Menikahi Pria Tak Sempurna

Menikahi Pria Tak Sempurna
Bapak Bisa.


__ADS_3

"Tuan muda..!" ucap Pak Malik gugup.


Lais mengangkat tangan menghentikan Pak Malik yang hendak menyela Revan.


"Bapak tenang saja. Dia tahu apa yang dia lakukan." tegas Lais dengan suaranya yang berwibawa.


Pak Malik menelan ludahnya dengan susah payah. Matanya menatap Mak Nah yang menunduk.


Bagaimana kalau Tuan Muda itu bermaksud mencarikan aku istri agar aku tidak lagi merepotkan wanita itu. batin Pak Munir gusar.


Sementara Mak Nah terus menunduk dengan dada berdebar dan penasaran.


Apakah Tuan Revan akan mencarikan ibu buat Seruni? Baguslah, setidaknya anak ini akan ada yang memperhatikan dan merawat nantinya. Meski aku pasti akan sedih dan kehilangan karena dalam hatiku mulai tumbuh rasa sayang pada Seruni.


"Tapi Om. Aku sudah punya ibu." jawab Seruni mengagetkan Revan dan Lais.


"Oh ya?! Mm..kok om tidak tahu ya? Ibumu ada dimana sekarang?" tanya Revan memastikan.


"Itu ibu aku." Seruni dengan percaya diri menunjuk ke arah Mak Nah.


Mata Revan sedikit membulat saat beralih menatap Mak Nah. Di tempat duduknya Lais mengulum senyum.


Sepertinya ada sesuatu yang tidak kami ketahui.


"Mak Nah ibumu?" gumam Revan.


"Tuan, ini hanya.." Mak Nah gugup mendapat tatapan penuh tanya dari Revan.


Pak Malik tidak tega melihat kegugupan Mak Nah. Ia mencoba menjelaskan kepada Lais yang duduk di dekatnya dengan suara lirih agar tidak di dengar Seruni.


"Tuan, dia mirip dengan ibunya Seruni jadi Seruni menganggapnya sebagai ibunya sendiri." Pak Malik menunduk malu. Semburat merah menjalar di wajah putihnya.


"Lalu?"


"Hah, lalu apa?" Pak Malik tergagap


"Sudah sesayang itu Seruni sama Mak Nah, apakah harus Revan juga yang mengabulkan keinginan Seruni untuk memiliki ibu?" pancing Lais.


Pak Malik diam. Ia ingin menjawab pertanyaan Lais namun tap ada kata-kata yang keluar dari bibirnya. Sepasang bibir tipisnya tiba-tiba terasa kelu.


Sementara Revan merasa bahagia karena rencananya untuk menjodohkan Mak Nah dan Pak Malik menemukan jalan terang. Ia tidak perlu membujuk Seruni karena gadis belia itu ternyata sudah menyayangi Mak Nah.


"Wah, Mak Nah. Selamat ya, untuk keluarga barunya." canda Revan.

__ADS_1


"Tuan, ini tidak..."


"Tidak apa-apa Mak. Kami mendukung Mak Nah kok. Bukan begitu Tuan Muda?" Revan berpaling ke Lais.


Lais mengangguk pelan sambil menyungging senyum tipis.


Pak Malik yang sedari tadi menunduk, langsung mengangkat wajahnya saat mendengar suara Revan. Ia mengarahkan pandangannya ke Revan dan tanpa sadar matanya malah menatap Mak Nah yang saat itu juga sedang melihat ke arahnya dan Lais.


Pak Malik merasakan jantungnya berdebar dan tanpa sadar ia meraba dadanya.


Kenapa aku ini? Tidak mungkin aku menyukainya kan? Jantung ini berdebar hanya karena ia mirip ibunya Seruni kan? Pasti karena itu.


"Bapak baik-baik saja?" Lais yang melihat Pak Malik mengusap-usap dadanya, bertanya dengan khawatir.


"O..eh..saya baik-baik saja, Tuan Muda." jawab Pak Malik gugup.


"Lalu kenapa bapak terus mengelus dada?" lanjut Lais.


Lais bukannya tidak tahu kenapa Pak Malik mengelus dadanya. Ia sempat memergoki Pak Malik dan Mak Nah saling menatap meski sebentar. Ia tahu pasti apa yang Pak Malik rasanya karena dulu dia juga pernah merasakan saat awal awal bertemu Aruna.


"Ini...saya hanya merasa..." Pak Malik semakin gugup dan bingung mencari jawaban atas pertanyaan Lais.


"Pak, kadang hati kita jauh lebih jujur daripada otak kita."


Apakah Tuan Lais bisa menebak apa yang aku rasakan.


Lais tidak menjawab. Ia hanya tersenyum.


"Seruni, apakah Seruni ingin tinggal bersama ibu?" Revan bertanya pada Seruni.


Seruni mengangguk dengan yakin. "Tentu saja Om. Apa om bisa mengabulkan keinginanku yang itu?" tanya balim Seruni sabil menatap penuh harap.


"Bisa." Revan menjawab dengan tegas dan yakin.


"Tuan Revan." bisik Mak Nah panik.


Bagaimana aku bisa tinggal dengan Seruni? Tuan Revan kenapa membuat janji kosong, Seruni pasti akan kecewa nanti.


"Om janji ya!" Seruni mengulurkan kelingkinhnya.


"Janji."


Revan dan Seruni melakukan janji jari kelingking.

__ADS_1


Pak Malik yang melihat hal itu ikutan panik.


Tuan ini kenapa cari masalah. Kalau nanti ia tidak bisa memenuhi janjinya, Seruni pasti akan kecewa dan itu buruk bagai kesehatannya.


"Van, kita harus kembali ke kantor!" ajak Lais sambil berdiri.


Revan mengacungkan jempolnya. Ia lantas berpamitan pada Seruni.


"Anak baik, kamu harus segera sembuh agar om bisa memenuhi keinginanmu."


"Ya." Seruni mengangguk dengan semangat.


"Sekarang om Revan sama om Lais pamit ya."


"Kapan om datang lagi?"


"Mm...om tidak tahu. Tapi jika ada waktu luang,om akan membesukmu lagi."


"Baik, Om. Runi tunggu."


Revan mengacak rambut Seruni sebelum melangkah menuju pintu keluar.


Lais sudah menunggu di dekat pintu. Mereka berdua keluar dengan diiringi olek Pak Malik.


"Tuan, maaf. Ada yang ingin saya sampaikan." kata Pak Malik ragu.


"Soal-apa, Pak?" Revan yang menjawab.


"Ini soal janji tuan pada putri saya. Maaf, jika nantinya keinginan Seruni tidak terwujud, dia akan sedih dan ini bahaya buat kondisi tubuhnya juga."


"Kenapa harus tidak terwujud, Pak?" Revan balik bertanya.


"Mungkin Revan memang tidak bisa mewujudkannya, tapi Pak Malik bisa kan?" Lais menepuk pundak Pak Malik lalu mengucap salam dan melangkah pergi diikuti Revan yang tersenyum ke arah Pak Malik.


Pak Malik menelan ludah. Mendengar ucapan Lais membuatnya susah bernafas karena dadanya tiba-tiba sesak oleh perasaan aneh yang menyeruak begitu saja.


...🍒🍒🍒...


Buat readersku yang setia


mohon maaf jika akhir akhir ini jarang up bahkan untuk karya yg lain lama nggak up.


Hal ini karena ada tugas yang menyita banyak waktu saya sehingga nggak bisa menulis dan lagi karena padatnya tugas, membuat idenya nggak bisa muncul.

__ADS_1


Jadi mohon maaf dan terima kasih atas kesetiaannya......


__ADS_2