
Tuan Robert meremas laporan yang diberikan oleh bawahannya. Hasil laporan tentang perkembangan usaha Lais.
"Bagaimana bisa? BAGAIMANA BISA?!!!" teriaknya penuh amarah. "Semua usahaku untuk menjegalnya gagal sebelum terlaksana. Siapa yang selalu menolongnya. Jika begini terus, aku tidak akan bisa lagi menguasai dirinya. Nama baikku akan hancur. Usahaku akan hancur." gumam Tuan Robert frustasi.
Dia lalu diam dengan dahi berkerut. Tampak jika dirinya sedang berpikir dengan keras.
"Kunci kelemahannya adalah istri dan mamanya. Mamanya sudah ada di tanganku. Tapi bagaimana ia begitu tidak mempedulikan mamanya?Ku kira saat tahu mamanya berada dalam kuasaku, ia akan datang. Tapi apa? Atau jangan-jangan ia tidak tahu. Bisa jadi wanita itu tidak memberitahu kalau dirinya tinggal bersamaku lagi sehingga anak sialan itu tenang-tenang saja. Aku harus mencari tahu."
Tuan Robert lantas menghubungi orang kepercayaannya untuk kembali menyelidiki Lais. Kali ini orang suruhannya itu harus mencari info apakah Lais tahu jika mamanya tinggal bersama dirinya.
Sementara Tuan Robert stress memikirkan usaha dan nama baiknya yang terancam hancur, Lais makin berjaya. Lima bulan sudah ia merintis usaha dan dengan dukungan Roby usahanya kian maju. Kini Lais bahkan sudah mampu mendirikan gedung perkantorannya sendiri yang megah. Jika dulu mereka menyewa, kini mereka memiliki sendiri.
Hari ini adalah hari peresmian gedung baru Lais. Lais sudah bersiap begitupun Aruna yang perutnya sudah membuncit. Revan dan juga Nisa tampak menyertai pasangan itu.
"Kamu jangan terlalu lama berdiri! Pasti capek dengan perut sebesar itu?" kata Lais lalu membimbing Aruna untuk duduk di kursi.
Revan melakukan hal yang sama. Ia membawa Nisa untuk duduk bersebelahan dengan Aruna.
Setelah para istri duduk di tempat yang menurut mereka nyaman, Lais dan Revan menemui para tamu undangan. Mata Lais terus menatap berkeliling saat menjamu para tamunya.
"Kamu mencari siapa?" tanya Revan.
"Mama. Dia janji akan datang." jawab Lais pendek.
Nyonya, kenapa nyonya berjanji akan datang kalau tidak bisa menepati.
"Mungkin beliau mendapat halangan, Lais." Revan berusaha menghibur Lais.
"Halangan apa hingga dia melewatkan hari penting anaknya, Van?"
"Ya, aku tidak tahu. Kan mungkin."
__ADS_1
"Aku akan meneleponnya. Kau temui para tamu dulu bareng Rendy!" perintah Lais lalu meninggalkan Revan dan mencari tempat sepi agar bisa menelepon Nyonya Robert.
Bagaimana ini? Kalau dia nggak bisa hubungin Nyonya pasti ia akan gelisah dan khawatir. Apa yang harus aku lakukan?
Revan berusaha mencari cara untuk menggagalkan keinginan Lais menghubungi Nyonya Robert. Namun ia tidak menemukan cara yang tepat ditambah ia sibuk menyapa para tamu yang datang.
Sudahlah. Mungkin sudah saatnya ia tahu
Akhirnya Revan menyerah. Otaknya kini menyusun rencana menghadapi Lais saat ia tahu rahasia yabg mereka sembunyikan.
"Lama banget ia tidak kembali. Apa terjadi sesuatu dengannya?" batin Revan cemas. Saat tamu yang berdatangan mulai sepi, Revan menyusul Lais setelah sebelumnya pamit ke Rendy.
"Kemana dia? LAIS!!!" teriak Revan saat tidak menjumpai Lais di manapun. Revan berlari ke samping gedung namun juga tidak menemukan orang yang ia cari.
Revan mengeluarkan ponselnya dan memanggil Lais. Lama ia menunggu namun Lais tidak juga mengangkat panggilannya.
"Sial! Kemana dia?" Revan terus berusaha menghubungi Lais.
"Mas darimana?" suara lembut Nisa mengagetkan Revan.
"Sayank, kamu lihat Lais nggak?" tanya Revan.
"Tuan Lais?Bukankah tadi bersamamu." balas Nisa.
"Tadi dia pamit mau menelepon mamanya namun nggak balik-balik. Aku cari nggak ketemu. Aku telepon nggak diangkat." cerita Revan dengan nada cemas.
Nisa tertawa, "Mas, Mas. Tuan Lais itu bukan anak kecil. Kenapa mas khawatir banget sih? Nanti juga ia akan kembali. Paling juga ke toilet."
"Ah iya. Aku belum cek toilet. Makasih sayank." Revan mengecup kening Nisa lalu kembali mencari Lais. Tujuannya kali ini toilet. Ia masuk dan memeriksa tiap toilet dengan melihat dari bawah berharap bisa melihat sepatu Lais.
"Nggak ada. Dia nggak ke toilet." Revan segera keluar sebelum orang di dalam toilet menyadari kalau Revan mengintip mereka (ngintipin sepatu maksudnya).
__ADS_1
"Kemana lagi aku harus mencarinya? Haruskan aku menghubungi Roby dan bilang kalau Lais menghilang." Revan menimang ponselnya sambil berpikir. "Tapi Lais nggak suka terlalu banyak hutang budi." Revan yang akan menghubungi Roby jadi membatalkan niatnya.
"Tapi kalau ia benar-benar hilang bagaimana?" gumam Revan bimbang. "Bodoh ah. Telepon Roby saja."
Revan akhirnya menghubungi Robby. Namun sama dengan Lais, Roby juga tidak mengangkat panggilan Revan.Revan tidak.putus asa. Ia kembali menelepon Roby. Panggilan kedua Revan juga tidak diangkat. Baru panggilan ketiga Roby menjawab panggilan Revan.
"Hallo, Tuan Roby?"
"Bukan. Ini aku Gery." jawab orang yang ada di seberang.
"Ger, tuan Robby kemana? Kenapa kamu yang angkat? Kok kamu bisa bersama tuan Roby? Apa beliau datang ke Indo?" berondong Revan.
"Mana yang harus aku jawab dulu? Begini, Tuan Robby memang datang terus nggak tahu bagaimana beliau menghilang. Hanya meninggalkan ponselnya. Makanya sekarang ada padaku."
"Apa?!?!" teriak Revan kaget.
"Kenapa kamu terkejut begitu?"
"Ini, Lais juga menghilang. Padahal saat ini peresmian gedung baru kami. Tapi dia malah nggak ada."
"Apa mereka pergi bersama?"
"Nggak mungkin." sergah Revan yakin. Ia tahu kalau Lais tidak begitu menyukai Roby sejak tahu motif Roby menolongnya.
"Kalau begitu apa mungkin mereka diculim?"
"Lebih tidak mungkin lagi. Tuan Roby bukan orang sembarangan. Nggak mudah menculiknya.Ah sudahlah. Aku mau cari Lais. Makasih." Revan mengakhiri panggilannya. Ia memutuskan untuk kembali ke tempat acara berlangsung.
Dengan langkah gontai ia memasuki ruangan yang penuh dengan orang berpesta. Matanya menatap ke arah Aruna yang tengah duduk di temani Nisa.
Kalau Aruna bertanya perihal suaminya, apa yang harus aku jawab.
__ADS_1
...***...