Menikahi Pria Tak Sempurna

Menikahi Pria Tak Sempurna
Melihat Angela


__ADS_3

'Nyonya!" Anton memberi hormat saat istri atasannya itu tiba.


"Bagaimana kondisinya?" Nyonya Robert melambaikan tangannya sebagai tanda menerima salam hormat Anton.


"Operasi masih berlangsung Nyonya." jawab Anton dengan wajah yang tampak lelah.


"Anton, kamu pulanglah! Nanti malam jamu boleh datang lagi. Kita gantian menjaga papa!" titah Lais.


"Tidak tuan muda. Ijinkan saya di sini!" pinta Anton.


"Anton, dengarkan Lais! Kau juga butuh istirahat. Lihatlah wajahmu yang tampak kucel itu. Kamu pasti kelelahan." Nyonya Robert ikut bicara.


"Van, kau juga. Kembalilah ke kantor. Sementara kau handle kantor. Aku akan menemani mama sampai sore. Nanti sore, kau kemarilah. Aku akan pulang dan memberitahu Aruna."


"Baik. Nyonya saya tinggal dulu." Revan pamit pada Nyonya Robert.


"Ton!" Revan mengajak Anton untuk pulang bersama.


"Ma!" Lais menggenggam tangan Nyonya Robert yang terlihat khawatir.


"Dia akan baik-baik saja kan Nak?"


"Semoga ma. Kita berdoa saja."


"Mudah-mudahan sakitnya kali ini bisa membuatnya sadar bahwa kedudukan, kehormatan dan harta bukan segalanya"


"Aamiin."


Nyonya Robert lantas menjatuhkan kepalanya ke bahu Lais. Lais memeluk mamanya. Mereka menunggu operasi Tuan Robert dalam diam.


......................


"Kau mau kemana?" Anton menghentikan langkahnya saat Revan berbelok.


"Ke kantin. Lais belum makan siang. Aku akan membelikan makanan untuknya." jawab Revan lalu meneruskan langkahnya menuju kantin. Anton mengejarnya.


"Sebaiknya kita juga makan dulu. Aku juga belum makan. Bahkan tadi pagi hanya sarapan roti tawar." Anton mensejajari langkah Revan.


"Ya. Aku juga lapar." balas Revan.


Mereka langsung memesan makanan begitu sampai di kantin. Revan melihat ruangan kantin mencari tempat duduk yang kosong.


"Aku tunggi di sana!" Ia menunjuk kursi kosong yang ia maksud. Anton mengangguk.


Revan menuju kursi itu dan duduk menunggu Anton membawa makanan mereka. Revan kembali mengabari Nisa tentang kondisi Tuan Robert sekalian ia memberitahukan jika pulang kantor akan ke rumah sakit buat gantian menemani Nyonya Robert dengan Lais. Revan juga mengingatkan agar Nisa tidak memberitahu Aruna dulu karena Lais sendiri yang akan memberitahunya.


"Makanan datang." Anton meletakan baki berisi makanan yang mereka pesan. Revan menyimpan ponselnya dan mengambil makanan pesananya.


"Yang dibungkus?"


"Nanti diantar ke sini kalau sudah siap."


"Oh."


Mereka lalu makan dengan tenang dan cepat. Selesai makan sambil menu ggu pesanan untuk Lais dan Nyonya Robert, Revan dan Anton mengobrol.


"Sebenarnya ada kejadian apa hingga tuan bisa kena serangan jantung sampai collapse begini?"


"Pastinya aku juga tidak tahu. Hanya kondisi perusahaan memang tidak begitu baik akhir-akhir ini." balas Anton.


Revan diam. Sedikit banyak ia sudah mengetahui kondisi perusahaan Tuan Robert karena dia memantaunya.


"Tuan ini pesanannya."


"Terima kasih." Revam menenteng makanab untuk Lais.


"Kamu bawa mobil? Kalau yidak aku akan mengantarmu. Tapi aku antar makanan ini dulu." Revan mengangkat kotak nasi u tuk Lais.


"Bawa. Aku duluan kalau begitu."


Anton dan Revam berpisah. Revan kembali ke ruang operasi. Ia berjalan dengan cepat. Di depan ruang operasi ia melihat Lais yang memeluk mamanya yang sedang tidur. Laia juga memejamkan mata.


Revan mendekat dan berbisik.


"Lais!"

__ADS_1


Lais membuka matanya, mengerjab beberapa kali baru matanya terbuka dengan sempurna.


"Kau? Kenapa masih di sini?" Laia bicara tanpa mengubah posisi duduknya karena takut membangunkan mamanya.


"Ini nasi. Kamu makan dulu. Tadi belim.makan siang kan? Sekalian aku juga beli untuk mamamu. Takutnya beliau juha belum makan siang. Makan ya! Aku tinggal." Revan menyerahkan makanan yang ia bawa.


Lais menerimanya sambil tersenyum. Ia merasa haru melihat perhatian Revan.


"Sepulang kantor aku akan kembali. Aku sudah memberitahu Nisa." Revan menepuk pundak Lais.


"Makasih." ucap Lais.


"Ya. Jangan lupa dimakan!"


Lais mengangguk. Jika tidak dalam situasi seperti ini ia pasti akan meledek dan mengatai Revan cerewet. Lais tertawa lirih.


"Apa yang membuatmu tertawa?" Nyinya Robert menegakkan tubuhnya.


"Mama terbangun ya? Maaf."


"Nggak paoa. Mama sudah cukup istirahat. Belum ada kabar?" Nyonya Robert menatap pintu ruang operasi yang masih tertutup dan lampunya juga masih menyala pertanda operasi masih berlangsung.


"Kenapa lama? Apa kondiainya sangat parah?" gumamnya.


"Mereka di dalam sedang berusaha ma. Kita bantu doa saja. Aku yakin papa kuat." Lais mengambil makanan dari Revan. "Makan dulu ma!"


"Kamu saja. Mama tidak selera." Nyonya Robert mendorong pelan makanan yang Lais sodorkan.


Lais membuka kotak makanan itu. Ia mengambil sesendok dan kembali menyodorkannya ke Nyonya Robert.


"Ma, makan ya! Lais suapin. Tolong ma, jangan buat Lais khawatir. Mama sayang Lais kan?"


Nyonya Robert menatap mata putra semata wayangnya itu.


"Ha!" Lais menggerakkan sendok beriai makanan.


Nyonya Robery membuka mulutnya. Lais menyuapkan makanan ke dalam mukut mamanya.


"Mama makan sendiri saja. Kamu juga makan ya! Kulihat masih ada kotak nasi lagi. Kapan kamu beli?" Nyonya Robert mengambil kotak nasi dari tangan Lais.


"Revan tadi yang membelikan."


Lais mengangguk membenarkan ucapan mamanya. Dia lantas mengikuti apa yang mamanya lakukan karena sebenarnya dirinya juga lapar.


Selesai makan Lais mengambil kotak bekas nasi mereka.


"Ma, aku buang ini dulu. Mama tunggu di sini."


Nyonya Robert mengangguk. Lais bangkit dan menenteng sampah bekas makan mereka. Ia mencari tempat sampah terdekat dari ruang operasi. Saat ia berbelok, ia menangkap bayang wanita yang sepertinya ia kenal.


Apakah itu dia? Apa dia datang bermaksud menjenguk papa?Jadi dia bebas berkeliaran? Atau aku yang salah lihat? Ah sudahlah.


Saat Lais pergi, pintu kamar operasi terbuka.


"Bagaimana operasinya dokter?" Nyonya Robert menyongsong dokter yang baru keluar dari ruang operasi.


"Anda?"


"Saya istrinya."


"Mari ikut saya!"


Nyonya Robert mengikuti dokter yang merawat suaminya.


Lais tiba dan kebingungan karena tidak menemukan mamanya.


Kemana mama? Apa dia pergi ke kamar kecil? Aku tunggu saja di sini.


Lais duduk kembali. Ia menghubungi Revan menanyakan apakah ia sudah samapi di kantor. Lais juga menanyakan bagaimana keadaan kantor. Cukup.lama ia berbincang dengan Revan. Hingga selesai, mamanya tak juga datang.


Kemana mama? Kalau ke kamar mandi kenapa lama sekali.


Lais bangkit dan bermaksud mencari mamanya ke kamar mandi. Ia khawatir kalau terjadi apa apa dengan mamanya.


Sementara itu Nyonya Robert tampak keluar dari ruangan dokter. Wajahnya keruh.

__ADS_1


"Bagaimana kondisinya?"


Sebuah suara mengagetkan Nyonya Robert. Wanita itu menoleh ke sumber suara.


"Kau?Apa yang kau lakukan di sini ha?"


Mata Nyonya Robert membola melihat Angela berdiri sbil.bersedekap.


Angela mengangkat bahunya,"Aku juga istrinya. Nggak salah kan kalau aku juga mencemaskannya?" jawabnya cuek.


"Heh. Kalian masih berhubungan?" desah Nyonya Robert.


Pantas ia betah aku tinggal dalam waktu yang lama, rupanya ia masih berhubungan dengan rubah betina ini.


"Kami suami istri, ya tentulah berhubungan. Kau belum menjawabku, bagaimana keadaannya?"


"Tanyakan sendiri pada dokternya!" Nyonya Robert meninggalkan Angela.


"Hai tunggu!" teriak Angela sambil mengejar Nyonya Robert. Ia berusaha meraih tangan Nyonya Robert. Begitu berhasil, ia menarik Nyonya Robert hingga wanita itu menghentikan langkahnya.


"Jaga sikapmu! Lais ada di sini. Aku tidak mau dia melihatmu!" hardik Nyonya Robert. Ia takut saat Lais melihat Angela, trauma masa kecilnya akan muncul lagi.


"Oh ya? Jadi anak tampan tapi penyakitan itu ada di sink. Aku justru ingin menemuinya. Karena sebentar lagi ia akan punya adik." Angela mengelus perutnya.


Duarrr


"Apa?!?!" pekik Nyonya Robert. Perkataan Angela ia rasa bagai petir yang menyambar di siang yang terik.


"Apa bicaraku kurang jelas. Aku hamil. Anak Robert." Angela mengulang ucapannya dan memberi penekanan.


"Tidak mungkin." Bibir Nyonya Robert bergetar. Ia mundur beberapa langkah.


"Terserah kalau kau tak percaya. Aku ingin menemui anakmu dan meminta bagian perusahaan untuk calon adiknya ini!" Angela menunjuk perutnya yang masih datar itu.


Rubah betina kurang ajar. Andai bukan di rumah sakit, pasti sudah kucakar habis mukamu yang sok kecantikan itu.


Nyonya Robert hendak membalas ucapan Angela saat dari jauh ia melihat Lais melangkah ke arah mereka.


"Angela! Ku mohon pergilah. Aku janji akan memberikan hak dari anak yang kau kandung itu. Dan Lais, dia pasti setuju denganku. Tapi jika kamu tidak pergi sekarang, aku jamin kamu dan anak itu tidak akan mendapatkan apapun." Nyonya Robert berkata dengan tegas. Matanya menatap tajam Angela.


Sial!Wanita ini masih begitu menakutkan, dan aku tahu dia tidak pernah main-main denhan ucapannya.


"Ok, kupegang janjimu.Seterusnya aku akan menghubungimu." Angela lantas melenggang pergi.


"Terserah!"


Apapun akan aku lakukan demi melindungi Lais. Cukup kebodohan yang aku perbuat dulu. Aku tidak akan membiarkan Lais bertemu dengan wanita laknat itu.


Lais yang kebingungan mencari mamanya, akhirnya melihat wanita itu berdiri termangu di depan ruang dokter. Dia juga sempat melihat seorang wanita berbicara dengannya namun pergi sebelum Lais sampai ke tempat mamanya.


Bukankah dia wanita yang aku lihat tadi.Kenapa dia menemui mama?


Lasi mempercepat langkahnya.


"Ma! Mama tidak apa apa?" Suaranya penuh kekhawatiran.


"Tidak nak, mama baik-baik saja."


"Kenapa mama ada di sini?"


"Tadi dokter meminta mama mengikutinya. Jadi di sinilah mama sekarang?"


"Apa kata dokter ma?"


"Dia bilang operasinya berhasil. Tapi kondisi papa masih belum keluar dari masa krisisnya. Jadi papa masih harus dirawat di ruang ICCU lagi."


"Terus yang tadi siapa?"


"Yang mana?" Nyonya Robert pura-pura tidak mengerti siapa yang Lais tanyakan.


"Wanita yang tadi bicara dengan mama."


"Oh itu. Kenalan mama. Kebetulan kami bertemu."


Mama, kau membohongiku. Tapi aku tahu kenapa kau melakukannya.

__ADS_1


"Ayo kita ke ruang ICCU! Papamu pasti sudah dibawa ke sana untuk perawatan yang intensif." Nyonya Robert menggamit tangan Lais meninggalkan tempat itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2