Menikahi Pria Tak Sempurna

Menikahi Pria Tak Sempurna
Mrs. Renata dan Menjalankan Rencana


__ADS_3

Di kamar mandi hotel, Revan menatap cermin besar yang ada di dekat wastafel. Ia menghela nafas berulang-ulang. Hatinya bimbang antara meneruskan rencananya atau mengakhiri sebelum semuanya terlanjur.


"Mungkin lebih baik aku tidak muncul sendiri. Sebaiknya aku cari tahu dulu dan kenali dulu wanita itu. Cari kelemahannya sehingga kelak aku punya senjata untuk melawannya jika dia macam-macam. Ya... aku memang harus berhati-hati dan tidak gegabah. Tapi siapa yang bisa aku percaya untuk tugas ini? Aku nggak mungkin melibatkan orang orangnya Lais."


Revan lantas membungkus tubuhnya dengan handuk dan keluar. Ia menuju nakas dekat ranjang dan mengambil hairdryer untuk mengeringkan rambutnya. Matanya melirik saat ia melihat ponselnya menyala. Revan menaruh kembali hairdryer lalu mengambil ponselnya. Ada panggilan dari Rendy sahabatnya yang juga guru privat Aruna.


"Iya Ren?!" Revan menjawab panggilan Rendy


"Kamu dimana?!" jawab Rendy.


"Aku sedang di luar kota. Ada apa?"


"Kapan pulang?Ada hal yang ingin aku bicarakan dan ini ada hubungannya dengan Lais."


"Pentingkah?!"


"Sangat!"


"Kau susullah aku ke kota X. Aku menginap di hotel Y."


"Baik. Tunggu aku!"


Panggilan berakhir. Revan memandangi ponselnya. Ia merasa penasaran pada berita yang akan Rendy sampaikan.


"Ah, kebetulan. Rendy kan tampangnya boleh tuh. Jomblo lagi. Aku bisa memintanya untuk mendekati dan mengorek keterangan tentang Angela." Revan tersenyum.


Keesokan paginya, di mansion Lais.


Aruna sedang melayani Lais makan pagi.


"Hari ini Pak Revan nggak menjelaskan? put Tuan?" tanya Aruna.


"Dia tidak pulang semalam." jawab Lais pendek lalu menyecap kopi yang Aruna siapin.


"Dia tinggal di kota X? Apa masih ada kerjaan di sana?"


"Pekerjaan sudah tidak ada tapi ia punya urusan." jawab Lais. Mendengar nama kota X di sebut Aruna, ingatan Lais kembali ke peristiwa kemarin pagi. Wajahnya langsung berubah.


"Tuan kenapa?" tanya Aruna sambil memegang lengan Lais. Lais menggeleng sambil berusaha mengatasi perasaannya.


Aruna sadar jika ada yang mengganggu suaminya. Ia bangkit dari duduknya dan berjalan ke belakang Lais. Dipeluknya Lais dari belakang sambil berbisik.


"Ada aku, tenanglah!"


Merasa tidak sendirian, Lais mulai bisa menguasai dirinya. Aruna penasaran, sebenarnya apa yang terjadi di kota X kemarin. Mengapa suaminya langsung bereaksi saat ia menyebutkan nama kota X.


"Run!" panggil Lais.


"Ya." balas Aruna sambil membelai rambut Lais dengan tangan kanannya. Sementara tangan kirinya masih melingkar di bahu Lais. Ia baru melepaskan dekapannya saat Bu Ira datang dan menyuguhkan makanan buat mereka


"Duduklah!Temani aku makan!" pinta Lais.


Aruna kembali ke tempat duduknya di sebelah Lais. Aruna mengambilkan Lais makanan lalu mengambil untuk dirinya sendiri. Mereka makan dengan tenang. Saat makan, ponsel Lais bergetar.


Lais meraihnya lalu membuka ponselnya. Ada pesan dari Revan yang mengatakan ia tidak jadi pulang pagi karena masih ada urusan.


Hampir bersamaan ponsel Aruna juga bergetar. Aruna menerima pesan dari Rendy yang mengabarkan kalau dirinya tidak bisa mengajar hari ini.

__ADS_1


"Yah! Kak Rendy ijin nggak bisa mengajar." keluh Aruna.


"Kenapa? Kau sepertinya sangat kehilangan dia saat dia tidak datang?" ada nada cemburu dalam suara Lais.


"Bukan begitu tuan suami. Sebentar lagi ujian dan masih banyak materi yang aku belum paham. Jadi sayang saja kalau kak Rendy nggak datang. Aku nggak bisa belajar secara maksimal."


"Aku bisa mengajarimu." kata Lais.


"Tapi tuan kan harus kerja." balas Aruna.


"Aku bosnya. Mau kerja apa tidak, nggak akan ada yang protes."


"Nggak bisa begitu. Tuan kerja saja. Banyak karyawan yang perlu teladan dari tuan. Biar aku belajar sendiri." tolak Aruna halus. Jika Lais yang mengajarinya, mereka nggak akan belajar. Mereka akan melakukan hal yang lain.


"Kalau begitu ikut saja ke kantor. Aku bisa mengajarimu sambil kerja." ajak Lais.


"Nah, kalau itu aku mau." jawab Aruna riang. Ia berpikir Lais pasti tidak akan macam-macam di kantor. Beda dengan Aruna, Lais justru merasa senang karena nanti ia bisa melakukan hal yang sekarang paling disukainya dengan nuansa yang berbeda.


.


Lais dan Aruna sudah bersiap akan berangkat saat sebuah mobil masuk. ke halaman mansion Lais.


Pak Robert turun dengan seorang wanita muda.


"Kau sudah mau berangkat?!" tanya Tuan Robert pada Lais. Lais menjawab dengan anggukan.


"Oh ya. Kenalkan, ini mrs. Renata. Papa sengaja mengajaknya kemari untuk dijadikan guru privat Aruna. Karena papa tidak suka menanti papa diajar oleh pria." kata Tuan Robert. Wanita yang dikenalkan sebagai Mrs Renata itu mengangguk hormat ke Lais dan Aruna.


"Tapi saya sudah punya guru.. "


"Tuan." bisik Aruna sambil memegang lengan Lais.


"Jadi kau setuju?Kalau begitu Mrs. Renata kau bisa bekerja mulai hari ini!"


"Tapi, Tuan Robert. Hari ini saya akan ikut suami saya ke kantor." kata Aruna. Tangannya menekan lengan Lais meminta dukungan.


Lais yang memang sudah punya rencana terhadap Aruna segera menimpali.


"Iya, Pa. Besok saja ia kerja. Hari ini, aku dan Aruna ada acara."


Tuan Robert tampak tidak suka, namun ia tidak mau menekan Lais. Kali ini dia mengalah.


"Baiklah.Tampaknha kalian juga terburu-buru. Jadi papa pulang saja. Besok papa akan kesini untuk mengantar Mrs. Renata." Tuan Robert lalu berbalik dan mengajak Mrs. Renata pulang.


Sepeninggal Tuan Robert, Aruna menyampaikan keberatannya kalau ia harus ganti guru.


"Tuan, biarkan Kak Rendy saja yang mengajariku. Aku sudah nyaman belajar bersamanya." pinta Aruna manja.


"Justru itu harus ganti guru. Aku nggak mau kau merasa nyaman dengan pria lain. Kau hanya boleh merasa nyaman jika bersamaku." jawab Lais.


Aruna cemberut. Ia tahu percuma minta pengertian Lais kalau itu berkaitan dengan pria. Suaminya sangat pencemburu.


"Tapi dia orang asing." kata Aruna kemudian Berharap Lais berubah pikiran.


"Bukankah kau terbiasa bergaul dengan orang asing?" Lais malah balik bertanya.


Aruna mendengus kesal saat usaha terakhirnya juga gagal. Ia meninggalkan Lais menuju mobil dan langsung masuk.

__ADS_1


Lais tersenyum dan menyusulnya.


Di Kota X


Revan dan Rendy sedang makan pagi di restoran yang Revan datangi kemarin bersama Lais. Revan berharap bertemu dengan Angela. Semalam ia tidak jadi mengontak Angela karena nggak mau membuat Angela curiga.


Saat mereka sedang menikmati hidangan, seperti yang Revan harapkan Angela datang dan langsung menghampiri mejanya karena merasa sudah mengenal Revan.


"Hai tampan. Kita ketemu lagi." sapa Angela sambil menaruh tubuhnya di kursi antara Revan dan Rendy. Matanya memperhatikan Rendy.


"Teman baru. Boleh juga. Temanmu tampan tampan. Apa kalian dari klub pemuda tampan?" goda Angela.


Revan menatap Rendy. Matanya memberi isyarat agar mereka melaksanakan rencana yang sudah di susun semalam.


Rendy membalas tatapan Angela, ia tersenyum.


"Nyonya juga cantik. Matang dan cantin." puji Rendy. Mata Angela berbinar saat Rendy menanggapi pujiannya.


"Benarkah?Apa kamu suka yang matang?" suara Angela dibuat semenggoda mungkin.


"Yang matang dan berpengalaman lebih menyenangkan dan tidak merepotkan. Juga tidak terlalu manja dan butuh banyak perhatian." kata Rendy. Ia tidak mengatakan kalau dirinya menyukai wanita yang lebih matang. Ia hanya menyampaikan pemikirannya tentang wanita yang usianya lebih tua.


Angela tertawa senang. "Boleh aku gabung di sini?"


"Anda sudah bergabung, untuk apa bertanya." jawab Revan.


"Ah iya. Kau kenapa tidak semanis temanmu ini. Apa kau cemburu?" sabil berkata Angela menjulurkan tangannya hendak menyentuh dagu Revan.


"Perhatikan sikap anda Nyonya. Saya pria beristri. Dan saya pria setia." kata Revan dengan tidak menutupi perasaan jijik dan tidak sukanya pada Angela.


Angela kembali tertawa, "Pria seperti kamu ini yang menarik. Penuh tantangan karena sukar ditaklukkan." Angela memuji Revan.


Revan melengos. Rendy tersenyum melihat sahabatnya itu kesal.


"Pelayan!" panggil Angela.


Seorang pelayan datang dan mencatat pesanan Angela lalu pergi lagi.


"Kemana temanmu yang kemarin? Kenapa nggak ikut?" Angela menanyakan Lais.


"Buat apa nyonya menanyakan teman saya itu?" jawab Revan.


"Entahlah. Aku merasa aku pernah melihatnya tapi aku lupa dimana. Semalaman aku mencoba mengingat tapi tak juga ingat.Siapa namanya?"


"Maaf, tanpa persetujan dia, saya tidak bisa menyebutkan namanya kepada sembarang orang."jawab Revan. Ia lalu berdiri.


"Aku sudah selesai. Ayo Ren!" ajak Reva.


"Mmm.. kamu duluan saja. Aku masih ingin ngobrol sama nyonya ini." balas Rendy.


"Terserahlah." Revan meninggalkan Rendy berdua dengan Angela.


Setelah sampai di luar. Revan masuk. ke. mobilnya dan langsung mengirim pesan agar Rendy berhati-hati.


...🍃🍃🍃...


Jangan lupa jejaknya... semoga menghibur.

__ADS_1


__ADS_2