
"Tuan tidak apa-apa kan?!" tanya Aruna cemas begitu ia dan Lais sampai di mobil Lais. Lais tidak menjawab. Ia malah memeluk erat Aruna.
"Kau tahu. Aku takut sekali. Takut tidak bisa melihatmu lagi." bisik Lais. Aruna tersenyum dan balas memeluk Lais. Ia membenamkan wajahnya ke dada Lais merasakan detak jantung suaminya itu. Cukup lama Lais memeluk Aruna melepaskan kerinduannya.
"Tuan, apa kita akan begini terus?" tanya Aruna karena Lais tak kunjung melepaskan dekapan nya. Lais tersenyum. Ia melepaskan tubuh Aruna lalu mengangkat dagu Aruna. "Kamu maunya kita ngapain?" tanya Lais dengan senyum mesumnya.
"Ya kita kan harus... " kata kata Aruna tenggelam karena bibir Lais sudah membekap nya. Mata Aruna terbelalak kaget dengan serangan mendadak Lais. Namun lama lama mata itu menutup menikmati sentuhan Lais yang selama beberapa hari ini tidak ia rasakan.
"Apa kalau begini tidak apa-apa?" goda Lais.
"Tuan, maksud saya bukan itu. Maksud saya kita kan harus segera pergi dari tempat ini." jawab Aruna dengan muka memerah.
Lais menghela nafas. Air mukanya berubah. "Aku masih menunggu penjelasan papa." jawabnya.
"Kita bisa menemui papa di mansionnya tuan." usul Aruna.
"Jika aku melakukan itu, mama akan tahu. Aku nggak mau mama bersedih. Jadi aku tunggu papa menyelesaikan masalahnya dengan wanita itu di sini. Dan lagi, aku ingin menangkap dan menuntut wanita itu.Kita tunggu orang-orangku datang. Tadi aku sudah meminta mereka datang." kata Lais sambil menyandarkan tubuhnya di kursi.
Lais kembali menegakan tubuhnya dengan cepat saat ia melihat tiga sosok bayangan wanita keluar dari sisi lain gedung tua itu.
"Aruna. Kau tunggu di sini!" kaya Lais. Ia bersiap membuka pintu mobil saat Aruna mencekal tangan kirinya.
"Tian, aku ikut. Aku nggak mau di sini sendirian."
Lais menoleh, "Kau takut?"
Arina menggeleng. "Aku lebih takut jika terjadi apa apa denganmu." jawab Aruna dengan sorot mata penuh cinta. Mereka saling tatap, Lais membelai wajah cantik istrinya.
"Baiklah. Ayo!" Lais membuka pintu mobil dan keluar. Aruna melakukan hal yang sama.
Lais menggandeng Aruna menuju ke arah bayang tiga orang wanita yang tadi Lais lihat.
"Kemana mereka?" gumam Lais.
"Siapa Tuan?"
"Tadi aku melihat tiga sosok wanita keluar dari gedung itu di sekitar sini." jawab Lais sambil memandang ke sekeliling tempat itu.
"Tidak ada siapapun." Aruna berucap. Seperti Lais, ia juga mengamati daerah itu.
"Sepertinya mereka sudah pergi. Ayo kita kembali ke mobil!" Lais menarik tangan Aruna dan bergegas menuju mobilnya lagi. Aruna masih sempat menoleh ke belakang melihat tempat mereka mencari bayangan wanita yang Lais lihat.
Aruna membulatkan matanya saat ada tiga sosok wanita keluar dari persembunyian dan berjalan cepat meninggalkan tempat tadi. Aruna semakin kaget saat ia mengenali dua dari tiga wanita itu.
"Tidak mungkin." kata Aruna tanpa sadar.
"Apanya yang tidak mungkin?" tanya Lais heran mendengar perkataan Aruna.
__ADS_1
"Oh.. bukan apa-apa. Hanya tidak mungkin ada orang di sana." elak Aruna.
Mereka sampai di tempat mobil Lais berada. Lais membukakan Aruna pintu. Setelah Aruna masuk, Lais berjalan memutar dan masuk ke mobil. melalui pintu lain.
"Apa Tuan Robert masih di dalam?"
"Sepertinya masih. Kau lihat orang-orang papa masih berjaga di pintu keluar."
"Tuan, apa tadi Tuan benar-benar melihat ada orang keluar dari gedung itu?"
"Iya."
"Tapi ada banyak pengawal tuan Robert. Bagaimana mereka bisa tidak melihatnya?"
"Itulah. Sepertinya tiga orang itu bukan orang sembarangan." jawab Lais kembali menyandarkan tubuhnya.
Tuan benar. Mereka bukan orang sembarangan. Kalaupun pengawal tuan Robert melihatnya, pasti tidak akan berani menangkapnya. bathin Aruna.
Sementara itu di dalam gedung masih terjadi perdebatan antara Tuan Robert dan Angela.
"Robert percayalah. Aku hanya menjalankan tugas dari seseorang." kata Angela memelas.
"Tapi kenapa? Apa yang menjadi alasanmu menerima tugas itu, ha?!!" Tuan Robert marah. Ia resah karena hubungannya dengan Angela diketahui Lais. Sebenarnya tadi ia tidak ingin menampakkan diri. Tapi saat melihat Angela menggila dengan menyandera Aruna dan meminta Lais menyerahkan Revan dan Rendy, amarahnya muncul. Ia tidak lagi bisa menahan untuk tidak menangkap basah Angela.
"Aku... aku... terpaksa. Orang itu sangat kuat. Aku tidak berani menolak perintahnya. Ia bisa berbuat apa saja terhadapku."
"Kau jangan menghakimiku!" teriak Angela kesal, "Kau lama tidak menemuiku. Kau hanya menghubungiku lewat telepon. Tak pernah menemuiku. Kau juga lebih senang bersama istri sahmu daripada aku. Kau tidak lagi seperti dulu Robert." raung Angela menumpahkan kekesalannya.
Tuan Robert memandang Angela. "Angela, kali ini aku tidak bisa menolongmu. Lais susah dewasa. Aku tidak akan bisa lagi melakukan seperti yang aku lakukan dulu. Asal kau tahu, perbuatanmu dulu membawa trauma bagi putraku. Dan aku benci itu. Itulah kenapa aku jarang menemuimu."
"Jika kau membenciku kenapa kau masih peduli padaku?" kata Angela dengan tawa miris.
"Aku memang salah telah mendua. Tapi aku bukan pria yang tidak bertanggung jawab. Aku berharap kau bisa berubah dan menjalani hidup normal. Tapi nyatanya aku salah. Saat ini juga aku jatuhkan talakku padamu." kata Tuan Robert lalu pergi meninggalkan Angela.
"Tidak! Robert tunggu!! Kau tidak bisa menceraikanku begitu saja. Robert!" Angela berusaha meraih tangan Tuan Robert namun para pengawal Tuan Robert menghalanginya.
"Robert! Aku mau melakukan ini karena wanita itu bilang akan membantuku menjadi istri sahmu!" teriak Angela.
Tuan Robert menghentikan langkahnya. Ia berbalik.
"Wanita?" katanya dengan keras.
"Iya. Orang yang menyuruhku menculik gadis itu seorang wanita. Wanita yang sama yang menyuruhku menculik anakmu dulu." kata Angela.
Tian Robert mendekati Angela. Ia menengadahkan tangannya, "Berikan ponselmu!" perintahnya.
Angela langsung memberikan ponselnya. Ia berharap dengan memberikan ponselnya Tian Robert tidak jadi menceraikannya.
__ADS_1
"Kita tidak jadi bercerai kan?" kata Angela pelan.
Tuan Robert menerima ponsel Angela lalu memasukkannya ke saku jasnya. "Bawa dia!" perintahnya kepada para pengawalnya.
"Tidak! Robert kau tidak bisa memperlakukan aku seperti ini! Robert!"
Tuan Robert diam. Ia sudah tidak menghiraukan teriakan Angela.
Wanita, siapa dia.
Tuan Robert mengeluarkan ponsel Angela lalu berusaha membukanya.
"Ck.. di pasword lagi." gumam tuan Robert lalu memasukkan kembali ponsel itu ke saku jasnya. Ia lalu keluar.
Lais yang berada di mobil melihat Angela di gelandang keluar oleh para pengawal Tuan Robert. Ia segera turun dari mobil. Dengan diikuti Aruna, ia mendekati pengawal yang membawa Angela.
"Tunggu! Mau dibawa kemana wanita jahat ini?! " tanya Lais.
Aruna kaget dengan perubahan sikap Lais. Lais berani bicara deh orang asing.
"Tuan Muda, Tuan Robert menyuruh kami membawanya." jawab penga,wal itu.
"Aku tahu, tapi mau dibawa kemana? Kalian tidak bisa membawanya begitu saja. Dia masih punya urusan denganku." kata Lais.
Pada saat itu Tuan Robert tiba, "Kau mau apakan dia?" tanya Tuan Robert.
"Robert!" panggil Angela. Tuan Robert tidak mengacuhkan panggilan Angela. Perhatiannya fokus ke Lais.
"Aku akan membawanya ke pihak berwajib karena kejahatan yang ia lakukan." kata Lais tegas.
"Pikirkan dulu baik-baik. Dia akan papa amankan. Kalau kau susah membuat keputusan, Papa akan menyerahkannya padamu." kata Taun Robert. " Bawa dia dan amankan di markas kalian!"
"Robert, tidak!" teriak Angela. Namun para pengawal Tuan Robert sudah mendorongnya masuk ke mobil.
"Pa, aku tidak perlu berpikir. Aku akan menyuruh orang ku membawanya."
"Lais, ia tidak bekerja sendiri. Ada seorang wanita yang menyuruh nya. Kau harus selidiki siapa wanita itu Jika Angela langsung kau bawa ke kantor polisi, takutnya wanita itu justru kabur." kata Tuan Robert.
Lais diam, "Pa, ini bukan alasan papa agar aku melepaskannya kan?"
"Tidak!" jawab Tuan Robert pendek. Ia bergerak hendak meninggalkan Lais saat Lais memanggilnya lagi.
"Pa! Papa berhutang penjelasan pada-Mu Siapa Angela."
Tuan Robert menarik nafas dalam dalam sebelum akhirnya menjawab, "Dia istri kedua papa." Selesai menjawab, Tuan Robert masuk ke dalam mobilnya dan memerintahkan sopirnya untuk menjalankan mobilnya itu.
Lais yang shock mendengar jawaban Tuan Robert hanya berdiri mematung memandangi mobil papanya yang kian menjauh.
__ADS_1