Menikahi Pria Tak Sempurna

Menikahi Pria Tak Sempurna
Menikahlah denganku


__ADS_3

"Benarkah itu, Pak? Bapak nggak bohong kan?" mata Seruni berbinar bahagia.


"Ya! Bapak nggak bohong." Pak Malik tersenyum sambil mengusap rambut Seruni. Seruni langsung memeluk bapaknya bahagia.


Mak Nah terpaku melihat ayah dan anak itu berpelukan. Pikirannya tidak karuan. Ia benar-benar bingung akan apa yang Pak Malik katakan.


"Hem!! Bisa kita bicara?" Mak Nah menyela.


"Tentu." Pak Malik mengurai pelukan Seruni.


"Sayang, bapak ingin bicara dengan ibu. Kamu tenang saja di sini. Berdoa agar ibu mau pulang bersama kita, ya!"


Seruni mengangguk patuh dengan bibir tersenyum. Mak Nah menelan salivanya dengan perasaan campur aduk.


"Ayo!" Pak Malik melangkah mendahului Mak Nah.


"Seruni, ibu keluar dulu." pamit Mao Nah.


Seruni mengangguk.


"Bu!" teriak Seruni saat Mak Nah hendak membuka pintu untuk menyusul Pak Malik.


"Ya?" Mak Nah memutar tubuhnya melihat ke arah Seruni.


"Seruni sayang sama ibu." Seruni berkata sambil membuat tanda cinta dengan tangannya.


"Iya. Ibu tahu." jawab Mak Nah tersenyum kikuk. Ia lalu membuka pintu dan melangkah keluar.


"Ya Allah, semoga ibu itu mau menjadi ibuku. Semoga bapak lancar bicara tidak seperti biasanya. Semoga bapak lebih berani mengajak ibu pulang. Amiin." Seruni mengusap wajahnya selesai berdoa. Ia lalu berbaring sambil terus komat kamit memohon agar apa yang ia inginkan bisa terkabulkan.


***

__ADS_1


Di taman dekat kamar Seruni.


"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Pak Malik santai.


Melihat sikap santai Pak Malik membuat Mak Nah justru gugup. Apalagi kini Pak Malik memanggilnya kamu, biasanya Pak Malik menggunakan kata anda.


"Itu. Soal janji Pak Malik pada Seruni tadi. Apa maksudnya?" jawab Mak Nah sambil terus berusaha menetralkan kegugupannya.


Pak Malik memandang Mak Nah langsung ke manik matanya.


"Aku ingin menikahimu. Maukah kau menjadi istriku? Ibu dari Seruni?" jawab Pak Malik langsung tanpa ragu sedikitpun.


Mak Nah terkejut. Ia tidak menyangka kalau Pak Malik akan setegas itu menjawab pertanyaannya.


"Ini...aku..."


"Aku tahu, hidupku sederhana. Tapi aku akan berusaha membahagiakanmu dan Seruni." lanjut Pak Malik.


"Aku.."


"Demi Seruni. Jadi untuk Seruni?" gumam Mak Nah. Suaranya lirih dan terdengar sedikit kecewa.


"Untuk Seruni dan juga untukku." balas Pak Malik.


"Jika aku bilang kalau aku menyukaimu apakah kau percaya?" tanya Pak Malik.kemudian.


"Karena aku mirip almarhum istrimu?" balas Mak Nah.


Pak Malik menatap Mak Nah beberapa saat sebelum menjawab.


"Awalnya aku juga berpikir begitu. Awalnya saat aku sadar aku menyukaimu, aku berusaha menepisnya karena aku takut menganggapmu sebagai bayangan Riana. Tapi kalian berbeda. Meski aku tahu kalian berbeda, ras suka ini tetap ada. Jadi aku tidak ragu untuk melamarmu. Kita bukan lagi anak.muda yang nembak untuk pacaran." Pak Malik tertawa lirih.

__ADS_1


"Jadi bagaimana? Maukah kau menjadi istriku?" kembali Pak Malik menyampaikan niat hatinya.


Mak Nah menunduk. Ia tidak tahu harus menjawab apa.


"Nah!!" sebuah suara mengagetkan keduanya.


Mak Nah langsung menoleh ke arah suara itu berasal.


"Ira." ucap Mak Nah melihat siapa yang memanggilnya. Mak Nah langsung berdiri menyambut Bu Ira yang datang beserta Pak Munir.


Pak Munir menatap tajam Pak Malik yang tadinya duduk di sebelah Mak Nah.


Kenapa mereka berduaan di taman. Bukankah si Nah ditugasi tuan Muda buat menjaga anaknya. Kenapa malah ditinggal berduaan di taman.


Bu Ira langsung memeluk Mak Nah.


"Aku kangen. Bagaimana keadaanmu?" ucap Bu Ira seraya melepaskan rangkulannya.


"Aku baik-baik saja." Mak Nah menjawab sambil tersenyum.


"Ini..?" Bu Ira mengarah ke Pak Malik.


"Saya Malik, ayah dari Seruni." Pak Malik mengulurkan tangannya.


Bu Ira menyambutnya dan diikuti Pak Munir.


"Kenapa kalian ada di sini?" tanya Pak Munir sambil terus menatap Pak Malik.


"Oh kami sedang..."


"Membicarakan pernikahan kami." potong Mak Nah cepat.

__ADS_1


Pak Malik, Bu Ira dan Pak Munir langsung menatap Mak Nah kaget.


...***...


__ADS_2