Menikahi Pria Tak Sempurna

Menikahi Pria Tak Sempurna
Pergi dari mansion


__ADS_3

Selasai makan malam, Lais dan Aruna akan pergi ke kamar mereka saat Pak Munir datang dengan cemas.


"Tuan Muda! Ada tuan besar di depan." kata Pak Munir.


Lais melengos. Wajahnya mendadak kaku.


"Bilang saja aku tidak mau menemuinya." jawab Lais meneruskan langkahnya sambil merangkul Aruna.


"Baik Tuan." jawab Pak Munir lalu berbalik kembali ke depan.


"Sayang! Temuilah. Siapa tahu penting." bujuk Aruna.


Lais mendengus kesal. "Tidak suami, tidak istri. Mengganggu saja."


"Sayang, ingat. Mereka orang tuamu." Aruna mengelus lengan Lais.


Lais tetap dengan pendiriannya. Ia tidak mau menemui Tuan Robert.


"Sudah kubilang jangan paksa aku!" Lais meninggikan suaranya.


Aruna diam. Ia tahu suaminya masih belum bisa menerima perbuatan orang tuanya.


"Minggir! Aku tahu di di dalam." suara Tuan Robert yang memaksa masuk mengagetkan Aruna dan Lais. Sontak mereka menghentikan langkahnya yang baru sampai di pertengahan tangga.


"Lais!!Lais!! Dasar anak durhaka!" teriak tuan Robert.


Lais mengepalkan tangannya menahan marah dan kesal.


"Sabar sayang. Ingat. Dia papamu. Jangan sampai kau melakukan hal yang akan kau sesali seumur hidupmu." bisik Aruna mencegah agar Lais tidak gelap mata.


"Lais!!! Turun kau!!" Tuan Robert menunjuk Lais dengan jarinya.


"Sayang masuklah! Biar aku menemuinya sendiri. Jangan sampai aura negatif yang ia bawa mempengaruhi bayi kita." Lais menyuruh Aruna masuk.


Aruna ragu. Ia khawatir Lais lepas kendali.


"Tapi sayang, kamu......"


"Aku tidak apa-apa. Jangan khawatir." Lais mengelus kepala Aruna lalu mendaratkan ciuman di keningnya. "Naiklah. Hati-hati!"


Aruna mengangguk. Ia naik sambil sesekali melihat ke arah Lais dengan khawatir.


Lais memutar tubuhnya dan turun. Ia menjaga jarak dari papanya.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Lais dingin.


"Dimana kau sembunyikan mamamu?!" Geram Tuan Robert.


Lais terkejut dengan pertanyaan papanya. Tapi ia buru-buru menyembunyikan rasa kagetnya itu.


Lais lalu tersenyum sinis. "Kenapa?Di tinggal kabur? Kan sudah ada cadangannya." sindirnya.


"Kau!!" Tuan Robert semakin geram. Ia mendekat dan mencengkeram baju Lais.


"Katakan atau..."


"Atau apa? Mau memukulku. Pukul! Nih Pukul!" Lais memasang wajahnya siap di pukul.


Wajah Tuan Robert mengeras. Rahangnya terkatup rapat. Cengkramannya semakin kuat."Jangan kau kira papa tidak berani memukulmu." desis Tuan Roberr, "Dimana mamamu?" ia mengulangi pertanyaannya


"Setelah yang ia lakukan, apa aku masih mau merepotkan diri menyembunyikannya." kata Lais dengan senyum sinis.


Tuan Robert heran dengan sikap sinis Lais. Semula ia mengira Lais bersekongkol dengan mamanya untuk kabur dari Tuan Robert. Namun melihat sikap Lais, Tuan Robert menjadi ragu.


"Apa maksudmu? Apa yang sudah dia lakukan?" Tuan Robert mengendorkan cengkraman tangannya. Lais segera menarik tangan papanya dari baju yang ia kenakan.


"Jadi kau tidak tahu...baguslah. Memang kau tak pernah mau tahu atas apa yang aku alami. Bagimu aku bukan anak. Aku adalah aset yang bisa kau gunakan untuk barter dengan rekan bisnismu."


"Ambil...aku tidak butuh!" teriak Lais. Ia benar benar marah karena kesedihan yang sudah memuncak. Ia berharap papanya datang dan meminta maaf atas kelakuannya. Karena semua penderitaannya bersumber dari sikap papanya. Tapi papanya tetap saja angkuh dan sombong.


"Baik!! Kalau itu maumu. Tinggalkan semua kemewahan yang aku berikan padamu!" tantang Tuan Robert sambil menunjuk dada Lais. Ia lalu pergi meninggalkan Lais yang mematung syok atas keserakahan papanya.


Di kamar, Aruna semakin cemas mendengar teriakan Lais. Ia ingin keluar tapi takut membuat Lais semakin marah karena tidak menuruti perintahnya. Aruna bangkit dan duduk dari ranjang berkali-kali. Ia juga berjalan mondar-mandir untuk mengusir kegalauannya.


Ceklek


Aruna menoleh saat pintu kamarnya di buka. Ia melihat wajah kuyu Lais.


"Sayang!" Aruna mendekat ke arah Lais yang langsung memeluknya. Tubuh Lais bergetar menahan tangis yang ingin keluar.


"Menangislah. Tidak apa-apa!" bisik Aruna sambil menepuk lalu mengelus punggung Lais. Samar Aruna mendengar isak tangis Lais. Hatinya ikut tersayat melihat keadaan suaminya yang sangat menyedihkan. Airmata Aruna meluncur turun.


Lais semakin mempererat pelukannya sampai akhirnya ia bisa tenang dan menguasai emosinya. Lais melepaskan Aruna. Dia menanhkup wajah Aruna dan mengusap airmata Aruna dengan ibu jarinya.


"Aruna, jika aku tidak punya apa-apa. Jika aku hanya pria miskin yang tidaj memiliki kemewahan. Apa kau masih mau menemaniku?" tanya Lais.


Tanpa berpikir panjang, Aruna langsung mengangguk. "Yang aku cintai adalah kamu. Bukan hartamu. Jadi aku akan selalu bersamamu, apapun keadaanmu. Aku tidak akan meninggalkanmu, kecuali kau sudah tidak menginginkanku." jawab Aruna.

__ADS_1


Lais tersenyum ," Kalau begitu, kita kemasi barang kita. Bawa baju dan suray penting saja. Benda berharga yang pernah aku berikan padamu, itu aku beli dari hasil perusahaan. Tinggalkan saja. Kelak aku akan membelikanmu lagi, saat aku sukses." kata Lais.


Meski bingunh, Aruna tidak banyak bertanya. Ia mengangguk dan melakukan apa yabg Lais perintahkan. Tak berapa lama kemudian, mereka turun sambil menenteng koper.


Saat sampai di lantai bawah, mereka dikejutkan oleh Bu Ira dan Pak Munir yang sedang menunggu dan kedua pelayan setia Lais itu juga membawa dua buah tas.


"Tuan muda. Ijinkan kami ikut." pinta Pak Munir.


"Kalian?"


"Kami mendengar pertengkaran tuan. Kami yakin tuan akan pergi. Jadi kami juga menyiapkan diri. Tuan bawa kami kemanapun tuan pergi." kata Pak Munir.


"Iya tuan muda. Nona sedang hamil. Saya ingin menjaganya." Bu Ira angkat bicara.


"Pak Munir, Bu Ira. Aku mungkin tidak akan bisa menggaji kalian." jawab Lais.


"Tidak apa-apa tuan. Selama ini tuan sudah sangat baik pada kami. Ijinkan kami membalas kebaikan tuan." kata Pak Munir.


Lais tersenyum getir,"Kalian ini." ia lalu menghela nafas. "Jika ikut aku, kalian mungkin akan jadi gelandangan. Sekarang saja aku belum tahu mau kemana. Dan aku tidak punya apa-apa. Semua fasilitas aku tinggal. Karena semua pemberian papa. Ya aku juga bekerja sih, tapi perusahaan milik papa."


"Tuan muda. Selama ini tuan sudah memajukan perusahaan tuan besar. Jadi tuan punya hak menikmatinya. Meski bukan sebagai pemilik tapi sebagai karyawan. Tuan bisa menganggapnya sebagai gaji tuan selama ini." nasehat Pak Munir. Ia tidak tega jika Lais yang sejak kecil terbiasa hidup enak, harus hidup menderita secara tiba-tiba.


"Jadi kalau aku memakai tabunganku tidak apa-apa, ya pak?"


Pak Munir mengangguk. Lais tersenyum cerah. Pak Munir benar. Selama ininia juga bekerja. Jadi ia berhak mendapat upah.


"Sayang tunggu sebentar!"


Laia kembali naik ke kamarnya. Ia mengambil.kartu atm dan juga buku tabungan miliknya lalu kembali menemui Aruna.


"Ayo kita berangkat!" ajak Lais.


"Biar saya yang bawa tuan!" pinta Pak Munir.


"Tidak perlu pak. Saya lihat bapak juga membawa tas. Biar saya bawa sendiri koper kami." tolak Lais dengan sopan.


Mereka keluar dari mansion. Lais memesan taksi online.


"Sayang kita mau kemana?" bisik Aruna.


Lais meliriknya sambil tersenyum samar.


"Ke Revan." jawabnya.

__ADS_1


...🍃🍃🍃...


__ADS_2