Menikahi Pria Tak Sempurna

Menikahi Pria Tak Sempurna
Hampir Ketahuan


__ADS_3

"Masih marah?" Lais melirik Revan yang sedang menyetir.


"Apa marahku berpengaruh bagimu?" kesal Revan. Bagaimana tidak kesal, ia khawatir dan mencarinya kemana-mana, namun Lais malah tidak mengabarinya sama sekali.


"Nggak juga sih." cuek Lais membuat Revan kian geram.


"Kalau begitu buat apa nanya." sungut Revan. Ia berharap Lais akan membujuknya seperti biasa. Menawarinya bonus untuk meredakan kekesalan akibat perbuatan Lais. Namun Lais justru diam membuat Revan heran.


"Kenapa kau diam? Apa ada masalah?" akhirnya Revan mengalah. Ia tidak bisa melihat sahabatnya yang nggak juga menemukan kebahagiaan karena selalu dirundung masalah itu termenung.


Lais menarik nafas.


"Ternyata selama ini mama hidup bersama papa. Dan sekarang demi melindungiku, ia harus sembunyi di rumah Roby. Sebagai anak, aku merasa sangat tidak berguna." Lais mengusap wajahnya.


Revan menelan ludah. Lais belum tahu jika selama ini mereka menyembunyikan hal itu.


"Apa keadaan Nyonya baik-baik saja?" tanya Revan.


"Saat ini iya." jawab Lais gamang. "Dengan bantuan orang-orangnya Roby, ia berhasil keluar dari rumah besar itu. Lihatlah Van, betapa tidak bergunanya aku. Orang lain justru yang menyelamatkan mamaku." Lais kembali mengusap wajahnya.


Revan meliriknya. "Beliau sangat menyayangimu jadi jangan sia-siakan usahanya. Lakukan yang terbaik seperti harapan Nyonya."


"Ya! Sepertinya Roby sudah mulai menjalankan rencananya. Ia melindungi mama karena tahu mama akan dijadikan senjata buat melemahkanku."


"Apa kata Roby?"


"Dalam beberapa hari ke depan, kita harus mengembangkan usaha kita buat menyaingi perusahaan papa. Kamu ingat Gao Grub? Pesaing terberat papa. Saat ini perusahaan itu lagi butuh suntikan dana. Kita akan membeli sahamnya."


"Kenapa bukan Gery?"


"Dihancurkan oleh orang terdekat lebih menyakitkan daripada oleh orang asing. Itu yang Roby mau seperti apa yang papa lakukan dulu."


"Kejam juga dia." gumam Revan.


...----------------...


Aruna sedang duduk di kamar menunggu suaminya. Ia membolak-balikan majalah karena bosan.


"Lama sekali Pak Revan menjemput Tuan. Bikin khawatir saja." gumam Aruna. Saat ia akan bangkit, pintu kamarnya terbuka. Lais muncul dengan senyumnya.


Aruna menatapnya dengan berkaca-kaca. Rasa lega melihat suaminya datang dengan utuh membuatnya terharu.


"Kenapa lama sekali?" gumamnya sambil merentangkan tangan.


Lais mendekat dan memeluknya.


"Maaf. Aku bertemu mama jadi banyak yang kami dibicarakan." dikecupnya pucuk kepala Aruna.


"Bagaimana keadaan mama?"Aruna mendongak menatap wajah Lais.

__ADS_1


"Beliau baik." jawab Lais sambilmengelus rambut Aruna,"Beliau titip salam. Kangen katanya."


"Aku juga kangen." Aruna kembali memeluk Lais.


Lais diam. Ia hanya membelai rambut Aruna.


Aruna merasakan keanehan itu. Biasanya saat ia manja, suaminya akan memanfaatkannya. Namun saat ini, Lais tidak merespon manjanya. Aruna melepaskan pelukannya. Ia memindai wajah suaminya yang nampak murung.


Ditangkupnya wajah Lais dengan kedua tangannya.


"Apa semuanya benar-benar baik?"


Lais memegang tangan Aruna.Ia mengangguk.


"Lalu kenapa kamu tampak sedih?"


"Nggak papa. Mungkin aku masih kangen sama mama." Lais memaksa tersenyum. Aruna menarik tubuh Lais dan mendekapnya lagi. Ia menepuk perlahan lengan Lais untuk menenangkan suaminya itu.


"Aku percaya kamu mampu." bisik Aruna. Ia tahu apa yang Lais cemaskan meski suaminya itu tidak mau jujur.


"Terima kasih atas kepercayaanmu. Kedepannya teruslah percaya dan mendukungku."


Aruna mengangguk.


"Mandilah lalu istirahat. Kamu pasti lelah. Akan aku siapkan air hangat." Aruna melepas dekapannya.


"Nggak perlu." Lais menahan Aruna. "Aku bisa. Kamu duduk saja di sini. Kamulah yang mesti banyak istirahat karena mereka." Lais mengelus perut Aruna.


Lais menunduk dan mencium perut Aruna. "Baik-baik di sana ya nak! Sehat-sehat juga." bisik Lais.


"Eh..mereka bergerak. Sepertinya mereka merespon perkataanmu." Aruna menyibak pakaian pada bagian perutnya. Benar saja tampak gerakan gerakan di perut buncitnya. Lais menatap dengan takjub.


"Hai sayang. Kalian mendengar papa ya?" kembali Lais bicara. Dan kembali gerakan itu muncul.


"Iya, mereka mendengarmu. Jadi semangatlah papa." bisik Aruna.


Lais beralih memandang wajah Aruna dengan penuh cinta.


"Terima kasih. Terima kasih telah hadir dalam hidupku. Terima kasih mau menerima pria yang tidak sempurna ini dan mau bersusah susah mengandung keturunanku." Lais mencium tangan Aruna.


Aruna trenyuh mendengar ucapan Lais. "Aku juga. Makasih telah memilihku untuk menjadi istrimu. Meski awalnya aku ragu, namun sekarang aku akan menyerahkan hidupku untukmu. Untuk keluarga kita."


Mereka kembali berpelukan.


"Sudah ah..mandi sama." Aruna mendorong tubuh Lais.


"Kenapa?Apa tubuhku bau?" Lais mengendus kedua ketiaknya. "Wangi."


"Wangi sih, tapi tetap saja harus mandi. Biar segar sayang." Aruna bangkit lalu menarik tangan Lais. Pria itu ikut bangkit dan menurut saat Aruna mendorongnya untuk masuk ke kamar mandi.

__ADS_1


"Nggak ditemani nih?" Lais melongokan wajahnya.


"Nggak. Mandi sendiri, nggak boleh manja." jawab Aruna sambil menahan senyum karena melihat wajah suaminya yang cemberut.


Aruna mengambilkan baju ganti untuk suaminya dan menaruhnya di atas ranjang. Ia lalu keluar dari kamar untuk melihat apakah makan malam mereka sudah siap.


Ia melihat Revan dan Nisa sedang berbincang di ruang makan.


"Dimana Lais?Kenapa kamu sendirian?"


"Dia sedang mandi. Pak Revan apa semuanya baik-baik saja?" tanya Aruna sambil.mendudukan tubuhnya di depan Nisa.


"Hm. Lais hanya menyalahkan dirinya untuk apa yang terjadi pada nyonya Robert. Dan dia belum tahu kalau kita menyembunyikan kebenaran tentang nyonya yang tinggal dengan tuan."


"Mama masih tinggal dengan tuan Robert?"


Revan menggeleng, "Dia bersama Roby sekarang."


"Syukurlah. Menyimpan rahasia itu sangat tidak mengenakan. Jika begini kita nggak perlu berbohong lagi untuk masalah mama karena tuan Lais sudah tahu."


"Berbohong? Berbohong soal apa?!"


Revan, Aruna dan Nisa refleks menoleh ke sumber suara. Lais dengan santai berjalan ke arah mereka.


"Kau sudah selesai mandinya sayang?Cepat banget" Aruna mencoba mengalihkan pembicaraan Lais.


Lais menarik kursi dan duduk di samping Aruna berhadapan dengan Revan.


"Siapa yang berbohong? Kebohongan apa?" Laia menatap tajam ke arah Revan.


Revan berusaha tenang. Ia mengambil gelas lalu menenggak habis isinya.


"Kamu." jawab Revan pendek.


"Aku?" Lais menunjuk.dirinya sambil mengernyitkan alisnya. Aruna memperhatikan mereka. Ia berusaha memahami apa yang Revan rencanakan.


"Aruna mengira kamu membohonginya karena nggak cerita soal mamamu." Jawab Revan sambil melirik Aruna.


"Iya..maaf. Aku bertanya ke Pak Revan soal mama." Sambung Aruna.


Lais memindai wajah mereka satu persatu."Benar begitu?"


"Iya sayang. Sudah ah jangan dibahas. Aku siapin makannya ya!"


"Nggak perlu non. Nih Bu Ira dah bawa makanannya." Bu Ira datang sambil membawa makan malam mereka dengan dibantu Pak Munir.


"Bu Ira dan Pak Munir makan bareng kami saja sekalian." ajak Lais.


"Maaf tuan. Kami punya tempat romantis kami sendiri." jawab Pak Munir sambil mengerling ke arah Bu Ira yang tersipu.

__ADS_1


Perilaku kedua orang paruh baya itu membuat keempat orang lainnya yang sedang duduk di meja makan terbengong.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2