
"Ayo!" ajak Lais begitu melihat Pak Munir masuk bersama Rendy.
Lais dan Revan langsung mengambil piring dan bali lalu mengantri.
"Pak, bantu pilih makanan!" pinta Revan.
Pak Munir mengangguk.
"Kenapa harus dibantu?" tanya Rendy heran.Ia menatap Lais dan Revan bergantian.
"Hem!" Lais berdehem untuk menghilangkan kekikukannya karena tatapan Rendy. Sedangkan Revan pura-pura sibuk melap piringnya dengan tisu.
"Nih piring kenapa kotor amat ya!" gumamnya.
Rendy yang melihat keanehan itu lalu mengalihkan pandangannya pada Pak Munir. Ia menggerakkan matanya bertanya pada Pak Munir.
"Mereka kan tuan-tuan muda. Nggak biasa dan nggak mengenal makanan seperti ini. Jadi nggak paham." jawab Pak Munir. Ia lalu mengantri diikuti Lais,Revan dan Rendy.
Pak Munir memesan nasi liwet ke kesukaannya. Lais melakukan hal yang sama, pun demikian dengan Revan. Namun beda dengan Rendy. Ia memesan makanan yang membuat Lais dan Revan membelalakan mata.
"Rend?!?!" Lais dan Revan berseru heran.
"Apa?!?!"Rendy tak kalah bingungnya melihat sikap mereka berdua.
"Itu?" kata Revan sambil menahan geli.
"Brutu? Kenapa? Enak." jawab Rendy santai lalu melangkah ke meja mereka. Di sana sudah ada Pak Munir yang duduk sambil menikmati makan siangnya.
Lais dan Revan saling pandang lalu mereka bergidik geli berbarengan.
Lais dan Revan mengambil tempat duduk terpisah dari Rendy dan Pak Munir. Mereka tidak mau selera makan mereka hilang gegara kenangan masa lampau ---cie masa lampau, padahal baru berapa hari--
"Pak! Mereka kenapa?" tanya Rendy sbil.menunjuk ke arah Lais dan Revan dengan dagunya. Tangannya sibuk menarik brutu dari tusuknya. Mereka makan pake tangan, tidak menggunakan sendok.
"Nggak. Mereka hanya geli melihat itu." Pak Munir menunjuk sate montok yang ada di piring Rendy. Ia juga menahan gelinya meski tak separah Revan dan Lais.
"Ooo..memang nggak banyak yang suka. Tapi saya suka. Rasanya enak. Kenyal. Manis. Lagipula kan sudah dibersihkan. Ini tinggal tempat bulu ekornya. Bagian yang itu nggak ada. Sudah di buang." Rendy menjelaskan sbil.membolak balik daging satenya menunjukkan ke muka Pak Munir.
"Iya..iya..tuan Rendy. Saya paham. Sudah jangan dekatkan ke saya lagi." gerutu Pak Munir agak kesal pada sikap Rendy.
"Kalau mereka duduk di sana bagaimana kita bisa menjalankan rencana Nyonya?" tanya Pak Munir.
"Itulah. Rencananya kan saat makan ngobrolin usaha terus aku tertarik dan investasi. Tapi kalau mereka di sana?" Rendy memandang ke arah Lais dan Raq evan yang tampak lahap menyantap hidangan mereka.
"Tian sih! Pake pesan sate montok segala." kata Pak Munir.
"Eh kenapa jadi aku yang salah. Mana aku tahu kalau mereka geli dengan ini. Pak Munir juga, kenapa nggak bilang ke aku?"
"Kok jadi saya yang salah tuan. Mestinya tuan tanya dulu." semprot Pak Munir nggak mau kalah.
"Lha..kenapa aku harus bertanya?Pak Munir yang tahu situasi mestinya memberitahu aku dong.
Lais dan Revan menoleh mendengar ribut ribut di meja Pak Munir dan Rendy.
"Kenapa mereka ribut?" tanya Lais.
"Paling gara gara itu." jawab Revan cuek.
Lais menggelengkan kepala. "Aneh, makanan bisa memancing keributan." gumamnya.
Revan tertawa, "Nggak punya ayam, ataupun punya manusia. Sama-sama bisa bikin masalah." katanya terus terkekeh.
Lais menatapnya sambil menahan senyum.
"Dasar otak mesum." komen Lais.
"Tapi bener kan? Kamu pasti paling suka juga kan?"
"Apa?"
"Itu? Brutu?"
"Nggak!!" kata Lais tegas.
"Iya kalau brutunya ayam, kalau brutunya...mmm Arun.."
Plak. Kotak tisue menimpa kepala Revan
__ADS_1
"Bersihkan otak kotormu!!" titah Lais dengan wajah garang.
Revan terkekeh melihat muka Lais memerah. Pasti Lais sedang membayangkan istrinya. Sama seperti dirinya yang juga sudah nggak tahan ingin berjumpa dengan Nisa.
"Kalian dari mana?" tanya Rendy yang lebih dulu menyelesaikan makannya lalu nyamperin Lais dan Revan.
"Dari kampung Pak Munir." jawab Lais.
"Gue lihat di belakang mobil kalian tadi ada pickup yang memuat banyak barang kerajinan. Apa itu milik kalian?"
Lais mengangguk
"Astaga!!" Revan menepuk dahinya.
"Kenapa?" Rendy dan Lais bertanya bersamaan.
"Sopir pickup. Lupa nggak di ajak makan."
"Kalian tenang. Tadi Pak Munir sudah menawarinya, tapi dianya menolak. Terus minta ijin makan di warung depan sono tuh." tunjuk Rendy.
"Oo.'
"Eh..kembali ke masalah karya seni? Apa kalian ada niat mau buka bisnis baru?" Rendy mulai menjalankan rencana Nyonya Robert.
"Begitulah. Kenapa?" tanya Revan.
"Bagus kalau begitu. Nih gue ada maksud mau invest, tapi belum punya tujuan nih. Boleh dong investasi di bisnis baru kalian?"
Wajah Lais dan Revan berbinar.
"Boleh. Tentu saja boleh. Kalau sekalian gabung saja. Bertiga akan lebih mudah." jawab Lais.
Rendy tersenyum dan mengangguk. Ia lalu mengeluarkan bungkusan uang dari Nyonya Robert yang tadi ia terima dari Pak Munir.
"Kau gila! Bawa uang tunai begini banyak. Nggak takut di rampok?" semprot Revan.
"Hehehe...praktis saja. Nggak perlu ke bank juga. Nih lu pegang dah Van." Rendy menyerahkan uang itu pada Revan.
"So? Gue resmi gabung nih?" Tanya Rendy yang sekarang menyebut lu gue karena Lais sudah mengibarkan bendera persahabatan. Ia tidak lagi canggung.
Selesai makan siang mereka meluncur melanjutkan perjalanan.
Di apartement Revan.
Aruna sibuk berhias. Setelah selesai ia keluar kamar dan melihat Nisa serta Bu Ira di dapur.
"Cie yang mau ketemu suami?" goda Nisa.
"Iya dong. Kan kalau suamiku pulang terus lihat akunya cantik, capeknya hilang deh." jawab Aruna. "Kamu juga. Wangi amat." Aruna mengendus tubuh Nisa.
"Ya haruslah. Emang situ doank yang pengen menyenangkan suami, aku juga kali." jawab Nisa centil. Mereka lalu tertawa.
Bu Ira senyum senyum.
"Bu Ira nggak bersiap?" tanya Aruna.
"Bersiap untuk apa Nona?"
"Ya untuk Pak Munir lah?" jawab Nisa.
"Kami sudah tua nona Tidak seperti kalian." jawab Bu Ira tersipu.
"Bu, umur boleh tua. Tapi semangat harus tetap muda." kata Aruna sambil mengepalkan tangan tanda semangat.
"Oh ya Nisa,apartemen sebelah sudah bisa aku tempati kan? Sudah clear kan sewa menyewanya?" tanya Aruna
"Sudah beres nona besar. Kenapa? Nggak sabar amat. Takut keganggu yaaa.."
Aruna mencubit Nisa, "Nggak. Kasihan saja Bu Ira dan Pak Munir nggak ada kamar buat tidur. Jadi aku bawa barang-barangku ke apartementku ya..sekalian mau menatanya."
Nisa mengacungkan jempolnya. Ia lalu memberikan kunci apartement Aruna.
"Waaahhh...bagus!" seru Aruna girang.
"Tapi tidak seluas mansion Non."
__ADS_1
"Nggak papa bu, enak. Nggak capek bersihinnya."
Aruna lalu masuk ke kamar utama. Ia tersenyum membayangkan nanti bisa berduaan dengan Lais di kamar itu.
"Cepatlah datang sayang, kamar kita audah siap." gumam Aruna lalu menutup mukanya karena malu.
"Bajunya non." Bu Ira masuk sambil membawa koper.
"Taruh saja di siti Bu, biar nanti aku rapikan. Oh iya, Bu Ira, bisa menggunakan
kamar yang ada di depan dekan ruang tamu."
"Baik non."
"Bu Ira, bersiap sana. Sambut Pak Munir. Ia juga pasti kangen. Meski tua, laki-laki itu sama saja." goda Aruna.
Bu Ira tersipu. Ia lalu keluar dari kamar Aruna dan bersiap juga.
Tepat tengah malam, rombongan Lais tiba. Aruna sudah mengirim pesan kalau dirinya sudah pindah ke apartemen yang mereka sewa.
Lais langsung menuju apartemennya diikuti Pak Munir. Mereka memencet bel dan yang membuka pintu adalah Bu Ira.
"Selamat datang, Tuan. Nona ada di kamar." kata Bu Ira pada Lais namun matanya menatap penuh rindu pada sosok di belakang Lais.
"Terima kasih Bu." Lais bergegas masuk ke kamarnya.
Pak Munir mendekati Bu Ira. Kepalanya celingukan melihat sekitar. Setelah di rasa aman, ia lalu memeluk erat Bu Ira.
"Kangen bune." bisik Pak Munir. Bu Ira menyambut dekapan suaminya. Pak Munir menarik wajah Bu Ira dan melabuhkan ciuman hangat di bibir istrinya.
"Pak, jaket...astaga Maaf!!" kata Revan yang tiba-tiba datang sambil membawa jaket Lais. Revan langsung menutup mata dan memutar tubuh lalu pergi begitu saja.
"Malu pak!" Bu Ira menarik dirinya dan berlari ke kamar.
Pak Munir menutup pintu. Menguncinya dan langsung menyusul istrinya.
"Sialan!!" umpat Revan.
"Kenapa mas? Mengumpat. Dosa lo."tegur Nisa.
"Itu...ada kucing bermesraan nggak lihat tempat." jawab Revan.Mukanya merah.
"Kenapa segala kucing mas ributkan. Aneh." Nisa meninggalkan Revan.
"Sayang.." Revan meraih tangan Nisa lalu menariknya hingga tubuh Nisa berhimpit dengan tubuhnya. "Mas ribut karena perbuatan kucing itu membuat mas pengen." bisik Revan lalu menyusupkan kepalanya ke ceruk leher Nisa dan mulai membuat tanda di sana. Nisa menggelinjang kegelian.
"Bukan salah kucingnya. Mas aja yang nafsuan." jawab Nisa sambil menahan geli karena bibir Revan sudah kemana mana.Tangannya juga. Dengan cekatan mulai membuka gamis Nisa.
"Mas sudah nggak tahan sayang." Revan mengangkat tubuh Nisa dan membawanya ke kamar. Nggak ada Lais dan Aruna. Hanya ada mereka berdua membuat Revan leluasa bertindak. Ia tidak perlu menutup pintu kamar karena tak akan ada yang menganggu mereka.
Sementara Lais yang masuk ke kamarnya, disuguhi pemandangan yang membuatnya takjub. Aruna menghias kamarnya dengan apik sehingga menimbulkan kesan romantis. Kelopak mawar tertata dilantai menuju ranjang. Lampu yang redup berwarna merah, dan Aruna. Ia terbaring menggoda di atas ranjang sambil menggerakkan tangan meminta Lais mendekat.
Laia menggertakan rahangnya. Ia berjalan mendekati Aruna sambil melepas kemejanya hingga tubuh atasnya polos.
Aruna menghela nafas. Ia yang bermaksud menggoda Lais, kini justru dirinya yang tergoda oleh tubuh sempurna suaminya.
"Kau sadar apa yang kau lakukan?" Tanya Lais sambil mengungkung tubuh Aruna.
Aruna tersenyum dan mengangguk.
"Ok..kau sudah mulai. Jadi hanya aku yang boleh mengakhiri." Bisik Lais di telinga Aruna sambil mengecup dan memberi gigitan kecil di sana. Ia lalu turun dan mencecap leher Aruna hinga meninggalkan bekas kemerahan. Tangannya dengan lembut membuka lingerie Aruna.
"Seminggu...kau akan mengganti seminggu itu mulai malam ini." bisik Lais sambil menyentuh bagian bagian sensitif di tubuh Aruna.
Aruna tidak bisa berkata-kata. Sentuhan Lais membuatnya melayang. Hanya ******* yang keluar dari bibirnya membuat Lais kian bersemangat.
"Sayang, lakukan dengan lembut." pinta Aruna saat Lais mulai memasuki dirinya.
"Iya sayang." jawab Lais.
Dengan lembut dan penuh kasih sayang Lais menyatukan dirinya dengan Aruna. Melepaskan rindu mereka yang sempat terpisah.
**Biarkan mereka melepas rindu. Aithor tak minggir dulu......
jangan lupa like comennya syukur di kasih vote dan hadiah
oh ya kritik dan saran boleh...tapi jangan nyakitin hati othor ya..bikin sakit hati orang lain itu dosa lo...apalagi kalau nggak minta maaf**....
__ADS_1