Menikahi Pria Tak Sempurna

Menikahi Pria Tak Sempurna
Lebih Suka Prosesnya


__ADS_3

Revan mempercepat langkahnya menuju parkiran. Ia harus menjemput ibu panti seperti permintaan istrinya. Langkah Revan melambat saat ia melihat bayangan orang yang ia kenal.


"Anton? Sedang apa dia? Hm, mencurigakan." gumam Revan. Ia memutar langkahnya menuju ke tempat Anton.


"Kau sedang apa?" Revan menepuk bahu Anton membuat Anton terjingkat kaget.


"Hei, bukankah itu?!" Revan melotot saat melihat wanita yang terbaring di dalam mobil Anton.


"Ya, dia Angela. Dia pingsan." balas Anton. Ia memang harus bercerita pada Revan atau masalah akan rumit.


"Jadi, tadi dia masuk ke kamar tuan Robert dan entah kenapa, tuan Robert membuatnya pingsan dan memintaku mengamankannya sampai pernyataan cerai dari kuasa hukum selesai dibuat."


"Apa yang akan kau lakukan padanya?" Revan menelisik.


"Menurutmu?" Anton malah balik bertanya. Ia tahu Revan sudah bisa menebak apa yang akan ia lakukan.


"Lakukan yang menurutmu baik. Aku tahu kamu orang baik." Revan kembali menepuk bahu Anton sebelum akhirnya berlalu meninggalkan Anton.


Setelah Revan berlalu, Anton segera mengemudikan mobilnya keluar dari parkiran rumah sakit.


***


Lais duduk sambil mengamati Aruna yang sedang belajar menyusui anaknya.


"Kenapa?" tanya Lais cas saat melihat Aruna meringis sambil mendesisi.


"Sakit. Lidahnya masih kasar." jawab Aruna.


"Masih enakan kalau aku yang...aw." Lais memekik saat merasakan cubitan Aruna di pinggangnya.


"Sakit sayang." Lais mengelus pinggangnya yang terasa pedih.


"Makanya, jangan bicara sembarangan. Malu tuh." bisik Aruna sambil matanya memberi kode ke arah perawat yang sedang mengganti besong anak mereka yang lain.


"Tapi benarkan, enakan kalau aku yang nyusu?" bisik Lais membuat mata Aruna mendelik ke arahnya.


Laia tergelak. Aruna cemberut.


Dasar suami nggak ada akhlak, istri kesakitan malah pikirannya mesum.


"Nyonya, ganti yang satunya ya." Perawat membawa bayi Aruna yang satunya.


"Sebentar sus, ini kayaknya masih lapar."


"Nggak papa. Nanti bisa lagi. Kasihan yang ini. Atau bisa dipompa terus taruh dalam dot saja. Nanti saat yang satunya menyusu, yang lain bisa minum dari dot."


"Sayang, bisakah belikan dot?" tanya Aruna.


"Aku? Tapi aku nggak paham benda-benda seperti itu." Lais malah bingung.


"Biar saya bantu. Nanti akan saya bawakan dot dan alat pompanya."


"Terima kasih suster." Ucap Aruna lalu memberikan bayi yang ia gendong pada Lais untuk selanjutnya ia mengambil anaknya yang ada dalam gendongan perawat dan mulai menyusuinya.


"Ini bagaimana? Dia menangis.." Lais panik. Ia tampak sangat kaku saat menggendong bayinya.

__ADS_1


"Di ayun pelan pelan saja ,Tuan." perawat memberi arahan.


Lais mencoba menggendong dan mengayun bayinya. Lama-lama anak itu diam dan lelap.


"Wah, papa hebat. Sudah bisa menidurkan kakak." puji Aruna sambil tertawa geli melihat betapa repotnya Lais.


"Aku lebih memilih menggendong mamanya daripada anaknya." gumam Lais.


Aruna mengerucutkan bibirnya menanggapi ucapan suaminya itu sedangkan sang perawat, yang juga mendengar gumaman pria tampan itu, tersenyum dengan wajah memerah.


"Saya permisi dulu untuk mengambilkan dot dan alat pompa." pamit sang perawat.


"Terima kasih, Sus." Aruna memberikan senyum ramah.


"Jadi nggak senang nih punya anak?" Aruna langsung mengeluarkan omelannya saat sang perawat sudah pergi.


"Hah?" Lais bingung.


"Iya. Kan tadi bilang lebih suka gendong mamanya daripada anaknya. Berarti nggak suka punya anak." Aruna menekuk wajahnya kesal.


"Sayang. Apa di perutmu masih ada bayi lagi? Kenapa kamu masih saja sensi?" gumam Lais polos.


Tahu ah." Aruna makin kesal. Ia membayangkan kalau Lais tidak menyukai anak-anak mereka, maka dirinya pasti akan kerepotan mengurusnya sendirian nanti.


"Sayang, kan aku jujur. Jika disuruh memilih aku lebih suka menggendongmu. Bukan hanya bisa dipeluk dan diciumi, tapi bisa langsung.." Lais menaik turunkan alisnya.


"Tuh kan. Beneran nggak suka sama anak-anak." Aruna mulai berkaca-kaca.


"Suka kok." Lais mendekat sambil menggendong anaknya. Ia lantas duduk di sebelah Aruna.


"LAIIISS!!" Aruna berteriak gemes. Sontak saja, kedua bayi kaget dan menangis kejer. Lais tertawa sambil berdiri untuk menenangkan anak yang ada dalam gendongannya. Pun Aruna, ia melakukan hal yang sama sambil matanya menatap kesal sang pembuat ulah.


Keesokan harinya.


Tuan Robert sudah mendapat ijin pulang. Wajahnya tampak berseri-seri saat para perawat melepas infusnya.


"Masih harus banyak istirahat ya, Tuan. Jangan kerja yang berat-berat dulu."


"Hm." jawab Tuan Robert tak acuh.


Nyonya Robert menggelengkan kepalanya melihat sifat tak acuh suaminya.


"Nyonya, pastikan obatnya terus diminum dan jaga agar Tuan tidak bekerja yang menguras tenaga, ya!"


"Baik sus."


"Baiklah. Saya permisi dulu. Nanti akan ada perawat yang kemari membawakan kursi roda buat Tuan."


Nyonya Robert mengangguk saat perawat itu melangkah keluar kamar.


"Mau kemana?" seru Nyonya Robert saat melihat suaminya berusaha turun dari ranjangnya.


"Nggak kemana-mana. Hanya ingin belajar menggerakkan tubuh. Sudah lama hanya tiduran saja, penat semua rasanya." balas Tian Robert. Kini dia sudah berdiri sambil berpegangan bibir ranjang. Matanya menatap istrinya sambil bibirnya mengulas senyum. Kakinya mulai bergerak.perlahan menuju ke arah Nyonya Robert.


"Diam di tempatmu!" titah Tuan Robert saat melihat istrinya hendak beranjak.

__ADS_1


Nyonya Robert menatap khawatir ke arah suaminya yang terus berusaha melangkah menuju tempatnya berdiri.


Tuan Robert merakan lemas di persendiannya. Namun ia masih memaksakan diri.


Aku akan menggapaimu sesulit apapun dan sesakit apapun. Luka yang sudah kutorehkan di hatimu, akan aku hapus dengan cinta dan kasih sayang. Aku janji, sisa umurku hanya untukmu. Semoga kau bisa memaafkan aku.


Mata Tuan Robert berkaca-kaca saat ia berhasil mendekat ke tempat istrinya.


"Akhirnya aku bisa meraihmu.." suara Tian Robert melemah seiring tubuhnya yang limbung ke depan.


Nyonya Robert langsung menangkap tubuh suaminya sehingga tidak jatuh mencium lantai.


"Bandel sih." gerutu Nyonya Robert.


Tuan Robert terkekeh, "Kalau nggak begini, kapan lagi kau akan memelukku."


"Dasar. Sudah tua juga masih saja."


"Makanya, jangan tinggalin aku. Aku sudah tua, butuh dimanja." Tian Robert mendekap erat tubuh ramping istrinya.


Ceklek.


"Oh, maaf." Anton yang membuka pintu terkejut melihat adegan teletubies kedua majikannya.


"Anton, bantu aku! Berat ini." teriak Nyonya Robert saat Anton hendak keluar lagi.


Anton hendak masuk.


"Tetap di tempatmu. Jangan ikut campur!" hardik Tuan Robert yang dengan tidak tahu malu malah menenggelamkan wajahnya di ceruk leher istrinya. Ia membuat gigitan kecil di sana.


"Ah..apa yang kau lakukan." Nyonya Robert berusaha mendorong tubuh suaminya. Namun belitan suaminya sangat erat hingga ia tidak mampu mengurainya.


Anton bergeming bingung.


"Tuanmu belajar jalan dan mau jatuh. Bantu aku!" kembali Nyonya Robert memberi perintah.


"Keluar atau kupecat!" Suara tegas Tuan Ribert membuat Anton langsung berbalik dan menutup pintu.


Anton berdiri bingung di depan pintu kamat Tian Robert.


Sebenarnya ada apa? Apa aku datang di saat yang tidak tepat? Ah sudahlah. Lebih baik aku duduk di sini sambil berjaga.


Anton lalu duduk.di kursi depan kamar Tuan Robert.


"Ahhh."


Anton mendelik saat mendengar jeritan Nyonya Robert.


Aoq yang mereka lakukan.


Anton mengelus tengkuknya yang tiba-tiba meremang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hayo apa yang terjadi di dalam? 🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2