
"Van cepatlah!" ajak Lais. Ia sudah rapi dan siap berangkat.
"Sebentar." Revan sibuk mengemasi laptopnya. "Sudah, Ayo!"
Mereka lalu keluar. Pak Munir sudah duduk manis di belakang kemudi. Lais dan Revan masuk ke mobil.
"Rumah bapak? Dibiarkan tanpa terkunci?" tanya Revan.
"Ada sepupu yang menjaganya, Tuan." Pak Munir mulai menyalakan mesin mobil. Merekapun berangkat kembali ke Jakarta. Bersama mereka turut serta pick up yang membawa barang-barang yang mereka beli di kampung seni.
"Pak untuk makan siang mampir di rumah makan yang dulu itu ya!" Pinta Lais, "Aku suka nasi liwetnya."
"Pindah tempat kenapa sih?" protes Revan.
"Memang kenapa? Nasi liwetnya enak. Bukankah satenya juga enak? Kau lahap sekali memakannya." sindir Lais.
"Sudah deh. Jangan meledekku." kata Revan kesal.
Lais dan Pak Munir tersenyum.
"Tapi bener? Nasi liwetnya enak?" tanya Revan penasaran.
ais mengangguk pasti.
"Aku mau mencobanya."
"Dengan lauk sate?" kembali Lais menggoda Revan.
"Lais!!" geram Revan.
Lais malah terbahak. Ia memutar kepalanya memandang ke luar jendela.
Mama
"Stop!!" teriak Lais secara tiba-tiba.
Pak Munir langsung menepikan mobilnya dan berhenti.
"Ada apa tuan?"
"Ada apa?"
Pak Munir dan Revan bertanya bersamaan.
Lais diam tidak menjawab. Ia memandang kebelakang ke tempat dimana ia melihat bayangan Nyonya Robert.
__ADS_1
"Lais? Apa yang kau lihat?" tanya Revan.
Jangan-jangan Tuan Lais melihat Nyonya yang tadi berdiri di tepi jalan mengantar kepergiannya. batin Pak Munir.Ah nggak mungkin. Banyak orang juga
"Bukan apa-apa." Lais menjawab pertanyaan Revan. "Tadi aku seperti melihat orang yang aku kenal." lanjutnya.
Pada saat itu juga, ponsel Pak Munir bergetar. Pak Munir mengangkatnya dan melihat ada pesan masuk dari Nyonya Robert. Segera Pak Munir membaca pesan itu.
"Pak Munir, kenapa berhenti?Apa Lais yang memintanya?Apa dia melihatku?" bunyi pesan Nyonya Robert.
"Sepertinya begitu Nyonya." jawab Pak Munir sambil mengamati Lais yang masih terus melihat ke arah kerumunan orang di pinggir jalan di belakang mobil mereka.
"Cepatlah ajak dia pergi, Pak! Oh ya, aku sudah menghubungi Rendy dan aku suruh menemui Pak Munir di rumah makan XX. Ajaklah Lais dan yang lain makan di sana, Pak!" pesan Nyonya Robert.
"Kebetulan Nyonya. Kami memang berniat ke sana." balas Pak Munir. Ia lalu menutup ponselnya dan menyimpannya kembali ke saku kemejanya.
"Tuan, kita lanjutkan saja perjalanan. Keburu siang!" ajak Pak Munir.
Lais kembali duduk menghadap depan. "Jalan!" perintahnya.
Pak Munir segera menjalankan mobilnya.
"Lais, sebenarnya apa yang kau lihat?" Revan masih penasaran.
Lais diam sebelum akhirnya bersuara, "Mama." jawabnya pelan.
"Telat!" kata Lais. "Sudah jauh." lanjutnya.
"Apa perlu kita putar balik. Siapa tahu itu beneran mamamu." saran Revan.
Mendengar itu Pak Munir menyela, "Tuan, kalau kita putar balik, nanti telat lo samapi rumah.'
"Iya sih. Tapi kalau itu memang Nyonya besar kan sayang kalau kita biarkan." jawab Revan.
Bagaimana ini? Sejujurnya aku ingin tuan muda dan nyonya besar bertemu dan saling memaafkan. Tapi pesan nyonya...sudahlah. Bismillah.
"Bagaimana tuan? Apa perlu kita putar balik. Pendapat Tuan Revan ada benarnya juga." kata Pak Munir akhirnya.
Lais diam bimbang.
"Lais, apa kesalahan mamamu tidak pantas untuk dimaafkan? Bukankah kalau dipikir-pikir, jika dulu mamamu tidak melakukan hal itu, kau tidak akan mengalami trauma dan kemungkinan kau tidak bisa bersama Aruna sekarang." kata Revan.
Lais menghembuskan nafasnya kuat-kuat.
"Lais..?"
__ADS_1
"Putar balik!!!" kata Lais tegas.
Revan dan Pak Munir tersenyum.
Maafkan saya nyonya. Saya rasa ini yang terbaik buat kalian.
Pak Munir memutar arah mobilnya menuju tempat di mana Lais melihat Nyonya Robert. Ia menghentikan mobilnya tepat di depan toko kue yang sebenarnya milik Mak Nah.
Nyonya Robert yang berada di dalam toko melihat ke luar melalui kaca jendela saat mendengar suara mobil berhenti. Ia melihat Pak Munir turun lalu di susul oleh Lais dan Revan.
"Kenapa Pak Munir malah membawa Lais kemari?" gumam Nyonya Robert. "Mak Nah! Temui mereka. Aku ke dapur dulu." kata Nyonya Robert.
Mak Nah segera ke depan dan menyambut Pak Munir, Lais dan Revan.
"Ada apa Nir?" tanya Mak Nah sambil menatap tajam Pak Munir.
"Ini, tuan muda ku ingin bertanya padamu." jawab Pak Munir lalu menunduk. Ia tahu apa arti tatapan tajam Mak Nah. Mak Nah menyalahkannya karena membawa Lais ke tokonya.
Lais lalu mengeluarkan ponselnya dan mencari foto mamanya. Ia menunjukkan foto itu pada Mak Nah, "Ibu melihat wanita ini? Tadi ia berdiri di depan toko ini. Apa dia masuk ke toko ibu untuk membeli sesuatu?"
Mak Nah melihat ponsel Lais lalu beralih ke Pak Munir. Pak Munir menganggukan kepalanya. Mak Nah lalu menyingkir dari pintu, "Silahkan! Beliau di dapur."
Lais ragu-ragu untuk masuk.
"Masuklah. Temui mamamu. Hidupmu tak akan bahagia tanpa doa dan restunya. Minta dia merestui dan mendoakan usaha kita!" bujuk Revan sambil menepuk lembut punggung Lais.
"Iya Nak. Tahukah kamu, tiap hari mamamu selalu melukis wajahmu untuk melampiaskan rindunya." kata Mak Nah.
"Melukis wajahku?"
"Iya. Dari wajahmu saat bayi, lalu kanak-kanak. Saat kau remaja dan dewasa. Ia juga melukismu bersama istrimu yang sedang hamil. Ia selalu cerita ingin melihat cucunya lahir. Tiap malam ia bangun untuk mendoakanmu." cerita Mak Nah.
"Iya tuan muda. Nyonya rela menderita berada di sisi tuan besar hanya demi anda. Ia ingin memastikan kalau kehidupan anda baik-baik saja. Saat ia tahu anda sudah sembuh dan bahagia bersama nona Aruna, ia merasa tenang dan memutuskan untuk meninggalkan tuan besar." Pak Munir ikut membujuk Lais yang tampak masih ragu untuk menemui Nyonya Robert.
"Mama." Lais bergegas menuju pintu dapur. Dengan mengarahkan tangannya ke handle pintu dengan gemetar. Perlahan, Lais memutar handle pintu itu.
"Apa mereka sudah pergi Mak?" tanya Nyonya Robert yang rupanya sedang membuat adonan kue tanpa melihat ke arah pintu." Syukurlah kalau sudah pergi. Dia tidak boleh melihat keadaanku yang seperti ini. Dia harus hidup bahagia bersama anak dan istrinya, Mak. Cukup aku yang menderita, jangan dia." lanjut Nyonya Robert masih sibuk dengan adonan kuenya.
Lais diam mematung melihat mamanya. Wanita yang biasanya selalu tampil cantik dengan pakaian mahal dan perhiasan yang tidak pernah lepas dari tubuhnya, kini berada di dapur dengan rambut dan wajah yang ternoda tepung. Baju sederhana dengan bahan yang sederhana pula. Wajah polos tanpa make up dan tanpa perhiasan.
"Ma!" suara Lais bergetar.
Tangan nyonya Robert langsung berhenti. Ia tidak lagi menguleni adonan kue. Ia juga tidak berani menoleh ke arah sumber suara. Matanya tertutup rapat. Tubuhnya bergetar menahan isak.
...***...
__ADS_1
Udah dulu, di sambung besok. Otor ada tamu nih.
Oh ya sambil nunggu up episode baru, baca juga karya otor yang lain ya..jangan lupa like dan komennya.