Menikahi Pria Tak Sempurna

Menikahi Pria Tak Sempurna
Menikmati Paris


__ADS_3

Tidur lelap Aruna terusik oleh gerakan seseorang ditubuhnya. Ia menggeliat mengubah posisi tidurnya untuk kembali masuk ke dunia mimpi. Namun gerakan pada tubuhnya tak juga berhenti.


"Mmmhhh." Aruna kembali menggeliat sambil mengeluarkan suara.


Lais yang saat itu sedang menggerayangi tubuhnya tersenyum. Melihat Aruna menggeliat, ia semakin semangat meneruskan niatnya untuk kembali mencumbu istrinya itu.


"Tidurlah sayang, aku ingin merasakan saat kau tidur." gumam Lais. Perlahan ia memposisikan dirinya dan membuka jalan. Pelan ia mulai memasuki Aruna. Setelah berhasil, Lais mulai memacu dengan lembut.


Aruna merasa ia sedang bermimpi bercinta lagi dengan suaminya. Namun makin lama kesadarannya muncul karena gerakan Lais yang kian cepat. Aruna membuka mata dan kaget karena ternyata ia tidak sedang bermimpi. Lais sudah menguasai tubuhnya.


"Tuan.." desah Aruna.


Lais hanya menatapnya dengan senyuman. Ia terus melanjutkan aktivitasnya. Aruna akhirnya mengikuti alur yang disusun Lais. Ia mulai menikmati kegiatan mendadak itu hingga mereka berdua kembali menikmati puncak bersama.


"Tuan jahat!" rajuk Aruna.


"Tapi suka kan?" Lais membelai wajah Aruna.


"Suka sih, tapi tuan harus ingat kita harus menahan diri. Ada calon anak kita." bisik Aruna sambil bergelung di dada Lais.


"Iya. Aku kan pelan-pelan."


"Pelan apanya?! Tuan semakin hari semakin luar biasa. Tahu nggak."


Lais tersenyum bangga mendapat pujian dari Aruna. Ia mendekap tubuh Aruna dan mengecup keningnya.


"Terimakasih. Sekarang tidurlah."


"Beneran tidur ya?! Jangan dikerjain lagi!"


"Iya." Lais menepuk nepuk punggung Aruna. Akhirnya Aruna kembali lelap.


***


Sementara Lais dan Aruna menikmati malam panjangnya, Revan dan Nisa juga tidak ada bedanya. Nisa yang merasa bangga dengan kerja keras suaminya benar-benar memberinya hadiah pelayanan istimewa. Bahkan ia yang berkali kali memimpin. Revan merasa dimanjakan oleh istri cantiknya itu.


"Terimakasih sayang. Kalau tiap hari begini, aku semakin semangat buat bekerja."


"Kalau tiap hari kita begini, aku nggak akan bisa kerja Mas. Capek tahu." Nisa memajukan bibir bawahnya.


"Gemes tahu." Revan mencubit hidung Nisa.


Mereka lalu tertawa bersama.


"Capek ya?"


Nisa mengangguk. "Ngantuk juga."


"Ya udah. Tidur ya!"


Nisa kembali mengangguk lalu mulai menyelimuti dirinya.


"Sayang, mau nggak jalan-jalan?"


"Apa Mas Revan ada waktu?Bukankah pameran masih beberapa hari lagi?"


"Bisa diatur. Aku dan Lais bisa bergantian jaga."


"Kalau bisa diatur begitu, aku mau."


"Ok. Besok aku bicarakan dengan Lais."


Nisa tersenyum senang. Ia lalu terlelap dengan senyum masih menghiasi bibirnya.


***


Di tempat pameran keesokan harinya.


Lais, Revan dan Rendy sedang melayani para pengunjung. Menjelaskan tentang barang barang mereka.

__ADS_1


"Selamat pagi Kak Rendy." wanita yang semalam bersama Rendy datang ke pameran. Tapi kini ia tidak datang sendirian. Beberapa pria berbadan tegap mengiringinya.


"Hai, Nilam. Pagi." balas Rendy sambil memandang para pria yang ada di sekitar Nilam.


"Mereka pengawalku." Nilam menjelaskan dengan singkat.


"Oo."


Nilam masuk dan melihat apa yang sedang dipajang di tempat Rendy.


"Jadi? Kak Rendy ini pemilik bisnis barang-barang kerajinan?"


"Bukan. Ini usaha kami bertiga. Yang tampan di sebelah sana itu bosnya. Nilam melirik ke Lais.


"Jangan dilihatin, sudah beristri dan mau punya anak."


"Nggak kok Kak. Aku nggak ada minat sama suami orang. Mending yang bujang."


"Pemikiran yang bagus."


Mereka lalu terlibat pembicaraan seputar barang kerajinan. Nilam yang ternyata anak pengusaha yang sedang belajar untuk meneruskan usaha orang tuanya, bermaksud mengajak Rendy bekerjasama.


Rendy menyambut baik tawaran Nilam. Apalagi ia mulai tertarik dengan gadis cantik itu.


Revan sesekali melirik ke arah Rendy. Begitu Nilam pergi, Revan langsung kendekati Rendy.


"Siapa dia?"


"Nilam."


"Gue nggak nanya namanya, maksud gue dia siapa?Kenapa bisa akarab sama loe?"


"Semalam kami ketemu lalu kenalan dan ngobrol."


"Sepertinya ia bukan gadis biasa?"


"Apa ya ia lakukan tadi?"


"Menawarkan kerjasama."


"Loe terima?"


"Belum. Kan harus kita bicarakan bertiga."


"Bagus kalau loe tahu aturan itu."


"Ngobrolin apa?" Lais tiba dan ikut bicara.


"Ini, ada yang ingin kerjasama lagi."


"Ya bagus. Nanti kita bahas bareng."


"Lais! Ada yang ingin aku sampaikan." kata Revan.


"Apa?!"


"Aku ingin mengajak Nisa jalan jalan mumpung lagi di sini. Apa bisa? Maksudku kita gantian."


"Boleh!"


"Makasih." Revan tersenyum senang karena janjinya mengajak jalan jalan Nisa bisa ia penuhi.


"Tapi setelah aku jalan-jalan baru kau." kata Lais lalu melenggang pergi.


"Hahahaha.." Rendy tergelak. Revan seperti biasa, merasa kesal namun tidak bisa berbuat apa-apa.


***


Pameran terus berjalan. Di sela-sela kegiatannya, Lais dan Revan bergantian mengajak istri mereka keliling Paris.

__ADS_1


Aruna dan Nisa menikmati liburan ala suami mereka. Liburan sambil kerja.


"Sayang, sebenarnya Tuan Roby itu siapa sih?Dia baik banget. Kalau nggak ada dia, aku nggak akan ada di sini lo." kata Aruna saat dirinya dan Lais sedang menikmati megahnya menara eifel.


"Aku akan cerita, tapi janji jangan marah!"


Aruna mengangguk.


"Dia adalah orang yang tanpa sengaja menabrakku."


"Apa??!!" Aruna langsung menarik kepalanya yang semula sedang bersandar di dada Lais. "Jadi kamu ditabrak. Mana yang luka?" Aruna berusaha memeriksa tubuh Lais.


"Apa yang kau lakukan?" Lais menangkap tangan Aruna yang memeriksa tubuhnya.


"Memeriksa tubuhmulah, apalagi?" Mata Aruna menatap khawatir.


"Bukankah tuan malam kau sudah melihatnya?Apa ada luka?Atau kau ingin memastikan lagi?Nanti saja di kamar. Aku akan dengan senang hati menanggalkan pakaianku untuk kau cek." Lais tersenyum menggoda Aruna.


"Ck. Aku serius nih. Ada luka nggak?"


"Nggak sayang. Aku nggak papa." Lais menarik tubuh Aruna hingga ia kembali berbaring di dadanya.


"Kok bisa ditabrak sih?"


q


"Aku sedang nggak konsen karena ada masalah dengan barang kami, akhirnya nggak lihat jalan dan terjadilah insiden itu. Tapi untungnya aku ketemu Roby. Ia yang membantu kami hingga pameran kami lancar."


"Tapi tuan harus tetap hati-hati, ya. Jangan mudah percaya sama orang."


"Sudah pandai.menasehati ya." Lais menarik hidung mancung Aruna. "Kamu sendiri mau saja diajak ke sini sama Roby. Kamu tuh yang jangan mudah percaya."


"Kan beda."


"Bedanya dimana."


"Aku ikut itu karena..."


"Karena apa?"


"Karena aku rindu tuan." Aruna membenamkan wajahnya di dada Lais. Lais memeluk lalu mengecup pucuk kepala Aruna.


"Tuan, kita disini sampai kapan?"


"Sampai pameran selesai. Kira-kira lusa. Kenapa?"


"Nggak papa." Aruna melingkarkan tangannya memeluk Lais. "Dingin." bisiknya.


"Dingin?Pulang yuk, aku akan menghangatkanmu." goda Lais.


"Aku dinginnya sekarang." Aruna mendongak menatap Lais.


"Apa kau ingin aku hangatkan di sini?"


"Kalau tuan berani, kenapa enggak?" tantang Aruna karena ia yakin Lais belum segila itu untuk.melakukan hal tersebut ditempat umum seperti ini.


Lais yang merasa tertantang langsung menunduk dan menyambar bibir Aruna. Tangannya menekan tengkuk Aruna untuk.memperdalam ciumannya. Tangannya yang lain mulai bergerilya.


Aruna terbelalak tak percaya. Takut Lais bertindak lebih jauh, dikerahkan tenaganya untuk mendorong tubuh Lais.


"Tuan stop!"


Lais terkekeh melihat wajah ketakutan Aruna.


"Ternyata kau yang takut, bukan aku." katanya disela sela tawa.


"Ck. Dasar!" Aruna sadar kalau Lais mengerjainya.


Om om dilawan, ya kalah lah kau Aruna.

__ADS_1


__ADS_2