Menikahi Pria Tak Sempurna

Menikahi Pria Tak Sempurna
Berangkat


__ADS_3

"Sayang, hanya sementara." Lais sibuk membujuk Aruna karena Aruna merajuk. Lais menceritakan rencananya untuk terbang ke Eropa tanpa mengajak Aruna.


"Sayang, ini demi masa depan kita." Lais menangkup wajah Aruna. Matanya menatap lekat wajah cantik itu, "Maaf kalau aku belum bisa membawamu. Kondisinya nggak memungkinkan sekarang."


"Bukan masalah itu. Aku hanya takut." rajuk Aruna manja. Ia merebahkan kepalanya ke dada Lais.


"Apa yang kau takutkan? Ada Bu Ira yang menemanimu." kata Lais.


"Bukan itu juga. Aku takut di sana kamu..."


Ucapan Aruna terpotong karena Lais menutup bibir Aruna dengan telunjuknya.


"Ucapan adalah doa. Jangan bicara yang nggak nggak! Yakinlah, aku setia." Lais menarik telunjuknya. Sebagai gantinya, bibirnya mendarat lembut di bibir Aruna.Makin lama ciuman Lais makin dalam dan merekapun kembali terbuai nikmatnya surga dunia.


Saat Lais tengah memadu cinta dengan Aruna, Tuan Robert masih sibuk dengan usahanya menemukan Nyonya Robert. Berdasarkan informasi dari sopir yang terakhir membawa Nyonya Robert, Ia langsung memerintahkan anak buahnya mengecek bandara. Mengumpulkan informasi dan memperoleh kabar kalau Nyonya Robert pergi ke Belanda.


"Sial!!!!" Geramnya sambil.mengepalkan tangan. "Sejauh apapun kau pergi, aku akan membawamu kembali. Tak akan kubiarkan kau menghancurkan reputasi yang sudah susah payah aku bangun."


Ia lalu mengambil ponselnya, "Belikan aku tiket ke Belanda!" perintahnya pada asistennya. Ia lalu mengambil foto Nyonya Robert yang ada di meja kerjanya dan melemparkannya sampai tak berbentuk.


"Tuan!!" sekretarisnya masuk dan kaget melihat foto yang hancur berantakan.


"Bersihkan!!"


"Baik!" sang sekretaris memanggil OB dan menyuruhnya untuk membersihkan serpihan kaca.


"Bagaimana?" tanya Tuan Robert sambil duduk di kursi.

__ADS_1


"Info terakhir,Tuan Lais sedang berusaha merintis bisnis di bidang kerajinan." sang sekretaris lalu membacakan semua info yang ia dapat dari orang-orang suruhannya. Untungnya mereka tidak mengetahui soal Nyonya Robert.


'Mm." dengan gerakan tangannya Tuan Robert menyuruh sekretarisnya pergi.


Tuan Robert menekan rahangnya, "Mau belajar terbang ya?!" senyum sinis tercetak di bibirnya.


Kembali ia mengangkat ponselnya ,"Lakukan yang kita rencanakan!" perintahnya dingin.


"Penderitaan anakmu akan membawamu kembali padaku." gumamnya dengan dengan sorot mata jahat dan senyum iblis. "Aku tak akan kehilangan apa yang sudah susah payah aku bangun."


Mata tuan Robert beralih ke ponselnya saat benda pipih itu bercahaya. Sebuah pesan masuk.


"Tuan, tiket sudah siap." isi pesan itu.


Tuan Robert memasukkan ponselnya ke saku lalu beranjak meninggalkan kantor.


Revan, Lais dan Rendy bersiap berangkat ke Eropa tepatnya ke Perancis.


"Jaga diri baik-baik. Jaga anak kita juga!" Lais mengecup kening Aruna lalu perutnya.


"Kamu juga. Jaga kesehatan." Aruna memeluk suaminya. Ia menitikkan air mata.


"Jangan menangis." Lais mengusap air mata Aruna.


"Aku hanya sedih. Lusa adalah hari kelulusanku. Tapi kamu malah nggak ada."


"Nggak papa. Nanti kita rayakan saat alu pulang ya?!" Lais mendekap Aruna.

__ADS_1


"Iya. Aku akan menunggumu."


"Doakan aku!"


"Selalu."


Di sisi lain, perpisahan Revan dan Nisa juga tengah berlangsung. Jika Lais membujuk Aruna, maka Nisa yang membujuk Revan. Pria itu mendekap istrinya seolah nggak mau pisah.


"Mas, malu dilihat banyak orang." Nisa berusaha melepas pelukan Revan.


"Biar. Setelah ini kita akan terpisah. Aku nggak bisa membayangkan jauh darimu untuk waktu yang lama." Revan makin mempererat dekapannya.


"Ingat tujuan mas ke sana juga demi kita. Sudah jangan cengeng. Malu!" Nisa mendorong Revan.


"Pelukk!!" rengek Revan dan berusaha untuk menarik tubuh Nisa. Namun justru tubuhnya yang tertarik ke belakang.


"Check in!" bentak Rendy yang jengah dengan sikap manja Revan.


Lais berdiri. Ia sekali lagi mengecup kening Aruna.


"Aku berangkat!" Ia mengusap airmata yang kembali membasahi pipi Aruna.


Aruna mengangguk.


Lais melangkah mundur meninggalkan Aruna. Nisa mendekati Aruna lalu merangkulnya. Bu Ira dan Pak Munir berdiri di belakang mereka berdua.


Lais dan Revan juga Rendy melambaikan tangan sebelum akhirnya menghilang masuk ke dalam bandara.

__ADS_1


__ADS_2