
"Cepat mas. Tumben jalannya lelet banget sih." omel Nisa sambil menyeret Revan.
"Baiklah. What will be, will be lah." gumam Revan. Ia lalu mempercepat langkahnya mensejajari langkah Nisa.
Revan melihat Aruna yang melambaikan tangan ke arahnya.
"Pak Revan, lama amat dipanggil nggak datang datang." semprot Aruna saat Revan sudah berada di hadapannya.
"Iya nih. Muter saja. Banyak alasan." tambah Nisa sambil mendudukkan tubuhnya di sebelah Aruna. "Capeknya. Ini gara-gara Mas Revan sudah membuatku berdiri lama. Kakiku jadi pegel nih." Nisa terus memijit betis yang ia rasa sangat pegal.
"Maaf sayang. Nanti mas pijitin." Revan malah jongkok sambil memegang betis Nisa.
"Pak Revan, suamiku...."
Belum selesai Aruna berucap Revan langsung memotongnya.
"Run, ada yang ingin aku sampaikan dan kuharap kamu sabar."
"Sabar?" Aruna menautkan alisnya karena tidak mengerti dengan maksud Revan. Nisa juga memandang heran ke arah suaminya.
"Kenapa Aruna harus sabar?Apa penyakit Tuan Lais kambuh lagi?" Nisa yang bingung dengan tidak sabar malah bertanya kepada Revan.
"Bukan. Tidak. Tuan tidak kambuh, hanya saja dia..."
"Selingkuh?" potong Nisa membuat Aruna dan Revan terbelalak.
"Nggak mungkinlah suamiku selingkuh." protes Aruna.
"Bisa jadi kan Run."
"Bukan, Lais tidak selingkuh." Revan menarik nafas. "Dia tidak ada." Akhirnya Revan mengucapkan kalimat yang sangat ia takutkan itu.
Aruna dan Nisa saling berpandangan lalu tertawa bersama.
"Hahaha."
Revan menatap keduanya.
Kenapa malah tertawa?Apa syok membuat Aruna jadi berubah?Lalu Nisa, kenapa juga ikutan tertawa.
"Run, kamu nggak papa?" Revan menghentikan tawa Aruna dan Nisa.
Aruna mencoba berhenti tertawa. Tangan kirinya memegangi perutnya sedangkan tangan kananya bergerak memberi isyarat kalau dirinya baik baik saja.
"Pak Revan lucu deh." ujar Aruna di sela-sela sisa tawanya.
"Lucu?!?"
"Iya. Lucu. Masak orang segedhe gitu dibilang nggak ada."
"Maksudku Lais menghilang dan aku bahkan tidak bisa menemuinya." terang Revan.
Aruna dan Nisa kembali saling berpandangan.
"Kok bisa?"
"Jadi begini. Tadi Lais menunggu mamanya datang karena beliau sudah janji akan datang. Setelah lama menunggu, Nyonya Robert nggak muncul - muncul, akhirnya Lais berniat menelponnya. Ia menyingkir dari acara untuk mencari tempat yang nyaman buat menghubungi mamanya. Sampai sekarang belum kembali. Aku sudah mencarinya kemana-mana, tapi dia tidak ada. Bahkan saat aku teleponpun ia tidak menjawab. Bahkan sekarang hpnya nggak bisa dihubungi lagi." Panjang lebar Revan menjelaskan sambil menatap was-was ke Aruna.
__ADS_1
"Jadi suamiku menghilang?"
Revan dengan lemah mengangguk.
"Sampai sekarang nggak ketemu?"
Revan kembali mengangguk.
"Dan nggak bisa dihubungi?"
"Ya." lirih Revan. Ia melihat ke arah Aruna dan bersiap jika ada hal buruk terjadi.
"Begitu...." Aruna menggut manggut.
Kenapa reaksinya lempeng begini
"Mas, kamu aneh deh." Nisa bersuara.
"Aneh bagaimana?"
"Orang tuan Lais ada kok dibilang nggak ada."
"Sayang, aku tahu. Kamu dan Aruna tidak bisa menerima kabar ini. Tapi beneran, Lais menghilang. Tapi kalian tenang saja. Aku yakin Lais baik-baik saja."
"Emang iya." balas Nisa.
"Iya?"
"Iya. Tuan Lais baik baik saja." Nisa menegaskan.
Aruna tidak bisa menahan ketawanya melihat wajah kebingungan Revan.
"Kalian?"
"Pak Revan. Suamiku baik-baik saja. Dia sedang menunggumu sekarang. Tadi dia pamit ke aku sekaligus memintaku menyampaikan pada Pak Revan. Bateraynya low jadi ia mematikan ponselnya."
"Maksudnya?" Revan menatap Nisa dan Aruna bergantian.
"Makanya kalau dipanggil cepetan. Mas sih lelet."
Aruna menunjukkan pesan dari Lais kepada Revan.
"Pak Revan diminta datang ke tempat ini Ada mama dan juga Tuan Roby di sana."
Revan membaca pesan Lais.
Jadi dia nggak papa. Sial. Membuat orang panik saja.
"Ok. Aku akan menyusul Lais. Tapi sebelumnya aku akan pamit pada para tamu dan Rendy. Kalian nanti langsung pulang sama Pak Munir saja."
Aruna dan Nisa mengangguk.
Di tempat lain, Lais dan Roby sedang duduk dan berbicara dengan serius. Ada Nyonya Robert di situ.
flashback on
Lais meninggalkan acara, mencari tempat sepi untuk bisa menghubungi mamanya. Beberaoa kali mencoba namun tidak tersambung. Karena mengira sinyal buruk, Lais keluar gedung.
__ADS_1
Ia berjalan sambil terus berusaha menelepon mamanya.
"Lais!" sebuah suara mengagetkannya.
"Roby?Kau ada di sini?" Lais mendekat dan menjabat tangan Roby.
Roby mengangguk. "Masuk ke mobilku. Ada yang ingin bertemu denganmu."
"Siapa?"
"Nanti kau juga akan tahu."
Roby melangkah diikuti Lais menuju mobilnya.
"Mama!" seru Lais saat melihat Nyonya Robert ada di dalam mobil itu.
"Hai sayang." Nyonya Robert merentangkan tangannya. Mereka berpelukan.
"Kita harus segera pergi dari sinj sebelum orang-orangnya papamu menyadari kalau mamamu menghilang." Roby masuk mobil dan menyuruh sopirnya menjalankan kendaraan itu.
"Aku harus memberitahu Revan dan Aruna duku." ucap Lais.
"Lakukan dengan cepat. Setelah itu matikan ponselmu agar tidak terlacak."
Lais mengangguk. Ia paham apa maksud Robby. Dengan cepat ia mengetik pesan dan mengirimnya kepada Arina. Agar istrinya itu tidak khawatir, Lais sengaja beralasan baterai ponselnya habis.
Roby membawa Lais dan Nyonya Robert ke kediamannya. Gerry sudah menunggu di sana.
"Tuan, ponsel anda ketinggalan." Gerry menyerahkan ponsel Roby.
Pria itu menerimanya. Ia terus melangkah menuju sebuah ruangan diikuti oleh Lais yang berjalan sambil memapah mamanya.
"Masuklah dan silahkan kalian saling bicara! aku tinggal sebentar."
Lais mengangguk dan mengucap terima kasih.
"Bagaimana keadaan Aruna dan calon cucu mama?"
"Aruna baik, dan calon cucu mama, mereka juga dalam keadaan yanag sangat baik. Ma, kenapa mama nggak cerita kalau selama ini mama tinggal bersama pria tua itu?" Lais bersimpuh di depan Nyonya Robert dan menaruh kepalanya di atas pangkuan mamanya itu.
Nyonya Robert membelai kepala Lais, "Karena mama nggak mau kamu terpengaruh. Kamu harus fokus dengan usahamu. Jika kamu tahu mama ada bersama papa, pasti konsentrasimu terpecah. Dan lihatlah sekarang! Kamu berhasil. Mama bangga padamu nak."
"Selama ini Lais bekerja keras dengan tujuan agar bisa membawa mama hidup bersama kami. Tiap membayangkan mama hidup berdua dengan Mak Inah di kampung, semangat Lais muncul. Lais haris sukses demi mama, Aruna dan calon anak kami. Makasih atas pe pengorbanan mama." Lais mencium kedua tangan Nyonya Robert bergantian. "Setelah ini, tinggalah bersama kami, Ma!" pinta Lais.
"Mama ingin sekali nak, tapi saatnya belum tepat. Nanti saat itu akan tiba."
"Mama akan kembali ke rumah priabtia itu?"
Nyonya Robert menggeleng. "Mama akan mengikuti rencana Roby. Tinggal di tempat Roby. Papamu tidak akan mengira jika Roby menyembunyikan mama."
"Maaf, apa aku mengganggu?!" Roby kembali ke ruangan itu.
Lais bangkit dari duduknya di lantai dan berpindah ke kursi.
flashback off
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1