Menikahi Pria Tak Sempurna

Menikahi Pria Tak Sempurna
Menenangkan Sang Pangeran


__ADS_3

"Tuan." Anton bergegas masuk.


"Ini? Kenapa perempuan ini tidur di lantai?"


"Bukan tidur. Dia pingsan."


"Pingsan?!" Anton menatap Tuan Robert bingung.


"Sudah, jangan banyak tanya! Bereskan dia sebelum Nyonyamu masuk ke kamar ini lagi. Oh ya. Amankan dia sampai proses perceraianku dengannya selesai!" Titah Tuan Robert sambil menatap Angela dingin.


Maafkan aku Angela. Selama ini aku mengikatmu demi perusahaan ayahmu. Tapi kini aku sudah tidak memerlukan semua itu. Anakku sudah mengembalikan semua yang menjadi hakmu. Semoga kau bahagia bersama pria itu.


Anton dengan sigap menjalankan perintah tuannya. Ia membopong tubuh Angela ke luar dari kamar bosnya. Entah apa yang ia lakukan selanjutnya. Tuan Robert yakin Anton akan menyelesaikan tugas yang ia berikan dengan baik. Tuan Robert kembali berbaring sambil memegang ponselnya.


Lama sekali ia keluar. Apa ada masalah dengan Lais? Apa aku telepon saja.


Tuan Robert memencet nomor istrinya. Ia mendengar bunyi dering ponsel saat panggilannya terhubung.


"Rupanya ia tidak membawa ponsel." Tuan Robert mendesah lalu meletakkan tangannya dengan lesu.


Kenapa rasanya ingin sekali bertemu ya? Padahal baru juga sejam ia meninggalkan kamar ini. Ah..rasa ini menyebalkan tapi juga menyenangkan. Aku seperti jatuh cinta lagi. Sama seperti dulu


Tuan Robert tersenyum tipis.


Sementara itu Aruna menahan mamanya yang ingin kembali ke kamar Tuan Robert.


"Mama temani aku saja. Sebentar lagi cucu-cucu mama akan diantar ke sini untuk minum susu. Apa mama tidak ingin menggendongnya?" Aruna bergelayut manja di lengan Nyonya Robert.


"Tapi papamu sendirian." jawab Nyonya Robert khawatir.


"Minta Pak Anton menemaninya saja, Ma!" pinta Aruna memelas.


"Tadi mama memang sudah menyuruh Anton menemaninya. Tapi ada beberapa hal yang tidak bisa Anton lakukan." Nyonya Robert mencoba menjelaskan.


"Nanti kalau papa butuh mama, papa pasti menghubungi mama. Buktinya sampai sekarang, papa tidak menelpon mama kan."


"Tapi mama nggak bawa ponsel, Run. Ponsel mama ada di dalam tas dan tasnya ada di kamar papa. Bentar lagi juga saatnya papa makan." Nyonya Robert benar-benar gelisah.


Aruna tersenyum paham. Ia menyadari jika cinta mama mertuanya masih begitu kuat kepada suaminya meski sudah dijahati dan dikhianati.


"Baiklah. Aruna bisa mengerti. Mama boleh kembali ke kamar papa. Tapi setelah mama membantu papa makan, kembalilah kemari. Mama masih ingatkan kalau kita akan menguji kesungguhan papa?"


Nyonya Robert mengangguk. "Mama tidak mungkin lupa. Mama juga sangat ingin tahu sampai di mana kesungguhannya untuk berubah. Mama akan kembali untuk mengambil ponsel, setelah itu mama akan balik ke sini."


Aruna tersenyum, "Ingat, Ma. Biarkan papa makan sendiri. Jangan mau menyuapinya. Bilang saja mama capek. Dia memaksa mama atau tidak itu menunjukkan kepeduliannya pada mama."


"Maksudmu?!"

__ADS_1


"Kalau papa lebih memilih makan sendiri dan membiarkan mama istirahat tandanya ia mementingkan mama. Ia peduli sama mama. Tapi kalau dia memaksa minta disuapin, itu tandanya dia masih egois." Aruna mengakhiri penjelasannya dengan senyum jahil.


Nyonya Robert mengangguk-angguk paham.


"Aku akan melakukannya." Nyonya Robery bangkit lalau mengecup kening Aruna.


"Mama pergi dulu. Mama akan minta Mak Nah menemanimu!"


Aruna mengangguk.


"Semangat ya, Ma!" Aruna mengangkat tangannya dengan telapak tangan terkepal.


Nyonya Robert membalas dengan gerakan yang sama. Dia lalu melangkah meninggalkan Aruna.


"Sang ratu sudah pergi, saatnya menenangkan sang pangeran. Bismillah."


Aruna mengambil ponsel dan berusaha menghubungi Lais. Panggilannya tidak diangkat. Aruna mencoba lagi. Ia menoleh ke arah pintu saat mendengar bunyi dering ponsel.


Lais masuk sambil memandangnya.


"Apa?"ucapnya.


Aruna mengakhiri panggilannya karena sang pangeran sudah berdiri di hadapannya.


"Kangen." rengeknya manja.


Lais mendekat dan menyentil dahi Aruna.


"Bukan begitu. Dari tadi pun sebenarnya kangen, cuma malu ada mama." dalih Aruna. Ia langsung memeluk Lais. Lais diam membiarkan istrinya bermanja. Ia mengelus bahu dan rambut Aruna.


"Sayang, kalau suatu saat aku membuat kesalahan, apa kau akan memaafkanku?" bisik Aruna.


"Hmm kau sudah pernah tanya soal ini, kenapa bertanya lagi?" dengus Lais yang sudah bisa menebak kemana arah pembicaraan Aruna.


Aruna memberengut. Ia berpikir keras bagaimana cara bicara dengan Lais.


"Tadi mama cerita ke aku kalau kamu melihat mama dan papa berciuman. Apa kamu marah karena hal itu?" Aruna tidak lagi berbasa-basi.


Lais menarik nafas panjang.


"Aku hanya khawatir mama akan terluka lagi."


"Bener karena itu? Atau sebenarnya kamu tidak rela mama memaafkan papa karena kamu sendiri belum bisa memaafkan papa? Kamu merasa mama mengkhianatimu?" Aruna menarik wajahnya dari dada Lais. Ia menatap lekat wajah tampan sang pangeran yang sedang kalut.


Lais membalas tatapan Aruna sebentar lalu melengos.


"Apa aku salah jika aku merasa seperti itu. Mama pernah melakukan hal yang membuatku menderita lama. Semua itu karena papa. Papa memaksaku berkali-kali menikah hingga aku mendapat reputasi buruk dan julukan tukang kawin. Papa menghinamu dan tidak mau menerimamu sebagai istriku. Terakhir, papa mengusirku. Apa aku salah jika aku susah memaafkannya? Dan mama, dia di duakan untuk kurun waktu yang lama. Ia menderita selama papa bersama wanita yang tidak tahu malu itu. Kenapa mama begitu mudah memaafkannya?" panjang lebar Lais menguraikan isi hatinya.

__ADS_1


Aruna menatap iba pada sang pemilik hati. Ia kembali merangkul dan mendekap Lais.


"Aku tahu tidak mudah memaafkan tindakan papa. Tapi aku yakin, hidupmu akan lebih tenang jika kamu memaafkannya. Apa gunanya menyimpan kemarahan? Hanya akan mengurangi kebahagiaan kita saja." Aruna melepaskan dekapannya. Ia menangkup wajah Lais.


"Sayang, coba kamu bayangkan! Kita hidup bersama dengan bahagia. Saling sayang dan saling jaga. Jika saat ini papa ingin berubah, tugas kita adalah membantunya. Jika kau takut mama terluka, maka tugas kita memastikan kalau papa tidak akan bisa melukainya lagi."


"Maksudmu?" Lais kurang memahami ucapan Aruna.


"Ya, pastikan kalau papa tidak akan macam-macam. Ck, kamu pasti tahulah caranya." Aruna memberengut kesal karena Lais tak juga bisa menangkap maksudnya.


Lais tergelak. Ia jitak kepala Aruna. "Tak kusangka, di kepala kecilmu ini tersimpan akal licik juga."


"Sakit ih." Aruna mengusap kepalanya dengan bibir manyun.


Cup


Aruna kaget karena tiba-tiba Lais menyambar bibirnya. Matanya mengerjab-ngerjab memandang Lais.


"Kenapa?" Tanya Lais sambil mengulum senyum.


"Kurang." Aruna nyengir.


Lais lalu menarik tengkuk Aruna dan kembali mengulum bibir istrinya itu.


"Kenapa lama? Apa Lais membuat masalah?" Tanya Tuan Robert begitu istrinya masuk ke kamar.


Nyonya Robert menggeleng sambil tersenyum. Ia mendekat dan berbisik.


"Selamat. Hari ini kamu jadi kakek."


"Apa? Maksudmu cucu kita sudah lahir?" binar bahagia terpancar dari wajah dan mata Tuan Robert.


"Ya. Semalam. Itulah mengapa pagi ini mereka tidak datang. Tadi Lais datang untuk mengabari kita." Nyonya Robert kembali memasang senyum di bibir tipisnya. Cantik.


Tuan Robert menelan ludah. Dimatanya sekarang, Nyonya Robert sangatlah cantik dan menggoda.


"Mana hadiah untukku?" tanya Tuan Robert sambil mengulum senyum.


"Hadiah? Hadiah untuk apa?" jawab Nyonya Robert bingung.


"Biasanya orang memberikan selamat diikuti pemberian hadiah. Tadi kamu sudah memberiku selamat, hadiahnya belum." Tian Robert menatap penuh arti.


Nyonya Robert semakin bingung dengan sikap suaminya. Dia yang susah banyak pengalaman, tahu apa makna tatapan suaminya. Mukanya seketika memerah.


"Apaan sih? Sudah tua juga."


"Siapa bilang, aku belum tua sayang. Masih belum kepala enam lho." protesnya.

__ADS_1


"Iya. Kurang ." Nyonya Robert terkekeh menggoda suaminya.


Tuan Robert merasa keki. Ia menarik tangan istrinya dan saat tubuh yang sudah tidak muda namun masih langsing dan cantik itu jatuh ke pelukannya, bibir tuan Robert langsung mematuk mesra sasaran yang menggodanya sejak tadi.


__ADS_2