Menikahi Pria Tak Sempurna

Menikahi Pria Tak Sempurna
Makan


__ADS_3

Lais keluar dan melangkah dengan gontai menuju kamarnya. Saat melewati dapur ia terusik oleh suara berisik Bu Ira.


"Non sudah. Nanti sakit perut." Bu Ira sedang sibuk membujuk Aruna yang tengah asik makan tomat muda.


"Ada apa Bu?" tanya Lais mengagetkan keduanya.


"ini tuan muda, nona minta tomat muda."


Lais menelan ludah merasa ngilu melihat Aruna makan tomat muda yang pasti rasanya asam itu dengan lahapnya. Ia mendekat dan duduk di samping istrinya.


"Enak?" tanya Lais. Aruna mengangguk. Ia menyodorkan sebuah tomat ke arah Lais


"Mau?"


Lais menggeleng. "Kalau mau tomat, kita beli yuk. Tapi yang masak ya, ini pasti asam." bujuk Lais. Bu Ira meninggalkan mereka.


Aruna menggeleng, "Tomat masak nggak enak, asam."


^^^Eh nggak kebalik. Yang asam kan yang muda.^^^


Lais menghela nafas. Ia tahu ini pasti efek dari kehamilan istrinya. Ia lalu membuka ponsel dan mencari info apa dampaknya bagi wanita hamil jika makan tomat terlalu banyak. Dia menemukan banyak manfaat tomat bagi ibu hamil, tapi tidak satupun menyebutkan tomat muda.


Sama sama tomat kan, semoga nggak papa.


"Heeekk." Aruna bersendawa dengan keras membuat Lais langsung menoleh heran. Tidak pernah sekalipun selama menjadi istrinya Aruna bersendawa sekeras itu.


"Kenyaaang." Aruna mengelus perutnya. Ia menaikan satu kakinya ke atas kursi.


Lais menggelengkan kepalanya melihat tingkah Aruna yang ajaib.


"Turun!" perintah Lais lembut sambil memindahkan kaki Aruna.


"Kenapa?Enak tahu duduk begini." Aruna kembali menaikan kakinya. Duduk seperti pria yang lagi makan di warteg.


"Sayang, mau nggak kalau nanti anak kitavtuh patuh dan nurut?" tanya Lais.


"Ya maulah. Nggak ada orang tua yang pengen anaknya membangkang dan keras kepala." jawab Aruna.


"Kalau begitu sejak dalam kandungan harus diberi contoh. Caranya, mamanya juga nggak boleh keras kepala. Harus nurut. Ayo turunkan kakinya dan duduk yang anggun."


Aruna menatap Lais. Berpikir sejenak lalu menurunkan kakinya. Ia memperbaiki duduknya. "Begini sudah anggun?" tanyanya polos.


"Bagus." jawab Lais sambil menahan senyum karena triknya membujuk Aruna berhasil.


Bisa dipakai untuk yang lain kayaknya.


Otak cerdik Lais mulai jahil.


"Sudah kenyang?" tanyanya.


Arina mengangguk.


"Tapi aku masih lapar?" kata Lais manja.


"Kamu mau makan apa? Aku ambilin."


Lais menggeser duduknya kian dekat. "Mau makan ini dan minum ini." ia menunjuk pada bagian tubuh Aruna membuat muka Aruna memerah.

__ADS_1


"Masih sore." elak Aruna enggan menuruti kemauan Lais.


"Eh ingat. Nanti anaknya jadi pembangkang lho. Lihat tuh Nisa, kamu pikir dia lagi ngapain sama Revan dari tadi nggak keluar kamar." bisik Lais sambil meniup telinga Aruna.


"Memang mereka ngapain?" Aruna malah penasaran.


"Nisa sedang membiarkan Revan menikmati makan sampai ia puas dan kenyang." Lais mencium leher Aruna membuat rambut di tengkut Aruna meremang. "Karena Nisa nurut, anak mereka pasti nanti patuh." bujuk Lais lagi.


Aruna diam. Ia memang pernah mendengar jika apa yang dirasakan saat hamil jangan selalu diikuti. Karena akan membuat anaknya nanti manja. Mitos atau nyata, Aruna nggak peduli. Ia tidak ingin anaknya menjadi manja dan pembangkang.


"Suamiku mau makan disini,apa di kamar? Mau makan sendiri apa disuapin?" tawar Aruna.


Lais senang bukan main, Ia berdiri dan menggendong Aruna. "Di kamar donk. Kalau makan disini, nanti Bu Ira dan Pak Munir kepingin. Kasihan kan." Lais membawa Aruna ke kamar mereka.


Bu Ira yang sedari tadi sebenarnya mendengar percakapan suami istri itu dari tempatnya mengelus dada. "Tuan Muda, setelah sembuh anda jadi menakutkan." gumamnya.


"Apa yang menakutkan Bune?" Pak Munir tiba-tiba bersuara mengagetkan Bu Ira.


"Bapak! Bikin ibu kaget aja. Bapak darimana?"


"Bapak baru membersihkan mobil. Bune kan tahu, pemilik mansion ini juga menyediakan mobil untuk tuan muda.Bune belim.menjawab,apa yang menakutkan?" Pak Munir penasaran.


"Nggak ada. Pak ne nggak lapar?" tanya Bu Ira.


"Kan bapak sudah makan tadi bu. Ya masih kenyanglah." jawab Pak Munir lalu duduk di kursi yang ada di dapur. "Emang bune masak lagi yang belum bapak makan, kok nanyain bapak?"


Bu Ira tersenyum. Ia mendekati suaminya dan mengambil tangan Pak Munir lalu menempelkan ke bagian tubuhnya,"Aku punya ini untuk makanan bapak dan ini untuk minuman bapak."


Mata Pak Munir terbelalak tidak percaya melihat tingkah absurd istrinya.


Kesambet dimana bune ini.


"Sepi banget!" gumam Revan yang turun bersama Nisa dan mendapati ruangan bawah sangat lengang.


"Mas, aku lapar." kata Nisa. Ia langsung menuju ruang makan. "Ini kenapa banyak tomat di meja makan." Nisa mengambil satu dan menggigitnya. "Mm..asan." Tubuh Nisa bergetar dan matanya mengernyit menahan rasa asam.


"Kamu mau makan apa sayang?" tanya Revan sambil menuju dapur dan melihat apa yang dimasak Bu Ira.


"Yang ada saja Mas. Sudah lapar." Nisa duduk menunggu Revan membawa makanan untuknya.


"Ini sayang. Aku hanya menemukan ini di dapur."


"Nggak papa. Ini juga enak." Nisa langsung mengambil makanan yang Revan bawa dan memakannya dengan lahap.


"Hati-hati sayang nanti tersedak." Revan mengelus kepala Nisa.


"Mas nambah!" pinta Nisa.


"Eh, tadi dah banyak lo yank. Nggak takut gemuk."


"Nambah." rengek Nisa tanpa mempedulikan peringatan Revan.


"Dikit ya!"Revan dengan sabar mengambilkan makanan untuk Nisa. Nisa langsung menyantapnya begitu makanan Revan taruh di depannya.


"Nambah lagi!" pinta Nisa. Mata Revan melotot melihat begitu cepatnya Nisa menghabiskan makanan yang ia kasih.


"Yank...tadi itu dah banyak lho. Nanti kalau badanmu melar bagaimana? Kamu juga yang akan repot." Revan kembali mengingatkan Nisa.

__ADS_1


"Lapar mas, lagian kan bukan cuma aku yang makan. Anak kita juga ikutan makan." rengek Nisa.


Kalau sudah bicara soal anak, Revan pasti nggak berkutik. Ia kembali berdiri dan mengambil makanan untuk Nisa.


"Ini yang terakhir ya!" pinta Revan.


"Jadi nanti aku nggak boleh makan lagi?" Nisa cemberut.


"Bukan begitu sayank, untuk saat ini, jangan minta nambah lagi."


"Kenapa?Mas nggak mau ya ambilin makan lagi. Nanti aku ambil sendiri deh." Nisa semakin kesal.


"Iya deh iya. Nanti mas ambilin lagi." Revan mengalah.


"Nggak jadi. Mas makan saja sendiri." Nisa bangkit dan meninggalkan Revan menuju dapur.


"Sayank, ini makanannya. Kamu mau apa?"


"Mas makan saja. Aku mau ambil sendiri."


Revan menyusul Nisa ke dapur. "Aku sudah kenyang, makan ya. Mubadzir itu makanan."


Nisa tidak menghiraukan ucapan Revan.


"Mana sih?" gumam Nisa.


"Kamu nyari apa sih yank?"


Nisa masih tidak menggubris ucapan Revan. Ia malah menuju kamar Bu Ira bermaksud menanyakan barang yang ia cari.


Saat akan mengetuk kamar, Nisa mengurungkan niatnya. Ia lalu menempelkan telinganya ke pintu.


"Yank, apa yang kau lakukan?" tanya Revan hang heran melihat tingkah Nisa.


"Ssstt!" Nisa menaruh telunjuknya di bibir Revan. Karena penasaran, Revan ikut menempelkan telinganya. Ia bisa mendengar suara berisik di dalam. Suara Pak Munir dan Bu Ira yang sedang makan.


"Yank, nggak baik nguping." Revan menarik Nisa. Tubuhnya ikut bereaksi mendengar suara Pak Munir dan Bu Ira.


"Bentar ih mas. Nanggung." protes Nisa.


"Sayank, nggak baik. Mending bikin suara sendiri daripada nguping." bisik Revan.


Nisa langsung mengarahkan pandangan tajamnya ke Revan. Ia lalu meninggalkan kamar Bu Ira.


"Sayank, jangan ditinggal donk." Revan mengekori Nisa. Ia terus berusaha membujuk Nisa agar mau menuruti keinginannya yang sudah susah untuk ditahan.


"Aku masih lapar mas." geram Nisa.


"Iya, nanti makan lagi. Makan yang tadi dihabisin dulu, dipake kerja biar nggak gendhut nanti. Ayo! Kalau habis makan beraktifitas, nggak akan gemuk yank, jadi kamu bisa makan sebanyak yang kamu mau." bujuk Revan ngasal.


Nisa memandang Revan dengan tatapan tak percaya.


"Mas Revan bohong ya? Mau ngerjain Nisa"


"Enggak. Masak istri cantik gini dikerjain."


Kalau ngerjain yang lain iya.

__ADS_1


"Ayo, ikut mas!" Revan menggandeng tangan Nisa yang mulai menurut. Nisa takut jika dia beneran gendhut karena semenjak mengandung porsi makannya bertambah. Jika apa yang dikatakan Revan benar, ia akan dengan senang hati melakukannya.


...🌹🌹🌹...


__ADS_2