Menikahi Pria Tak Sempurna

Menikahi Pria Tak Sempurna
Lais Mulai Curiga


__ADS_3

Dua minggu sejak kepulangan dari Paris, Lais dan Revan disibukkan dengan mengatur pengiriman barang kerajinan ke para pemesan. Mereka cukup kewalahan karena semakin hari semakin banyak orderan tiba.


"Bagaimana dengan para pengrajin?" tanya Lais pada Revan.


"Rendy yang mengurusnya. Mereka sangat senang dengan peningkatan omset mereka karena kerjasamanya dengan kita."


"Hm. Baguslah. Bilang juga sama Rendy sekalian jagain mama!" titah Lais.


Revan menatap iba pada Lais.


Maaf jika kami harus menyembunyikan ini padamu. Demi kebaikanmu juga. Setidaknya sampai usaha ini berdiri kokoh. Kami butuh kamu memimpin kami dalam keadaan tenang.


Revan jadi ingat saat ia diminta Lais menjemput mamanya untuk tinggal bersama. Revan berangkat ke kampung Pak Munir dan mendapati kalau Nyonya Robert sudah tidak tinggal lagi di rumah kecilnya itu. Dari Rendy ia tahu kalau Nyonya Robert sudah dibawa oleh suaminya dan berpesan agar kejadian ini tidak disampaikan kepada Lais karena akan mempengaruhi konsentrasi Lais dalam mengembangkan usahanya.


Meski nyonya Robert tinggal bersama tuan Robert, ia masih bisa berkomunikasi dengan Lais. Namun ia tidak bilang jika ia bersama suami jahatnya itu.


"Van! Kenapa malah bengong?" hardik Lais.


"Ah nggak papa. Sampai dimana tadi?"


"Ck. Kau ini. Apa Nisa nggak memberimu servise yang memuaskan hingga otakmu jadi kurang vitamin begitu."


Revan hanya nyengir. Ia tidak menanggapi gurauan Lais seperti biasanya.


Tumben lempeng? Biasanya akan berkoar saat aku menggodanya.


"Ada apa Van?" Lais menatap tajam ke arah Revan.


"Hah?"


"Kamu kenapa?Nggak biasanya bersikap lempeng?"


"Maksudnya?" Revan pura-pura bingung.


"Ada yang kau sembunyikan?" Lais menyipitkan matanya.


"Nggak ada." Revan tidak berani menatap mata Lais. "Oh ya, rencana menyewa kantor baru bagaimana?" Revan berusaha mengalihkan perhatian.


"Dana kita sudah cukup?"


" Ya, lebih dari cukup."


"Kau aturlah!" titah Lais lalu berdiri dari kursinya. "Ngantor di apartemen ini juga kurang leluasa." lanjutnya sambil beranjak pergi.


"Tawaran Roby?" pertanyaan Revan menghentikan langkah Lais.


"Jangan terlalu bergantung padanya. Balasan yang ia minta juga belum kita lakukan. Aku tidak tahu apa rencananya. Jadi, kita harus waspada." Lais keluar dari apartement yang sekarang menjadi kantor baru mereka.


Maaf Lais. Belum saatnya aku jujur.


Revan menatap punggung Lais yang menghilang di balik pintu.


Lais berjalan gontai menuju mobilnya. Pak Munir langsung bersiap begitu majikannya tampak menuju ke arahnya.

__ADS_1


"Pulang tuan?" tanyanya.


Lais mengangguk.


Pak Munir membukakan pintu dan setelah Lais masuk, ia menutupnya dan segera ikut masuk lalu duduk di belakang kemudi


"Kalau sekarang ke kampung bapak, jam berapa kita sampai?" tanya Lais tiba-tiba membuat Pak Munir kaget.


"Kalau naik mobil sekitar enam jaman baru nyampe, tuan." jawab Pak Munir.


"Baik. Kita berangkat sekarang!" titah tegas Lais.


Bagaimana ini. Jika tuan muda tidak menjumpai nyonya besar di sana, dia akan tahu rahasia kami.


Pak Munir berpikir bagaimana menggagalkan keinginan Lais.


"Tuan, apa kita bisa mampir ke minimarket terdekat? Bukankah kita harus membeli perlengkapan pribadi?" tanya Pak Munir berharap Lais menyetujui usulnya.


"Baiklah." jawab Lais.


Pak Munir lantas mengarahkan mobilnya menuju mini market.


'Ini! Belanjalah apa yang kita perlukan!" Lais menyerahkan beberapa lembar uang kepada Pak Munir. Pria paruh baya itu segera menuju minimarket dengan berlari kecil.


Sesampainya di dalam, ia mencari tempat yang tersembunyi yang tidak tampak dari luar untuk menghubungi Aruna. Pak Munir menceritakan pada Aruna tentang keinginan Lais. Aruna meminta Pak Munir tenang agar Lais tidak curiga, dia yang akan menyuruh Lais pulang.Pak Munir lega saat mendengar ide Aruna. Ia lalu melanjutkan belanjanya.


Lais yang menunggu di mobil mendapat telepon dari Aruna.


"Yank kamu dimana?" suara Aruna dibuat semanja mungkin.


"Pulanglah cepat. Perutku sakit." rengek Aruna.


Lais yang mendengar kalau Aruna sakit perut, menjadi panik.


"Iya. Aku akan segera pulang." balasnya.


Aruna mengakhiri panggilannya. Lais menunggu Pak Munir dengan tidak sabar. Ia sangat khawatir dengan keadaan Aruna.


Pak Munir bergegas kembali ke mobil begitu selesai belanja.


"Pak, kita pulang saja." kata Lais pendek yang langsung membuat wajah Pak Munir cerah.


Rupanya Nona berhasil membuat Tuan mengubah keinginannya.


"Baik Tuan." jawab Pak Munir patuh.


Lais mengernyitkan alisnya saat Pak Munir tidak menanyakan alasan kenapa ia putar haluan.Dalam hati ia merasa kalau orang-orang di sekitarnya semakin aneh.


"Kalau ternyata istriku baik-baik saja, kita jadi berangkat ke kampung bapak." katanya sambil menatap wajah Pak Munir melalui kaca spion. Pak Munir berusaha tenang mendengar ucapan Lais. Ia tidak ingin membuat Lais curiga.


"Baik, Tuan." jawabnya pendek.


Lais semakin heran, tidak biasanya pria paruh baya itu penurut.

__ADS_1


Pasti ada sesuatu. Aku harus cari tahu.


"Pak, bagaimana kabar Mak Inah?" tanya Lais menyelidik.


Pak Munir sedikit gugup. "Saya jarang berkomunikasi dengannya tuan."


"Kenapa?"


"Menjaga diri saja tuan.Bagaimanapun dia adalah masa lalu saya. Cukup bagi saya sekedar tahu ia baik-baik saja bersama nyonya." jawab Pak Munir lalu menelan ludah karena sudah berbohong.


"Oo. Tapi bapak ada nomor teleponnya kan?"


Waduh kenapa tuan menanyakan nomor telepon Inah. Apa dia akan menghubunginya untuk menanyakan perihal nyonya besar.


"Sayangnya tidak tuan. Saya tidak berani menyimpan nomor telepon wanita lain tanpa setahu istri saya." Kali ini Pak Munir jujur. Dia memang tidak memiliki nomor ponsel Mak Inah.


"Sayang sekali. Padahal aku butuh untuk memantau keadaan mama. Karena aku yakin, mama pasti tidak akan menceritakan kalau terjadi apa-apa dengannya." gumam Lais.


glek


Pak Munir menelan salivanya. Meski bergumam, namun ia bisa mendengar dengan jelas.


Maaf Tuan. Semua demi kebaikan tuan.


Mobil yang Lais dan Pak Munir kendarai akhirnya tiba di mansion. Lais segara turun dan bergegas masuk.


"Bu Ira, Aruna dimana?" tanya Lais begitu bertemu Bu Ira yang membukakan pintu untuknya.


"Di kamarnya tuan. Nona bilang perutnya nggak enak." jawab Bu Ira yang memang sudah diberitahu Aruna akan kepulangan Lais serta rencananya agar Lais tidak pergi ke kampung Pak Munir.


"Kenapa nggak panggil dokter?" tanya Lais sambil mempercepat langkahnya menuju kamar mereka.


"Nona nggak mau. Katanya menunggu anda." jawab Bu Ira yang mengekori Lais.


"Sayang!" panggil Lais saat membuka pintu dan melihat Aruna meringkuk di atas ranjang besar mereka. Nisa duduk di sebelahnya.


"Run, aku keluar dulu. Suamimu sudah datang." pamit Nisa.


Lais mendekat dan duduk di tempat yang tadi diduduki Nisa.


"Kok bisa sakit sih?" Lais mengelus pipi Aruna.


"Nggak tahu. Bawaannya kalau jauh dari papanya sakit mulu. Minta dielus terus." Aruna memegang tangan Lais dan mengarahkan ke perutnya yang sudah mulai berisi. Lais mengelus perut itu.


"Anehnya kalau kamu yang ngelus, sakitnya hilang." kilah Aruna tersenyum.


"Beneran hilang?" tanya Lais. Aruna mengangguk.


"Jadi kamu jangan kemana-mana. Kalau sewaktu waktu perutku rewel, bisa langsung pulang mengelusnya." manja Aruna.


"Iya." Lais terus mengelus perut itu. Empu perut malah keenakan hingga terlelap.


Lais tersenyum melihat istrinya ketiduran. Ia lantas membuka jas dan kemejanya. Berganti pakaian rumahan dan ikut berbaring sambil memeluk Aruna.

__ADS_1


...***...


__ADS_2