Menikahi Pria Tak Sempurna

Menikahi Pria Tak Sempurna
Kesal


__ADS_3

Aruna sedang mematut dirinya di depan cermin saat Lais masuk dan menatapnya dengan intens. Aruna tetap asik dengan kegiatannya tanpa terpengaruh kehadiran Lais.


Lais mendengus kesal saat merasa diabaikan.


"Hem!"


Aruna melirik lewat cermin mendengar deheman Lais.


"Tian!" sapa Aruna sekedarnya.


"Memang harus ya?" tanya Lais yang justru membuat Aruna bingung.


"Maksud Tuan?" tanya Aruna tanpa menatap Lais. Ia masih saja merias diri.


"Bukan apa-apa." jawab Lais kesal.


Aruna kembali melihat pantulan wajah Lais di cermin riasnya. Wajah tampan Lais ditekuk dan tampak datar dengan raut yang kesal.


Aruna memutar tubuhnya perlahan.


"Tuan sedang kesal ya? Apa yang membuat Tuan Lais kesal?" tanya Aruna. Kali ini ia mencurahkan semua perhatiannya pada Lais.


"Kamu!" jawab Lais tegas.


Dahi Aruna mengernyit


"Saya?!" tanya Aruna sambil menunjuk dirinya sendiri. "Memang apa yang sudah saya lakukan hingga membuat Tuan kesal?" sambungnya.

__ADS_1


Lais mendengus kasar.


"Memang harus ya berdandan cantik hanya untuk belajar privat?!" tanya Lais dengan suara sedikit keras.


Kenapa dengan Tuan? Apa salahnya kalau aku dandan. Aku dandan kan agar ia tidak malu punya istri dekil. batin Aruna.


"Tuan, aku kan dandan untuk menjaga nama baik Tuan. Aku nggak mau mempermalukan Tuan jika tampak dekil dan kumal. Kesannya nggak terawat. Kan Tuan juga yang malu." Aruna mencoba menjelaskan.


"Cih!" Lais berdecih lalu keluar. Malas rasanya berdebat dengan Aruna yang tidak mengerti apa maunya. Begitu pikir Lais. Ia lalu turun dan melangkah keluar. Baru saja ia akan membuka pintu, bel berbunyi.


"Pagi Tuan!" Rendy dengan ceria dan senyum cerahnya menyala Lais.


"Hm." Lais memutar tubuhnya dan duduk di kursi tanpanya memeprsilahkan Rendy masuk.


Rendy yang sudah paham akan sikap Lais, langsung masuk dan duduk dihadapan Lais. Mereka duduk dalam diam tanpa ada yang bicara.


Hampir lima belas menit Rendy menunggu, tapi Aruna tak muncul. Lais juga tidak berinisiatif memanggil istrinya itu.


Lais tidak menjawab. Ia berdiri dan meninggalkan Rendy.Rendy tersenyum. masam mendapat perlakuan dingin dari Lais.


Jika bukan karena Revan, malas banget berurusan dengan patung macam dia. batin Rendy.


"Bu Ira!" terdengar suara Lais memanggil asisten rumah tangganya.


Rendy kembali tersenyum. Wajahnya yang tersenyum seketika tertegun saat Aruna muncul. Rendy menatap Aruna dengan takjub.


"Bidadari." gumam Rendy tanpa sadar.

__ADS_1


"Hem!!!" deheman keras Lais menyadarkan Rendy dari keterpanaannua akan kecantikan Aruna.


"Oh... maaf. Nona sangat cantik. Saya jadi terkesima dan takjub." kata Rendy jujur.


Aruna tersenyum manis, "Terima kasih pujiannya, Kak."


Lais menatap tajam Aruna.


"Kenapa kau memanggilnya kak? Dia bukan kakakmu." kata Lais dengan nada tidak suka.


"Tuan, dia lebih tua dari saya. Jadi wajar kalau saya memanggilnya kakak."


"Bukankah aku jauh lebih tua darimu?" tanya Lais.


"Tuan ingin aku panggil kakak?" Aruna menahan senyum.


"Ck!" Lais berdecik enggan. Ia lalu meninggalkan ruang depan.


"Menunggu lama ya kak?" Aruna berbasa basi pada Rendy.


"Lumayan. Suamimu itu.. saat aku datng tidak langsung memanggilmu." kata Rendy sedikit menggerutu. Matanya tak lepas menatap kagum pada Aruna.


"Maafkan dia, Kak. Suamiku itu memang agak kaku." kata Aruna dengan senyum ramah di bibirnya. Sekali lagi Rendy terpana.


Tuh senyum manis banget. puji Rendy dalam hati.


Mereka berdua tidak menyadari jika Lais tengah memperhatikan keduanya melalui layar monitor CCTV yang ada di ruang keamanan rumahnya. Tangan Lais mengepal hingga memerah.

__ADS_1


...🌿🌿🌿🌿...


Maaf ya upnya pendek dulu. Belum boleh banyak beraktivitas... salam sehat selalu


__ADS_2