
"Bayar!" titah Lais pada Revan setelah mereka selesai makan.
Revan mengacungkan jempolnya sebagai jawaban. Segera ia melangkah ke meja kasir. Pemuda yang tadi melayani Lais, menyapa Revan.
"Ada yang bisa di bantu mas?" tanyanya ramah dan sopan.
"Iya. Totalin berapa semua!" kata Revan sambil.mengeluarkan dompet dari saku celananya.
Si pemuda menghitung sbil.membuat catatan samacam nota.
"Ini mas." ia menyerahkan nota itu pada Revan. Revan langsung melihat total dari makanan yang mereka makan dan membayarnya.
"Kembaliannya, Mas."
"Buat masnya aja. Sebagai ucapan terima kasih sudah masak makanan yang spesial dan nikmat." jawab Revan menepuk pundak pemuda itu.
"Terima kasih, Mas. Semoga rejekinya lancar terus." doa si pemuda tulus.
"Aamiin."
Revan meninggalkan meja kasir.
"Sudah beres." katanya sambil.memasukkan nota makanan mereka ke saku kaosnya.
"Apa yang kau simpan?" tanya Lais.
"Nota makanan kita tadi. Ku simpan biar kalau datang lagi ke mari aku bisa pesan makanan yang sama." jawab Revan.
Lais dan Pak Munir saling tukar pandang.
.?
"Tuan Revan suka.." pak Munir tidak lagi melanjutkan ucapannya saat mendengar deheman Lais.
"Hem!" Lais mendehem keras.
"Pak Munir mau nanya apa?" Revan penasaran. Karena sejak tadi Pak Munir selalu tidak melanjutkan ucapannya.
Pak Munir bingung. Ia ingin memberitahu Revan tapi sepertinya Lais tidak mengijinkan. Pak Munir tahu kalau tuan mudanya itu sedang menjahili sahabatnya.
"Nggak papa. Hanya mau nanya, apa Tuan Revan suka makan di sini?"
"Sudah-sudah. Ayo berangkat!"
Belum juga Revan menjawab,Lais sudah memotong percakapan mereka. Lais berdiri dan berjalan keluar diikuti Revan. Pak Munir yang berjalan paling belakang menatap punggung Revan sambil mengelus dada.
Tuan..tuan...masih juga belum mau berhenti ngerjain Tuan Revan.
Mereka masuk mobil dan melanjutkan perjalanan.
"Huuaaaahhh...habis makan kenapa ngantuk ya?" gumam Revan sambil menggeliat lalu menyandarkan kepalanya sambil mengelus perutnya yang kekenyangan.
Lais meliriknya. Ia membayangkan bagaimana lahapnya Revan makan tadi.
Bagaimana kalau dia tahu yang ia makan adalah pantat ayam.
Lais tersenyum tipis membayangkan wajah Revan saat ia tahu telah memakan pantat ayam dengan lahapnya.
"Sumpah. Makanan tadi nikmat banget. Memang sedikit berlemak tapi gurih dan lembut. Seumur hidup baru sekali aku makan daging ayam dengan tekstur seperti itu. Bagian mana ayam yang begitu enak ya?" kata Revan sambil bersandar santai. Tangannya masih mengelus perut. Ia benar-benar kekenyangan.
Mendengat ucapan Revan, Pak Munir melihatnya dari spion. Lais menutup mulutnya dengan tangan karena saat itu ia hampir tidak bisa menahan tawa. Ia membuang pandangannya ke luar jendela agar Revan tidak bisa melihat ekspresi wajahnya.
"Lais. Kau tahu nggak tadi itu sate apa?" tanya Revan.
"Ayam." jawab Lais pendek masih dengan melihat ke luar jendela. Pak Munir kembali melihat kedua tuannya itu dari spion.
"Kalau itu aku juga tahu. Maksudku, bagian daging yang mana?" tanya Revan lagi.
Lais hanya mengangkat bahu.
"Ck. Percuma nanya kamu. Pak.Munir. Pak Munir tahu nggak tadi yang saya makan daging apa?"
__ADS_1
Pak Munir melihat ke arah Lais. Ia bisa melihat dari mata Lais, kalau pria itu sedang menahan tawanya.
"Kenapa nggak tuan baca saja notanya." saran Pak Munir sambil melirik Lais. Lais diam. Dia sebenarnya juga penasatan bagaimana jika Revan tahu apa yang ia makan.
Revan mencari nota yang tadi ia simpan di sakunya.
"Dimana nota itu?" gerutunya saat belum juga menemukannya. "Akhirnya." seru Revan gembira saat tangannya menyentuh kertas di sakunya.
Revan merapikan nota yang sudah lecek itu agar bisa ia baca. Pak Munir menahan nafas sambil sesekali melirik wajah Revan. Lais memasang telinga namun tetap melihat keluar.
"Pak, yang bapak makan tadi apa?" tanya Revan.
"Nasi liwet." jawab Pak Munir pendek. Ia lalu menelan ludah untuk mengusir rasa dag dig dug karena menunggu reaksi Revan.
"Kalau Lais?" gumam Revan dengan suara lirih. Wajahnya sedikit pucat melihat daftar makanan yang mereka makan. Ada nama sate brutu. Ia tahu apa brutu, tapi belum pernah melihatnya. Sejak kecil orang tuanya yang bekerja di rumah Lais tidak pernah memberinya makanan itu.
Bukankah tadi satu-satunya menu sate adalah yang aku makan. Jadi....
Keringat dingin membasahi wajah Revan. Ia meremas nota itu dan membiarkannya jatuh ke lantai mobil. Tangannya menutup mulut karena apa yang tadi ia makan mulai berontak di perutnya minta keluar.
"Ha.ha .ha...ha...ha." suara tawa Lais membahana. Ia memegang perutnya karena merasa sakit. Sedari tadi ia berusaha menahan tawa.
Pak Munir mengulum senyum, namun dalam hati ia merasa kasihan pada Revan.
"Tuan Revan butuh toilet?" tanya Pak Munir.
Revan hanya mengangguk. Pak Munir membelokkan mobilnya ke sebuah pom bensin. Segera Revan keluar dan berlari menuju toilet begitu mobil berhenti.
Lais masih tergelak.
"Tuan tega." tegur Pak Munir pada Lais.
Lais menghentikan tawanya. Ia memandang Pak Munir.
"Orang jahil macam dia, sesekali harus dibalas Pak." kata Lais jenaka.
Pak Munir menggelengkan kepalanya. Setahu dirinya, Revanlah yang selalu kena imbas baik karena ia jahil ataupun dijahili.
"Tuan baik baik saja?" tanya Pak Munir sambil memberikan tisu.
Revan mengangguk. Matanya menatap tajam pada Lais yang masih senyum senyum senang.
Aku akan membalasmu. batin Revan kesal.
"Lanjut Pak." perintah Lais tanpa mempedulikan tatapan membunuh dari Revan.
"Baik, Tuan." Pak Munir melajukan mobilnya.
Sepanjang perjalanan susana hening karena baik Lais maupun Revan memilih tidur.
***
"Tuan, kita sudah sampai." Pak Munir membangunkan kedua pria yang duduk dibelakang. Lais yang pertama terjaga. Revan masih nyaman dengan lelapnya.
"Ini..?" tanya Lais melihat rumah yang berdiri di depannya.
"Ini rumah saya, Tuan. Hasil kerja saya dan istri saya, kami belikan rumah di sini. Buat masa pensiun kami nanti." kata Pak Munir. Ia lalu membuka pintu dan keluar bermaksud membukakan pintu untuk Lais. Tapi saat Pak Munir keluar, Lais juga ikutan keluar.
"Tuan..?" seru Pak Munir yang merasa tidak enak karena Lais membuka pintu sendiri.
"Kenapa?" Lais justru bingung.
"Ah tidak apa-apa. Tuan Revan?"
"Banagunkan saja. Nanti ngambek lagi. Baperan dia sejak istrinya hamil." jawab Lais lalu melangkah ke arah rumah Pak Munir.
Bukan tuan Revan yang baperan, anda yang kelewatan bercandanya.
Pak Munir menggoyang pelan tubuh Revan. "Tuan Revan, bangun!"
Revan menggeliat dan menguap. Pak Munir langsung menutup hidungnya.
__ADS_1
"Kenapa Pak? Tubuhku bau ya?" tanya Revan saat membuka mata melihat Pak Munir menutup hidung. Ia mengendus badannya. "Wangi."
"Kita sudah sampai." kata Pak Munir sambil menjauh memberi jalan kepada Revan. Revan keluar. Ia melihat ke arah rumah Pak Munir. Di teras Lais sedang duduk melepas lelah.
"Mari tuan!" ajak Pak Munir. Revan mengikuti langkah Pak Munir.
Pak Munir membuka pintu rumahnya.
"Silahkan masuk, Tuan!"
Lais dan Revan melangkah masuk bersamaan akibatnya mereka berdesakan di pintu yang hanya dibuka sebelah oleh Pak Munir.
"Aku duluan." kata Lais.
"Nggak. Aku yang duluan." jawab Revan nggak mau kalah.
Melihat dua pria itu berdesakan nggak mau mengalah, Pak Munir membuka daun pintu yang satunya. Revan yang berada dekat daun pintu itu spontan terhuyung kehilangan keseimbangan dan menubruk daun pintu yang di buka Pak Munir.
"Maaf, Tuan Revan." Pak Munir merasa nggak enak.
Lais tertawa penuh kemenangan sambil masuk dan duduk di sofa rumah Pak Munir. Revan kian kesal. Ia ikut masuk dan tanpa melihat ke arah Lais, ia duduk di seberang Lais.
"Rumah bapak bagus juga." komentar Lais.
"Alhamdulillah. Ini berkat Allah dan kebaikan tuan Lais juga." jawab Pak Munir merendah,"Mari saya tunjukan kamar untuk tuan. Pasti tuan lelah dan ingin istirahat."
Lais berdiri dan mengikuti Pak Munir. Sebuah kamar yang lumayan besar dengan ranjang yang empuk Pak Munir berikan buat Lais.
"Silahkan tuan istirahat. Pakaian tuan nanti akan saya bawa kemari." kata Pak Munir.
"Terima kasih, Pak." jawab Lais.
"Tuan!"
"Hem."
"Sepertinya tuan Revan benar-benar kesal. Apa nggak sebaiknya tuan membujuknya."
"Biarkan saja, nanti juga baik sendiri." Lais membaringkan tubuhnya di ranjang.
Pak Munir mengangguk lalu keluar dari kamar Lais. Ia kembali ke ruang tamu dan kaget saat tidak melihat Revan di sana.
"Dimana Tuan Revan?Apa dia marah dan kembali ke Jakarta?" gumam Pak Munir. Pak Munir mencari Revan keluar, namun tidak menemukannya. Ia kembali masuk. Langkahnya terhenti saat mendengar suara berbisik.
"Iya sayang. Aku sudah sampai dengan selamat."
Rupanya Revan sedang mengabari Nisa.
Wah bosa gawat. Kalau tuan Revan menelepon Nisa dan Tuan Lais tidak menelepon Aruna. Bisa-bisa perang dingin antara Tuan Lais dan Aruna nanti. Apa ini trik Tuan Revan untuk membalas kejahilan Tuan Lais.
Pak Munir geleng-geleng kepala melihat kelakuan kedua pria itu yang masih kekanak-kanakan menurutnya. Ia lalu masuk meninggalkan Revan.
Sedangkan Revan, selesai berbicara dengan Nisa, ia tersenyum membayangkan kalau Aruna akan merajuk sebab Lais tidak mengabarinya seperti Revan yang mengabari Nisa.
Kali ini kau akan kebingungan karena cintamu mendiamkanmu.
Revan memasukan ponselnya lalu masuk. Pak Munir yang sudah menunggunya segera membawa Revan ke kamar yang telah ia siapkan. Malam itu mereka istirahat dengan tenang.
Di Apartemen Revan.
"Siapa Nis?" tanya Aruna saat mendengar ponsel Nisa berdering
"Mas Revan." jawab Nisa lalu mengangkat panggilan dari Revan. Aruna mendengarkan percakapan Nisa dan Revan.
"Alhamdulillah mereka sudah sampai dengan selamat, Run." kata Nisa setelah selesai berbicara dengan Revan.
"Iya. Sekarang aku bisa tidur dengan tenang." jawab Aruna.
"Tuan Lais tidak mengabarimu?" tanya Nisa.
Aruna tersenyum,"Jangan samakan dia dengan Pak Revan. Tapi aku senang, kalau Pak Revan tiba dengan selamat, berarti suamiku juga. Jadi nggak papa dia nggak ngabari. Besok juga akan telepon. Ayuk, kita tidur!" ajak Aruna. Nisa mengangguk.
__ADS_1
Yah....gagal deh usaha Revan membalas Lais. Ternyata Aruna meski manja, pengertian juga. Cari ide lain ya Revan....