Menikahi Pria Tak Sempurna

Menikahi Pria Tak Sempurna
Terkuak Part 3


__ADS_3

Aruna dan Lais samapi di apartemen Revan. Mereka turun dan mulai melangkah menuju unit milik Revan. Saat memasuki gedung, Aruna melihat Rendy yang sedang berjalan bersama seorang wanita. Mata Aruna menyipit demi bisa melihat wanita itu dengan jelas.


"Bukankah dia wanita yang bersama mama dan Nisa?" gumam Aruna.


"Kau ngomong apa?" tanya Lais yang sempat mendengarnya.


"Ah..bukan apa-apa." Aruna mengelak. "Tuan..itu kak Rendy!" Aruna menunjuk ke arah Rendy.


"Kak...!!" seru Aruna sambil melambaikan tangannya. Lais langsung menurunkan tangan Aruna yang melambai ke arah Rendy.


"Untuk apa kamu memanggilnya?" tanyanya. Terlihat sekali kalau Lais masih tidak menyukai Rendy.


Rendy yang mendengar panggilan Aruna memutar arah langkahnya menuju ke Aruna dan Lais.


"Apa kabar tuan?" sapa Rendy sambil mengulurkan tangannya. Dan ia sangat kaget saat Lais menerima uluran tangan itu dan menjawabnya.


"Baik! Kamu?" jawab Lais.


"Saya baik juga." jawab Rendy sambil melirik Aruna. Ia bertanya pada Aruna dengan isyarat matanya tentang keanehan Lais. Aruna mengacungkan jempolnya.


"Akhirnya!" kata Rendy sambil tersenyum.


"Akhirnya apa?!" tanya Lais.


"Oh..bukan apa-apa, Tuan. Saya hanya ikut gembira saja karena tuan dan Aruna baik-baik saja setelah penculikan itu." jawab Rendy.


"Bicara tentang penculikan, kenapa kamu ada di gedung itu?!" tanya Lais sambil menatap tajam Rendy.


Mampus. Apa yang harus aku katakan. Tidak mungkin aku bilang kalau aku dan Revan semula berencana meminta Angela menculik Aruna kan. batin Rendy.


"Hei! Kamu mendengarkanku kan?" seru Lais karena Rendy hanya diam tidak menjawabnya.


"Oh..itu. Saya dimintai tolong Revan buat mencari Aruna. Tapi malah tertangkap." jawab Rendy akhirnya. Ia menggaruk kepalanya untuk mengusir kegugupannya karena harus berbohong.


"Kak! Ini siapa?" tanya Aruna sambil melihat wanita berhijab yang berdiri di sisi Rendy.


"Ah iya sampai lupa. Ini Megar. Teman baik Nisa. Tadi Revan minta aku mengantarnya pulang." jawab Rendy. Megar mengulurkan tangannya ke arah Aruna. Mereka berkenalan. Lalu Megar mengangguk hormat pada Lais.


"Kalian cocok." kata Lais tiba-tiba. Aruna, Rendy dan Megar saling pandang.


"Apa?Kenapa kalian bingung?" tanya Lais.

__ADS_1


"Tuan kenapa bilang kami cocok. Diantara kami tidak ada hubungan apa-apa." Rendy menjelaskan sedangkan Megar hanya menunduk


"Aku hanya bilang kalian cocok. Apa salah? Apa harus punya hubungan dulu baru bisa dibilang cocok?" kata Lais lagi.


Aruna geleng-geleng kepala. "Sudah-sudah. Tuan tidak salah. Mereka memang cocok. Ayo kita naik. Bukankah kita kemari untuk menemui Pak Revan." bujuk Aruna. Ia mengerling ke arah Rendy agar pria itu tidak lagi mendebat Lais.


"Kenapa matamu?!" tanya Lais ketika ia melihat mata Aruna yang mengerling pada Rendy.


"Nggak tahu nih, pegel aja rasanya. Agak kaku. Jadi aku gerak-gerakin." dalih Aruna sambil terus melakukan gerakan mengerling.


Aruna membawa Lais menuju lift dan lift itu membawa mereka menuju lantai tiga tempat unit Revan berada.


"Apartemen ini bagus." komentar Aruna sambil berjalan menuju unit milik Revan.


"Kamu suka?" tanya Lais. Aruna memandang Lais. Ia hanya tersenyum menjawab pertanyaan Lais. Ia memang suka apartemen ini, lebih sederhana dibanding mansion Lais. Tapi kalau ia langsung bilang suka, Lais pasti akan membelikannya apartemen ini. Dan Aruna tidak mau itu.


"Kenapa tersenyum?Kamu suka?" kembali Lais bertanya.


"Eh tuan. Unit pak Revan yang mana?" Aruna mengalihkan perhatian Lais. Lais menunjuk dengan dagunya. Rupanya mereka sudah sampai di depan unit Revan.


Lais memencet bel. Tak berapa lama kemudian pintu apartemen Revan terbuka.


"Hai Nisa!" sapa Aruna dengan riang. Nisa sedikit kaget melihat Aruna dan Lais berdiri di depan pintu.


Mata Nisa membesar. Kali ini ia benar-benar surprise karena selama ini Lais tidak pernah berbicara langsung padanya.


"Dia di balkon belakang." jawab Nisa gugup.


"Boleh masuk?" tanya Lais kaku.


"Ah iya boleh. Silahkan!" Nisa tergagap. Lais masuk dan langsung menuju balkon tempat Revan berada.


"Run!" Nisa menarik tangan Aruna. "Dia?!" Nisa menunjuk ke arah Lais.


Aruna mengangguk. "Ya. Dia sudah tidak takut lagi sama orang asing. Dia sudah bisa mengatasi rasa takutnya."


"Kok bisa?" tanya Nisa.


"Jangan pura-pura. Aku sudah tahu dari mama." kata Aruna sambil menoyor lengan Nisa.


Nisa nyengir.

__ADS_1


"Ada banyak yang ingin aku tanyakan padamu. Kita ngobrol di tempat lain yuk! Aku takut nanti Tuan Lais mendengarkannya." kata Aruna.


"Kebetulan aku mau keluar untuk belanja. Kita bisa ngobrol sambil jalan. Aku pamit dulu pada mas Revan ya?" jawab Nisa.


"He eh. Aku juga mau pamit pada tuan Lais."


Berdua mereka menuju tempat Aruna dan Lais berada. Setelah berpamitan, mereka lalu keluar untuk belanja di mini market yang dekat dengan apartemen Revan.


"Nis, bagaimana kamu dan Megar bisa bersama mama di gedung itu?" tanya Aruna sambil berjalan.


"Sebenarnya niatku adalah membantu suamiku mencarimu. Karena saat itu kondisi Tuan Lais yang buruk,Mas Revan tidak bisa meninggalkannya, jadi aku menawarkan diri untuk membantu mencarimu. Aku mengajak Megar karena ia memiliki ilmu beladiri yang bagus. Sangat bagus malah. Saat kamu menemukan jejakmu,ada beberapa orang yang mencoba menghalangi kami untuk menemukanmu. Tapi semua bisa diatasi oleh Megar hingga akhirnya seorang wanita menghentikan perkelahian antara Megar dan para pria itu."


"Dan wanita itu adalah mama?"


"Ya. Nyonya besar. Begitu melihat Nyonya besar, aku langsung menyuruh Megar berhenti melawan. Nyonya besar lalu mengajak kami mengobrol dan beliau menceritakan tentang penculikanmu yang sebenarnya adalah atas suruhannya. Niatnya hanya satu, untuk menyembuhkan tuan Lais."


"Bagaimana mama bisa berpikir kalau dengan menculikku tuan akan sembuh?"


"Nyonya tidak punya pikiran seperti itu. Beliau hanya melakukan rencana yang disusun oleh Mas Revan dan Mas Rendy."


"Rencana mereka?" Aruna hampir tak percaya.


"Iya. Menurut Nyonya besar, beliau selalu menyuruh orang untuk memata-matai Angela. Dan saat Angela bertemu dengan Mas Revan dan juga tuan Lais, mama meminta orang untuk lebih meningkatkan pengawasan mereka. Hingga akhirnya mama tahu saat Mas Rendy mengadakan pertemuan dengan Angela."


"Lalu nyonya besar meminta anak buahnya membawa mas Rendy dan dari mas Rendylah Nyonya besar tahu rencana mereka dan membantu mewujudkannya dengan syarat baik Mas Revan tidak boleh tahu. Jadi sejak saat itu Mas Rendy sama sekali memutus komunikasi dengan mas Revan."


Aruna mengangguk angguk. Sekarang ia paham.


"Setelah bertemu dan mendengar penjelasan Nyonya besar, aku dan Megar memutuskan untuk membantunya. Kami mengawasi Angela dan menjadi kurir pesan bagi Nyonya besar. Aku dan Megar lah yang sering menemui Angela untuk menyampaikan pesan Nyonya besar."


"Tapi yang membuatku masih bingung adalah Tuan Lais. Menurut ceritamu,ia semula dalam keadaan yang tidak baik tapi kenapa tiba-tiba bisa sampai ke kota itu?"


"Soal itu aku tidak tahu. Kau tanyakan saja pada suamimu atau Nyonya besar." Mereka mengakhiri obrolan saat sampai di mini market.


Aruna membantu Nisa belanja. Ia juga membeli apa - apa yang ia butuhkan. Kebanyakan kebutuhan pribadinya karena untuk kebutuhan rumah, Bu Ira yang belanja.


Brukk


Aruna kaget saat mendengar sesuatu jatuh. Menoleh ke belakangnya dan matanya terbelalak kaget.


...🍃🍃🍃...

__ADS_1


1096 kata


Pukul 22.42...dah malam. Met istirahat ya...othor dah ngantuk berat. Daripada banyak typo ntar, dilanjut besok....🥰🥰


__ADS_2