Menikahi Pria Tak Sempurna

Menikahi Pria Tak Sempurna
Kegalauan Aruna dan Tugas Angela


__ADS_3

"Tuan!" suara Aruna tercekat hampir tak keluar. Ia berdiri mematung di tempatnya.


"Lais?" tanya Tuan Robert dengan suara berat dan dingin.


"Dia sedang tidur." jawab Aruna. Dia tidak menatap Tuan Robert. Pandangannya ia jatuhkan ke lantai.


Bibir Tuan Robert terangkat menampilkan senyum sinis.


"Jadi ini acara yang kalian maksud. Bercinta di kantor. Bagaimana perusahaan bisa maju kalau bosnya kerjaannya hanya bercinta."


Aruna diam. Ingin ia berteriak mencerca Tuan Robert yang secara tidak langsung mengatai dirinya dan Lais, tapi ia tahan. Bukan karena takut tapi Aruna masih tahu adzab menghormati orang yang lebih tua sekalipun orangnya sangat menyebalkan macam Tuan Robert.


"Papa jangan khawatir, aku akan buktikan kalau perusahaan akan tetap jalan bahkan lebih baik dari sebelumnya." Lais tiba tiba sudah berada di belakang Aruna dengan penampilan yang masih lusuh khas orang bangun tidur. Ia berjalan ke sofa dan duduk di depan Tuan Robert.


"Ada perlu apa papa kemari?" tanya Lais datar.


"Memang harus ada tujuan khusus baru boleh kemari? Ini juga masih perusahaan papa." jawab Tuan Robert tak kalah dinginnya.


"Bukankah biasanya papa cukup ngecek via telepon. Jarang datang kecuali saat rapat dewan komisaris?"


"Tidak untuk kali ini. Mulai sekarang papa akan sering ke perusahaan atau perusahaan ini akan hancur." dingin sekali jawaban Tuan Robert.


"Apa maksud papa?!Papa tidak percaya pada Lais?!"


"Papa percaya padamu tapi tidak dengan orang yang ada di sekitarmu." sarkas Tuan Robert. Matanya melihat sekilas kearah Aruna yang tetap mematung di tempatnya. Berdiri sbil bersandar dinding kamar Lais. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. oIa tahu dialah orang yang Tuan Robert maksudkan.


Sedangkan Lais menautkan alisnya berusaha mencerna perkataan papanya. Ia mengira ada pegawai kantor yang papanya curigai.


"Mana Revan?" Tuan Robert mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Papa mencurigai Revan?"tanya Lais dengan sorot mata menyelidik.


"Kau gila. Mana mungkin papa mencurigai Revan. Hanya saja sejak masuk kantormu papa nggak melihatnya. Apa dia tidak bekerja hari ini?"


Lais bernafas lega. Sementara Aruna membatin, "Akulah yang ia maksud, Tuan." Aruna mendesah melihat Lais tidak menyadari sikap ayahnya pada dirinya. "Dia pasti mengira papanya sudah berubah karena peduli dengan mencarikanku guru perempuan." kembali Aruna membatin dan menghela nafas.


Lais menoleh, "Kenapa berdiri di situ?Sini duduk!" perintah Lais pada Aruna. Aruna menggeleng sambil tersenyum, "Saya ke kamar saja. Takut mengganggu pembicaraan kalian."


Aruna menyeret kakinya dengan diiringi tatapan sinis Tuan Robert menuju kamar Lais. Ia merebahkan tubuhnya dan menatap langit-langit kamar.


Tuan Robert sangat tidak menyukaiku. Apa bagus kalau aku tetap bertahan di sisi Tuan Lais. Jika aku terus bertahan, bukan tidak mungkin Tuan Robert akan melakukan sesuatu yang membuat aku pergi. Dan itu pasti akan menyakitiku. Sebelum itu terjadi, apa sebaiknya aku pergi saja? Tapi kalau aku pergi, bagaimana dengan Tuan. Trauma nya belum sembuh. Akankah itu memperburuk kondisinya?


Aruna gelisah. Sambil berpikir berkali kali ia membolak balikkan badannya. Cukup lama Aruna memikirkan langkah terbaik yang harus ia tempuh hingga akhirnya ia lelap karena kantuk yang tiba-tiba datang.


Aruna masih terbuai mimpi saat Lais duduk di sebelahnya sambil menatapnya penuh cinta. Ia membelai pipi Aruna perlahan. Ia menunduk dan memberi kecupan hangat di kening Aruna.


"Tuan."


Lais kaget dan menarik bibirnya dari kening Aruna.


"Aku membangunkanmu ya? Maaf!" katanya tersenyum manis.


Aruna mendudukan tubuhnya. "Apa Papa Tuan sudah pulang?" tanya Aruna sambil membersihkan sisa sisa tidurnya.


Lais mengangguk dan tangannya merapikan rambut Aruna yang berantakan.


"Maaf!" bisik Aruna sambil menunduk.


"Untuk apa?"

__ADS_1


"Tuan Robert memarahi Tuan karena saya kan?" Aruna masih menunduk. Tangannya berada di pangkuannya dan saling mengait resah.


"Biarkan saja. Aku tahu papa tidak menyukaimu." jawab Lais santai.


Aruna mendongak, "Tuan menyadarinya?"


"Tentu saja. Aku bukan orang bodoh."


"Kalau begitu kenapa Tuan mengijinkan guru wanita itu untuk mengajariku?" Aruna menatap Lais menuntut jawaban.


Lais tersenyum misterius. Ia mengacak rambut Aruna tanpa menjawab pertanyaan Aruna.


"Sudah siang. Ayo kita makan siang dulu." Lais bangkit, "Kutunggu di luar." Ia melangkah keluar meninggalkan Aruna yang kesal karena pertanyaannya tidak dijawab Lais. Aruna bangkit dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri lagi.


Sementara itu di tempat Lain, di sebuah apartemen, Angela sedang menimang kartu nama Rendy dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya memegang segelas wine. Ia memikirkan apa yang akan ia minta sebagai imbalan karena menolong Rendy.


"Revan... " bibirnya tersenyum tipis saat menyebut nama Revan. 'Mengapa kau membuatku penasaran." gumamnya lalu meneguk wine yang ada di tangannya. Mata melirik. ke atas meja saat melihat ponselnya berkedip.


Angela menaruh gelas winenya dan meraih ponselnya. Ia membuka pesan yang baru saja masuk ke ponselnya itu. Matanya melebar dan senyum jahat tersinggung di bibirnya.


"Rupanya kau masih membutuhkanku setelah sekian lama mengabaikanku." gumamnya lalu membalas chat di WAnya.


"Sepertinya aku harus menunda dulu keinginan mendapatkan Revan. Jika orang ini mengontakku, pasti ia punya tugas yang harus aku kerjakan." Kembali tangan Angela meraih gelas wine dan meminumnya.


"Apapun tugas itu, asalkan ada uang, aku pasti jalan." Ia berdiri lalu menari berputar-putar bahagia.


...🍃🍃🍃...


Maaf upnya lama.... semoga menghibur.

__ADS_1


__ADS_2