Menikahi Pria Tak Sempurna

Menikahi Pria Tak Sempurna
Menghilang


__ADS_3

'Bagaimana urusanmu?' Lais menatap Revan yang hari itu sudah kembali bekerja. Ia menyerahkan beberapa berkas untuk Laos tanda tangani.


'Sudah!' jawab Revan pendek tanpa menatap Lais. Ia sengaja menjawab singkat agar Lais tidak mengorek lebih dalam. Ia khawatir tidak bisa menyembunyikan rencananya dari Lais.


"Apa urusanmu itu penting?Selama kita bersama, baru kali ini kau berani meninggalkanku. Selain saat kau bulan madu dulu." keluh Lais sambil membubuhkan tanda tangannya pada berkas yang ada di hadapannya. Ia tidak melihat saat Revan memandangnya dengan intens.


Penting sekali. Apapun yang ada hubungannya denganmu penting bagiku. batin Revan.


"Penting."


Lais mendongak. "Ada apa? Tak biasanya kau irit bicara?" Tangan Lais merapikan berkas dan menyodorkannya ke Revan.


"Nggak pa-pa." Ia menerima berkas dari Lais. "Aku kembali ke ruanganku dulu." Pamit Revan.


"Tunggu! Duduklah dulu!" titah Lais. Ia berdiri dan melangkah ke sofa. Dengan gerakan matanya ia menyuruh Revan yang masih berdiri di depan mejanya untuk duduk bersamanya.


Tanpa banyak kata, Revan ikut duduk di depan Lais. Ia masih tidak menatap Lais dengan menyibukkan diri memeriksa berkas yang ia terima dari Lais memastikan kalau tidak ada yang terlewat.


"Apa aku punya salah?" suara Lais dalam.


Tangan Revan berhenti. Ia mendongak dan melihat tatapan sendu sahabat yang sudah seperti saudaranya itu.


'Kenapa bertanya begitu?" Mata Revan tak lepas dari wajah Lais.


"Ya..karena kau tidak seperti biasanya. Biasanya kau ceria dan banyak bicara. Kenapa? Ada apa? Apa aku punya salah atau kamu yang punya masalah?"


Revan menghela nafas, "Tuan, apa tuan mempercayaiku?"


"Tentu saja. Kau orang terdekatku." jawab Lais mantab. "Kita bersama sejak kecil. Kaulah satu-satunya orang yang aku tidak merasa takut."

__ADS_1


"Baguslah. Jadi apapun yang aku lakukan tuan harus percaya kalau aku melakukannya demi kebaikan tuan." Revan berdiri. "Saya harus segera mengurus berkas ini. Tuan tidak ada salah apa apa jadi jangan terlalu banyak berpikir. Permisi!"


Revan menagayun kakinya menuju pintu bersamaan dengan ponsel Lais berdering.


"Hallo!"


"..... "


"Apa?!?Aruna menghilang?! Bagaimana bisa Bu Ira?!"


Revan yang sudah sampai di depan pintu dan sedang memegang handle urung membuka pintu itu. Ia menoleh dengan kaget.


Apa Rendy sudah menjalankan rencanaku? Bukankah Angela belum membuat kesepakatan? batin Revan.


Revan bergegas ke arah Lais yang tampak kebingungan.


"Aruna hilang." Lais menghempaskan tubuhnya di sofa. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Kedua sikunya menipu di lutut.


"Ayo kita pulang!" ajak Revan. Lais mengangguk. Ia menyambar kunci mobil dan bergegas keluar. Revan mengambil tas kerja Lais dan dengan tergesa-gesa ia menyusul bosnya itu.


"Bagaimana bisa?" kelurahan Lais dalam perjalanan pulang. Bayangan diculik. kembali menghantuinya. Tubuhmu gemetar dan gelisah.


"Lais kau harus lawan perasaan takutmu!" kata Revan yang sedang mengemudi sambil melihat Lais dari kaca spion.


"Jangan membayangkan hal buruk. Aruna pasti baik-baik saja. Kau harus kuat dan lawan rasa takutmu itu. Ingat! Aruna membutuhkanmu." Revan terus berusaha menyemangati Lais. Sebenarnya ia sangat ingin. menghubungi Rendy dan menanyakan apa menghilangnya Aruna ada hubungannya dengan rencana mereka. Namun itu tidak mungkin ia lakukan karena ada Lais.


Mobil yang mereka tumpangi sampai di mansion Lais. Belum sempurna mobil itu berhenti, Lais sudah membuka pintu dan keluar. Dengan langkah lebarnya dia masuk ke dalam.


"Bu Ira!!!" Lais berteriak dengan keras dan tidak sabar.

__ADS_1


Bu Ira dan Pak Munir datang dengan gemetar. Mereka takut Lais akan murka. Namun perkiraan mereka salah. Lais tidak murka. Ia gemetaran


Bu Ira segera merengkuh Lais seperti saat ia masih kecil dulu. Tiap kali ia ketakutan saat bayangan penculikan dirinya muncul dalam fikirannya, Bu Ira akan mendekapnya.


"Aruna!Aruna!" gumam Lais dengan suara gemetar.


"Nona akan baik-baik saja." bisik Bu Ira.


Ada penyesalan dalam hati Bu Ira. Tadi sebelum ia menelpon Lais, Pak Munir sudah melarangnya. Pak Munir takut menghilangnya Aruna akan membawa dampak bagi trauma Lais.


Revan baru saja tiba dan melihat Lais yang gemetar dalam dekapan Bu Ira menatap Pak Munir dengan penuh tanya.


Pak Munir memberi isyarat agar Revan mengikutinya. Revan berjalan di belakang Pak Munir.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Revan tidak sabar.


Pak Munir menghela nafas. " Pastinya bagaimana, saya juga kurang jelas. Ada telpon dari seseorang yang mengabarkan kalau mobil nona kecelakaan. Saat aku mengecek ke sana, aku hanya menemukan para pengawal dan juga guru privat nona saja. Sedangkan nona sendiri sudah tidak ada."


"Bagaimana bisa menghilang? Terus pengawal dan guru privat itu?"


"Mereka menjalani perawatan di rumah sakit."


Revan mengusap mukanya. Ia mulai. khawatir. Apalagi Rendy masih belum. bisa ia hubungi.


*Dimana kamu Ren....


...🍃🍃🍃*...


Aduh Aruna kemana ya... kasihan Lais nya...

__ADS_1


__ADS_2