
Pak Malik menelan ludah. Mendengar ucapan Lais membuatnya susah bernafas karena dadanya tiba-tiba sesak oleh perasaan aneh yang menyeruak begitu saja.
"Kenapa aku ini." gumam Pak Malik lirih.
"Anda sakit?"
Lembut namun membuat Pak Malik berjingkat kaget.
"Mak Nah..sejak kapan ada di sini?" Pak Malik gugup karena Mak Nah mendadak ada di belakangnya.
"Saya..baru saja." Mak Nah juga gugup.
Kenapa aku jadi gugup begini.
"Mak Nah keluar pasti ada tujuab kan, ada apa?"
"Mm itu. Seruni mencari Pak Malik."
"Oh. Ayo kita kembali ke kamar Seruni kalau begitu." ajak Pak malik.
Mak Nah mengangguk. Mereka lantas kembali ke dalam kamar Seruni.
Malam hari
Pak Malik gelisah. Kata-kata Lais terus terngiang dalam pikirannya. Matanya sesekali melihat ke arah Mak Nah yang sedang duduk di sebelah ranjang Seruni.
Tuan Lais benar. Bukan Tuan Revan yang bisa mewujudkan keinginan Seruni, melainkan aku yang semestinya mepakukannya. Tqpi bagaimana memulainya. Kami belum begitu akrab. Aneh kalau tiba-tiba aku bicara soal itu padanya. Aahh.
Pak Malik gelisah. Ia lalu berdiri dan melangkah ke luar.
"Bapak mau kemana?" teriak Seruni yang melihat kepergian Pak Malik. Mak Nah juga menatap enuh tanya ke arah Pak Malik.
__ADS_1
Dari tadi pria itu gelisah terus. Apa yang sedang ia khawatirkan?
"Bapak tidak akan kemana-mana. Bapak ingjn mencari udara aegar di depan." jawab Pak Malik.
"Ke taman?" tanya Seruni lagi.
"Ya, ke taman depan." Pqk Malik mengangguk.
"Ok." Seruni mengacungkan jempolnya tanda memberi ijin.
Pak Malik melirik Mak Nah sebentar sebelum akhirnya membuka pintu kamar dan keluar. Ia menarik nafas panjang lalu melangkah ke arah bangku yang ada di taman depan kamar Seruni.
Aargh kenapa semua jadi rumit begini. Kenapa juga aku membiarkan Seruni memanggilnya ibu. Sekarang bagaimana? Jika aku memaksa memisahkan Seruni dan Mak Nah pasti akan ada pengaruhnya bagi kesehatan Seruni.
Pak Malik memijit pelipisnya untuk meredakan kepalanya yang mulai pening.
"Hem."
Pak Malik langsung berdiri saat melihat Mak Nah sudah ada di dekat tempatnya duduk.
"Silahkan!" Pak Malik melangkah memberi jalan agar Mak Nah bisa duduk di bangku yang tadi ia tempati.
"Terima kasih."
Mak Nah duduk.
Pak Malik tetap berdiri dengan canggung.
"Bapak tidak duduk? Silahkan jika mau duduk!" ucap Mak Nah.
"Eh, iya." dengan ragu Pak Malik meletakkan tubuhnya di bangku yang sama.
__ADS_1
Tadi aku begitu berani keluar untuk menjernihkan masalah kedatangan Tuan Lais dan Tuan Revan. Tapi kenapa sekarang aku malah bingung mau mulai bicara.
"Pak!"
"Mak!"
Pak Malik dan Mak Nah berkata bersamaan. Mereka lantas saling menatap dan tersenyum geli sekaligus canggung
"Silahkan, Mak bicara duluan!"
"Mm soal kedatangan kedua tuan tadi. Aku harap tidak membebani pikiran Pak Malik. Soal keinginan Seruni juga, semua pasti ada jalan keluar yang terbaik nanti." ucap Mak Nah memulai pembicaraan.
Kenapa dia berkata begitu? Apakah ini berarti dia tidak mau mewujudkan harapan Seruni? Menjadi ibu Seruni yang sesungguhnya.
"Oh soal itu. Saya juga tidak menganggap serius perkataan kedua tuan tadi. Mak Nah benar. Seruni mang harus segera disadarkan agar mampu menghadapi kenyataan." balas Pak Malik lesu. Bibirnya menyungging senyum dengan terpaksa.
Mak Nah menunduk.
Kenapa aku malah tidak merasa senang dengan jawabannya. Apakah karena aku akan berpisah dengan Seruni.
Mereka terdiam sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Sepertinya sudah tidak ada yang perlu kita bicarakan. Sebaiknya aku kembali ke kamar takut Seruni bangun." pamit Mak Nah sambil berdiri
"Ah iya. Sekalian aku mau pamit." balas Pak Malik ikut berdiri.
Mak Nah yang hendak berjalan, mengurungkan niatnya. Rasa penasaran tiba-tiba masuk ke dalam pikirannya.
Pamit. Apakah ini pertanda perpisahan.
...****************...
__ADS_1