pada Lais. Lais menerimanya dan mengulurkan sendok.iti ke mulut Tuan Robert. Kali ini tuan Robert membuka mulut dan menerima suapan Lais.
Aruna kembali mengisi sendok dan memberikannya pada Lais untuk disuapkan ke Tuan Robert. Berulang kali mereka berdua menyuapi Tuan Robert.
"Sudah, cukup!" Tuan Robert mengangkat tangannya.
Aruna lalu mengambil air dan obat. Ia memberikannya pada Lais. Tanpa kata, Lais menyodorkan kedua benda itu pada Tuan Robert. Tuan Robert mengambil gelas berisi air dan obatnya. Dengan sekali teguk ia meminum obatnya itu.
Wanita ini!"
"Sayang, ayo kita duduk. Dari tadi kamu berdiri pasti kakimu pegal." Lais membimbing Aruna untuk kembali ke sofanya.
"Lais!" Suara Tuan Robert menghentikan langkah Lais. Lais menoleh.
"Bicaralah dengan papamu! Aku akan menunggu di luar." bisik Aruna. Namun saat ia akan melangkah keluar, Tuan Robert menghentikannya.
"Tidak perlu keluar."
Lais dan Aruna menatap Tuan Robert yang memalingkan wajahnya. Mereka tak percaya jika Tuan Robert mengijinkan Aruna mendengarkan pembicaraannya dengan Lais.
...----------------...
Kasih dukungannya ya readers....
Likenya dong, tinggal pencet jempol, nggak bayar juga 🙏🙏🙏🙏 biar nambah semangatku buat ngehalu...
__ADS_1