
Lais mengerjakan matanya. Ia tersentak saat tidak. melihat Aruna di ranjang.
"Run! Aruna!" Lais berteriak panik.
"Tuan, saya di sini." Aruna keluar dari kamar mandi sambil menyeret tiang infus.
" Kau, kenapa tidak membangunkan aku?!" Lais bergegas membantu Aruna.
"Tuan pulas tidurnya. Aku nggak tega." balas Aruna. Ia melangkah pelan sambil. menahan perih di perutnya.
"Masih sakit ya?" tanya Lais cemas.
Aruna tersenyum kecil.
"Hati-hati." Lais membantu Aruna kembali naik ke ranjang.
"Kamu tahu siapa yang menusukmu?" tanya Lais.
"Namanya Angkasa. Ia kakak kelas saya, Tuan. Tuan ingat, pemuda yang pernah Tuan lihat saat saya menunggu Tuan siang itu? Dia orangnya."
Angkasa. Kalau memang ini ulah Kirey, pasti pemuda itu punya hubungan dengan Kirey.
"Kenapa dia menusukmu?" tanya Lais.
"Sebenarnya dia hanya mengancam dengan menaruh pisau di perut saya, Tuan. Tapi saat melihatnya akan mencium saya, saya berontak dan tertusuk pisau." Aruna menjelaskan.
Jadi dia lebih rela tertusuk pisau daripada menerima ciuman pemuda itu. batin Lais.
Senyum mengembang di wajah Lais. Hatinya menjadi hangat.
__ADS_1
"Istirahatlah. Sebentar lagi dokter datang. Kamu akan diperiksa. Kalau kondisimu membaik, aku akan minta perawatan dilakukan di rumah. Lebih aman. Karena aku nggak bisa setiap saat mendampingimu."
Aruna mengangguk.
Beberapa saat kemudian, dokter visit. Ia memeriksa kondisi Aruna. Lais menjauh dan mengawasinya dari samping jendela. Begitulah dia kalau ada orang asing.
"Bagaimana dokter?Apa saya baik baik saja?Apa perawatan bisa dilanjutkan di rumah?"
"Nona sudah membaik. Silahkan kalau mau melanjutkan perawatan di rumah. Nanti perawat akan mengurusnya. Asal. jaga kebersihan luka biar tidak infeksi."
"Terima kasih dokter."
Dokter dan perawat meninggalkan ruangan Aruna.
"Revan! Ke rumah sakit sekarang! Urus kepulangan Aruna!" perintah Lais.
"Tuan, kenapa selalu merepotkan tuan Revan? Kenapa nggak tuan saja yang mengurusnya?"
Aruna memandangi Lais. Ia tahu bukan repot yang membuat Lais enggan, tapi karena ia masih belum bisa bersosialisasi dengan orang asing. Lais masih trauma dengan orang asing, meski sekarang tampak sedikit berkurang sejak mengenal Aruna.
Sementara itu di tempat lain, Kirey sedang mengumpat karena kebodohan Angkasa yang justru melukai Aruna membuat kejahatan mereka tercium Revan.
Sudah seharian ini ia tidak berani keluar apartement karena tahu Revan pasti akan mencarinya.
"Semua ini gara gara pemuda tolol yang nggak becus itu. Sial, aku jadi nggak bisa kemana-mana." kembali Kirey mengomel dan mengumpat.
"Bocah itu pasti sudah ditangkap Revan dan di interogasi. Sial, seharusnya aku menyingkirkannya."
Kirey tampak bingung. Ia mondar mandir di dalam kamarnya.
__ADS_1
"Sebaiknya aku kabur saja ke luar negeri. Nanti jika saatnya tiba aku akan pulang dan kembali menuntut hakku pada keluarga Lais."Kirey lalu mengeluarkan koper dan mulai mengemas pakaiannya.
Dengan tergesa-gesa ia menyeret kopernya keluar dari apartemen. Kaca mata hitam menghiasi wajahnya. Topi hitam dan lebar nangkring di atas kepalanya. Tak lupa memakai masker penutup wajah. Penampilan Kirey seperti artis yang sedang menyamar agar tidak diketahui oleh fans nya.
Kirey menghentikan taksi yang lewat dan langsung masuk begitu pintu taksi terbuka.
"Bandara!" titahnya pada si sopir.
Taksi meluncur ke bandara.
Tak lama setelah kepergiannya, orang orang suruhan Revan tiba. Mereka langsung menuju apartement Kirey dan mendapati apartement sudah kosong.
"Tuan, Revan. Sepertinya target berhasil kabur." salah seorang darinoengawal menghubungi Revan.
Di rumah sakit.
Revan yang sedang mengurusi administrasi kepulangan Aruna, mendadak kesal setelah menerima panggilan telepon.
"Ada apa Van?" tanya Lais.
"Maaf Tuan, Kirey kabur."
"Biarkan saja."
"Dibiarkan Tuan. Dia sudah mencelakai Nona, dan Tuan bilang biarkan saja?!"
"Belum saatnya ia tertangkap." jawab Lais santai. "Dia nggak akan berani pulang untuk waktu yang lama. Itu sudah hukuman baginya. Bagaimana dengan pemuda itu?!"
"Kami sudah membereskannya. Ternyata dia anak salah seorang rekan bisnis tuan.
__ADS_1
Sasongko."
Mendengar jawaban Revan ada senyum devil di bibir Lais.