Menikahi Pria Tak Sempurna

Menikahi Pria Tak Sempurna
Kunjungan dr Risa


__ADS_3

Lais sedang memeriksa dan menandatangi beberpa berkas penting di mejanya. Ia mendongak saat Revan datang dan  menaruh map di hadapannya.


"Ini apa?" tanya Lais sambil mengambil salah satu map dan membukanya.


"Aku sudah menyelesaikan tugas darimu tempo hari. Semua data yang kau minta ada dalam map itu." Revan lalu melangkah ke arah sofa dan duduk di sana. Lais memegang map itu. Ia berdiri dan berjalan ke tempat Revan duduk.


"Kerja bagus." puji Lais sambil duduk. Ia lalu menaruh map di meja sofa.


"Apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanya Revan sambil mengambil camilan yang ada di meja dan memakannya.


"Aku akan menemui Angela,"


"Uhuk." Revan tersedak karena kaget mendengar jawaban Lais. Buru-buru ia mengambil air dan meminumnya.


"Kau yakin?"


Lais mengangguk. "Hanya itu cara agar aku bisa menyuruhnya menjauh dari keluargaku. Dan sebagai kompensasi, aku akan mengembalikan aset yang seharusnya menjadi miliknya." Lais menjelaskan idenya.


"Kau yakin ia akan menerimanya?"


Lais mengangkat bahu, "Tidak juga. Tapi patut di coba kan?"


"Kalau dia menolak?"


"Kita paksa dia menerimanya atau aku akan mengungkit kisah lama dan memenjarakannya. Bukankah aku saksi hidup." jawab Lais.


"Apa papamu akan tinggal diam jika kau melakukan itu? Bukankah dia dulu menutuponya juga."


Lais mendesah. "Kali ini aku tidak hanya akan melawan Angela tapi juga papa." gumamnya.


"Aku akan mendukungmu. Apapun langkah yang kau ambil, aku siap membantumu. Jangan lupa masih ada teman-temanku yang juga siap membantumu." Revan menepuk bahu Lais.


"Aku percaya padamu." Lais tersenyum. "Yang harus kita lakukan sekarang adalah menemukan dimana papa menyembunyikan Angela."


"Serahkan itu padaku." kata Revan penuh percaya diri.


"Hati-hati! Jangan remehkan kekuatan papa." Lais memperingatkan Revan.


"Tenang saja. Bukankah kita juga tidak bisa diremehkan?" Revan mengingkan Lais akan kekuatan yang mereka miliki.


Obrolan mereka terhenti oleh ketukan di pintu. Revan menyuruh orang yang mengetuk pintu itu masuk. Seorang wanita yang menjadi sekretaris Lais masuk,


"Tuan Revan, ada yang ingin bertemu dengan tuan Lais." kata wanita itu pada Revan. Sudah menjadi kebiasaan di kantor itu jika ingin bicara dengan Lais, maka harus melalui Revan. Karena traumanya, Lais tidak mau berbicara dengan orang asing.


Namun sekarang Lais sudah sembuh, ia menjawab sang sekretaris, "Siapa?"

__ADS_1


Wanita yang menjadi sekretaris Lais itu kaget. Ini pertama kalinya bosnya yang ganteng namun dingin itu berbicara padanya. Ia menjadi gugup dan menjawab pertanyaan Lais dengan tergagap. "E..e..namanya..Risa, Tuan."


Lais dan Revan saling pandang, "Risa?" mereka berkata bersamaan.


Revan langsung ingat pertanyaan Risa tempo hari yang semapt membuat Nisa sewot.


"Apa kau bilang padanya kalau Tuan Lais ada?" tanya Revan. Wanita itu menggeleng, "Saya hanya bilang akan memeriksanya ke dalam."


"Baguslah! Aku akan keluar menemuinya. Kau boleh pergi dan minta dia menunggu di ruangan khusus tamu." titah Revan pada wanita itu.


"Baik tuan Revan." jawab wanita itu lalu keluar.


"Apa kau akan menemuinya?" tanya Revan pada Llais setelah sekretarisnya tidak ada di ruangan itu, "Tapi saranku jangan!" lanjut Revan.


"Kenapa? Dia masih belum menjawab pertanyaanku. Aku ingin menanyakan langsung padanya." kata Lais.


"Pertanyaan apa?" Revan memandang penuh rasa ingin tahu.


Lais diam menimang apakah ia akan cerita ke Revan atau tidak. Akhirnya ia memutuskan untuk menceritakannya ke Revan.


"Saat aku membawa Aruna periksa, Risa bilang kalau aku harus menahan selama empat bulan untuk libur."


Revan mengernyitkan alisnya, "Libur? Maksudnya libur apa?"


"Libur..ya..libur." jawab Lais. Lalu ia melanjutkan dengan suara lirih, "Tidak boleh menanam rambut."


"Maksudmu apa?Apa kau juga di minta libur? Bukankah kau juga membawa Nisa ke sana untuk periksa."


"Tidak! Dia hanya berpesan untuk berhati-hati, melakukannya dengan pelan dan jangan terlalu sering. Nggak ada libur." jelas Revan.


"Lalu kenapa aku di suruh libur? Apa karena bayi kami kembar sehingga ia takut aku akan bekerja keras?"


 Revan menggaruk kepala tak mengerti dengan istilah kerja keras yang Lais ucapkan. "Apa hubungannya bayi kembar dengan bekerja keras?" tanyanya.


"Bukankah kau bilang menanam rambut, kalau bayinya dua kan ada dua kepala. Bekerja keras kan?" jawab Lais asal yang membuat Revan melongo.


"Ayo kita temui dia!" ajak Lais. Ia berdiri dan meninggalkan Revan yang masih terpaku ditempatnya. Saat Revan sadar, ia segera menyusul Lais.


Di ruangan khusu tamu, dr Risa duduk dengan gelisah karena ia sudah cukup lama menunggu namun Lais tak juga menemuinya.


"Hai Risa!"


Dr Risa menoleh saat mendengar seseorang menyaoanya, Ia melihat Revan masuk dan duduk di sofa berseberangan dengan tempatnya duduk.


"Hai, Van." jawab dr Risa sambil celingukan mencari Lais.

__ADS_1


"Mencari Lais?" tebak Revan,


Dr. Risa mengangguk."Dia kemana?" tanyanya kecewa.


Revan mengamati perubahan wajah dr Risa. "Ris, boleh aku tahu kenapa kamu mencari Lais?" tanya Revan.


Dr Risa tampak berpikir mencari jawaban untuk Revan. "Kita kan teman dari kecil. Nggak ada salahnya kan aku menemuinya."


"Tapi kenapa baru sekarang?Kenapa saat Lais butuh teman, kau tidak datang?" tanya Revan.


"Van! Sejujurnya saat itu aku takut. Aku akan berterus terang padamu. Aku menyukai Lais. Tapi kelainan yang Lais derita membuatku takut. Kau tahukan sikapnya pada wanita?" dalih dr Risa.


 Revan tersenyum kecut. "Terus sekarang untuk apa kau datang? Kau ingin merusak kebahagiannya?"


dr Risa kaget dengan tebakan Revan, "Tidak, Van. Aku ikut bahagia jika ia bahagia. Hanya saja aku tidak yakin dengan istrinya." jawab dr Risa.


"Tidak yakin?" tanya Revan.


"Iya. Aku merasa kalau gadis itu hanya memanfaatkan Lais. Kau lihat Van, ia masih sangat muda. Usianya terpaut jauh dengan Lais. Aku takut jika suatu hari nanti ia akan meninggalkan Lais saat sudah tidak membutuhkan Lais."


 Revan tergelak mendengar perkataan Risa, "Kau tidak mengenal Aruna, jadi wajar jika kau berpikiran demikian. Sejatinya Arunalah yang paling tulus pada Lais. Asal kau tahu, sampai hari ini, ia tidak pernah meminta apapun pada Lais selain diijinkan sekolah sampai lulus."


dr Risa diam. Ia masih belum percaya perkataan Revan. Meski jarang bertemu, tapi ia selalu memantau kehidupan Lais melalui surat kabar dan berita berita yang beredar. Perceraian Lais tidak luput dari pantauannya.


"Bukahkah kebanyakan istri Lais selingkuh." gumamnya.


"Tidak bisa dipungkiri, itu benar. Tapi Aruna dijamin tidak akan selingkuh." balas Revan.


"Kau begitu yakin, Van. Bayangkan ia gadis belia, merayu dan bahkan rela menjadi sitri pria yang pantas menjadi om bahkan pamannya. Apa motifnya kalu bukan harta. Jika sudah mendapatkan apa yang ia mau, ia juga akan meninggalkan Lais."


"Itu harapanmu kan?" tebak Revan. "Jadi jika kau berharap demikian, kenapa kau kemari? Untuk memprovokasi Lais agar meninggalkan Aruna?Kenapa harus memprovokasi Lais?Bukankah kau yakin kalau Aruna akan meninggalkannya suatu saat nanti?Kenapa tidak kau tunggu saja saat itu tiba?" cerca Revan.


dr Risa gelagapan mendapat serbuan pertanyaan dari Revan. Ia bingung dan menjadi salah tingkah. Ia tidak tahu kalau dari tempat yang berbeda, Lais sedang melihat dan mendengarkan percakapan mereka.


"Aku...aku.." dr Risa tergagap.


"Risa, kusarankan agar kau tidak menganggu rumah tangga Lais. Pendapatmu tentang Aruna salah dan Lais tahu itu. Jadi percuma jika kau ingin menjelekkan Aruna dihadapan Lais. Mereka saling mencintai. Jadi menjauhlah sebelum kau terluka nanti." kata Revan tegas.


Dr Risa diam. Dalam hati ia berpikir tidak ada gunanya memaksa bertemu Lais karena Revan pasti tidak akan mengijinkannya.


"Oh ya satu lagi. Apa maksudmu meminta Lais libu sampai empat bulan?"


"Itu...itu.."


"Itu apa? Kau pikir kau akan mampu merayu Lais saat ia sedang butuh, begitu? Kau mimpi. Kau tidak tahu ia mengidap apa. Jadi kubur mimpimu dan keluarlah dari kantor ini." usir Revan.

__ADS_1


Dr Risa sudah kehilangan muka di hadapan Revan. Ia langsung berdiri dan keluar dari ruangan itu bahkan keluar dari kantor Lais.


Kalau mau merayu Lais harus melewati pintu berlapis lapis....


__ADS_2