Menikahi Pria Tak Sempurna

Menikahi Pria Tak Sempurna
Godaan untuk Tuan Robert


__ADS_3

"Mama!" teriak Lais tanpa sadar. Ia datang ke ruang perawatan papanya untuk mengabari kalau Aruna sudah melahirkan. Ia berharap bisa memberi kejutan pada mamanya itu. Namun justru dirinya yang dibuat terkejut dengan adegan mesra sang mama.


Lais menelan ludah. Ada rasa kecewa dalam hatinya melihat mamanya kembali mesra dengan papanya


Nyonya Robert kaget saat mendengar suara Lais. Ia langsung mendorong dada suaminya agar ia bisa bangun.


"Lais!"


Lais berpaling dan berjalan cepat meninggalkan kamar rawat papanya.


"Lais."


"Mau kemana?!" Tuan Robert mencekal pergelangan tangan Nyonya Robert.


"Aku harus mengejarnya. Dia pasti salah paham." Nyonya Robert cemas.


"Salam paham apa?"


"Dia pasti mengira kalau aku dan kamu, kalau kita..ah sudahlah. Lepaskan! Aku harus menyusulnya. Aku tidak mau kehilangan anakku." Nyonya Robert berusaha menarik tangannya.


"Tapi aku suamimu. Kita belum berpisah. Aku masih lebih berhak atas dirimu daripada anakmu."


"Kau?! Dia juga anakmu. Apa kau tidak mengkhawatirkannya?" seru Nyonya Robert dengan nada tinggi.


"Aku tidak lupa. Justru karena dia anakku, anak kita, dia harus bisa menerima kebersamaan kita. Bukankah setiap anak menginginkan orang tua yang utuh?" Tuan Robert masih mencengkeram kuat tangan Nyonya Robert.


"Kebersamaan." desis Nyonya Robert.


"Ya, kebersamaan. Aku sudah bilang padamu kan? Aku akan meninggalkan semuanya. Aku hanya ingin menghabiskan masa tuaku bersamamu, bersama kedua cucu kita, mengasuh mereka dengan baik agar tidak mengambil jalan salah seperti yang aku lakukan. Bukankah orang yang punya pengalaman langsung adalah guru terbaik." bujuk Tuan Robert.


"Tapi Lais, dia harus ditenangkan dulu. Jadi kumohon, lepaskan aku!" pinta Nyonya Robert mengiba. Ia sudah sangat mengkhawatirkan anggapan Lais terhadapnya.


"Dengan satu syarat."


"Apa?!" tanya Nyonya Robert tidak sabar.


"Berjanjilah kau akan kembali padaku." Tuan Robert menarik tangan Nyonya Robert lalu menggenggamnya di dada.


Nyonya Robert tertegun. Ia menatap mata yang penuh permohonan mencoba mencari ketulusan di dalamnya.


"Berjanjilah dan aku akan melepaskan tanganmu!" Suara Tuan Robert lembut.


Demi Lais.


"Aku janji. Sekarang lepaskan! Keburu susah aku mencari Lais nanti."


Tuan Robert tersenyum puas. Di kecupnya tangan istrinya sebelum ia melepasnya dengan perlahan.


"Aku menunggumu." bisiknya melepas kepergian istrinya.


Nyonya Robert kembali menelan ludah. Ia lalu bergegas menuju pintu. Ia menoleh sebentar ke arah suaminya yang tampak tersenyum lalu mengangguk. Nyonya Robert keluar. Ia langsung berlari ke arah pintu keluar sambil matanya mencari ke sekitar.


"Nyonya!" sebuah suara membuat Nyonya Robert menoleh.


"Anton." Ia mendekati Anton.


"Apa kau melihat Lais?"


"Nyonya belum tahu?" Anton mengernyitkan alisnya.


"Tahu? Tahu apa? Lais tidak kenapa-napa kan?" Nyonya Robert menarik lengan baju Anton cemas.


"Nyonya tenanglah! Tuan Lais tidak apa-apa. Istrinya.."


"Ada apa dengan Aruna?" Nyonya Robert kian panik.


"Sesuatu terjadi padanya? Pantas dia tidak datang pagi ini, dan Lais, pasti tadi ia ingin memberitahu sesuatu. Tapi aku malah..ah." Nyonya Robert terisak saking khawatirnya.


"Nyonya tenang! Tenang! Mereka tidak apa-apa.Justru, Nyonya harusnya bahagia karena cucu Nyonya sudah lahir."


"Apa?!" Nyonya Robert menyusut cairan bening yang membasahi pipinya.


"Iya, Nyonya. Nona muda sudah melahirkan tadi malam. Bayinya sehat. Nona juga sehat."


"Oh." Nyonya Robert menutup mulutnya. Matanya berkaca-kaca. Ia kembali menangis, tapi kali ini ia menangis bahagia.


"Anton, kau tahu dimana Aruna melahirkan?"


"Di sini juga Nyonya, mari saya antar ke kamarnya!"


Nyonya Robert mengangguk. Ia lalu berjalan mengikuti langkah kaki Anton menuju kamar dimana Aruna di rawat.


Di kamar Aruna.


Lais membuka pintu dan menutupnya kembali dengan kasar. Wajahnya muram dan kesal. Ia langsung menghempaskan tubuhnya ke sofa. Beberapa kali terdengar ******* nafas beratnya.


Aruna mengamati perilaku suaminya dengan heran. Ia tidak berani bertanya karena sudah hafal dengan sikap Lais jika kesal dan marah tidak akan mau bicara. Jika hatinya sudah enakan, dia akan bercerita sendiri. Akhirnya Aruna menunggu dengan sabar. Menunggu Lais bercerita.


Meski begitu ia berpikir bagaimana cara membuat perasaan Lais lebih enak sehingga ia mau bercerita.


"Sayang!" Panggil Aruna. Lais bergeming.


"Sayang!" Aruna mengeraskan suaranya.


Lais meliriknya. Aruna melambai meminta Lais mendekat. Lais dengan enggan bangkit lalu mendekati istrinya.


"Apa?"


Aruna menggerakkan jari tengahnya meminta Lais lebih mendekat. Lais menurut. Ia mendekatkan wajahnya. Begitu wajah Lais dekat, Aruna langsung mengalungkan tangannya ke leher Lais, menariknya dan menyambar bibir suaminya. Aruna menyecap lama dan memainkannya.


Lais semula diam, namun lama-lama ia bereaksi membalasnya.

__ADS_1


"Kamu mau menyiksaku he?!" Lais membenamkan wajahnya ke ceruk leher Aruna dan tangannya bergerak menggelitik pinggang Aruna.


Aruna tertawa sambil menggelinjang geli.


"Ampun!" Aruna memohon karena Lais terus menggelitik pinggangnya. Ia menangkap tangan Lais dan menariknya.


"Ampun, sayang!" bisik Aruna lembut sambil menatap suaminya penuh cinta.


Lais tersenyum.


"Nah gitu dong senyum. Kan tampannya jadi kelihatan. Nggak kayak tadi, murung, kucel dan jutek. Jelek." Aruna mengelus wajah Lais. Lais melengos. Sejenak tadi ia lupa akan kekesalannya melihat kemesraan mama dan papanya.


Lais lalu duduk di sisi Aruna.


"Sudah bisa cerita?" Aruna mengarahkan wajah Lais agar menatapnya.


Lais kembali menarik nafas panjang.


"Aku kecewa." jawabnya pendek.


Aruna mengangguk-angguk tanda dia siap mendengarkan curhatan suaminya.


"Siapa yang membuatmu kesal? Apa papa berulah lagi?" ia mulai mengorek.


Lais menggeleng dalam diam. Bayangan mama dan papanya berciuman kembali melintas di benaknya.


"O, kirain si tua itu berulah lagi. Awas saja kalau dia berani mengganggumu, aku tidak akan tinggal diam!" Aruna mendengus. Wajahnya bersungut-sungut.


"Memang kamu berani?" Lais menaikkan alisnya.


"Beranilah. Lagipula sekarang ia sedang sakit tuh, jelas aku lebih berani." jawab Aruna bangga.


Lais tertawa lirih, "Berani sama.orang sakit saja bangga." ia menyentil dahi Aruna.


"Dia tidak berulah, hanya saja aku melihat mereka berdua..."


Ucapan Lais berhenti saat pintu kamar dibuka dari luar. Lais dan Aruna langsung menoleh. Nyonya Robert berdiri di sana didampingi Anton.


"Mama!" Aruna tersenyum bahagia melihat kehadiran mama mertua yang sangat disayanginya itu. Ia merentangkan tangannya berharap Nyonya Robert mendekat dan memeluknya.


Sementara Lais menatap mamanya dingin. Ia beringsut dari duduknya lalu melangkah menjauh.


Nyonya Robert masuk dengan langkah ragu.


"Ma. Mama tidak mau memelukku?" Aruna tersenyum masih dengan tangan terentang. Nyonya Robert menghambur memeluk Aruna. Lama mereka berpelukan seolah tidak bertemu untuk kurun waktu yang cukup lama.


"Ada apa dengan putra mama?" bisik Aruna sambil memeluk Nyonya Robert. Suaranya sangat lirih yang hanya mampu didengar oleh mamanya.


"Salah paham." jawab Nyonya Robert lalu melepas dekapannya.


"Mana cucu mama?"


"Di ruang bayi. Mama mau melihatnya?"


Nyonya Robert mengangguk.


Lais mendengus sebelum akhirnya bangkit dan berjalan keluar. Ia tidak pernah mampu menolak permintaan Aruna jika istrinya itu memohon seperti tadi


"Tuh Ma, dia sudah keluar. Kesempatan buat mama."


Nyonya Robert mengangguk. "Makasih sayang." Ia mencium kening Aruna.


"Anton, kamu pergilah ke kamar Tuan, jagain dia!" perintah Nyonya Robert sambil terus melangkah mengejar Lais.


...----------------...


Lais sengaja melambatkan langkahnya karena dia tahu, jika ia melangkah cepat, mamanya pasti tertinggal. Sekesal-kesalnya dia, namun rasa sayangnya dan perhatiannya pada Nyonya Robert tidak luntur dan tak akan pernah luntur.


"Mereka di dalam." Lais berhenti di depan kamar bayi. Nyonya Robert mendekat dan melihat bayi-bayi itu dari kaca yang ada di jendela.


"Apakah yang di box biru itu? Oh, yang berbedong kuning itu mirip sekali denganmu waktu baru lahir, hanya saja dia lebih tampan. Yang anteng itu Aruna banget. Cinta kalian seimbang sehingga masing-masing membawa wajah kalian."


Lais melengos malas. Nyonya Robert menoleh ke arahnya.


"Semua tidak seperti yang kau lihat."


Lais tersenyum sinis.


"Tidak seperti yang kulihat tapi lebih dari yang kulihat." balasnya diikuti senyum getir.


"Lais." Nyonya Robert mendekati anaknya.


"Dengarkan mama! Tadi itu, kami hanya.."


"Meluapkan kerinduan dam cinta." sambar Lais masih dengan nada sinis.


"Lais, mama dan papa sudah tua. Kami hanya ingin ketenangan dan kedamaian di usia tua kami, nak. Tolong pahami mama." pinta Nyonya Robert lembut dan mengiba


"Mama bisa hidup tenang bersama kami." Lais melunak mendengar suara lembut mamanya.


"Jika kamu mama suruh memilih, menghabiskan hari tua bersama anak-anakmu atau bersama Aruna, kamu milih yang mana?"


"Kalau soal itu, Lais jelas memilih Aruna. Tapi papa kan beda, Ma. Ia telah menyakiti mama. Aruna nggak pernah menyakitiku."


"Tapi papa berhak dapat kesempatan kedua kan? Apa Lais mau papa semakin terperosok dalam perbuatan salahnya? Enggak kan? Kalau bukan kita keluarganya, siapa yang harus menerima papa, Nak. Bukankah kau tahu orang-orang di sekitarnya bahkan mengkhianatinya." Nyonya Robert berusaha membuka hati Lais.


"Itu juga akibat perbuatannya sendiri." jawab Lais abai.


"Jika mama ingin memberi papamu kesempatan ke dua, apa kau akan membenci mama?"


Lais melirik mamanya sebentar lalu mengalihkan pandangannya ke lain tempat. Ia diam.

__ADS_1


"Bukankah mama juga pernah berbuat salah padamu? Dan kau memaafkan serta memberi mama kesempatan memperbaikinya."


"Beda, Ma. Alasan mama melakukan hal itu dulu juga demi melindungi hakku. Meski cara mama salah, tapi mama melakukannya bukan untuk kebahagiaan mama pribadi. Lalu apa yang dilakukan papa?" Lais kekeh dengan pendiriannya.


"Itulah kesalahan papa, Nak. Dan kini dia sudah menyadarinya. Papa ingin memperbaikinya."


"Dan mama percaya?" Lais menatap intens mata mamanya.


Nyonya Robert mengangguk.


"Ternyata mama bisa memaafkan papa dengan begitu mudahnya." gumam Lais.


"Bukan mudah. Memaafkan bagi mama juga sulit tapi lebih sulit lagi jika mama harus hidup dengan membawa luka. Mama mencoba membuka lembaran baru dengan memberi papamu kesempatan. Apa kau tidak ingin mendukung mama?" Nyonya Robert


mengelus lengan Lais.


"Ck." Lais menepis tangan mamanya perlahan. Ia lantas bangkit dan berlalu.


Nyonya Robert memandangnya dengan sedih.


"Beri dia waktu, Ma. Nanti dia juga akan mampu mengambil keputusan yang tepat. Mama sabar saja." Aruna tiba-tiba sudah berada di tempat itu. Ia memberikan pelukan hangat pada Nyonya Robert.


"Kau mendengar semuanya?"


Aruna mengangguk, " Tapi Aruna masih bingung, sebenarnya ada apa? Kenapa tiba-tiba ia marah."


Wajah Nyonya Robert memerah. Ia menunduk malu.


"Ma!" Aruna memanggil dengan suara lembutnya.


"Lais, dia melihat mama dan papa saat kami sedang.." Nyonya Robert menggigit bibir bawahnya.


"Sedang apa?Bertengkar? Mama dan papa bertengkar lagi?"


"Bukan, bukan bertengkar. Papa memohon pada mama untuk diberikan kesempatan kedua,dia berjanji akan meninggalkan Angela bahkan ia juga bersumpah jika anak yang dikandung Angela buka anaknya. Lalu karena terbawa suasana, kami melakukan itu." Suara Nyonya Robert lirih saat mengucapkan kalimat terakhirnya.


"Mama dan papa melakukan ..itu...itu apa? Apa mama dan papa membuat adik untuk Lais?"


"Hush! Kami belum segila itu. Kami mmm kami berciuman." Nyonya Robert menunduk dengan sangat malu.


"What?! Mama...selamat." Aruna memeluk mamanya dengan erat.


"Kamu tidak marah seperti Lais?"


Aruna menggeleng pasti, "Aruna mendukung apapun yang mama putuskan asalkan mama bahagia. Jika bersama papa adalah kebahagiaan mama, maka tidak ada alasan bagi Aruna untuk menentangnya. Hanya saja..mmm"


"Kenapa? Katakan saja?"


Aruna nyengir, "Bagaimana kalau kita uji keseriusan papa? Mama jangan bilang kalau mama memaafkan papa dulu, ya!"


Nyonya Robert mengernyitkan alisnya melihat senyum usil Aruna.


"Apa yang kau rencanakan?" tanyanya menyelidik.


"Bukan apa-apa, hanya menguji papa saja." jawab Aruna santai namun bibirnya nggak lepas dari senyum usil. Otaknya mulai menyusun rencana.


"Terserah kamulah." Nyonya Robert menyerah dengan ide menantu kesayangannya itu.


Sementara Nyonya Robert dan Aruna membuat rencana untuk menguji ketulusan Tuan Robert, pria yang akan mereka uji justru sedang mengalami godaan yang besar.


Angela datang menemuinya. Dengan wajahnya yang memelas, ia bersimpuh meminta maaf pada Tuan Robert.


"Untuk apa kau bersimpuh? Percuma. Meskipun kau bersimpuh tujuh hari tujuh malam, aku tidak akan mengubah keputusanku." dengus Tuan Robert kesal.


"Sayang." Angela bangkit. Ia sadar, bersimpuh tidak akan menyelesaikan masalah.


Aku harus menggunakan tubuhku untuk membujuknya.


Angela mendekati Tuan Robert.


"Stop! Berhenti di tempatmu! Jangan lagi mendekat!" bentak Tuan Robert saat Angela malah mendekatinya.


Angela tidak menggubris perintah Tuan Robert. Ia melangkah maju dengan pelan. Tangannya sibuk membuka kancing dressnya.


"Kau gila!! Apa yang kau lakukan?!" mata Tuan Robert mendelik melihat Angela mulai membuka dress bagian atasnya.


"ANTON!!" teriak Tuan Robert lantang memanggil asistennya yang tadi ijin untuk duduk di depan ruang rawat Tuan Robert.


"Hush. Jangan teriak teriak! Nikmati saja. Bukankah sudah lama kau tidak menyentuh tubuh molekku? Tidakkah ini menggiurkan?" Angela menggerakkan tubuhnya erotis memancing birahi Tuan Robert. Dress bagian dadanya sudah terbuka menampakkan lembah antara dua gunung miliknya.


Celaka. Jika istriku masuk, dia akan salah paham. Aku tidak boleh membiarkan ini terjadi. Aku harus segera mengusir wanita yang tak tahu malu ini.


Mata Tuan Robert memutar mencari sesuatu yang bisa menolongnya dalam situasi saat ini. Matanya tertumpu pada vas bunga di meja sebelah kananya.


"Dokter, anda datang." ucap Tuan Robert tiba-tiba. Angela kaget, spontan ia menoleh ke arah pintu. Tuan Robert tidak membiarkan kesempatan itu lolos. Dengan menggunakan tangan kanannya yang bebas tanpa selang infus, ia meraih vas bunga dan memukulkan ke tengkuk Angela. Seketika wanita itu tersungkur pingsan. Tuan Robert meringis. Saat memukul Angela, ia memaksakan diri mengeluarkan tenaga akibatnya dadanya terasa nyeri.


Ah, wanita sialan. Dia membuat dadaku kembali nyeri. Tapi, bagaimana ini? Bagaimana jika tiba-tiba ada yang masuk. Anton, aku harus menyuruh Anton membereskannya sebelum ia sadar lagi.


Sambil memegang dadanya dengan tangan kiri, tangan kanan Tuan Robert berusaha meraih ponselnya di atas meja kecil di samping rangjangnya. Setelah berhasil meraihnya, ia lalu menghubungi Anton.


"Iya, Tuan?" Jawab Anton di seberang.


"Kamu dimana? Cepat ke kamarku!"


Tuan Robert mengakhiri panggilan. Ia taruh ponselnya lalu bersandar sambil mengatur nafasnya yang mulai terasa sesak. Sesekali ia meringis menahan nyeri di dadanya.


...----------------...


Vote, like, komen dong


Janhan lupa kasih hadiah juga ya.....

__ADS_1


Biar rajin updatenya


__ADS_2