
Aruna menatap suaminya yang sedang sibuk dengan laptopnya. Saat ini Lais sedang bekerja di dalam kamar mereka. Sejak Aruna hamil besar, Lais meminta Pak Munir menaruh meja dan kursi kerja di kamarnya.
Alis Lais berkali-kali berkerut tanda dia sedang berpikir dengan keras. Nafas panjangnya berulang-ulang terdengar.
Apa yang membuatnya seperti menanggung beban berat?
" Sayang! Sudah punya nama buat anak kita?" Aruna mendekati Lais lalu memijat pundaknya. "Kaku banget.Lagi banyak pikiran ya?" bisiknya dekat ke telinga Lais.
Lais tersenyum.Ia memegang tangan Aruna."Istirahatlah! Aku nggak papa."
"Nggak papa kok berkali-kali menarik nafas panjang?"
Lais memutar kursinya. Ia lalu menarik tubuh Aruna dan mendudukannya di pangkuannya.
'Sudah berat saja." godanya.
"Ya iyalah berat. Di dalam sini ada dua anakmu." Aruna mengerucutkan bibirnya membuat Lais terkekeh.
Namun itu hanya sebentar. Sekejab kemudian wajahnya kembali muram.
"Tuh kan!" Aruna meluruskan alis Lais yang kembali berkerut. "Jangan terlalu keras berpikir. Aku yakin kamu mampu melewati ini karena suamiku adalah pria yang luar biasa." hibur Aruna.
Aruna tidak memaksa Lais untuk bercerita karena percuma. Lais pasti akan bercerita jika dirasa perlu. .
__ADS_1
"Sayang, aku punya cerita lucu. Mau dengar?"
Lais mengangguk sambil mengelus perut Aruna.
"Ini ceritaku saat aku masih belum bertemu denganmu. Jadi ceritanya aku tuh diminta sama ibu tiriku membeli es kelapa muda. Terus ibu tiriku minta belinya tuh es kelapa muda komplit satu, kemudian air kelapanya saja dua bungkus. Nah yang lucu tuh penjualnya bilang begini, neng yang karet hijau yang komplit ya, yang karet merah yang airnya saja. Hahahaha. Lucu kan? Padahal tanpa dibedakan karetnyapun aku tahu mana yang komplit mana yang air saja. Kan plastiknya bening. Hahahaha." Aruna tertawa lepas.
Lais hanya diam memperhatikan Aruna.
"Kok kamu nggak tertawa? Nggak lucu ya?" Aruna memandang Lais sambil menggaruk kepalanya. Wajahnya tampak bodoh karena candaannya dianggap garing oleh Lais.
"Hahahaha." Lais tergelak melihat tampang Aruna.
Melihat Lais tertawa, Aruna juga ikut tertawa. Dirinya tidak sadar jika Lais menertawakannya bukan tertawa lantaran ceritanya. Hal itu membuat Lais semakin kencang tertawanya.
Aruna yang merasa heran kenapa suaminya tertawa kian kencang menghentikan tawanya. Ditatapnya Lais dengan wajah bingung.
Lais dengan susah payah berusaha menghentikan tawanya.
"Kamu turun dulu.Perutku sakit." ucap Lais masih dengan sisa tawanya.
Aruna turun dari pangkuan Lais.
"Aneh. Padahal nggak lucu-lucu amat deh. Bukankah awalnya kamu nggak ketawa? Kenapa sekarang malah susah berhenti?" gumam Aruna sambil menatap lekat Lais yang masih berusaha menguasai diri agar tidak tertawa lagi.
__ADS_1
Lais tidak berani menatap Aruna karena tiap melihat Aruna ia akan mengingat tampang Aruna tadi.
"Lucu kok hahah lucu haha lucu sekali hahaha."
Aruna cemberut karena Lais tidak juga menghentikan tawanya.
"Bodo ah. Tertawa saja terus. Aku mau tidur." ia meninggalkan Lais dan melangkah menuju ranjangnya.
Lais memutar kursinya kembali menghadap ke laptopnya. Sesekali ia masih tertawa sambil mengerjakan pekerjaanya.
"Sayang! Kamu ngetawain apa sih?!!" teriak Aruna yang merasa jengkel dengan sikap Lais.
Lais melambaikan tangannya. "Nggak ada. Hanya membayangkan wajah bodoh penjual es saja." jawab Lais lalu kembali terdengar tawanya lirih.
Aruna menggaruk kepalanya. Ia mengingat ceritanya.
Aku tidak bercerita tentang wajah penjual es, kok dia bisa membayangkan wajahnya bodoh. Bodo ah. Mending tidur. Setidaknya dia bisa tertawa. Semoga tekanan dalam pikirannya sedikit berkurang.
Aruna lalu membaringkan tubuhnya dan bersiap untuk terlelap.
Tengah malam, Aruna merasa tidurnya terganggu. Ia perlahan mengerjapkan matanya dan kaget melihat suaminya membuka piyama tidurnya.
"Sayang, kamu mau apa?' tanyanya dengan suara serak khas bangun tidur.
__ADS_1
"Aku kerja sampai tengah malam dan haus. Sekarang aku mau minum es kelapa mudanya plus susu tanpa karet dan plastik." bisiknya disusul dengan menenggelamkan wajahnya di dada Aruna. Rupanya Lais tidak hanya haus, ia juga lapar. Setelah minun es kelapa muda plus susu, ia melanjutkan dengan makan kue bikang merekah.
...****************...