
"Lepaskan, bangsat kau Anton!" Angela meronta.
"Diam, ******!" Anton mendorong tubuh Angela masuk.ke dalam sebuah ruang yang gelap.
"Anton, bajingan. Kau harus menepati janjimu!" teriak Angela. Kepalanya muncul di jendela yang terhalang jeruji besi.
"Kesepakatan batal. Kau yang melanggarnya." geram Anton
Angela tertawa, "Wanita itu pantas mati. Ia mengambil Robertku."
"Kau yang mengambil Tuan Robert darinya. Ia hanya meminta balik miliknya. Dasar wanita gila." Anton meninggalkan ruangan itu.
"Anton!!Bangsat kau! Lepaskan aku!" Angela terus saja berteriak.
Bangsat mereka semua. Mereka tidak boleh bahagia. Bagaimana bisa mereka bahagia sementara aku menderita. Hartaku sudah ludes. Pria itu menipuku. Jika aku ingin kembali hidup enak, aku harus mendapatkan Robert lagi.
Angela tersenyum sinis, namun lama kelamaan terbit wajah keputusasaan. Ia menyapu sekeliling dengan matanya.
Bagaimana aku bisa merebut Robert jika dikurung di tempat terkutuk ini. Semua karena Anton.
Angelina mendengus kesal. Matanya nyalang menatap keluar ke arah bayangan Anton yang menghilang di baling tembok.
Di mansion Lais.
Lais sedang bercengkrama dengan Aruna dan kedua bayinya. Ia dikejutkan oleh dering ponsel. Lais melihat siapa yang menghubunginya.
"Sayang, aku angkat telepon dulu." Ucap Lais lalu bangkit meninggalkan Aruna dan bayi-bayinya.
Aruna mengernyit. Lais tidak pernah menjauh saat menerima telepon. Ini kali pertama suaminya itu melakukannya.
"Hallo!" Lais langsung mengangkat panggilan yang masuk.kenponsepnya begitu keluar dari kamar.
"Bagus! Kau urus perempuan itu. Buat dia pergi jauh atau kalau menolak jebloskan saja ke penjara! Ini penawaran terakhirku."
Lais memutuskan panggilan. Rahangnya mengeras.
Beraninya dia hendak melukai mama.
"Kenapa wajahmu kesal.begitu?" Revan yang lewat langsung menyapa saat melihat Lais berdiri dengan wajah kesal.
"Anton memberi kabar." Lais melangkah keluar diikuti Revan. Mereka lantas duduk di teras depan.
"Apakah rencana kita sukses?"
Lais mengangguk, "Sukses meski ada sedikit kecelakaan."
"Maksudnya?"
"Wanita itu menyerang mama."
"Apa?Bagaimana keadaan Nyonya?" Revan nampak cemas.
"Mama baik-baik saja. Untung sopir taksi yang mama tumpangi ada di sana dan menolongnya."
"Lalu wanita itu?"
"Anton sudah mengurusnya."
"Wanita tak tahu diuntung. Sudah diberi kesempatan juga masih menyia-nyiakannya."
"Tapi setidaknya kita tahu kalau pak tua itu sungguh-sungguh dengan tekadnya untuk berubah."
"Ya. Lalu apa yang akan kau lakukan selanjutnya? Bukankah hukumanmu tiga bulan."
Lais menarik nafas panjang.
"Sudahlah. Mama juga sudah memaafkannya. Kau jemput mereka untuk perayaan pemberian nama anak anak kita besok lusa!"
"Siap, bos!"
Lais meninggalkan Revan. Ia kembali ke kamarnya.
"Dari siapa? Kenapa mesti menjauh? Rahasia ya sampai aku saja nggak boleh dengar? Dari wanita ya?" Aruna memberondong Laia begitu suaminya itu masuk.
Lais mendekat lalu mencubit kedua pipi Aruna. "Cemburu boleh. Tapi lihat-lihat. Apa kau pikir aku bisa tertarik dengan wanita lain?"
"Ya siapa tahu, setelah sembuh jadi mulai tebar pesona." Aruna cemberut. Ia meraba pipinya bekas cubitan Lais.
"Dari Anton. Ia memberi kabar soal mama." Lais mengalah.
"Kenapa.harus keluar?"
"Ya, ingin bebas saja bicara. Biar nggak menganggu anak anak kita." Lais mengacak rambut Aruna gemas karena istrinya itu terus saja cemburu.
__ADS_1
"Mama dimana?" Aruna akhirnya mempercayai Lais.
"Mama menemui papa."
"Tuh kan. Mama pasti kasihan sama papa. Tiga bulan mana papa bisa tahan." gumam Aruna.
"Tahan? Apa maksudmu?" Lais mengernyit.
"Mm..itu. Saat mama memberi kursus aku dan Nisa,.mama bilang kalau...mmm..kalau pria itu tidak bisa menahan untuk begituan terlalu lama. Makanya sebagai istri kita harus siap menservisnya. Ya meski kami lagi palang merah sekalipun. Ada cara lain."
"Terus?" Lais mendekat sambil tersenyum menggoda Aruna. Ia mulai tertarik dengan topik yang diangkat oleh istrinya
"Cara lain itu bagaimana?"
"Cara lain ya..itu..yang mama ajarkan tadi." Aruna tergagap karena melihat senyum Lais. Ia tahu betul makna dibalik senyum itu.
"Mmm yang nanti malam mau kita praktikkan?" bisik Lais. Ia sengaja meniup telinga Aruna.
"Ah..menjauh!" Aruna mendorong dada Lais.
"Kita lagi membahas papa nih." lanjut Aruna jengkel.
Lais terkekeh.
"Jadi tadi aku bilang ke mama, kasihan papa karena harus menahannya selama tiga bulan. Mama langsung diam. Mungkin karena ucapanku itu, mama memutuskan menengok papa."
Lais diam menyimak.
"Apa sekarang mereka sedang..aw.." Aruna meringis sambil.mengusap kepalanya karena tiba-tiba Lais menjitak kepalanya.
"Sakit ih."
"Daripada membayangkan orang lain yang lagi enak-enakan, kenapa kau tidak membuat suamimu ini merasakan hal yang sama." Lais mendekatkan wajahnya.
"Eh...ada si kembar juga." Aruna menahan wajah Lais dengan telunjuknya. Matanya mengarah ke si kembar yang lagi tidur dengan pulasnya.
"Mereka tidur. Meskipun bangun, mereka juga tidak akan mengerti. Ayo!" Lais menepis telunjuk Aruna. Dia terua merangsek maju.
"Ayo apa?" Aruna menggeser mundur tubuhnya.
"Praktek!!" ucap.Lais tegas bernada perintah.
"Itu.."
Hadeh kalau janji yang begituan saja diingat terus.
Satu jam kemudian, Lais keluar dari kamar mandi dengan wajah segar berseri. Sedangkan Aruna duduk di ranjang dalam keadaan lemas dan kelelahan.
Laia tertawa melihat istri mungilnya. Ia mendekat dan mengacak rambutnya gemas.
"Mandi sana!" titahnya.
"Capek." balas Aruna dengan malas. Ia malah merebahkan tubuhnya.
Apa selama empat puluh hari ke depan aku harus melakukan itu demi agar suami nggak melirik wanita lain.
Aruna menatap Lais yang sedang berpakaian.
"Mau menghubungi siapa?" tanya Aruna saat melihat Lais mengambil ponsel dan menekan nomornya.
"Anton. Aku akan memintanya menjemput dan mengantar mama pulang." Jawab Lais sambil menempelkan ponselnya di telinga menunggu Anto menjawab panggilannya.
"Eh jangan!!" Aruna spontan bangkit dan mengambil ponsel dari tangan Lais. Ia lalu mematikan panggilan ke Anton.
"Hei, apa yang kau lakukan. Kembalikan ponselku!" Lais mengulurkan tangannya.
"Tidak sebelum.kau janji tidak akan mengganggu mama!" Aruna menyembunyikan ponsel Lais di belakang tubuhnya.
"Aruna, kembalikan ponselku!" Lais mengulang perintahnya. Matanya menatap tajam Aruna.
Aruna menggeleng. "Sayang, kasihanilah papamu. Ia sudah mau berubah. Berilah dia kesempatan. Dan mama juga masih mencintainya."
Lais tidak lagi meminta. Ia langsung menubruk dan berusaha mengambil paksa ponsel dari tangan Aruna.
Aruna mempertahankan dengan gigih.
"Batalkan hukuman atau aku juga akan menghukummu!" ancam Aruna.
"Kenaoa harus dibatalkan? Bukankah kau juga menginginkan papa menjalani ujian?" Balas Lais. Ia berhenti memaksa Aruna.
"Itu sebelum aku tahu kalau mama masih mencintainya, dan sebelum aku tahu kalau hukumanmu akan membuat papa sengsara lahir batin."
"Baik, tapi ini tidak gratis. Kau memohonlah padaku!"
__ADS_1
"Apa?" Aruna melotot tak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Mm." Lais mengangguk.
"Memohonlah! Beri aku kompensasi yang pantas agar aku mau membatalkan hukumanku pada mertuamu itu."
Aruna diam. Matanya menyorot Lais penuh selidik.
Nih orang perhitungan banget.
"Ayo, tunggu apa lagi?" Lais menantang.
Aruna masih diam.
Nggak usah dituruti. Ponselnya di aku, dia tidak akan bisa menghubungi Anton.
"Nggak ada yang akan memohon ataupun memberi kompensasi. Batalkan yang batalkan." Aruna menyimpan ponsel Lais di bawah bantal. Ia lantas menaruh kepalanya di atas bantal itu.
"Kau pikir aku tidak punya cara lain?" Lais beranjak bangkit dari duduknya.
"Kau mau kemana?" Aruna panik.
"Revan masih punya ponsel. Bu Ira, Pak Munir bahkanak Nah juga masih punya ponsel. Aku bisa meminjam dari mereka." ucap Lais sambil mepangkahkan kakinya hendak keluar.
Apa?!
"Tunggu!! Iya aku akan memohon." Aruna meloncat dari ranjang. Ia melesat dan berdiri di hadapan Lais.
"Aku mohon beri kesempatan pada mereka untuk kembali bersama." Aruna memelas.
"Balasannya?" Lais bersedekap.
"Apa yang kau mau?" Aruna balik bertanya.
Lais tersenyum. "Kembalikan dulu ponselku!" Lais menengadahkan tangannya.
"Hanya itu." Aruna tersenyum senang. Ia beranjak.mengambil ponsel Lais.
Aku berfikir terlalu banyak. Ku kira dia akan minta yang aneh-aneh.
"Nih!" Aruna menaruh ponsel Lais di tangan pria itu.
"Sudah bisa dibatalkan?" tanya Aruna.
"Kau belum memberikan penawaran, bagaimana aku bisa membatalkan." Lais memasukkan ponselnya ke saku.
"Hei bukankah ponselnya sudah aku kembalikan?"
"Ini syarat bukan penawaran."
"Ck. Kau menipu aku." gerutu Aruna.
Lais menarik ujung bibirnya. Ia sangat senang melihat Aruna kesal seperti itu.
Kenapa dia selalu bisa mempermainkan aku? Apa karena dia jauh lebih tua dari aku? Begini derita menikah dengan orang tua.
"Baiklah, aku menyerah. Batalkan ujian papa dan aku akan memberikan apapun yang kau mau."
Lais tertawa. "Penawaran yang bagus. Ok, aku terima. Kau tidak boleh menolak permintaanku!"
"Iya..ih bawel."
"Permintaanku hanya satu." Lais lalu mendekat ke Aruna. Ia berbisik di sisi telinga Aruna. "Service aku seperti tadi. Setiap aku mau"
Muka Aruna memerah. Apa yang ia takutkan benar-benar jadi kenyataan.
Lais menepuk pundak Aruna tiga kali. "Istirahatlah! Aku masih ada urusan."
Lais melangkah keluar diiringi tatapan kesal Aruna.
Aruna mengacungkan tinjunya ke arah Lais.
*Untung suamiku, kalau bukan sudah ku tendang sampai pecah.
...🌷🌷🌷🌷...
Hai readers, makasih sudah setia menunggu. Maaf upnya telat, authir lagi dalam kondisi tidak fit dan harus banyak istirahat.
Alhamdulillah sekarang dah baikan.
Jadi semangatin ya dengan bunga, vote, like dan komennya.
Makasih buat yang udah ngasih koin. Pahala buat kebaikan hati anda. Aamiin
__ADS_1
Stay tune di Menikahi Pria Tak sempurna yang kurang beberapa episode menuju tamat*.