
"Kenapa lama sekali!?" seru Aruna saat ia melihat Lais kembali ke kamarnya.
"Revan." jawab Lais pendek. Ia lalu naik ke ranjang dan membantu Aruna bangun.
"Ayo! Pelan-pelan saja." bisiknya.
"Kemana?Aku masih belum berpakaian." jawab Aruna sambil meringis.
"Ah iya." Lais mengambil gaun tidur Aruna yang tadi ia lempar. Ia menyodorkan gaun itu pada Aruna.
"Kamu mau aku memakai ini ke rumah sakit?" mata Aruna mendelik namun bibirnya meringis.
Lais mengamati gaun itu. Ia lalu menggeleng.
"Nggak. Aku nggak mau kamu menampakan tubuhmu. Pakaian ini terlalu terbuka." gumamnya.
"LALU APA YANG KAU TUNGGU. AMBILKAN AKU BAJU AAW." Aruna berteriak kesal sambil menjerit menahan sakit.
Lais tersentak. Ia berlari ke walking closed.
"LAIS CEPAT!!" Aruna yang sudah sangat kesakitan berteriak tidak sabar menunggu Lais yang memerlukan waktu lama hanya untuk mengambil baju. Ia tidak tahu jika di dalam walking closed Lais malah kebingungan memilih baju yang pantas untuk Aruna. Akhirnya ia mengambil baju hamil panjang berkancing depan.
"Aku datang." Lais berlari kembali ke tempat Aruna. Ia membantu Aruna memakai baju.
"AW." kembali Aruna memekik.
"Kau bisa jalan? Atau aku gendong saja?" Lais menunduk hendak mengangkat tubuh Aruna.
"Tidak usah. Aku jalan saja. Papah aku!"
Lais kembali menegakkan badannya dan mulai memapah Aruna.
"Aduh, nona Aruna mau lahiran ya?" Bu Ira menyongsong Lais dan Aruna begitu mereka keluar dari kamar. Lais dan Aruna mengangguk.
Dari lantai dua, mereka mendengar suara ribut.
"Mas Revan gimana sih? Mana bisa aku turun lewat tangga. Kita naik lift saja!" omel Nisa.
"Kalau naik lift masih memutar sayang. Aku gendong saja ya!"
"Nggak mau. Nanti jatuh malah repot." tolak Nisa dengan berteriak.
Lais, Aruna dan Bu Ira mendongak melihat Revan yang kebingungan menghadapi Nisa.
"Bu Ira, kamu bantu Revan saja. Ia pasti kesulitan membawa Nisa turun. Aruna cukup sama aku!"
"Baik, tuan." Bu Ira bergegas naik. Lais terus memapah Aruna ke pintu.
Pak Munir datang.
"Mobil sudah siap Tuan Muda."
Lais mengangguk. "Terima kasih. Siapkan satu lagi untuk Revan!"
"Sudah tuan. Berikut supirnya."
Lais kembali mengangguk. Dalam hati ia bersyukur memiliki Pak Munir yang cekatan.
__ADS_1
"Hati-hati sayang." Lais membuka pintu dan membantu Aruna masuk. Ia kemudian ikut masuk lewat pintu yang satunya.
"Berangkat, Pak!"
Pak Munir langsung melajukan mobilnya ke rumah sakit.
Lais meraih tubuh Aruna lalu mendekapnya, tangannya mengelus perut Aruna untuk meredakan rasa sakitnya.
"Punggungku." bisik Aruna.
"Apa?"
"Usap punggungku!"
Lais mengikuti permintaan Aruna. Ia mengusap punggung Aruna.
"Aww!! Sakit. Sepertinya kepalanya sudah mau keluar. Sakit banget." Aruna menangis.
"Hei apa yang mau kau lakukan?" teriak Aruna saat Lais menunduk dan hendak membuka roknya.
"Mau lihat apa benar sudah keluar?"
"Ahh nggak usah. Kamu juga nggak akan mengerti. Argh." Aruna mencengkeram kuat lengan Lais saat ia kembali kesakitan.
"Pak? Apa dulu Bu Ira juga kesakitan?" tanya Lais. Aruna langsung memukul lengan Lais mendengar pertanyaan bodoh suaminya itu. Mana ada orang mau melahirkan tidak sakit.
"Iya, Tuan. Tapi Ira sakitnya datang dan pergi. Kalau kata bidannya sih kontraksi. Tidak terus-terusan seperti Nona."
"Kok kamu beda?" Lais memandang bingung istrinya.
"Mana aku tahu. Mungkin bayi Bu Ira masih mencari jalan. Lha anakmu ini sudah kau tunjukan jalan, jadi mereka buru-buru mau keluar." jawab Aruna asal saking kesalnya. Lais hanya nyengir sambil menggaruk kepalanya. Pak Munir menahan senyum geli.
Lais dan Revan berjalan mondar mandir di depan kamar bersalin. Mereka tadi tidak diijinkan masuk, karena baik Aruna maupun Nisa tidak mau suaminya menemani mereka melahirkan. Mereka lebih memilih ditemani Bu Ira.
Pak Munir duduk sambil menggelengkan kepala melihat keduanya.
"Tuan-tuan berdua, mbok ya duduk. Pusing saya melihat anda mondar-mandir. Duduk dan berdoa!" tegur Pak Munir kalem.
"Pak.Apa Bu Ira juga tidak mau bapak temani dulu?" Lais bertanya sambil duduk di sebelah Pak Munir. Revan mengikutinya. Ia mengambil tempat di sisi yang lain.
"Ira? Dia malah tidak bisa bapak tinggal. Bapak malah iri melihat tuan muda berdua tidak ikut masuk."
"Kenapa?" sambar Revan.
"Asal tuan tahu, wanita melahirkan itu mengerikan. Mereka kesakitan dan akan mencari sesuatu untuk melampiaskan rasa sakitnya. Ira dulu mencakar, menampar dan menjambak bapak. Bahkan ia memukul dan menarik baju bapak. Selesai ia melahirkan, penampilan bapak hancur. Kancing baju hilang semua. Rambut awut-awutan. Dan yang parah, tangan bapak penuh cakaran dan juga gigitan."
Lais dan Revan saling menatap ngeri. Mereka lalu mengelus dada sambil berucap syukur tidak mengalami apa yang Pak Munir alami.
"Mungkin itu alasan kedua nona meminta tuan berdua tidak ikut masuk. Mereka takut menyakiti tuan-tuan. Mereka sangat menghormati dan menyayangi tuan-tuan." gumam Pak Munir menenangkan.
Lais dan Revan tersenyum.
"Jadi tuan-tuan bantu mereka dengan doa, bukan malah mondar-mandir tidak jelas." saran Pak Munir sambil menganggukkan kepala.
Lasi dan Revan ikut menganggukkan kepala membenarkan saran Pak Munir. Mereka lalu duduk tenang sambil mengucapkan doa untuk kelancaran persalinan istri mereka masing-masing.
Ceklek
__ADS_1
Lais dan Revan langsung mengangkat wajah mereka yang semula menunduk khusuk berdoa saat mendengar suara pintu dibuka.
"Bagaimana istri saya?" Lais dan Revan berbarengan melontarkan pertanyaan yang sama kepada perawat yang baru saja keluar dari kamar bersalin.
"Suami Nyonya Aruna?"
"Saya." Lais mengangkat tangan.
Perawat itu tersenyum.
Tampan sekali dan sepertinya sangat ganas melihat banyaknya bekas kepemilikan di tubuh Nyonya Aruna.
"Putra kembar anda sudah lahir. Mereka lahir dengan cepat karena tidak tersesat." Perawat itu menahan senyumnya saat mengucapkan kalimat itu. Mukanya memerah
Lais mengucap syukur tanpa mempedulikan seloroh sang perawat.
"Apa maksudnya?" gumam Revan sambil melirik sahabatnya itu. Lais hanya mengangkat bahu.
"Lalu bagaimana dengan anak saya?"
"Nyonya Nisa?"
Revan mengangguk.
"Mmm tadinya sih ia sudah kontraksi tapi tiba-tiba anteng lagi. Padahal sudah pembukaan 10. Dokter masih memberikan perangsang."
"Eh,mau apa diberi perangsang? Aku harus masuk." Revan mencoba untuk masuk namun dihalangi oleh si perawat.
"Sesuai permintaan pasien, anda tidak boleh masuk!" tegas si perawat.
"Tidak bisa! Aku harus masuk! Dokternya pasti mau berbuat mesum karena memberi Nisa perangsang. Aku tidak rela." Revan berusaha mendorong sang perawat agar minggir.
Lais yang mendengar tentang perangsang membenarkan tindakan Revan. Ia ingin membantu menepikan tubuh perawat yang menghalangi pintu tapi ragu. Tangannya menggantung di udara. Padahal si perawat menatapnya penuh harap. Kapan lagi akan dipegangi dua pria tampan, mungkin begitu batinnya.
"Kalian tenang!" Pak Munir menarik tubuh Revan menjauh.
"Bagaimana saya bisa tenang pak, istri saya di dalam mau diberi perangsang." Revan memberontak dari cekalan Pak Munir. Lais hanya menatap bingung.
"Perangsang agar bayinya keluar, bukan perangsang macam yang tuan pikirkan." kata Pak Munir sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kebodohan Revan. Revan diam dan tidak lagi memberontak.
"Benar begitu?" Lais bertanya sambil memandang sang perawat. Perawat itu gugup ditatap Lais. Ia mengangguk dengan muka memerah.
"Kenapa kamu lama. Dokter sudah menunggu obatnya." Seorang perawat lain keluar.
"Ah iya aku lupa." perawat pertama segera berlalu dari tempat itu.
Saat perawat kedua akan masuk, Lais mencegahnya.
"Tunggu. Anak saya? Apa saya bisa melihatnya? Saya suami Aruna."
Sama seperti perawat sebelumnya, perawat inipun menatap kagum pada Lais.
"Mereka masih dibersihkan. Nanti saya sendiri yang akan mengantarkannya pada tuan." Senyum manis ia lemparkan pada Lais.
"Terima kasih."
Perawat itu mengangguk lalu masuk ke ruang bersalin dengan berjalan mundur dan matanya enggan melepaskan pandangan dari pria tampan itu.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tepuk jidat buat Revan dech ...mesum saja pikirannya. Hadeeh