Menikahi Pria Tak Sempurna

Menikahi Pria Tak Sempurna
Ternyata Robby


__ADS_3

"Lais aku ingin bicara."


"Baik. Kita ke tempat lain saja"


Lais pamit ke Nyonya Robert. Mereka lalu pergi meninggalkan rumah sakit.


Setalah Lais dan Roby pergi, berdatangan dokter dan beberapa perawat dengan tergesa-gesa menuju ruang ICCU. Nyonya Robert dan Mak Nah menatap hilir mudik dokter dan perawat yang nampak sibuk keluar masuk.


"Ada apa ya Mak? Kenapa mereka sibuk banget?"


"Saya juga kurang tahu Nyonya."


"Apa terjadi sesuatu di dalam? Apa itu suamiku?"


Seorang perawat keluar. Nyonya Robert langsung menghentikannya.


"Sus, ada apa?"


"Anda keluarga pasien?"


"Iya. Saya kelurga dari Tuan Robert?


"Oh, bersyukurlah bu. Tuan Robert sadar. Dia sekarang sedang diobservasi. Kalau hasilnya bagus, dia akan segera pindah ke ruang rawat biasa." Setalah menjelaskan, perawat itu pergi.


"Nyonya, suami Nyonya sadar."


"Iya Mak. Semoga dia cepat pulih sehingga aku bisa melepaskannya denhan tenang."


Mak Nah diam. Ia memandang kagum wanita cantik di hadapannya itu. Wanita yang sudah terlalu sering disakiti tapi masih memikirkan kebaikan orang yang menyakitinya.


"Nyonya akan mengajukan perpisaha ?"


"Iya Mak Nah. Aku ingin hidup tenang bersama anak dan cucuku. Aku akan menunggu sampai dia benar-benar pulih. Jika aku mengajukan sekarang, sama saja aku membunuhnya. Aku tidak sejahat itu, Mak."


"Mak tahu. Nyonya berhati mulia. Mak yakin, tuan akan menyesal.karena telah menyakiti Nyonya."


"Aku tidak banyak berharap, Mak. Lagipula hatiku sudah hambar. Kalaupun kami paksakan untuk tetap bersama, hasilnya belum tentu juga baik. Sudah beda rasanya Mak."


Obrolan mereka terhenti saat sebuah brankar keluar dengan Tuan Robert terbaring di atasnya.


Brankar itu berhenti saat lewat di depan Nyonya Robert.


'Maaa..!" Dengan susah payah Tuan Robert mengeluarkan suara memanggil istrinya.


Nyonya Robert mendekat. "Jangan banyak bicara dulu. Aku akan menemanimu. Jalan sus!"


Brankar kembali didorong menuju kamar VVIP.


Tuan Robert terbaring dalam keadaan masih lemah. Ada selang oksigen di bawah hidungnya.


"Ma..maaf." Dengan terbata Tuan Robert berusaha bicara.


"Istirahatlah. Setelah sembuh banyak yang bisa kita bicarakan." Nyonya Robert membetulkan selimut suaminya lalu duduk di kursi dekat ranjang.


Tuan Robert.patuh. Ia memejamkan mata.


Nyonya Robert mengabari Lais dan Anton tentang sadarnya Tuan Robert.


"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Lais pada Roby. Saat ini mereka sedang duduk di sebuah cafe.

__ADS_1


'Soal apa yang pernah kita sepakati. Sepertinya sudah waktunya aku mengambil apa yang menjadi hakku. Aku tidak akan menekan papamu lagi mengingat kondisinya tidak memungkinkan."


"Aku juga memiliki pemikiran yang sama. Aku akan memisahkan antara perusahaan asli papa dan milik rekannya. Tapi ada satu masalah. Ada orang yang memiliki saham lebih besar dari kami saat ini dan dia berkeinginan menguasai perusahaan."


"Kau tidaj tahu siapa dia?"


"Tidak pasti sih. Tapi sepertinya orang kuat. Dia pandai menyembunyikan diri hingga aku tidak bisa melacaknya."


"Aku akan memberitahumu siapa orang itu."


"Kau tahu?"


Roby mengangguk. Ia mengambil meinumannya dan menyecapnya.


"Rasa ya lumayan." Robby mengomentari minumannya. Ia sengaja mengulur waktu agar Lais penasaran. Namun Lais lempeng saja. Ia menunggu Robby mengatakan siapa orang yang memiliki saham lebih besar dari keluarganya itu dengan tenang. Robby dibuat kesal karena Lais malah ikutan menikmati minuman seperti dirinya.


"Kau benar. Enak. Racikannya pas. Kita satu selera rupanya."


Robby mebaruh gelasnya lalu menatap Lais.


"Lais, kamu itu hebat, cerdas dan kemampuan bisnismu luar biasa. Namun satu kekuranganmu. Kamu terlalu baik hati hingga terkesan lemah. Tahukah kamu jika banyak sekali musang-musang di perusahaan papamu?"


Lais mengangguk. "Aku tahu."


"Lantas kenapa kamu tidak bertindak?"


"Selama musang itu tidak mengeluarkan bau busuknya yang bisa mengganggu kinerja perusahaan, aku masih mentolerirnya."


"Bagus. Sekarang mereka sudah mulai menyebar aroma tak sedap. Saatnya kamu bertindak. Aku sudah membuka jalan untukmu."


Lais tersenyum, "Jadi itu tujuanmu membeli saham perusahaan kami?"


"Kau tahu rupanya. Tapi kenapa tadi bilang tidak tahu."


"Mereka hanya alat fari seseorang. Kau pasti tahu siapa orang yang menginginkan kejatuhan keluargamu."


"Burhan."


"Tepat. Mantan mertuamu. Saat ia memasukkan anaknya kekeluargamu, dia berharap akan bisa menguasai perusahaan kalian. Siapa sangka kau malah menceraikan wanita semolek dia."


Lais tersenyum sinis, "Wanita cantik dengan ambisi selangit. Gila harta dan tukang selingkuh. Apa bagusnya?"


"Ok. Karena kau sudah tahu semuanya, saatnya kita lakukan pembersihan. Setelah itu baru lakukan pemecahan."


"Ya. Aku akan mengadakan pertemuan besok. Kamu datanglah."


"Mereka pasti kaget, karena selama inj hang mereka tahu adalah Gerald."


Robby tertawa.


"Tapi Ron? Kenapa kau membantuku?"


Robby menatap Lais intens, "Aku menyukaimu."


"Sebagai apa?" Lais was-was


"Sebagai pengusaha. Sebagai teman, sahabat. Atau kalau bisa sebagai saudara. Apa kamu keberatan?"


"Sama sekali tidak. Aku juga bisa menyukaimu asal kamu jangan terlalu kejam."

__ADS_1


Ucapan Lais dibalas tawa menggema Robby.


Lais merasakan ponsel yang simpan di saku jasnya bergetar saat ia masuk dan duduk di belakang kemudi mobilnya. Jas yang ia taruh di sandaran kursi mobil tadi tidaknya bawa saat bicara dengan Robby di cafe.


Lais mengambil ponsel itu dan ternyata Revan yang menghubunginya.


"Iya Van?"


"Tuan Robet sudah sadar. Aku dan Antin ada di rumah sakit sekarang. Cepatlah datang!"


Revan mengakhiri panggilannya. Lais memeriksa pesan yang masuk ke ponselnya. Ada pesan dari mamanya yang mengabarkan kalau papanya sudah sadar. Lais menaruh ponselnya dan segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit.


"Run, kamu datang lagi?"


"Iya, Ma. Aruna membawa makanan buat mama. Mama belum makan kan?" Aruna mencium tangan dan memeluk Nyonya Robert.


"Kamu baik banget. Oh ya Run, ini Mak Nah. Dia yang pernah mama ceritakan dulu. Kawan mama saat tinggal di kampung."


Aruna mencium tangan Mak Nah.


"Eh, Non. Jangan cium tangan Mak!"


"Nggak papa Mak. Mak lebih tua dari Aruna, jadi sewajarnya kalau Aruna menghormati Mak Nah."


"Nyonya, menantu anda baik sekali. Cantik dan masih muda. Cocok sekali dengan putra anda yang sangat tampan itu." puji Mak Nah dengan memandang kagum dan penuh sayang pada Aruna.


"Kau benar, Mak. Anakku pandai memilih istri."


Mereka tertawa sedangkan Aruna menunduk malu dan haru.


Di dalam kamar, Tuan Robert mendengar percakapan antara para wanita itu.


Sebaik itukah gadis kampung itu.


"Ma! Sayang, kamu di sini?" Lais mencium tangan mamanya kemudian mendekat dan mengecup kening Aruna.


"Aku mengantar makanan buat mama." Aruna menunjukkan tas berisi makanan yang ia bawa.


Lais merangkul dan mengusap lengan Aruna penuh kasih,"Makasih ya. Sudah perhatian sama mamaku."


"Mamamu mamaku juga kan." Aruna menyandarkan kepalanya ke dada Lais.


"Hem. Mak Nah, kita dianggap patung ya." goda Nyonya Robert. Mak Nah tersenyum.


Aruna menarik tubuhnya agar tidak menempel ke tubuh Lais namun Lais kembali merengkuhnya.


"Sayang, malu sama mama."


"Mama juga pasti senang kok lihat kita mesra, iya kan Ma?"


"Iya. Mama bahagia lihat kalian akur dan mesra."


"Ma dimana Revan dan Anton?"


"Mereka ke kantin."


"Bagaiamana papa?"


"Masuklah jika kau ingin melihatnya. Tapi tadi dia tidur, makanya mama dan Mak Nah keluar karena takut obrolan kami mengganggunya.

__ADS_1


Jadi dia keluar karena takut mengganggu tidurku, bukan karena tidak peduli padaku.


...----------------...


__ADS_2