
Lais menatap ke arah luar jendela mobil. Pikirannya dipenuhi pertanyaan akan kedatangan papanya yang langsung menanyakan keberadaan mamanya. Benarkah mamanya kabur?Dimana mamanya sekarang?Apa yang membuat mamanya kabur?
Berbagai pertanyaan memenuhi benak Lais.
"Ck." Lais berdecik lalu menghela nafas panjang.
"Kenapa?" tanya Revan yang sejak tadi diam-diam memperhatikan gerak-gerik Lais. Ia melihat semenjak meninggalkan apartemennya, Lais selalu memandang ke luar jendela dan sesekali menarik nafas panjang lalu menghembuskannya dengan kuat.
Lais memandang ke depan dan menggeleng. Lagi lagi ia menghebuskan nafas dengan kuat, namun kali ini dari mulutnya.
"Jangan bohong. Aku tahu kau gelisah. Apa kau memikirkan mamamu?" tanya Revan.
Lais mendongak dan kembali memandang ke luar jendela.
"Lais, kalau kau mengkhawatirkannya kenapa nggak menyuruh orang mencarinya?"
"Papa juga pasti sudah menyebar orang-orangnya untuk mencari mama. Tapi belum ada hasil juga kan? Lalu buat apa aku melakukan hal yang sama." tolak Lais.
"Ya..siapa tahu justru orang yang kau kirim mampu menemukan jejak Nyonya." kata Revan.
Lais diam. Dalam hati sejujurnya ia mengkhawatirkan keadaan mamanya, namun ia rasa kecewanya membuat Lais enggan mencari keberadaan mamanya.
Revan mengamati sahabatnya yang kembali diam.
"Benar nggak mau tahu tentang nyonya?" tanyanya.
Lais menoleh dan memberikan tatapan tajam pada Revan.
"Ok. Nggak usah menatapku seperti itu."
Lais kembali melihat ke arah luar.
"Aku tahu tentang sesuatu lho!" bisik Revan.
"Bisa diam nggak!!" bentak Lais ketus.
Revan diam. Tapi tak lama kemudian ia kembali bersuara.
"Bener nih nggak mau dengar info dari aku?"
"Diam!!!" geram Lais.
"Okay...diam!....diam." suara Revan lirih hampir tak terdengar Ia lalu melakukan gerakan mengunci mulut dan membuang kuncinya. Revan duduk menyandarkan kepalanya dan memejamkan mata.
Melihat Revan tidak lagi cerewet, Lais meliriknya.
Bukannya terus membujukku malah tidur
"Tuan muda, kita berhenti untuk makan siang?" tanya Pak Munir.
"Mm." balas Lais mengiyakan.
Lais kembali menoleh ke arah Revan saat mendengar dengkur halusnya.
Cepat sekali dia terlelap. Hidupnya santai seolah tanpa beban. Kehidupan yang selalu aku impikan.
"Jalan terus saja Pak! Kita cari tempat lain!" perintah Lais saat Pak Munir hendak berbelok ke sebuah resto yang terkesan mewah.
"Baik, Tuan Muda." jawab Pak Munir. Hatinya menjadi sedih. Ia pikir Lais sudah tidak mampu lagi makan di resto mewah seperti dulu.
"Tuan Muda mau makan siangnya dimana?" tanya Pak Munir.
"Yang enak dan belum pernah aku datangi Pak." jawab Lais. Maksudnya adalah warung biasa. Karena Lais belum pernah makan di warung biasa. Ia lalu mengikuti jejak Revan, bersandar dan memejamkan mata.
"Tempat yang belum pernah tuan datangi. Semua resto mewah sudah pernah ia datangi. Apa maksudnya?" gumam Pak Munir dalam hati. "Ah..aku tahu." Wajah keriput Pak Munir langsung ceria saat ingat warung langganannya jika ia sedang bepergian sendirian tanpa majikannya.
Tak lama kemudian, Pak Munir membelokkan mobilnya ke sebuah rumah makan sederhana namun bersih.
"Semoga sesuai dengan apa yang tuan Lais mau." doanya. Ia lalu memutar tubuhnya kebelakang.
"Tuan kita sudah sampai." Pak Munir membangunkan Lais dan Revan. Lais yang sebenarnya belum terlelap, langsung membuka mata.
"Dimana ini Pak?" tanyanya.
"Ini rumah makan langganan saya, tuan. Tempatnya bersih dan makanannya juga enak." Pak Munir ngecap.
__ADS_1
Lais membuka pintu dan turun, diikuti oleh Pak Munir.
"Tuan Revan?" tanya Pak Munir karena Lais tidak membangunkan Revan.
"Biarkan saja." jawab Lais.
Siapa suruh tidur.
"Tapi tuan?" tanya Pak Munir. "Baik tuan." jawabnya manakala mata Lais menatapnya memberi perintah untuk mentaatinya.
Pak Munir mendampingi Lais masuk ke rumah makan. Bak seorang guide, ia menunjukkan semua yang ada di rumah makan itu dan merekom makanan makanan yang menurutnya enak. Ia juga mengajari Lais bagaimana memesan makanan dan membayarnya. Karena rumah makan ini beda dengan restoran yang tinggal duduk lalu pelayan datang. Disini, mereka harus antri sambil.membawa nampan berisi piring kosong.
Lais mendengarkan ocehan Pak Munir sambil melihat antrian panjang di depannya.
"Dimana ambil baki dan piring?" tanyanya datar.
"Di sebelah sana Tuan. Maruli!"
Lais mengikuti Pak Munir. Ia melihat tumpukan baki dan piring. Ia memperhatikan orang-orang yang membersihkan piring dengan tisu batu menaruh di atas bakinya.
Lais menirukan apa yang orang itu lakukan. Ia membersihkan piringnya lalu menaruhnya di atas baki dan mulai mengantri
"Tuan! Biar saya yang ngantri. Tuan tunggu saja sambil duduk di kursi. Tian tinggal bilang makanan yang ingin tuan makan."
"Tidak perlu." jawab Lais pendek.
"Tapj tuan kan..."
"Bapak antri saja buat diri bapak sendiri. Aku bisa."
"Baik tuan." Hati Pak Munir kembali merasa sedih. Ia mengambil baki dan piring dan ikut mengantri sambil terus mengamati Lais dari belakang.
Penampilan tuan mudanya itu kini berbeda. Lais yang sehari-harinya mengenakan pakaian formal, kini hanya memakai kaos dan jeans.
Lais mengamati makanan yang tidak pernah ia jumpai sebelumnya.
"Mas nya mau makan apa?" tanya pelayan.
Lais mendongak. Ia melihat seorang pemuda tersenyum ramah kepadanya.
"Baik!"
Pemuda itu lalu menaruh nasi dan makanan lain di piring Lais.
"Ini yang paling laris?" tanya Lais heran sambil mengamati makanan yang ada di piringnya.
"Iya,tuan. Orang orang banyak yang memesan ini." jelas pemuda itu.
Lais membawa makanannya ke meja. Sebentar kemudian Pak Munir duduk bergabung dengannya.
"Kenapa,Tuan?" tanya Pak Munir saat melihat Lais hanya memandangi makannya.
"Ini sate apa?" tanya Lais yang heran melihat sate yang gemuk-gemuk.
"Itu...itu...sate brutu tuan." jawab Pak Munir yang merasa geli karena Lais memilih makanan yang ia tidak tahu itu apa.
"Brutu?!"tanya Lais sambil.mengernyitkan alisnya. Matanya menatap penuh tanya ke Pak Amir.
"Brutu itu..mmm...pantat ayam, Tuan." jawab Pak Munir ragu.
Wajah Lais langsung berubah. Perlahan ia mendorong piringnya menjauh. Ia lalu melirik piring Pak Munir.
"Kalau itu?" tanyanya.
"Ini nasi liwet, Tuan."
"Yang putih seperti gumpalan susu itu apa?"
"Oh..ini putih telur yang dikocok sampai berbusa, lalu di kukus kayaknya. Saya juga kurang tahu. Yang jelas ini telur." terang Pak Munir.
Lais mandang penuh selera. Pak Munir lalu menyodorkan piring makanannya kepada Lais.
"Kalau tuan suka, makan saja!" kata Pak Munir lembut.
"Bapak?" tanya Lais. Ia mengira Pak Munir akan menjawab kalau dia akan makan sate bahenol miliknya.
__ADS_1
"Saya...saya..mm..akan antri lagi." jawab Pak Munir menatap aneh ke piring Lais.
"Bapak nggak mau ini?" tunjuk Lais.
Pak Munir menggeleng perlahan.
"Tapi kata pelayannya ini paling laris dan enak ." gumam Lais.
"Selera kan masing-masing, tuan. Bagi orang lain enak, bagi saya belum tentu. Dan lagi, saya memang tidak suka dengan brutu dari dulu."
Lais paham. Ia lalu berdiri.
"Tuan mau kemana?" tanya Pak Munir.
"Mau ngantri lagi." jawab Lais.
"Tuan duduk saja. Biar saya yang antri. Makanan saya tadi buat tuan, kalau tuan mau. Kalau tidak tuan sebutkan saja mau makan apa." Pak Munir memegang tangan Lais dan memaksanya duduk.
"Tuan tolong. Ijinkan saya yanag antri daripada tuan salah memilih makanan lagi." pinta Pak Munir.
"Baiklah." Lais mengalah dan membiarkan Pak Munir yang mengantri.
Saat Lais tengah duduk menunggu Pak Munir, Revan datang. Ia langsung duduk di kursi depan Lais.
"Kenapa nggakbangunin aku?" semprot Revan.
"Buat apa?Kalau lapar kan bangun sendiri." jawab Lais.
"Wah enak nih." kata Revan mengomentari masakan yang ada di piring depannya. Ia tidak mengghbris jawaban Lais.
"Ini makananmu?" tanya Revan
Lais menggeleng.
"Punya Pak Munir?Oh ya kemana pak Munir?"
"Tuh!" tunjuk Laia dengan ekor matanya. Revan mengikuti arah mata Lais. Ia melihat Pak Munir sedang ngantri sambil membawa baki. Melihat Pak Munir mengantri makanan, Revan menyimpulkan kalau makanan di piring iti bukan punya Pak Munir
"Terima kasih. Ternyata kamu memang teman terbaik." puji Revan membuat alis Lais berkerut.
Revan tanpa sungkan langsung menyantap sate bahenol yang semula milik Lais itu dengan lahap.
"Mmm..enak." puji Revan dengan mulut penuh.
Lais menyipitkan matanya menatap geli ke arah Revan.
"Ini tuan." Pak Munir datang dan menaruh piring makanan di depan Lais. "Tuan Renan?!" seru Pak Munir saat melihat Revan lahap makan.
"Mm..kenaoa pak. Bukan punya bapak kan?"
"I.i...iya sih. Tapi..."
Lais mengkode Pak Munir dengan matanya agar Pak Munir tidak memberitahu Revan.
"Tapi kenapa, Pak?" tanya Revan.
"Oh..nggak. Bukan apa-apa. Silahkan lanjutkan." jawab Pak Munir lalu duduk
Sama seperti Lais, Pak Munir menatap geli. Sedangkan Laia menikmati makanananya tanpa melihat Revan.
"Wow..ternyata cita rasa masakan di rumah makan inj luar biasa." kata Revan memuji setelah selesai makan.
Lais menjauhkan piringnya yang masih ada sisa makanannya.
"Nggak enak ya Tuan?" tanya Pak Munir khawatir karena ia yang memilihkan makanan untuk Lais.
"Enak." jawab Lais.
Pak Munir diam menatap piring Lais.
"Pak Munir. Lais itu nggak bisa makan dalam jumlah banyak. Nggak kayak kita." Revan berkata saat ia melihat kekhawatiran Pak Munir.
"Oo...tapi tuan, maaf saya hanya menyarankan. Tuan sebaiknya menghabiskan setiap makanan yang tuan makan. Karena dalam setiap makanan itu ada berkahnya."
"Begitu ya pak." jawab Lais. "Tapi ...aku kenyang hanya dengan melihatnya makan." kata Lais menunjuk Revan.
__ADS_1
Kini Pak Munir mengerti. Lais hilang ***** makan saat melihat Revan makan brutu dengan lahap.