
Tuan Robert akhirnya menyelesaikan makannya meski membutuhkan waktu yang cukup lama.
TRANG
Ia menaruh tempat makannya di meja dengan keras. Aruna yang mendengar bunyi benda dibanting langsung menoleh. Saat tahu Tuan Robert selesai makan, ia mendekat untuk merapikan bekas makan Tuan Robert. Aruna juga mengambil air dan obat lalu menyerahkan pada Tuan Robert.
"Aku tidak mau minum obat." Tuan Robert melengos.
Tanpa banyak bicara, Aruna menyimpan kembali obat dan air minum ke atas meja. Ia lalu kembali ke sofa untuk melanjutkan membaca cerita dalam majalah.
Tuan Robert mendelik kesal karena Aruna malah tidak membujuknya. Ia hendak berteriak memanggil Aruna saat pintu kamarnya terbuka. Lais datang
"Sayang kamu baik-baik saja?" Lais langsung mendekat dan memeluk Aruna. Aruna mengangguk sambil membalas dekapan Lais.
Tuan Robert melihat itu dengan perasaan mendongkol.
Ia kira aku apa sampai menanyakan istri baik apa nggak.
Lais melepaskan pelukannya lalu mengecup kening Aruna. Ia juga menunduk untuk mencium perut Aruna.
"Kau tahu, aku tidak tenang harus meninggalkanmu sendiri di sini." kata Lais sengaja dikeraskan agar Tuan Robert dengar.
"Aku tidak sendiri. Ada mereka." Aruna mengelus pipi Lais lalu mengambil tangan Lais dan membawanya ke perut buncitnya. Lais kembali memeluk Aruna.
"Hem!!"
Meski Tuan Robert berdehem dengan cukup keras, namun Lais dan Aruna mengabaikannya.
"Kalian!! Bermesraan tanpa melihat tempat. Kalau sudah tidak tahan pulang atau cari hotel sana!" dengus Tuan Robert kesal. Mukanya memerah menahan amarah karena dicuekin.
Lais melirik papanya. Ia lalu mengambil berkas dalam tas yang tadi ia geletakan di sofa. Lais mendekati Tuan Robert dan menaruh map itu di pangkuannya.
"Saya rasa kondisi anda sudah cukup sehat untuk membaca keputusan ini! Ini adalah permintaan dewan direksi karena sekarang mayoritas saham bukan lagi ditangan kita."
Tuan Robert biasa saja mendapat kabar dari Lais. Ia tahu sebelum collapse kalau ada yang hendak menguasai perusahaannya. Mereka berhasil membujuk Angela untuk mengambil kembali apa yang dulu menjadi milik ayah Angela.
"Aku sudah tahu. Di mana aku harus tanda tangan?" kata Tuan Robert pasrah.
Lais heran melihat reaksi Tuan Robert. Semula ia membayangkan jika papanya itu akan marah besar dengan keputusannya memecah perusahaan.
"Kenapa anda langsung menyetujuinya?" Lais yang penasaran tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.
Tuan Robert menarik nafas dalam dan berat. "Sudah cukup. Sudah cukup aku mengorbankan keluargaku demi harta. Ketika aku collapse kemarin aku sadar jika aku mati maka tidak ada apapun yang akan aku bawa. Tidak harta dan juga kehormatan. Sekarang di mana aku harus tanda tangan?"
Lais membuka berkas dan menunjukkan beberapa dokumen yang membutuhkan tanda tangan tuan Robert.
"Anda tidak akan menyesal?"
"Aku sudah kehilanganmu dan mamamu. Sekarang aku tidak mau kehilangan cucu-cucuku. Beri aku bolpoint. Aku akan tanda tangan dan kau bisa mengurus kelanjutannya dengan cepat!" Tuan Robert menengadahkan tangan meminta bolpoin. Lais mengambil bolpoinnya dari saku dan menyerahkannya pada Tuan Robert. Lais masih belum bisa mempercayai jika papanya itu sudah menyadari kesalahannya.
Sementara itu Aruna yang mendengar pembicaraan mereka bersyukur karena ia bisa melihat kalau keluarga suaminya akan bersatu kembali.
"Tidak dibaca dulu?" Lais mengingatkan.
"Aku percaya padamu." Tuan Robert langsung membubuhkan tanda tangannya.
Lais merapikan dokumen itu saat papanya selesai menandatangani berkas yang ia bawa. Ia menatap papanya lama. Tidak ada penyesalan dalam wajah papanya justru papanya tampak lega.
"Masih ada satu masalah." ucap Lais hati-hati.
"Soal apa?"
"Angela menuntut pembagian aset untuk calon anaknya."
__ADS_1
Tuan Robert tersenyum sinis. "Anak itu bukan benihku. Jangan kau hiraukan kemauannya!"
"Anda yakin?"
Tuan Robert mengangguk. Ia tidak lagi memaksa Lais memanggilnya papa. Baginya jika nanti mereka sudah memaafkannya, maka semua akan kembali seperti semula.
"Kalau begitu aku akan membawa berkas ini ke pengacara perusahaan agar segera diurus." Lais membalikkan badannya.
"Boleh aku minta tolong?" ucapan Tuan Robert menghentikan langkah Lais.
Lais berbalik, "Apa?"
"Sampaikan kepada pengacara itu juga untuk membuatkan pernyataan perceraianku dengan Angela. Dulu saat kami menikah meski tidak ada buku nikah, tapi kami membuat pernyataan. Kini aku ingin melakukan hal yang sama."
Lais mengangguk.
"Terima kasih."
Malam harinya.
Aruna sedang membersihkan wajahnya sebelum berangkat tidur. Sementara Lais duduk bersandar pada headboard sambil membaca majalah bisnis yang memuat profil perusahaannya.
"Sayang tidakkah kau lihat kalau Tuan Robert sudah mulai berubah?" Aruna berjalan ke arah ranjang kemudian naik dan masuk ke dalam rangkulan Lais. Ia menaruh kepalanya di pangkuan Lais.
Lais langsung menutup majalahnya. Ia mengusap rambut Aruna.
"Kok nggak dijawab sih?" Aruna cemberut.
"Aku harus menjawab apa kalau aku sendiri belum yakin."
"Tapi ia sudah membuktikannya dengan menyetujui keputusanmu memecah perusahaan dan menceraikan Angela. Apa itu belum cukup?" Aruna menatap Lais.
Lais menarik nafas sambil menatap ke langit-langit kamarnya. "Kalau untuk aku pribadi, aku sudah tidak memusingkan ucapan dan sikap papa saat mengusirku. Tapi aku tidak bisa mengabaikan perbuatannya terhadap mama. Kau kan tahu, mama sangat menderita. Ia bahkan melakukan segala hal untuk memisahkan mereka sampai membuatku trauma sebagai akibatnya. Itu yang sulit aku maafkan." Wajah Lais nampak muram karena mengingat kekelaman masa lalunya saat belum bertemu Aruna.
Aruna bangun lalu mengecup pipi kanan Lais. Lais langsung menatapnya , tertegun. Melihat suaminya malah tertegun, Aruna kembali mencium pipi kiri Lais. Lais tersenyum.
"Sayang aku.."
Aruna menganggguk. Senyum Lais mengembang. Sudah beberapa hari ini ia tidak menyentuh istrinya karena sibuk memikirkan cara melawan musuh dalam perusahaan papanya. Lais kembali menyambar bibir Aruna, melakukan pemanasan sebelum akhirnya menyatukan diri mereka.
"Terima kasih sayang." Lais mengecup kening Aruna yang dipenuhi keringat.
"Capek ya?" Lais mengelus bahu polos Aruna. Aruna mengangguk lalu membenamkan wajahnya di dada Lais mencari tempat nyaman untuk lelap.
Lais memeluknya dengan erat. Gerakan kepala Aruna di dadanya membuat hasratnya kembali muncul. Bagian tubuhnya yang semula sudah tenang dan hendak tidur, kini bangkit dalam mode siap tempur.
"Sayang." Lais berbisik dengan suara serak. Ia membelai kepala Aruna dengan tangan kanannya. Tangan kirinya mengambil jemari Aruna lalu membawanya untuk menjamah serdadunya.
"Ah, kenapa bangun lagi?" pekik Aruna.
"Terlalu kangen mungkin. Jadi nggak cukup hanya sekali bertemu. Ia ingin bertemu lagi, mau ya? Aku akan hati-hati sehingga tidak akan melukai anak-anak kita." janji Lais lalu mulai menaikkan tubuhnya perlahan. Aruna hanya pasrah.
Baru setengah jalan sang serdadu berjuang, Lais dikagetkan oleh pekikan Aruna .
"Aw sakit!" Aruna meringis.
"Tahan sayang. Aku sudah pelan nih, masa sakit?" Lais yang merasakan kenikmatan masih memacu sang serdadu untuk terus menyerang. Matanya kadang terbuka kadang terpejam menikmati sensasi bertempur yang menguras keringat namun nikmat. Ia tidak menyadari jika wajah Aruna meringis menahan sakit.
"Sayang, kok basah. Kamu sudah ya?" Lais menatap wajah Aruna.
"Kamu kenapa?"
"Perutku sakit. Sepertinya mereka minta keluar sekarang gara-gara papanya sudah menunjukkan jalannya..aaaawww."
__ADS_1
Lais langsung menarik serdadunya keluar. Serdadu yang semula gagah perkasa, kini lesu karena kalah sebelum menyelesaikan misi.
"Ini kenapa ada air yang keluar?" Lais malah panik. Ia mengambil selimut dan menaruhnya di bagian inti Aruna berharap airnya akan berhenti keluar.
"Apa yang kamu lakukan?"
"A..aku menahannya agar mampet." jawab Lais bingung.
"Nggak akan mampet. Bawa aku ke rumah sakit!!!" teriak Aruna.
Lais melompat turun lalu berlari ke arah pintu.
"KAMU MAU KEMANA?!!!"
"Memanggil Pak Munir."
"PAKAI BAJU DULU!!!
Lais menunduk dan melihat tubuh polosnya.
"Ah sial. Kenapa aku sampai lupa?" Ia kemudian berbalik dan dengan tergesa memunguti pakaiannya.
Aruna tertawa di sela-sela rintihannya melihat kelakuan konyol Lais.
Selesai memakai baju, Lais melesat keluar. Ia kaget saat melihat Revan setengah berlari, turun melalui tangga dengan hanya memakai boxer saja
“Aruna”
“Nisa.”
Mereka berkata bersamaan lalu diam saling memandang dan akhirnya
tertawa.
“Tuan muda, Tuan Revan, kenapa anda berdua tertawa-tawa pada jam segini?” Pak Munir muncul.
"Nisa mau melahirkan." jawab Revan santai.
"Aruna juga kayaknya." Lais membeo
"Terus kenapa kalian malah santai di sini?!"
Pertanyaan Pak Munir menyadarkan Lais dan Revan. Mereka yang tadinya santai kini kembali panik.
"Ah kau sih!" Lais menyalahkan Revan.
"Kenapa jadi aku yang salah?" Revan tidak terima.
"Kalau kau tidak mengajakku tertawa tadi aku pasti sudah membawa istriku ke rumah sakit." omel Lais sambil menunjuk dada polos Revan.
"KENAPA MALAH BERTENGKAR?!?!" Pak Munir hilang kesabarannya menghadapi dua tuannya yang malam ini berlaku bodoh.
"Bawa istri-istri kalian turun! Aku siapkan mobil!" perintah Pak Munir tegas.
Revan dan Lais mengangguk patuh, lalu mereka kembali ke kamar masing-masing.
...----------------...
Aduh para bapak muda yang belum berpengalaman melihat istri melahirkan jadi bertingkah absurd kan?.
Nggak mau nanya othor sih. Kan othor juga sama...belum berpengalaman hehehe.
Hai readers sambangi karya baru othor ya..
__ADS_1
Jangan lupa kasih dukungan.