
Aruna berlari menuju pintu saat mendengar deru mobil Lais.
"Non jangan berlarian!" teriak Bu Ira cemas karena Aruna sedang hamil tapi malah berlari-lari seperti itu.
Aruna tidak menghiraukan perungatan Bu Ira. Dengan semangat ia membuka pintu dan menunggu suaminya datang. Lais yang baru turun dari mobil, langsung melangkah menuju mansionnya. Dari jauh ia bisa melihat Aruna berdiri menantinya di depan pintu sambil tersenyum.
"Ngapain senyam senyum begitu?" tanya Lais setelah dekat dengan Aruna. Ia memandang aneh wajah Aruna.
Aruna langsung cemberut mendapat tatapan seperti itu. "Senyum sama suami sendiri apa nggak boleh?" jawabnya kesal.
"Boleh. Asal senyumnya ikhlas dan nggak ada maksud lain." kata Lais lalu beranjak meninggalkan Aruna untuk masuk dan menuju kamarnya.
"Ck." Aruna berdecik saat modusnya ketahuan. Sebenarnya ia bermaksud merayu Lais agar mamu memaafkan mamanya. Namun belum juga ia melancarkan aksinya, Lais sudah menebak kalau ia punya mau dibalik senyumnya. Tapi bukan Aruna kalau patah semangat. Segera ia menyusul Lais
"Sayang." Ia lalu bergelayut manja di lengan Lais sambil berjalan beriringan menaiki tangga.
"Tunggu!!" kata Lais yang mendadak berhenti. Aruna menatap bingung.
"Ada apa?" tanya Aruna.
Lais menoleh dan memperhatikan Aruna dari atas sampai ke bawah, "Kamu sedang hamil kan?"
"Hah, kamu kan sudah tahu. Kenapa tanya?" Aruna semakin bingung.
Lais tidak menjawab pertanyaan Aruna. Ia meraih tubuh Aruna dan menggendongnya.
"Aw!" Aruna terpekik kaget saat tiba-tiba Lais menggendongnya.
"Wanita hamil dilarang naik turun tangga." kata Lais lalu melangkah menaiki tangga sambil menggendong Aruna. Aruna tersenyum bahagia. Ia merangkul leher Lais dan menempelkan kepalanya ke dada bidang suaminya itu.
__ADS_1
Sampai di kamar, Lais menurunkan Aruna dengan hati-hati.
"Terima kasih sayang." Aruna mengecup bibir Lais berharap Lais meresponnya. Namun Lais malah menjauh. Ia menuju ke walking closed untuk mengambil pakaiannya.
*Masih bertahan rupanya. Lihat saja nanti. Aku akan membuatmu tunduk dan menuruti kemauanku. *batin Aruna sebal melihat Lais terus mengacuhkan rayuannya. Ia memperhatikan Lais yang mengenakan jubah mandi.
"Kamu mau mandi? Biar aku siapkan air hangat." kata Aruna bermaksud turun dari ranjang untuk menyiapkan air hangat bagi Lais.
"Tidak usah. Kamu istirahat saja. Jaga kandunganmu." balas Lais menolak maksud baik Aruna. Ia lalu masuk ke kamar mandi.
Sudah sebenci itukah ia pada mama sehingga sampai berubah sikapnya padaku juga. batin Aruna sedih. Ia lalu duduk sambil menekuk lutut dan menaruh kepalanya di atasnya.
Lais yang baru selesai mandi dan keluar dari kamar mandi, melihat Aruna yang duduk berpangku lutut. Ia langsung mendekat.
"Duduknya yang bener donk. Kasihan anakknya kegencet nanti." kata Lais sambil mengurao tangan Aruna yang memeluk lututnya.
"Emang bisa kegencet?" tanya Aruna.
"Tapi kan perutku masih rata." jawab Aruna.
"Justru itu jangan dibiasakan. Memangnya kamu mau anak kita lahir dengan kepala penyok karena kegencet saat di dalam perut." Lais berlalu untuk berganti pakaian.
Masa iya sich?
Aruna lalu mempraktekkan duduknya tadi. Ia merasakan kalau kakinya memang menekan perut, tapi tidak menekan dengan kuat. Karena takut ucapan Lais menjadi kenyataan, kini ia merubah cara duduknya. Aruna menyelonjorkan kakinya.
Lais keluar dari walking closed dengan mengenakan kaos dan celana jeans. Ia lalu menyisir rambutnya. Aruna memperhatikan sambil terkagum. Betapa suaminya itu sangat tampan. Ia lalu tersenyum
"Kenapa senyum?" tanya Lais yang melihat senyum Aruna melalui pantulan cermin.
__ADS_1
"Nggak ada." jawab Aruna lalu mengalihkan pandangannya. Mukanya sudah memerah. Melihat Lais yang segar habis mandi membuat sesuatu dalam dirinya bergejolak.
*Ish kenapa aku ngidamnya seperti ini, *keluh Aruna.
Lais menghampiri Aruna dan duduk di sebelahnya. Aruna menahan nafas saat aroma parfum Lais yang maskulin menyeruak masuk ke indera penciumannya membuat gejolak dalam tubuhnya semakin menggila. Aruna bangkit dan bermaksud meninggalkan Lais. Namun tangannya di cekal dan ditarik oleh Lais hingga ia jatuh dalam pelukan suaminya itu.
"Mau kemana?" Lais mendekap erat Aruna.
"Mmm..makan malam. Kita belum makan malam kan?" dalih Aruna.
Lais mengangguk. Ia lalu berdiri dan mengangkat tubuh Aruna ke dalam gendongannya.
"Sayang, turunkan aku!" pekik Aruna.
"Aku kan sudah bilang. Wanita hamil dilarang naik turun tangga." Lais terus menggendong Aruna sambil melangkah keluar kamar dan menuruni tangga untuk ke meja makan.
"Sayang, turunkan! Malu sama Bu Ira." bisik Aruna. Ia melihat Bu Ira yang sedang menata makan malam di ruang makan.
"Nona kenapa tuan muda? Apa kakinya sakit? Soalnya tadi berlarian menyambut kedatangan tuan." lapor Bu ira yang membuat Aruna membelalakan matanya ke arah wanita itu.
"Apa?! Jadi kau masih suka berlarian?" tanya Lais. Suaranya meninggi.
"Tidak kok sayang. Hanya tadi itu saja. Itupun karena aku sangat ingin segera melihatmu. Mungkin karena anak-anak yang ada di dalam ini merindukanmu." jawab Aruna melancarakan gombalannya dengan menggunakan calon anak-anak mereka.
"Jangan lakukan lagi!" titah Lais dengan suara lembut.
Yes! Berhasil. Hati Aruna bersorak. Aku tahu kelemahanmu sekarang. Anak ini. Dan aku akan menggunakan anak-anak ini untuk membuatmu memaafkan mama.
*"*Bu Ira. Besok pindahkan kamar kami ke lantai bawah ya! Bu ira bisa menggunakan kamar tamu yang paling besar yang menghadap ke teras samping!" titah Lais.
__ADS_1
"Kenapa pindah kamar?" tanya Aruna.
"Agar kamu tidak perlu naik turun tangga." jawab Lais.