Menikahi Pria Tak Sempurna

Menikahi Pria Tak Sempurna
Keputusan Akhir Mai Nah


__ADS_3

"Nah?" Bu Ira meyakinkan jawaban Mak Nah.


Mak Nah mengangguk, "Aku sudah membuat keputusan. Aku akan menikah dengan Mas Malik." Mak Nah melirik Pak Malik.


Pak Malik menelan ludah. Mendengar Mak Nah memanggilnya Mas, hatinya berdesir.


Pak Munir terus menatap Pak Malik tanpa berkedip.


"Kalian berdua, bisakah meninggalkan kami sebentar!" pinta Bu Ira.


"Oh tentu." jawab Pak Malik.


"Aku akan melihat Seruni." pamit Pak Malik pada Mak Nah. Mak Nah mengangguk sambil tersenyum.


Pak Munir melengos. Ia tidak suka melihat pemandangan mesra itu.


"Aku akan ke depan. Siapa tahu nona dan tuan muda sudah datang."


Pak Munir lantas meninggalkan taman.


"Memangnya nona dan tuan muda akan kemari?"


"Iya, tadi kami diminta berangkat duluan. Nona dan Tuqn masih pergi ke suatu tempat." jelas Bu Ira.


"Oh."


"Nah, apa kau memutuskan menikah dengan Pak Malik karena aku?" tanya Bu Ira pelan. "Jika itu karena masalah kita, kamu jangan memaksakan dirimu dalam pernikahan ini. Aku tidak mau kamu tidka bahagia. Nah, aku benar-benar ikhlas berbagi suami denganmu."


"Tapi aku yang nggak bisa, Ra." potong Mai Nah cepat.

__ADS_1


Bu Ira tercekat kaget.


"Maksudmu kamu hanya ingin menjadi satu-satunya istri Mas Munir?"


"Tidak, Ra. Bukan begitu. Aku tidak bisa menikah dengan Munir. Terlepas dari ada atau tidak ada kamu. Kami sudah berakhir, Ra dan semua ini takdir. Jadi tolong jangan merasa bersalah lagi." Mai Nah menggenggam tangan Bu Ira.


"Tapi Pak Malik? Apa kau yakin?"


Mak Nah mengangguk. "Aku yakin. Lagipula mereka butuh aku Ra. Seruni membutuhkan aku."


"Nah, pernikahan bukan hanya soal siapa membutuhkan siapa."


"Tapi juga bukan soal cinta Ra. Kami sudah tua. Bagi kami sudah bukan masanya lagi bicara cinta. Kami hanya butuh teman untuk masa tua kami ini Ra" sahut Mak Nah.


"Kalau itu memang keputusanmu, aku mendukungmu Nah. Asal kau bahagia, aku juga akan ikut bahagia." Bu Ira ganti menggenggam tangan Mak Nah.


"Terima kasih, Ra. Aku pasti akan bahagia."


Mereka berdua lalu berpelukan.


Dari kejauhan Aruna dan Lais yang sedang berjalan menuju ke arah kamar Seruni, melihat Mak Nah dan Bu Ira berpelukan.


"Sayang, kenapa mereka berpelukan di taman?" Aruna menyenggol lengan Lais sambil menunjuk Bu Ira dan Mak Nah dengan gerakan kepalanya.


"Mungkin mereka saling melepas kangen. " jawab Lais enteng.


"Atau jangan-jangan mereka sudah sepakat untuk berbagi Pak Munir?"


Lais menjitak kepala Aruna pelan, "Buang pikiran anehmu itu!"

__ADS_1


"Eh sakit tahu. Aneh apanya? Bisa saja kan mereka berbagi. Tapi ngomong-ngomong Pak Munir kok lama banget sih?" Aruna menghentikan langkahnya.


"Kenapa berhenti?" Lais ikut berhenti juga.


"Kita tunggu Pak Munir lagian nggak enak kalau tiba-tiba muncul di saat mereka seperti itu. Mereka pasti akan kikuk nanti."


Lais menganggukkan kepalanya. Mereka lalu duduk di kursi yang ada di dekatnya. Tak lama kemudian, Pak Munir tiba bersama Tuan dan Nyonya Robert.


"Mama!" Aruna langsung memeluk Nyonya Robert.


"Aruna sayang." balas Nyonya Robert.


Lais diam. Sejak mamanya pergi meninggalkan mansion, baru kali ini mereka bertemu. Begitupun dengan tuan Robert. Mereka sempat bicara di telepon tapi belum pernah bertemu.


"Bagaimana keadaan kalian?" tanya Tuan Robert mengajak Lais bicara.


"Baik." jawab Lais dingin.


Aruna mencubit pinggang Lais melihat sikap dingin suaminya itu


Lais mendelik sambil mengelus pinggangnya.


"Sudahlah. Ayo kita lihat Seruni. Aku dengar ia sudah boleh dibawa pulang." Nyonya Robert yang paham situasi, segera menggandeng Aruna menuju kamar Seruni.


Lais, Tuan Robert dan Pak Munir mengikuti tanpa banyak bicara.


Saat melewati taman, mereka disambut Bu Ira dan Mak Nah yang juga sedang bersiap kembali ke kamar Seruni.


...***...

__ADS_1


__ADS_2