
Lais berdiri dengan bertelanjang dada sambil menatap ke arah luar melalui kaca jendela kamarnya yang lebar. Ia lalu mengalihkan pandangannya ke atas ranjang. Nampak Aruna masih terlelap dengan selimut menutupi tubuh nya.
Lais menunduk. Ia mengingat apa yang barusan mereka berdua lakukan.
Jelas-jelas tadi ia kesakitan. Tapi aku masih memaksakan. batin Lais.
Ia merasakan penyesalan yang teramat dalam. Ia berpikir ia telah menyakiti Aruna, karena Aruna sampai menitikkan airmata.
"Tuan!" suara lembut Aruna membuat Lais menoleh ke arahnya.
Lais mendekat, "Kau tidak apa-apa?"
Aruna tersenyum lalu menggeleng.
"Aku baik-baik saja." jawabnya.
"Jangan bohong. Tadi kau merintih kesakitan bahkan menitikkan air mata. Maaf." kata Lais. Ia tidak berani lebih dekat lagi ke Aruna. Ia takut akan menyakiti istri mungilnya itu.
"Tuan." Aruna menepuk kasur di sebelahnya sebagai isyarat agar Lais duduk di situ.
"Aku di sini saja. Aku takut tidak bisa menahan diri lagi dan menyakitimu." tolak Lais.
"Tuan, sikap tuan yang seperti ini justru menyakitiku. Kemarilah. Aku akan menceritakan sesuatu yang akan membuat tuan tenang." kata Aruna lalu ia kembali menepuk kasur kosong di sebelahnya.
Lais sejenak ragu namun akhirnya ia mendekat dan duduk di sebelah Aruna.
Aruna melingkarkan tangannya ke lengan kekar Lais.
"Tuan, apa yang aku rasakan dan air mata itu adalah hal wajar. Setiap wanita akan merasakan hal yang sama saat pertama kali melakukannya. Sakit memang, tapi indah. Dan aku tidak menyesalinya. Aku bahkan bahagia karena tuan telah mampu melakukannya. Kini tuan tidak perlu lagi ke dokter Sammy. Tuan sudah sembuh." Aruna semakin mempererat pelukannya pada lengan Lais. Ia bahkan menempelkan tubuhnya pada Lais.
Lais menelan ludah. Bagian tubuh Aruna yang menempel di kulitnya membuat sesuatu kembali bergelora dan meminta penyaluran.
"Aruna." desah Lais dengan suara serak.
Aruna mengangkat wajahnya mandang Lais. Ia melihat kabut gairah di mata suaminya itu. Jujur tubuhnya masih sakit namun melihat ini bagus buat kesembuhan Lais, Aruna tidak menyia-nyiakannya. Ia lalu melingkarkan tangannya leher Lais dan mendekatkan wajahnya untuk berbisik.
"Aku milikmu." suarnya lembut menggoda membuat Lais semakin gila.
Lais lalu mendorong tubuh Aruna hingga terlentang dan mengungkungnya.
"Bener tidak sakit?" ia memastikan.
Aruna mengangguk. "Aku menyukainya. Aku menantikannya." jawabnya mesra.
Tidak ada lagi yang menghalangi Lais. Ia kembali menyalurkan hasratnya pada Aruna.
-
-
-
Keesokan harinya.
"Kamu sudah siap?" Lais melihat Aruna yang telah berpakaian rapi.
Aruna mengangguk sambil tersenyum. Ia berusaha melangkah meski merasakan sakit pada seluruh tubuhnya. Lais bagai singa kelaparan. Setelah mampu menepis ketakutannya, ia tidak memberi jeda istirahat yang cukup pada Aruna.
Meski berusaha menyembunyikannya, Lais bisa melihat kalau Aruna sedikit berbeda.
"Kamu tidak apa-apa?" tanyanya cemas.
"Aku baik-baik saja Tuan. Hanya capek. Bukankah kemarin seharian tuan tidak memberiku istirahat?" jawab Aruna dengan tersenyum lalu mengedipkan matanya Ia tidak mau membuat Lais merasa bersalah karena itu akan berakibat buruk.
Lais tersenyum. Semua yang mereka lakukan kemarin hingga pagi tadi terbayang dalam ingatannya.
"Ternyata sangat indah dan menyenangkan." gumamnya lalu mulai melajukan mobilnya menuju rumah dr Sammy.
"Begitupun berinteraksi dengan orang Tuan. Sangat menyenangkan. Apalagi kalau kita bertemu orang-orang baru yang seru." balas Aruna.
__ADS_1
Senyum di bibir Lais memudar. Ia menoleh dan memandang Aruna dengan tatapan tidak suka.
"Tuan jangan marah. Aku hanya mengatakan pengalamanku saja. Bukankah sebelumnya aku juga asing bagi tuan? Dan lihatlah sekarang?Aku jadi istri tuan. Jadi tidak semua orang asing itu jahat."
"Itu karena kamu beda sejak awal."jawab Lais.
Aruna tidak pagi mendebat Lais. Ia tahu ini bukan saat yang tepat.
Satu persatu dulu. Nanti juga akan tiba waktunya. batin Aruna
Mobil yang mereka tumpangi memasuki halaman rumah dr Sammy.
" Ayo!" Lais membukakan pintu bagi Aruna dan mengulurkan tangannya.
Dengan bergandengan mereka masuk ke rumah dr Sammy.
'Selamat pagi, tuan Lais. Silahkan duduk."dr Sammy menyambut mereka dengan senyum ramahnya.
Lais dan Aruna mengambil tempat duduk bersebelahan. Tangan mereka masih saling terkait. Lebih tepatnya, Lais tidak mau melepaskan tangannya dari Aruna.
"Nona?!" tanya dr Sammy sambil. menatap leher Aruna yang penuh dengan tanda merah kebiruan.
"Oh.. ini.. " Aruna tergagap malu. Tangan kanannya meraba tanda di lehernya. Ia berpikir untuk mencari alasan.
"Eh... kenapa bisa sampai membiru? Apa aku sangat keterlaluan?" tanya Lais cemas.
Aruna melotot ke arah Lais. Ia bermaksud menutupi dari dr Sammy, Lais malah dengan polosnya mengakui semua. Wajah Aruna seketika memerah karena malu.
"Kenapa mukamu merah? Apa kau demam?" Lais meraba kening Aruna.
"Hahahaa... " dr Sammy tergelak melihat pasangan di depannya. "Selamat Nona, Tuan."
Lais memandang dr Sammy.
"Selamat Tuan. Anda sudah keluar dari dunia sepi itu." kata dr Sammy.
"Karena ada ikatan emosi antara kalian. "
"Maksudmu?"
"Apa yang tuan rasakan pada nona?"
Lais mengernyit. Ia memandang Aruna yang juga sedang menatapnya dengan sorot mata penasaran.
Apa yang aku rasakan?
"Aku tidak tahu. Aku hanya tidak suka kalau dia dekat dengan pria lain apalagi sampai disentuh oleh pria itu." Lais mengulurkan tangannya membelai" rambut Aruna.
Ah ya... jadi dia menyuruh aku mencuci rambut karena kak Rendy membelai rambutku. Mmmm jadi ia cemburu.
"Apalagi ayang Tuan rasakan selain perasaan tidak suka itu?" dr Sammy terus bertanya.
"Aku... aku... " Lais menatap Aruna.
Aku ingin dia selalu didekatku, bersamaku, menjadi milikku dan hanya milikku.
Kata kata itu hanya Lais ucapkan dalam hati, namun yang keluar dari bibirnya,"Aku tidak tahu."
Aruna dan dr Sammy menghela nafas bersamaan.
"Baiklah, saya mengerti." kata dr Sammy.
"Dokter... boleh saya bertanya? " Aruna yang sejak tadi diampun berkata.
"Silahkan!"
"Tuan... bisakah tuan meninggalkan kami berdua! Saya ingin bicara berdua dengan dr Sammy."
"Kenapa aku harus pergi? Apa ada rahasia diantara kalian?" Lais berkata dengan nada curiga dan tidak suka.
__ADS_1
Dr Sammy membuat gerakan dengan kedua tangannya, "Tidak.. tidak ada rahasia antara kita berdua Tuan." katanya menepis kecurigaan Lais.
"Kalau begitu aku akan tetap disini."
Nih orang pencemburu sekali ternyata. batin dr Sammy.
"Baiklah. Tapi jangan menyela atau protes!" kata Aruna. Lais hanya mengangkat kedua alisnya.
"Dr... apa itu artinya dia sudah sembuh?" tanya Aruna berhati hati.
dr Sammy mengangguk, "Tapi masih ada trauma yang harus ia atasi. Ia masih perlu terapi. Tugasmu untuk membantunya menyingkirkan trauma akan ketakutannya pada orang asing." kata dr Sammy.
"Untuk apa? Aku tidak butuh orang yang asing bagiku." Lais berdiri dan menggandeng tangan Aruna, "Ayo, pulang. Ada pekerjaan yang harus kita selesaikan!"
"Pekerjaan apa?" Aruna bingung.
Lais tidak menjawab. Ia menarik Aruna agar segera berdiri.
"dr kami permisi." pamit Aruna sebelum tubuhnya digelandang Lais.
Sesampainya di luar, Aruna menghentikan Lais. "Tuan tunggu! Ada barang saya ketinggalan. Tuan tunggu di sini saya akan mengambilnya."
Aruna menarik lepas tangannya dari genggaman Lais dan segera berlari kembali ke ruangan dr Sammy.
"Ada apa Nona?" tanya dr Sammy ketika melihat Aruna kembali.
"dr, apa ada kemungkinan ia bisa melakukannya dengan wanita lain?" tanya Aruna malu-malu. "Bukankah dia sudah sembuh?"
dr Sammy menggeleng. "Dia hanya mampu melakukannya dengan wanita yang ada ikatan emosional dengannya saja."
Aruna tersenyum senang
"Terima kasih dokter." katanya lalu keluar.
Aruna sampai di luar dan langsung masuk ke mobil.
Lais melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Apa dia marah? Kenapa dia ngebut.
Aruna bepegangan pada handle pintu mobil. Ia ngeri melihat Lais ngebut tapi tidak berani menegurnya. Muka Lais tanpa menahan sesuatu hingga tegang.
Rumah? Bukankah ia bilang ada pekerjaan. Kenapa malah pulang?
"Keluar!" kata Lais setelah membukakan pintu untuk Aruna. Aruna keluar dengan hati hati. Lais segera meraih tanganya dan menariknya. Ia menggandeng Aruna masuk ke rumah dengan tergesa-gesa.
"Tuan?" kata Aruna sambil berusaha mengikuti langkah cepat Lais. Lais membawa Aruna menaiki tangga menuju kamar mereka.
Sesampainya di dalam kamar, Lais mengunci pintu lalu mengangkat tubuh Aruna dan membaringkannya di ranjang.
"Tuan, bukankah tuan bilang ada pekerjaan? Kenapa tuan tidak ke kantor?" tanya Aruna sambil membenahi posisi pakaiannya yang tersibak.
"Urusan kantor sudah dihandle Revan. Aku ada pekerjaan baru sekarang." jawab Lais sambil membuka jasnya lalu melemparkannya begitu saja. Ia kemudian melepaskan dasi dan mulai membuka kemejanya. Tubuh bagusnya terpampang di hadapan Aruna.
Dia? Apa dia akan memintanya lagi.
"Ah." desah Aruna pasrah saat tebakannya tepat.
Lais sudah kecanduan.
...🍃🍃🍃...
Jangan lupa jejaknya.
vote
like
coment
__ADS_1