
"Hai. Ketulan yang manis kan?" Henry menepuk pundak Revan saat mereka bertemu di resto dekat hotel. "Kenapa nggak makan pagi di hotel?" tanya Henry, "Apa makanannya tidak cocok dengan lidah kalian?" sambungnya.
"Begitulah." Lais menjawab dengan datar dan dingin.
"Tsk!" decik Henry melihat sikap dingin Lais. "Tuan muda yang satu ini masih saja nggak berubah." komentarnya.
"Hen, apa setelah ini kami bisa ke galery?" tanya Revan sambiil mengunyah sandwich sarapannya.
"Hm." Henry mengangguk. "Perlu kendaraan dan sopir? Bisa hubungi sopirku yang kemarin." kata Henry. Laki-laki itu lalu sibuk karena ada panggilan di ponselnya.
"Iya sayang. Nggak sabaran amat. Bentar lagi aku datang." jawab Henry pada seseorang yang menelponnya.
"Aku duluan ya! Wanitaku sudah nggak sabar menungguku." kata Henry. "Oh ya kalau kalian berubah pikiran, stokku masih banyak." Henry tergelak lalu melangkah meninggalkan Lais, Revan dan Rendy yang masih menikmati sarapan paginya.
Rendy menatap kepergian Henry hingga pria itu menjauh.
"Hei, kenapa loe?" tanya Revan menyenggol lengan Rendy. Ia merasa heran dengan perilaku aneh Rendy.
"Nggak papa. Pria itu apakah bisa dipercaya?" ucap Rendy kembali menatap kearah menghilangnya Henry.
__ADS_1
"Kenapa? Loe meragukannya?" kembali Revan bertanya. Rendy hanya mengangkat bahunya.
"Sebenarnya aku juga ragu tapi saat ini kita butuh dia, jadi yang bisa kita lakukan hanya waspada." Lais yang sedari tadi diam ikut bersuara.
"Kalian kenapa? Apa ada sesuatu yang tidak aku ketahui? Kalian menyimpan rahasia?" Revan menatap Lais dan Rendy bergantian. Namun yang ia tatap hanya diam dan sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Sudahlah. Ayo kita ke galery saja. Melihat barang-barang kita!" ajak Lais sambil berdiri. "Van! Hubungi sopir Henry!" titah Lais.
"Yakin menggunakan dia?" tanya Rendy sangsi.
"Memang kenapa? Ayolah Ren, loe jangan bikin gue penasaran dengan sikap aneh loe." desak revan.
"Ya. Pria yang sosoknya aku lihat bersama Kirey semalam juga mirip banget dengan Henry." ucap Lais.
Revan diam, "Jadi itu sebabnya kalian menaruh curiga pada Henry?" tanya Revan kemudian
"Ya waspada aja sih." jawab Rendy.
“Sebenarnya apa sih yang loe denger, Ren?” Tanya Revan sambal menatap Rendy menunggu jawaban
__ADS_1
Lais pun menatap Rendy dengan penuh perhatian.
“Gue denger mereka berencana menyabotase salah satu peserta pameran. Intinya tuh cewek rela ngasih tubuhnya asala si cowok mau melakukan apa yang ia minta. Cuman, siapa peserta yang meraka berdua maksud, gue nggak tahu. Mereka nggak nyebutin.” Rendy menjelaskan.
"Apakah mereka juga membicarakan bagaimana rencana sabotasenya?" tanya Lais.
Rendy menggeleng, "Gue hanya denger tuh pria berjanji melakukan apa yang ceweknya mau. Dan sebagai gantinya, ia meminta tuh cewek melayaninya selama tiga hari full. Gitu doank." Rendy mengangkat kedua tangannya saat mengakhiri ceritanya
Lais dan Revan terdiam mencerna penjelasan Rendy.
"Terus gimana?Jadi pakai sopirnya si Henry apa nggak nih?" akhirnya Revan bersuara.
"Mending pakai taksi aja deh." usul Rendy.
Lais mengangguk setuju
"Ok. kalau itu yang terbaik." Revan menyetujui usul Rendy.
Revan lalu mencari taksi dan akhirnya mereka bertiga pergi dengan menggunakan jasa taksi.
__ADS_1
...***...