Menikahi Pria Tak Sempurna

Menikahi Pria Tak Sempurna
Langkah Awal


__ADS_3

Di apotik


"Mbak, obat ini ada?" tanya Lais sambil menunjukan foto obat yang Revan maksud di ponselnya.


"Ada mas sebentar." jawab si penjaga apotek sambil mengerling genit pada Lais.


Lais membuang muka. Perasaan muak pada wanita genit masih memenuhi pikirannya.


"Ini mas. Untuk siapa mas?" tanya si mbaknya.


"Buat teman saya." jawab Lais pendek.


"Syukurlah. Kirain buat masnya." kembali wanita itu tersenyum menggoda Lais. "Mas silahkan tulis nama, alamat dan nomor teleponnya di sini. Buat data kami." modus si pelayan apotek.


Lais yang cerdas langsung mengerti apa maksud wanita itu. Ia menuliskan nama, alamat dan nomer telpon seperti yang wanita itu minta lalu menyerahkan kembali kertas itu padanya.


Wanita itu tersenyum sebentar kemudian mengerutkan alisnya ketika membaca kertas dari Lais.


"Berapa?" tanya Lais.


"Semuanya lima ratus ribu." jawab wanita itu.


Bukankah Revan bilang harganya lebih dari lima ratus ribu.


"Mbak yakin ini obatnya?"


"Ya iyalah mas tampan. Masak saya salah. Itu obat menahan mual. Biasa dikonsumsi buat wanita hamil muda."


"Maksudnya?Teman saya ini laki-laki lo mbak."


"Iya mas tampan. Biasanya kalau istrinya hamil, kadang suaminya yang ngerasain mual-mualnya. Iti disebut kehamilan simpatik."


"Kehamilan simpatik?" Lais mengulang ucapan si pelayan apotik.


"Iya mas tampan. Orang bilang, itu karena sang suami sangat mencintai istrinya."


Lais sedikit tertegun mendengarnya. Dia merasa aneh karena dia tidak mengalami apa yang Revan alami.


"Apa cintaku pada Aruna tidak sebesar cinta Revan pada Nisa?" batin Lais.


"Mas! Kok malah bengong. Jadi pengen nikah ya....?"


Lais memasang wajah jutek menanggapi godaan si pelayan apotik. Ia lalu pergi meninggalkannya tanpa pamit.


"Cakep-cakep jutek." gerutu si pelayan. Ia lalu membuka kertas yang tadi Lais tulisi nama dan nomor teleponnya,"Ini lagi. Wajahnya tampan kenapa namanya Munir? Nggak matching banget deh. Tapi nggak papa. Lumayan. Siapa tahu jodoh." pelayan itu menciumi kertas bertuliskan nama, alamat dan nomor telepon Pak Munir yang Lais tuliskan lalu memasukkannya ke saku bajunya.


"Dapat?" tanya Revan dengan wajah khawatir.


"Iya." jawab Lais datar. Ia lalu mengambilkan obat dan air minum lalu memberikannya pada Revan.


"Kenapa sikapnya biasa saja?Apa dia belum tahu kalau mualku bukan karena sate brutu?" batin Revan melihat Laia ayem ayem saja dan tidak memarahinya karena sudah membiarkan Lais salah paham dan terus terusan merasa bertanggung jawab atas sakitnya Revan.

__ADS_1


"Van! Sudah berapa lama kau mengalami gejala mual dan muntah?" tanya Lais.


"Gawat. Interogasi mulaj nih." batin Revan.


"Seminggu belakangan." jawab Revan pendek.


"Sudah periksa? Apa kata dokter?" Lais kembali mengorek Revan.


"Sudah. Katanya nggak papa. Cukup minum obat." keringat mulai mengucur di kening dan pelipis Revan.


"Kenapa bisa begitu ya. Kenapa beda." gumam Lais.


"Apanya yang beda?" Revan penasaran.


"Dokter yang memeriksamu di sini bilang kalau ada yang tidak bagus dengan lambungmu. Indikasi ke kanker lambung." jawab Lais.


Revan terbelalak kaget. "Yang bener kau? Jangan bercanda?"


Kini Revan benar-benar panik. Siapa yang nggak panik saat di vonis kanker. Panik nggak.,panik nggak..ya paniklah.


Pun Revan demikian. Pak Munir yang mendengar ucapan Lais juga kaget. Karena setahunya, dokter bilang Revan nggak apa-apa. Ia mengatamati wajah serius Lais.


"Dan obat ini? Ini sebenarnya pereda sakit kanker kan?" pancing Lais


Revan menelan ludah dengan susah payah sebelum berkata."Bukan. Itu pereda mual biasa."


"Ya mual pasti ada penyebabnya kan? Itulah." Lais meyakinkan Revan.


Pak Munir kini menatap Revan. Ia tahu apa yang sedang dialami Revan karena dulu ia juga mengalami hal yang sama.


"Jadi tuan Revan mual sedemikian parahnya itu bukan karena makanan kemarin?"


Revan mengangguk, "Obatku tertinggal, makanya aku mual."


Lais mengulum senyum karena berhasil membuat Revan mengaku. Ia lalu melempar obat yang ia beli.


"Cepat minum dan kita pulang. Banyak yang harus kita lakukan!" kata Lais.


"Kamu nggak marah?" Revan berbinar.


Lais menatap Revan tajam,,"Mau aku marah?"


"Enggak " Revan lalu mengambil gelas berisi air dan menelan obatnya. Beberapa saat kemudian, setelah obat bereaksi, ia merasakan lapar.


"Lais!" panggilnya.


Saat Lais menoleh ia mengusap perutnya sambil berkata, "Lapar!" Revan lalu nyengir persis anak kecil yang manja.


Belum sempat Lais menanggapi Revan, pintu kamar terbuka. Dokter masuk.


"Bagaimana tuan?Sudah baikan?" tanyanya lalu memeriksa Revan. Ia mengeryit saat melihat obat Revan.

__ADS_1


"Sudah kuduga. Sebenarnya tujuan saya kesini untuk menanyakan apakah istri anda hamil. Namun tanpa bertanya saya sudah mendapatkan jawabannya. Selamat ya,Pak." kata dokter.


"Tapi tadi ada yang bilang ke saya, kalau dokter mengatakan saya terindikasi kanker lambung dok!" Revan berkata sambil melirik Lais.


"Ehem." Lais berdehem dengan keras. "Pak Munir, ada orang belum kapok kayaknya." kata Lais.


Dokter yang memahami suasana di kamar itu tertawa. "Kalian ini sudah dewasa masih saja suka bercanda. Baiklah tuan. Anda sudah bisa pulang. Sus, lepas infus tuan Revan!" perintah sang dokter kepada perawat. Ia lalu pamit dan pergi meninggalkan kamar Revan.


"Pelan-pelan sus!" Revan mendesis saat perawat mulai melepas infus di tangan kirinya.


"Sudah, Pak. Saya permisi."


"Makasih sus." kata Revan ramah.


"Ayo!" Lais berdiri.


"Eh..tunggu. Sudah dibayar?" tanya Revan.


Lais tidak menggubris. Ia terus saja melangkah.


"Pak Munir?!" Revan bertanya pada Pak Munir.


Pak Munir mengangkat bahunya, "Saya tidak tahu, tuan."


"Dasar si pelit!"gerutu Revan. Ia keluar dari kamar.


***


"Tuan, inilah kampung seni yang saya ceritakan." kata Pak Munir sambil menunjukan wilayah yang penuh dengan karya kerajinan.


"Wah..bagus-bagus. Selama ini pemasarannya bagaimana, Pak?" tanya Revan.


"Mereka masyarakat kecil tuan. Mereka menjualnya kepada siapa yang berminat. Dan di daerah sini bukan daerah wisata, jadi agak kesulitan pemasarannya."


Lais dan Revan mengangguk-angguk lalu saling pandang. Mereka lalu mengambil beberapa foto dari barang-barang yang menurut mereka bagus. Mereka juga melakukan wawancara dengan para pengrajin.


"Cukup dulu untuk hari ini." kata Lais kelelahan. Ia bersimbah keringat. Revan menyodorkan sebotol air mineral pada Lais.


"Terima kasih." Lais langsung meminumnya.


Revan mengamati hasil jepretannya. Ia tersenyum.


"Apa yang akan kalian lakukan selanjutnya?" tanya Pak Munir.


"Membuat katalog dari barang-barang ini dulu Pak. Lalu akan kami cari pemasarannya. Kalau nanti sudah dapat baru kita buat kerjasama dengan para pengrajin." Lais menjelaskan.


"Aku akan mengurus segalanya." jawab Revan antusias. "Aku yakin kita akan sukses."


"Amiin." ucap Pak Munir.


"Amiin." Lais ikut mengamini.

__ADS_1


***


__ADS_2