Menikahi Pria Tak Sempurna

Menikahi Pria Tak Sempurna
Pengakuan Kirey


__ADS_3

Malam hari, Revan dan Rendy sudah berpakaian rapi. Mereka menuju kamar Lais. Setelah beberapa kali mengetuk, akhirnya Lais membukakan pintu untuk mereka.


“Kau belum bersiap?” tanya Revan mengangkat alis melihat Lais masih mengenakan celana pendek dan kaos.


“Kalian saja yang berangkat. Aku nggak.” Jawab Lais santai. Ia lalu melempar tubuhnya ke ranjang. “Aku mau tidur saja.” Lais melengkungkan tubuhnya memeluk bantal.


“Yakin?Nggak pengen membalas Henry?” tanya Rendy.


Lais menatap kedua temannya sambil tersenyum. Ia lalu duduk. “Ku rasa kalian berdua sudah cukup. Kau tahu kan apa yang harus kau lakukan, Van?”


Revan mengangguk. “Kartu as kita.” Jawabnya.


“Ya. Wanita itu pasti juga ada di sana malam ini. Cari tahu siapa yang menyuruhnya. Gunakan kartu as kita sebagai ancaman. Sekarang berangkatlah kalian! Aku mau tidur.” Lais menggerakkan tangannya mengusir Rendy dan Revan.


“Ck. Tukang molor!” omel Revan sambil berjalan keluar diikuti Rendy.


Lais hanya tersenyum tipis mendengar omelan Revan. Ia lebih senang tidur di kamarnya daripada memenuhi undangan makan malam Henry.


*****


Acara makan malam yang digelar Henry, bukanlah makan malam biasa. Banyak pebisnis dan para peserta pemeran yang datang. Revan dan Rendy yang baru masuk ke ruangan tempat makan malam digelar menatap takjub acara yang lebih mirip pesta itu.


“Hai, akhirnya kalian datang juga.” Henry menghampiri Revan dan Rendy. “Hanya berdua saja? Mana Lais?” Henry melihat kesana-kemari mencari keberadaan Lais.


“Ia tidak ikut. Sedang istirahat.” Jawab Revan.


“Apa dia baik-baik saja?” tanya Henry menunjukan sikap perhatian.


“Tidak. Dia tidak baik-baik saja. Dia luka-luka karena siang tadi dia kecelakaan.” Balas Revan


“Oh ya? Sayang sekali. Padahal besok pagi acaranya. Dia pasti tidak bisa tampil sempurna.” Henry menampakkan wajah kecewanya.


“Kan masih ada kami.” Jawab Rendy.


“Betul. Masih ada kami.” Revan menegaskan.


“Ah ya tentu. Aku lupa. Masih ada kalian.” Henry tersenyum lebar, “Oh ya. Silahkan menikmati malam ini. Kalau menghendaki teman dansa, kalian lihat di sana. Mereka siap kapanpun kalian mau.” Henry menunjuk ke sekelompok wanita yang sedang duduk bercengkerama. Tapi anehnya, para wanita itu mengenakan topeng pesta.


“Kenapa mereka bertopeng?Ini kan bukan pesta topeng.” Kata Rendy.


“Oh itu. Itu cara mereka membuat pria penasaran. Bukankah kalian menjadi penasaran juga?”


Revan dan Rendy tidak menanggapi ucapan Henry. Mata Revan tertuju pada sosok yang ia yakini adalah Kirey. Meski menggunakan topeng, ia masih bisa mengenali postur tubuh dan gerak gerik mantan istri Lais itu.

__ADS_1


“Kenapa kau tertegun? Apa ada yang menarik hatimu?” tanya Henry saat melihat Revan terus menatap Kirey.


Belum sempat Revan menjawab, terdengar kegaduhan. Para tamu saling berbisik bahwa ada tamu yang sangat penting tiba. Revan dan Rendy memutar pandangannya ke arah pintu. Dan alangkah kagetnya mereka saat melihat Robby tiba dengan para pengawalnya. Penampilan pria itu sangat berbeda dengan saat bertemu mereka sebelumnya. Malam ini, Robby menampakan aura bos yang sangat luar biasa. Sama seperti Lais saat masih menjadi CEO di perusahaan Tuan Robert.


“Kalian nikmati saja malam ini. Aku akan menyapa tamu pentingku dulu.” Kata Henry lalu meninggalkan Revan dan Rendy.


Saat perhatian yang lain tertuju pada Robby, Revan justru mengamati gerak-gerik Kirey. Ia melihat wanita itu mulai memasang jerat-jerat untuk menarik perhatian Robby. Ia melihat bagaimana Kirey berjalan mendekati rombongan Robby. Dan dengan bantuan Henry, ia berhasil mengenalkan dirinya pada Robby. Revan juga melihat kalau Robby tampak enggan meladeni Kirey yang terus berusaha menarik perhatiannya.


“Dasar wanita murahan.” Umpat Revan jijik dengan sikap Kirey.


Mungkin karena Robby tidak menanggapi setiap godaannya, akhirnya Kirey menyerah. Ia tampak kesal dan meninggalkan meja tempat Robby berada. Kirey terus berjalan ke arah luar.


“Ren, loe disini dulu. Gue keluar sebentar.” Pamit Revan pada Rendy.


“Mau kemana loe?” tanya Rendy.


Revan tidak menjawab. Ia mempercepat langkahnya menuju ke arah keluarnya Kirey. Revan mencari keberadaan Kirey saat ia sampai di luar tempat pesta. Ia bernafas lega saat melihat Kirey berdiri di taman. Wanita itu melampiaskan kekesalannyadengan menghentak- hentakan kakinya ke tanah.


“Kenapa?Kecewa


karena gagal mendapatkan mangsa?” ejek Revan membuat Kirey kaget. Ia langsungmenoleh dan semakin terkejut saat melihat Revan berdiri di belakangnya.


Revan?Kenapa dia bisa di luar?Apakah dia mengenaliku?Untung aku tidak melepas topeng ini. Aku bisa berpura-pura tidak mengenalnya.


“Siapa anda?” tanya Kirey yang sedang berpura-pura tidak mengenal Revan.


“Nyonya mantan? Siapa yang kau maksud nyonya mantan?Aku tidak mengenalmu.” Kirey meneruskan aktingnya.


“Sudahlah. Akting anda buruk. Buruk sekali. Jadi berhentilah berpura-pura tidak mengenaliku. Atau apa perlu aku sebutkan satu persatu masa lalu anda agar anda mengingatku, Nyonya Kireyna?” tandas Revan dengan tatapan dingin menghina Kirey.


Kenapa pria ini jadi menakutkan begini.


Merasa usahanya sia-sia, Kirey akhirnya memutuskan menyudahi kepura- puraannya.


“Apa maumu Van?”


“Akhirnya,” Revan masih tersenyum mengejek, “Anda cukup cerdas untuk mengetahui keadaan. Tidak ada apa-apa, hanya anda mendapat salam dari majikan saya, Tuan Lais.”


“Tidak mungkin salam yang baik kan?”


“Tentu! Anda pikir orang seperti anda pantas mendapatkan perlakukan baik? Tuan Lais bilang kejadian penusukan Nona Aruna ada saksi dan bukti. Jadi jika anda tidak ingin di seret ke penjara, hentikan merusak pameran kami.”


 Wajah Kirey memucat. Ia tidak menyangkan Lais masih menyimpan dendam penusukan Aruna.

__ADS_1


“Ah saya lupa. Satu lagi. Video perselingkuhan tak senonoh anda juga masih kami simpan dengan rapi. Tapi saya tidak bisa menjamin apakah seterusnya akan begitu atau bocor ke media masa.” Ancam Revan kemudian.


Wajah Kirey kian pucat. “Apa maumu bedebah?!!” Emosi Kirey mulai meluap.


“Bukan mauku, tapi mau tuan Lais.” Revan mengoreksi. “Sederhana. Siapa orang yang menyuruh anda menyabotase pameran kami? Jika anda sayang pada hidup anda sendiri, katakan. Jika tidak, ya anda tahu apa yang bisa Tuan Lais lakukan.”


“Hahaha.” Kirey tertawa. “Kau pikir aku tidak tahu kalau Lais sudah tidak sekuat dulu hah?! Hahahaha. Orang yang menyuruhku jauh lebih kuat dari dia. Aku tidak takut.” Jawab Kirey.


“Oh ya?Bagaimana kalau ku katakan Tuan Lais didukung Tuan Robert. Pria yang tadi berusaha anda taklukan? Masih bisakah anda tertawa?” sinis Revan.


Kirey langsung menutup mulutnya, “Tidak mungkin.” Jawabnya dengan suara gemetar. Ia sangat mengenal Revan. Ia tahu Revan bukan tipe pria pembohong.


“Terserah kalau anda tidak percaya. Dan anda rupanya sudah membuat pilihan. Jadi tunggu saja panggilan dari pengadilan!” Revan lalu memutar tubuhnya meninggalkan Kirey


“Tunggu!!!” seru Kirey.


Revan berhenti. Ia berbalik dan melihat Kirey mendekatinya.


“Apa kalian bisa melindungiku jika aku katakan siapa yang menyuruhku?” bisik Kirey sambil matanya melihat sekeliling.


“Anda takut ada yang mengawasi anda?”


“Ya. Orang itu menempatkan mata-matanya dimana-mana. Aku tidak akan menyebutkan namanya. Tapi aku bisa bilang, ia orang terdekat Lais dan kau juga mengenalnya. Sudah.Aku sudah memberimu petunjuk. Jadi kalian harus menepati janji.”


“Baik.Tapi jika anda bersekongkol dengannya lagi, maka kami tidak akan melakukan tawar menawar lagi dengan anda. Jadi jaga sikap anda.”


Revan tersenyum puas sambil meninggalkan Kirey. Ia kembali masuk ke ruangan pesta dan disambut dengan banyak pertanyaan oleh Rendy.


“Lama amat loe?Jangan bilang loe lagi enak-enakan ama cewek. Ingat bini loe lagi hamil.”


Revan menjitak kepala Rendy, “Otak mesum.”


“Hai,kalian disini juga?” Robby mendekati Revan dan Rendy.


“Ya begitulah.” Jawab Revan ramah.


Mereka segera berbincang dengan akrab dan hangat. Tanpa mereka sadari, Kirey yang telah kembali ke ruangan menatap ngeri ke arah mereka.


Jadi benar Lais didukung Robertus Filla. Untung aku mempercayai ucapan Revan. Kalau tidak, nasibku pasti sangat miris.


**Bersambung. 😀😀


Bukan sengaja menggantung. Tapi ngehalunya memang harus berhenti untuk memenuhi panggilan tugas negara.

__ADS_1


Semoga menghibur.


Beri komen yang baik dan menyemangati author ya....author manusia yang lembut hati dan mudah menangis 🤣🤣**


__ADS_2