Menikahi Pria Tak Sempurna

Menikahi Pria Tak Sempurna
Kursus Kilat


__ADS_3

"Sayang beneran tega membiarkan aku sendirian di rumah sebesar ini?" Tuan Robert membujuk istrinya yang sedang memasukan pakaian ke dalam koper.


Nyonya Robert hanya meliriknya saja. Jujur ia juga belum siap jika harus tinggal di mansion itu dengan keadaan Tuan Robert yang sudah berubah. Selama ini, dia terbiasa sendirian di kamar tanpa kehadiran suaminya.


"Maysa, sayang." Tuan Robert berdiri dan memeluk istrinya dari belakang.


"Lepaskan!" Nyonya Robert berusaha mengurai tangan Tuan Robert yang membelit pinggangnya. Kalau saja tidak ingat suaminya baru sembuh, Nyonya Robert pasti sudah menghempaskan tangan pria itu.


"Sayang, jangan pergi. Aku benar benar sudah berubah." Tuan Robert semakin menempelkan tubuhnya.


Nyonya Robert merinding saat merasakan sesuatu menusuknya.


Aku, aku belum siap untuk hal ini. Aku harus segera pergi


"Ikuti saja kemauan putramu baru kita bisa bersama." ucap Nyonya Robert berusaha berkata dengan nada normal. Ia lalu mengurai tangan Tuan Robert dengan sekuat tenaga. Begitu belitan itu lepas, ia segera menjauh.


"Aku berangkat. Minta Anton mengantar pakaianku." Nyonya Robert tidak mempedulikan  koper yang baru selesai ia tata. Dia tidak mau kalau Taun Robert memeluknya lagi.


"Maysa! Sayang!" panggil Tuan Robert. Nyonya Robert tidak mempedulikannya. Ia bergegas keluar dari rumah itu dan masuk ke mobil yang dikemudikan Pak Munir.


"Jalan, Pak. Cepat." titahnya sedikit cemas.


"Baik, Nyonya."


Pak Munir segera membawa keluar mobil mereka. Tuan Robert menatap sedih kepergian istrinya.


Baiklah. Jika jalan ini yang akan membuat kalian memaafkan aku. Aku akan menjalaninya dengan sabar. Akan aku buktikan jika aku bersungguh-sungguh.


Di rumah sakit.


Aruna sedang bersiap hendak pulang. Hari ini ia diizinkan pulang.


"Bu Ira, makasih ya sudah membantu Aruna."


"Ini tugas saya, Nona." kata Bu Ira lembut.


"Mak Nah juga. Makasih."


Mak Nah mengangguk. Matanya sesekali melirik Bu Ira.


T**ernyata istri Munir lumayan cantik.


"Dengan adanya kalian berdua menjaga anak kembarku, aku jadi lega."


Aruna benar-benar merasa senang saat Lais memutuskan tidak mengambil baby sitter tapi meminta Bu Ira dan Mak Nah untuk membantu merawat kedua anaknya. Sedangkan untuk tugas rumah, ia membayar seorang pelayan baru.


"Sudah siap?" Lais masuk setelah menyelesaikan pembayaran.


Aruna mengangguk.


"Ayo, kita pulang!" Lais mendekat lalu mengulurkan tangannya untuk menggandeng Aruna.


Kedua bayi mereka digendong Mak Nah dan Bu Ira. Tangan kiri Lais menyeret koper berisi pakaian Aruna.


Mereka lalu keluar dari rumah sakit itu.


***


"Akhirnya tiba di rumah lagi." seru Aruna gembira begitu turun dari mobil.


"Kalian sudah datang?" Revan muncul.


"Pak Revan. Apa mbak Nisa juga sudah pulang?" tanya Aruna penuh harap.


Revan mengangguk. "Dia ada di kamar sedang menyusui anak kami."


Aruna berlari ke arah kamar Nisa.


Lais menggelengkan kepala melihat tingkah laku istri kecilnya itu.


"Sabar, dia memang masih muda." komen Revan sambil tersenyum.


Lais tersenyum kecut lalu melangkahkan kakinya masuk. Revan membantunya membawa koper.


"Makasih, Van. Biar aku bawa masuk sendiri." Lais mengambil alih koper dari tangan Revan lalu membawanya masuk ke kamarnya. Ia langsung membaringkan tubuh penatnya ke ranjang.Pikirannya melayang.


Apakah tindakanku menjauhkan mama dan papa sudah benar? Aku hanya ingin tahu kesungguhan papa berubah.


Lais memijat pelipisnya saat merasakan kepalanya mendadak pening.


"Kamu kenapa?" Aruna mendekat. Ia ikut memijat pelipis Lais.


"Sayang. Apa keputusanku sudah benar?" Lais mengangkat tubuhnya dan berbaring di pangkuan Aruna.


"Keputusan memberi hukuman pada papa? Kurasa sudah benar. Tujuan kita baik. Kita nggak mau papa menyakiti mama lagi kan? Tapi tiga bulan kelamaan kayaknya. Kejam juga. Kuat nggak ya papa puasa selama tiga bulan."


Aruna terkekeh lirih. Ia tahu kalau seorang pria akan sulit menahan hasratnya. Lais saja sempat uring-uringan saat harus puasa empat puluh hari sambil menunggu nifasnya selesai.

__ADS_1


"Apanya yang lucu?"


"Nggak ada. Hanya membayangkan bagaimana frustasinya papa saat hasratnya tak tersalurkan."Aruna kembali tertawa.


Lais menjitaknya. "Dasar otak kotor."


"Hei, bukan kotor. Aku bisa membayangkan karena melihatmu, tahu." omel Aruna sambil mengelus keningnya.


"Memang aku kenapa?"


Aruna tersenyum. "Kamu marah kan saat tahu harus puasa empat puluh hari?"


"Ck. Aku kan beda. Aku masih muda."


"Eh,bagi pria tua muda sama saja kali."


"Dari Mana kau tahu?" Lais bangkit dan duduk sambil menatap lekat wajah Aruna.


"Ya tahulah."


Apa kamu pernah mencobanya sama yang tua?"


Mata Aruna membola. "Apa? Kau kira aku wanita apaan?" Aruna memberengut kesal. Ia tak habis pikir bisa-bisanya Lais bertanya demikian.


"Ya, siapa tahu. Kan dulu kamu dikejar-kejar sama rentenir tua itu." Lais makin menjadi.


Buk.


Aruna memukul Lais dengan bantal. Wajahnya memerah karena marah.


"Kau jahat!" serunya sambil beringsut dari duduknya.


"Mau kemana?" Lais mencekal pergelangan Aruna.


"Bukan urusanmu!" jawab Aruna sewot. Ia menghempaskan tangan Lais.


Lais malah menerkamnya hingga ia jatuh terlentang


"Minggir!" Aruna berusaha mendorong dada Lais yang menghimpitnya.


"Tidak sebelum kau tersenyum."


Aruna melengos menghindari tatapan Lais. Matanya berkaca-kaca.


"Kau jahat. Bisa-bisanya kau menuduhku demikian." ucao Aruna disela isaknya.


"BUKANKAH KAU YANG MERENGGUT MAHKOTAKU!" teriaknya membuat Lais harus menutup kedua telinganya.


"Eh sudah jangan menangis. Aku hanya bercanda." Lais berusaha membujuk Aruna.


"Kamu jahat!" Aruna memukuli dada Lais


"Iya aku jahat. Maaf. Aku hanya menggodamu. Aku tahu akulah yang pertama. Karena susah banget masuknya. Bahkan kamu menggigitnya dengan kuat. Kamu luar biasa hingga membuatku kecanduan."


Lais menciumi wajah Aruna. Aruna sedikit terhibur mendengar penjelasan konyol Lais. Ia menyusut air matanya dan berhenti menangis.


"Nah gitu donk." Lais membersihkan sisa air mata Aruna dengan jemarinya.


"Kembali ke masalah papa, menurutmu apa yang harus aku lakukan?" tanya Lais sambil duduk. Aruna ikutan duduk.


"Kita lihat perkembangannya saja." jawab Aruna lalu mengambil tangan Lais dan menggunakan lengan baju suaminya untuk menyeka hidungnya.


"Ih jorok." Lais langsung menarik tangannya sambil memandang jijik bekas ingus Aruna yang membasahi lengannya.


Aruna terkekeh melihat wajah kesal Lais.


Lais  semakin kesal. Ia langsung menerkam Aruna dan menghujani istrinya itu dengan ciuman dan gelitikan.


Aruna berteriak minta ampun sambil.menahan geli yang amat sangat.


"Ampun sayang ah sudah. Geli!"


Ceklek.


"Lais, Aruna. Oh. Maaf mama tidak mengganggu kan?" Nyonya Robert berdiri kikuk  dan serba salah.


"Nggak kok Ma. Nih lagi memberi hukuman pada menantu mama yang jorok." Lais bangkit dari atas tubuh Aruna lalu duduk.


"Masuk saja, Ma!" Aruna membenahi bajunya lalu menyusul suaminya duduk.


Nyonya Robert masuk dengan langkah ragu. "Beneran mama nggak mengganggu?"


"Enggak, Ma. Dia lagi libur panjang. Nggak bisa dipakai." jawab Lais jujur.


Aruna memukul Lais dengan bantal.


Nyonya Robert tersenyum bahagia melihat keakraban pasangan muda itu.

__ADS_1


"Kamu yang sabar. Sudah kodrat wanita begitu."


Lais mengangguk.


"Tapi, kalau sangat pengen bisa kok dengan cara lain." ucap Nyonya Robert sambil.mengulum senyum. Ia sadar anak dan menantunya ini nggak akan mungkin berpikiran sampai ke sana secara Aruna masih sangat muda dan belum banyak pengalaman sedangkan Lais meski usianya jauh lebih tua dari Aruna, namun dari segi pengalaman mereka sama saja.


Aruna dan Lais saling pandang.


"Sudah, kamu keluar. Biar mama kasih istrimu kursus kilat!" Nyonya Robert menarik tangan Lais.


"Tapi, Ma. Bukankah akan lebih gampang kalau belajarnya sambil praktek? Di perusahaan saat kami memberi pelatihan pada karyawan langsung sambil praktek."  ucap Lais.


Nyonya Robert menjitak kepala anaknya. "Dasar kurang ajar, apa kau mau praktek di depan mama, hah? Sudah sana keluar. Nikmati saja hasil kurusnya nanti. Prosesnya bagaimana, kamu nggak perlu tahu." Nyonya Robert mendorong tubuh Lais keluar kamar. Lais menatap Aruna memohon pertolongan agar ia tidak diusir keluar. Lais ingin melihat bagaimana mamanya mengajari Aruna dan apa yang ia ajarkan pada Aruna.


Bukannya menolong, Aruna justru memberikan ciuman jarak jauh lalu melambaikan tangan membuat Lais  benar-benar kesal.


"Menjauh dan jangan menguping!!" tegas Nyonya Robert lalu menutup pintu dan menguncinya.


Lais berjalan lesu meninggalkan kamarnya. Di ruang tengah ia berpapasan denhan Revan.


"Hei kenapa tampangmu lesu begitu?" tanya Revan.


Lais merebahkan tubuhnya di sofa.


"Mama mengusirku dari kamar." Lais mengangkat bantal lalu menutupkan ke wajahnya.


"Ck. Mamamu sudah benar. Ia takut kamu khilaf. Aruna kan sedang nggak boleh dipakai."


"Bukan itu. Mama sedang memberi kursus pada Aruna bagaimana bisa melayaniku saat aku pengen meski keadaannya sedang terlarang. Aku ingin tahu tapi mama melarang."


"Oh ha? Sudah lamakah?" Revan antusias.


Lais menggeleng. "Mungkin baru mulai."


"Baguslah." Revan lantas berlari naik ke kamarnya


Baguslah. Apanya yang bagus. Dasar aneh.


Tak lama kemudian Revan kembali sambil menggandeng Nisa.


"Mas mau bawa aku kemana? Anak kita masih lapar. Aku harus menyusuinya." seru Nisa.


"Ini lebih penting demi masa depan kita." Revan membujuk Nisa.


Lais hanya memandang heran keduanya.


tok tok tok


"Sudah mama bilang jangan mengganggu!" omel Nyonya Robert sambil membuka pintu.


"Oh kalian. Ada apa, Van?"


Revan tersenyum kikuk. Nisa menyenggolnya.


"Ini Nyonya, Nisa juga mau belajar seperti Aruna." jawab Revan akhirnya.


"Oh." Nyonya Robert tertawa kecil.


Dasar anak muda.


"Ayo, Nis! Masuk! Kita juga baru mulai kok.


Nisa mengangguk lalu masuk.


" Kamu tunggu di luar dan menjauh dari pintu!" hardik Nyonya Robert.


Revan mengangguk dan memberi hormat. "Siap, Nyonya. Saya nggak butuh prosesnya. Asal hasilnya memuaskan." balasnya nyengir.


Nyonya Robert menggelengkan kepalanya lalu menutup pintu. Revn bergegas ke tempat Lais. Ia menjatuhkan tuhnya di sebelah Lais.


"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau membawa Nisa ke kamarku?"


"Karena aku juga ingin Nisa belajar seperti Aruna. Belajar bagaimana memanjakan suami." Revan tersenyum.


"Ck." Lais berdecik lalu merebahkan tubuhnya ke sandaran sofa dan menutup wajahnya dengan bantal.


"Lais!" Revan menyenggol Lais.


"Hm."


"Apa kamu tidak penasaran apa yang Nyonya Robert ajarkan?"


Lais membuka bantal yang menutuoi wajahnya. Ia menatap tajam Revan. Revan memberi isyarat agar Lais mendekat. Ia lalu membisikan sesuatu ke telinga Lias.


"Cerdas juga kau. Kenapa aku sampai lupa" Lais lalu berdiri. Mereka menuju ke ruang kerja Lais.


Lais langsung membuka monitor cctv kamarnya. Hanya Lais yang bisa membukanya karena ia memberi sandi pada monitor itu. Dan dengan antengnya, mereka berdua mengikuti kursus kilat Nyonya Robert sambil sesekali tersenyum.

__ADS_1


"Malam ini kita harus menguji hasil kursus mereka!" Revan memberi ide.


Lais hanya tersenyum devil.


__ADS_2