Menikahi Pria Tak Sempurna

Menikahi Pria Tak Sempurna
Menemukan Jejak Aruna


__ADS_3

"Kita mau kemana tuan?" tanya Revan begitu mobil yang mereka tumpangi meluncur meningkatkan mansion Lais.


Ke tempat dimana kita bertemu wanita itu." jawab Lais.


"Apa tuan mencurigai Nyonya Angela?" tanya Revan cemas. Ia khawatir jika Lais akan kambuh saat bertemu dengan Angela. Namun hal yang paling ia khawatirkan adalah Lais mengetahui rencananya dan salah paham terhadap dirinya.


"Ya!" Lais menjawab pendek.


"Apa alasan tuan mencurigainya?"


"Saat aku tidur, aku seperti mendengar bisikan yang menyebut namanya. Aku anggap itu petunjuk."


Revan diam. Dia berharap insting Lais tidak salah. Segera ia mempercepat laju mobil mereka ke tempat mereka pertama kali bertemu Angela.


Di tempat lain, Angela baru saja mengakhiri panggilan telepon. Ia lalu melangkah ke kamar dimana Aruna disekap.


"Bangun!!!" bentaknya pada Aruna yang saat itu tengah terlelap, "Bisa-bisanya kau tidur." hardik Angela. kemudian.


Aruna bangkit. Matanya menatap Angela penuh rasa marah.


"Ayo!" ajak Angela.


"Kelana?" tanya Aruna enggan.


"Saatnya kita keluar." jawab Angela sinis.


"Maksudmu kau akan membebaskanku?"


Angela tersenyum sinis. "Jangan banyak tanya. Ayo jalan!" Angela menarik Aruna dengan kasar. Aruna mengikuti Angela dengan sedikit terseret. Mereka menuju mobil. Angela membuka pintu dan mendorong Aruna masuk. Dia lalu duduk di sisi Aruna.


"Jalan. Kita ke restoran!" perintah Angela pada sopirnya.


"Kenapa ke restoran?" kata Aruna.


"Diam!Sudah kubilang jangan banyak tanya." bentak Angela.


Aruna menutup mulutnya namun otaknya terus berpikir mencari cara untuk kabur. Sementara Angela sedang berbalas pesan pada seseorang.


"Cih.. merepotkan!" gumam Angela kesal. "Semua gara-gara kamu!" Angela mendelik ke arah Aruna.


Aruna tidak meladeni kekesalan Angela. Ia menatap ke luar dan menghafal setiap jalan yang ia lalui.


Beberapa saat kemudian mereka sampai di restoran yang Angela biasa datangin. Angela keluar lebih dulu lalu menarik Aruna agar mengikutinya.


"Jangan menarik aku begini! Aku bisa jalan sendiri." bentak Aruna sambil berusaha menarik tangannya dari genggaman Angela.


"Kau pikir aku bodoh. Saat kulepaskan kau pasti akan kabur." Angela malah mempererat cengkramannya di pergelangan tangan Aruna. Sopir yang sekaligus pengawal Angela mengikuti di belakang mereka.


"Duduk!" Angela melempar tubuh Aruna hingga menabrak kursi. Aruna meringis kesakitan menerima perlakuan kasar Angela.


"Nyonya, kita mau apa di sini?" tanya pengawal Angela.


"Meninggalkan jejak, mau apa lagi?" kata Angela.


"Tapi, bukankah jika kita meninggalkan jejak, mereka akan mudah menemukan kita?" pengawal Angela bingung.


"Kita ikuti saja perintah orang yang membayar kita. Jangan banyak tanya."

__ADS_1


Aruna menguping percakapan pengawal dan majikannya sambil membuka buku menu.Ia kemudian melambai ke arah pelayan.


"Kau mau apa?!" hardik Angela.


"Mesan makanan. Mau apa lagi." balas Aruna santai. Ia sama sekali tidak takut pada Angela.


"Siapa yang mengijinkanmu memesan makanan?!" mata Angela mendelik.


"Lha, terus ngapain kita kesini?" tanya Aruna.


"Kau nggak perlu tahu untuk apa kita ke sini. Yang jelas bukan untuk makan."


"Tapi aku lapar." kata Aruna tanpa mempedulikan ucapan Angela. Ia menulis makanan yang ia mau dan memberikannya pada pelayan yang ia panggil.


Angela mendelik kesal karena tidak diindahkan Aruna.


Bocah ingusan ini berulah.. tapi bagus juga, dengan ia memesan makanan maka pelayanan akan mengingatnya.


Tak berapa lama kemudian makanan yang Aruna pesan datang.


"Makan dengan cepat!" perintah Angela. Ia lalu memberikan isyarat pada pengawalnya agar mengawasi Aruna sementara dia pergi menuju ruang dalam restoran.


Aruna makan sambil mengamati sekeliling mencari celah agar bisa kabur, namun pria yang duduk tak jauh darinya itu terus mengawasi setiap gerak geriknya.


Menyebalkan! Mana restorant ini sepi lagi. bathin Aruna.


Saat Angela kembali ke tempatnya, Aruna sudah selesai dengan makanannya.


"Ayo!" ajak Angela sambil kembali menarik tangan Aruna, "Kita harus cepat!" hardik Angela.


Aruna menurut saja diseret Angela kembali ke mobil mereka. Saat mereka meninggalkan restoran, mobilnya berpapasan dengan mobil Lais. Aruna yang tahu itu mobil Lais bermaksud memanggil suaminya itu namun Angela terlebih dulu sudah membekap mulutnya.


"Pesan apa Tuan?" tanya si pelayan ramah.


"Mbak, apa wanita yang biasanya kemari itu hari ini datang? atau belakangan ini datang?" tanya Revan.


"Nyonya Angela maksud Tuan?"


"Iya, dia."


"Baru saja dia meninggalkan tempat ini Tuan. Sesaat sebelum anda berdua tiba."


"Apa?!" Revan berseru kaget pun Lais nampak kaget.


"Iya. Tadi nyonya Angela kemari sambil. membawa seorang gadis cantik. Bahkan gadis itu sempat makan di sini."


"Gadis cantik. Tunggu mbak, apa mbak bisa menjelaskan ciri ciri gadis itu?"


"Tentu saja Tuan, dia masih muda, usianya kira kira delapan belas tahunan, seusia anak SMA lah, rambutnya panjang, badangnya ramping, tingginya pas dan berkulit putih bersih Wajahnya sangat cantik."


Lais yang mendengar ciri ciri itu langsung membuka ponsel dan memperlihatkan foto Aruna kepada pelayan tanpa bicara.


"Ah iya. Ini gadis itu." seru si pelayan.


Lais langsung berdiri dan bergegas keluar menuju mobil.


"Makasih Mbak." kata Revan sebelum akhirnya mengikuti Lais.

__ADS_1


"Belum lama. Pasti belum jauh. Ayo, kita kejar mereka, Van!" ajak Lais.


Revan langsung melajukan mobilnya mengikuti arah mobil yang berpapasan dengan mereka tadi.


"Apa kau ingat mobilnya?" tanya Revan


Lais diam mengingat-ingat mobil yang berpapasan dengannya tadi.


"Kalau melihat mobil itu aku pasti mengenalinya. " jawab Lais.


Revan terus memacu mobilnya sementara Lais mengamati setiap. mobil yang melewati atau dilewati mereka.


"Itu!! Yang berbelok itu!!" seru Lais sambil. menunjuk sebuah mobil hitam yang berbelok di sebuah pertigaan. Revan memutar arah kemudi nya mengikuti apa yang Lais tunjuk.


Revan membututi mobil Angela dalam jarak aman. Mobil Angela terus melaju meninggalkan keramaian kota menuju wilayah yang sepi sampai akhirnya berbelok ke sebuah bangunan tua.


"Mereka berhenti." gumam Revan sambil melewati bangunan tua itu perlahan lalu menghentikan mobilnya tak jauh dari tempat itu.


"Kita turun?" Revan bertanya sambil menoleh ke arah Lais. Ia terkejut melihat Lais tegang dan pucat. Keringat mulai bermunculan di wajahnya.


"Lais kau tak apa-apa?" Revan menyentuh lengan Lais.


Lais menghela nafas panjang berusaha melawan rasa takutnya.


"Aku bisa. Aku pasti bisa." gumam Lais.


"Iya, kau pasti bisa. Ada aku. Kau tidak sendirian." Revan menyemangati Lais. "Kita turun?"


Lais mengangguk. Ia kemudian membuka pintu dan memaksakan diri turun lalu melangkah menuju bangunan tua itu.


Mereka mengendap-endap.


"Masih sama." desis Lais.


"Apa maksudmu?"


"Di tempat inilah dulu aku di sekap. Masih sama seperti saat itu." kata Lais dengan suara bergetar.


"Kau yakin mampu?" tanya Revan sangsi saat tahu tempat yang mereka tujuan membawa kenangan buruk bagi Lais.


Lais mengangguk. "Harus! Istriku ada di sana. Aku tidak mau dia mengalami hal buruk." jawab Lais.


Mereka berhasil. menyelinap masuk ke halaman gedung dan terus mengendap mendekati bangunan tua itu.


"Kenapa tidak ada penjaganya?" gumam Revan merasa aneh karena begitu mudahnya mereka masuk. "Lais, kita harus berhati-hati. Jangan-jangan ini jebakan." Revan memperingatkan Lais.


Lais tidak mengindahkan peringatan Revan. Ia terlalu sibuk menguasai dan menekan traumanya. Lais memaksa kakinya melangkah dengan cepat.


"Aaa!" sebuah jeritan terdengar.


"Aruna!" gumam Lais. Ia semakin mempercepat langkahnya. Rasa takutnya sedikit berkurang berganti rasa cemas akan keselamatan Aruna.


Lais terus mencari arah datangnya teriakan tadi. Saat ia melewati sebuah kamar, ia mencoba membukanya. Revan membantu Lais. Mereka mendobrak kamar itu dan terkejut melihat apa yang ada di dalam kamar.


Hoaaammmm


ngantuknya... dilanjut besok ya.. dah hampir pukul 00 soalnya

__ADS_1


Semoga menghibur.


__ADS_2