
Keesokan harinya Lais kembali mengantar Aruna ke rumah sakit.
"Sayang sebenarnya aku masih khawatir lo." Lais berhenti di parkiran untuk menurunkan Aruna.
Aruna membelai wajah Lais, "Tenang macannya sudah mulai jinak kok."
Lais menyentil dahi Aruna, "Hanya kamu yang berani menyebutnya macan."
Aruna menyeringai," Makanya jangan khawatir. Istrimu ini pemberani."
"Ya sudah. Aku percaya. Nanti siang aku jemput. Maaf tidak bisa mengantarmu ke dalam. Aku buru-buru."
Lais mengecup kening Aruna lalu kedua pipinya dan terakhir bibir Aruna. Ia sengaja berlama-lama menyecap bibir manis Aruna sampai Aruna mendorongnya.
"Katanya buru-buru."
Lais tersenyum, "Habis bibirmu nagihin. Lagipula aku sudah beberapa hari tidak menjenguk si kembar, jadi sedikit terbawa kangen."
"Kalau begitu, papa buruan ke kantornya biar cepat pulang dan menjenguk dedeknya." Aruna mengedipkan matanya genit.
"Ck. Kalau saja hari ini tidak ada urusan penting, aku pasti membawamu balik pulang." dengus Lais.
Aruna tergelak, ia membuka pintu dan menutupnya lalu melambaikan tangan. Aruna berjalan masuk ke rumah sakit.
Lais tersenyum. Dalam hati ia bangga melihat kegigihan Aruna menaklukan hati papanya.
Lais melajukan mobilnya keluar dari plataran rumah sakit menuju kantornya.
"Bagaimana, Van? Apa semua sudah siap?" Lais langsung menemui Revan saat tiba di kantornya.
"Beres." jawab Revan sambil menunjukkan sebuah map.
"Baiklah. Ayo!"
Revan mengikuti Lais keluar dari kantornya.Mereka melaju ke kantor perusahaan Tuan Robert.
Di perusahaan Tuan Robert, para direksi sudah menunggu Lais. Diantara mereka duduk Kirey dengan anggun dan juga angkuh.
Mereka kasak kusuk tidak sabar menunggu kehadiran Lais.
"Dia yang menyuruh kita datang, dia juga yang telat."
"Lalu apa orang yang tidak menghargai waktu seperti itu akan kalian pilih menjadi CEO." Fahmi mulai menyebar racun.
"Tapi kamu jangan lupa kalau Lais lah yang membawa perusahaan ini sampai puncak." tambah Rony, pendukung Lais.
"Pagi!" sapa Lais saat masuki ruang meeting. Semua langsung diam.
"Terima kasih atas kedatangannya. Ada yang ingin saya tunjukan pada kalian semua. Van!"
Revan mengangguk. Ia kemudian membagikan berkas yang ia bawa kepada seluruh dewan direksi yang langsung membacanya.
Bermacam ekspresi tampak di wajah mereka. Ada yang tersenyum senang, ada yang geram marah.
"Tidak mungkin. Ini pasti palsu." teriak Fahmi.
Kirey membatu. Rasa takut mulai menyusup ke hatinya.
Kenapa usahaku selalu gagal.
"Data yang ada pada berkas itu memang hanya salinan, aslinya ada di saya. Jadi sekarang kalian tahu kalau tetap keluarga sayalah yang berkuasa." Lais tersenyum penuh kemenangan.
Fahmi terkekeh. "Kami bukan orang bodoh. Kau pikir aku akan percaya begitu saja."
"Rupanya Om Fahmi butuh bukti. Revan, minta tamu kita masuk!"
"Siap Bos."
Revan keluar. Tak lama kemudian ia masuk bersama Roby dan Gerald.
"Tuan Gerald." Fahmi langsung menyapa Gerald dan mengabaikan Roby.
Lais menahan senyum saat melihat Fahmi salah mengenal orang. Ya Roby pernah cerita jika identitasnya selalu ia sembunyikan.
"Tuan, bukankah pemilik saham terbanyak adalah anda? Kenapa bisa pindah ke Lais."
"Memang benar sayalah yang membeli saham-saham itu. Tapi itu bukan uang saya, jadi saya tidak berhak atas saham itu."
__ADS_1
Jawaban Gerald mengagetkan Fahmi. Wajah Fahmi langsung pucat.
"Jadi itu benar." Tubuh Fahmi mendadak lemas. Ia sudah terang-terangan melawan keluarga Lais karena ada Gerald di belakangnya. Siapa sangka justru Gerald bukanlah orang kuat seperti dugaannya.
"Jadi bagaimana? Apa masih ada yang tidak terima kalau saya kembali memimpin perusahaan ini?" tantang Lais. Semua menunduk diam kecuali mereka yang masih setia dengan keluarga Lais tentunya.
"Baik. Diamnya kalian saya anggap sebagai persetujuan. Dan pada kesempatan ini juga saya ingin memperkenalkan seseorang." Lais lalu menoleh ke arah Roby.
"Dia Tuan Roby, atasan dari Tuan Gerald."
Suara gaduh langsung terdengar. Kebanyakan mereka kaget karena selama ini mereka mengenal Gerald sebagai milyader yang menanam saham di mana mana, siapa sangka ia hanya bawahan yang menjalankan tugas dari bosnya.
"Sebenarnya saya tidak ingin muncul dan tetap tinggal di tempat saya yang nyaman, namun ada satu hal harus saya lakukan. Apa itu? Biar Tuan Lais yang menjelaskan."
Sialan. Rupanya si Lais mendapat dukungan dari orang kuat. Bagaimana ini? Apakah bos tahu. Fahmi gelisah.
"Om Fahmi, apa ada ingin disampaikan?" Lais menatap Fahmi tajam.
Kepalang basah. Mereka sudah tahu aku berdiri di sisi mana. Aku tidak hancur sendirian.
"Lais. Siapapun yang tahu sejarah perusahaan ini, pasti juga tahu kalau sejatinya perusahaan ini bukan hanya milik keluargamu. Tapi merupakan gabungan dari dua perusahaan. Dan aku adalah saksi hidup. Atas nama pemilik perusahaan yang lama, aku meminta haknya." Fahmi mengangkat dagunya berusaha tetap bersikap tenang.
"Dimana pemilik yang lama? Kenapa harus Om yang mewakilinya bicara?"
"Dia sudah memberiku kuasa untuk mewakilinya."
"Bilang padanya. Pemisahan perusahaan akan dilakukan jika dia datang menemui saya! Meeting selesai."
Lais mengajak Roby pergi diikuti Revan dan Gerald.
Di rumah sakit.
Aruna duduk santai sambil membaca majalah. Tuan Robert memandanginya.
"Hem!"
Aruna yang sedang konsentrasi pada bacaannya tidak mendengar deheman Tuan Robert.
Ck. Dasar tuli.
"Hem!" Lebih keras.
"Tuan. Tuan. Aku bukan majikanmu." jawab Tuan Robert sedikit kesal.
Aruna tersenyum dalam hati.
"Ambilkan minum!"
Aruna bangun dan mepangkah ke meja. Ia menuang air lalu memberikannya pada Tuan Robert.
Tuan Robert meminumnya.
"Dimana suamimu? Kenapa.membiarkan wanita hamil sendirian. Kalau terjadi apa-apa bagaimana?"
Apakah dia sedang mengkhawatirkanku.
"Dia sibuk. Ada yang harus ia selesaikan di perusahaan. Nanti siang juga akan datang kemari. Tuan ingin menemuinya?"
"Tuan lagi. Aku ini calon kakek dari anakmu. Kalau kamu terus memanggilku tuan, nanti anakmu juga akan memanggilku tuan."
"Terus saya harus memanggil apa? Bukankah tuan tidak suka kalau saya memanggil tuan papa?" Aruna menyindir.
"Terserah." Tuan Robert kesal diingatkan akan kesombongannya dulu yang menolak saat Aruna memanggilnya papa.
Ceklek
Pintu kamar terbuka, seorang perawar masuk sambil mendorong meja kecil beroda yang berisi peralatan untuk memeriksa tuan Robert.
"Apa tuan sudah makan pagi?"
Tuan Robert diam.
"Belum sus. Tuh!" Aruna menunjuk makanan yang masih tergeletak manis di atas meja.
"Tuan harus makan lalu meminum obat. Jangan sampai terlambat. Akibatnya tidak baik untuk proses penyembuhan tuan."
Tuan Robert tidak bereaksi
__ADS_1
"Nona anaknya? Tolong suapin papanya ya!"
Tuan Robert melirik Aruna.
"Saya...mmm kalau suster saja yang melakukannya bagaimana?"
"Kenapa? Kau tidak mau menyuapiku?" Tuan Robert menyambar dengan suara dingin dan sinis.
"Bukan begitu. Takutnya anda yang tidak mau saya suapin." Arina jujur.
Sang perawat tersenyum. "Nona saja yang melakukannya. Saya masih harus memeriksa pasien lain. Permisi. Oh ya jangan lupa obatnya diminum."
Perawat itu keluar dari ruangan Tuan Robert.
Aruna membuka plastik wrap penutup makanan. Ia mengambil sendok lalu duduk di kursi sebelah Tuan Robert.
"Tuan makan ya!" Aruna menyendok makanan dan mendekatkan makanan itu ke mulut Tuan Robert.
"Aku bukan majikanmu." Tuan Robert melengos.
"Ck. Tuan maunya apa sih?" Aruna menaruh kembali sendok itu ke atas piring.
"Bilang saja Tuan suruh aku memanggil apa. Jangan bikin aku kesal. Kalau aku kesal anak dalam perutku ini bisa ikut kesal sama tuan nanti." ancam Aruna.
Eh tidak bisa. Mereka cucuku. Tidak boleh membenciku.
"Aku calon kakek dari anakmu. Ayah dari suamimu. Pikir saja sendiri kamu harus memanggilku apa!" Tuan Robert mendengus.
"Ok.Ok. Om makan ya!"
"Kapan aku menikah dengan tantemu?" Tuan Robert semakin kesal.
Kau ingin aku memanggilmu papa kan. Jangan harap tuan. Dulu aku memanggilmu papa dan kau malah merendahkan aku. Sekarang aku ingin kau memintaku memanggilmu papa. Dari mulutmu sendiri tuan. Aruna menyeringai.
"Apa senyum-senyum?"
"Nggak ada. Cuma membayangkan kalau tanteku menikahi om."
Tuan Robert melengos.
"Aa!" Aruna menyorongkan sendoknya lagi ke mulut Tuan Robert.
Tuan Robert menutup rapat mulutnya.
"Tuan. Om. Calon kakek anakku. Ayah dari suamiku. Makan ya! Terus minum obat! Aa!"
Tuan Robert tidak menggubris ucapan Aruna.
Apa sih susahnya memanggilku papa.
Aruna menurunkan sendoknya lagi. Ia lalu menaruh piring berisi makanan di atas pangkuan Tian Robert.
"Silahkan tuan makan sendiri!"
"Kau?!?" Tuan Robert mendelik kaget dengan sikap Aruna.
"Maaf. Bukannya saya tidak mau menyuapi tuan. Tapi tuan yang tidak.mau bekerja sama. Bagaimana makanan bisa masuk kalau mulut Tuan terkatup rapat begitu."
"Aku tidak mau menerima makanan dari tanganmu selama kau masih memanggilku tuan."
" Terus saya harus memanggil apa?"
"Aku papa dari suamimu."
"Iya saya tahu. Tuan tidak perlu mengulanginya terus. Tuan papa dari suamiku, suami dari ibu mertuaku."
"Terus?"
"Ya nggak ada terusannya."
Siapa yang kuat diantara kita, tuan.
Tuan Robert mendengus. Ia lalu mencoba makan dengan tangannya sendiri meski dengan susah payah.
Aruna memperhatikannya. Sesungguhnya dalam hatinya ia tidak tega melihat pria tua itu makan dengan susah payah.
*Maaf tuan. Tapi sekali-kali tuan harus bisa merendahkan ego dan harga diri tuan sidikit. Tidak akan hina orang yang mau minta maaf.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ*...