
"Masya." bisik Tuan Robert mesra. Ia mengelus rambut Nyonya Robert yang sedang duduk menekuk lutut.
Apa yang sudah aku lakukan? Kenapa aku bisa terbuai oleh pria ini?
"Masya." kembali bisikan mesra meluncur dari lisan Tuan Robert. Tangan yang mengelus rambut kini turun menjelajah bahu polos sang istri
"Aku harus pulang." Bagai tersadar, Nyonya Robert beringsut menjauh dari sentuhan suaminya.
"Pulang kemana? Ini rumahmu." Tuan Robert menahan tangan istrinya.
"Robert, kita sudah melanggar janji kita pada Lais. Bagaimana kalau dia marah."
Tuan Robert tersenyum. "Kita hadapi bersama. Yakinlah aku tidak akan pergi lagi dan Lais juga harus tahu itu."
Nyonya Robert memandang suaminya.
"Percayalah!" Tuan Robert menarik tangan Nyonya Robert hingga wanita itu jatuh ke dalam pelukannya.
Nyonya Robert diam tidak melawan. Dia tidak memungkiri bahwa ia merasa nyaman berada dalam pelukan pria yang sudah memberinya satu putra itu.
"Aku masih kangen." bisik Tuan Robert.
"Apa?!" Nyonya Robert menarik tubuhnya saat ia merasakan tangan suaminya mulai akan bergerilya lagi.
"Kangen." Mata Tuan Robert memelas.
"Nggak ada. Tadi sudah. Aku mau mandi." Nyonya Robert langsung turun dan berlari meninggalkan Tuan Robert yang menatapnya sedih.
"Ya..mandilah. Setelah mandi tubuhmu akan segar dan pasti mudah menerimaku lagi." senyum nakal terbit di bibir pria berumur yang masih tampan itu.
Tuan Robert hendak turun saat ponselistrinya berbunyi. Ia meraih benda itu. Alis mengernyit.
Nomor tidak dikenal. Siapa berani menghubungi wanitaku
Dengan kesal dan rasa cemburu yang besar, Tuan Robert mengangkat panggilan itu.
"Hallo." Suara Tuan Robert terdengar tidak bersahabat.
"Halo Tuan, maaf kalau saya menelpon istri Tuan karena saya hanya tahu nomor Nyonya. Tuan ini Malik. Anak saya..anak saya Tuan." Suara di seberang terdengar panik.
Mendengar suara panik Malik, kekesalan Tuan Robert sirna.
"Istriku masih mandi. Kau tunggu saja di sana aku akan menyuruh orang ke sana. Setelah selesai mandi, aku dan istriku juga akan ke rumah sakit."
"Terima kasih tuan." Malik mengakhiri panggilannya.
Tuan Robert lalu mengambil ponselnya. Ia menghubungi Anton dan menyuruh pria itu ke rumah sakit menangani masalah anak Malik.
"Ada apa?" Nyonya Robert keluar dari kamar mandi. Ia bertanya saat melihat wajah suaminya yang tidak biasa.
"Malik barusan meneleponmu." jawab Tuan Robert.
Apa pria ini kesal karena cemburu lagi.
"Malik ya. Dia bilang apa?" Nyonya Robert berusaha bersikap sewajar mungkin.
"Ada masalah dengan anaknya. Aku sudah menyuruh Anton menanganinya. Setelah aku mandi, kita susul Anton ke rumah sakit." jawab Tuan Robert sambil berlalu ke.kamar mandi.
__ADS_1
...***...
"Bagaimana?" Tuan Robert langsung bertanya pada Anton begitu mereka tiba di rumah sakit.
"Sedang dioperasi tuan." jawab Anton.
"Mari saya antar ke ruang operasi. Ayahnya juga sedang menunggu di sana."
Tuan Robert menggandeng tangan Nyonya Robert mengikuti langkah Anton menuju ruang operasi.
Anton yang sempat melihat tuannya berpegangan tangan, senyam senyum.
Kapan ya aku bisa menggandeng tangan istriku.
"Tuan." Malik langsung berdiri menyambut kedatangan sepasang suami istri Robert.
"Duduklah. Tenang saja, anakmu akan selamat." Tuan Robert memberi semangat pada Malik.
Anton dan Nyonya Robert menatap tak percaya saat mendengar kalau pria sombong itu mau bersimpati kepada orang kecil. Dulu ia sangat suka merendahkan orang, bahkan Aruna tak luput dari direndahkan.
"Terima kasih tuan, nyonya." Malik mengangguk hormat. Ia lalu duduk kembali di kursinya.
"Saudaramu yang lain mana Pak?" tanya Nyonya Robert.
Pak Malik menggeleng. "Mereka tidak menganggap kami hanya karena kami miskin, nyonya."
"Lalu, siapa yang menjaga anakmu saat kau bekerja?"
"Itulah yang menjadi pikiran saya nyonya. Kalau saya tidak bekerja dalam waktu yang lama, saya pasti dipecat." gumam Pak Malik sedih.
Dia pasti mau aku memberi pria ini pekerjaan. Tapi aku tidak rela ia berada di sekitar Masya.
Tuan Robert mengamati wajah ganteng Pak Malik.
Ck, aku masih lebih tampan darinya. Tapi aku tak memungkiri kalau wajah pria ini bersih dan teduh. Membuat siapa saja yang menatapnya merasa nyaman. Aku tidak mau Masya merasa nyaman menatap pria lain. Ia hanya boleh nyaman menatapku.
"Apa?" tanya Tuan Robert saat istrinya kembali menyenggolnya.
Nyonya Robert mengkode dengan gerakan matanya ke arah Pak Malik.
"Tapi aku nggak.punya kerjaan yang , cocok buat dia." bisik Tuan Robert.
Nyonya Robert menarik tangannya yang berada dalam genggaman suaminya.
"Jangan ngambek dong! Iya, aku akan bantu dia." Tuan Robert lantas mengambil ponsel dari dalam sakunya
Ia menghubungi seseorang. Nyonya Robert menatapnya sambil mengulum senyum.
Dia benar-benar berubah. Dia mau menuruti permintaanku.
"Hallo, Lais."
Nyonya Robert terperangah mendengar siapa yang dihubungi suaminya.
Lais? Dia menghubungi Lais. Benar-benar cari masalah.
"Kau?!" Nyonya Robert hendak melayangkan protes namun Tuan Robert memberinya isyarat untuk diam. Dia lalu menjauh dari Nyonya Robert.
__ADS_1
Nyonya Robert terus memandang suaminya yang berjalan meninggalkannya sampai tubuh pria itu hilang terhalang tembok.
Sudah sepuluh menit Tuan Robert pergi. Nyonya Robert duduk dengan gelisah. Matanya berkali-kali mengarah ke tempat suaminya menghilang.
Apa saja yang mereka bicarakan? Kenapa lama sekali?
"Anton."
Anton yang sedang duduk sambil mengantuk, kaget mendengar namanya dipanggil.
"Iya, Nyonya."
"Coba kau cari tuanmu! Sudah lama ia pergi kok belum kembali."
Anton melirik arloji di pergelangan tangannya.
Lama?Bukankah baru sepuluh menit tuan meninggalkan tempat ini? Sebucin itukah Nyonya sekarang hingga ditinggal sebentar saja sudah terasa lama.
"Anton. Kau mendengarku?"
"Iya Nyonya. Tapi bukankah Tuan baru pergi sekitar sepuluh menitan." Anton memberanikam diri bersuara.
"Iya. Tapi itu lama. Sudah kamu cari saja! Aku khawatir terjadi apa-apa sama dia. Kondisinya juga belum pulih benar."
Belum pulih tapi sudah mampu menjelajah gunung dan hutan.
"Anton!" hardik Nyonya Robert garang karena merasa Anton mengabaikan permintaannya. Ia benar-benar mengkhawatirkan Tuan Robert mengingat yang ia telepon adalah Lais. Ia takut mereka bertengkar dan membawa efek buruk bagi kesehatan sang suami.
"Iya Nyonya saya berangkat." Anton dengan cepat melangkah pergi mencari Tuan Robert.
Anton mengedarkan pandangannya sambil berjalan mencari Tuan Robert.
"Ih bodoh. Kenapa aku tidak menelepon dan menanyakan keberadaannya saja." gumam Anton.
Ia lalu menelepon Tuan Robert. Dari situ ia tahu kalau tuannya berada di lobi rumah sakit. Anton mempercepat langkahnya menuju lobi.
"Tuan, anda kenapa malah berada di sini?" tanya Anton begitu tiba di tempat Tuan Robert
"Aku sedang menunggu orang yang disuruh Lais untuk membantu menjaga anak Malik. Kau ada apa mencariku?"
"Nyonya mengkhawatirkan anda jadi menyuruhku menyusul anda, Tuan."
"Begitu ya." seulas senyum tipis terbit di bibir Tuan Robert.
"Eh, jika kau kesini, Nyonya dengan siapa di dalam?"
"Nyonya dengan Pak Malik, Tuan."
"Anton, kau ini bodoh. Mengapa kau tinggalkan mereka hanya berduaan saja, hah?" Tuan Robert memutar tubuhnya dan bergegas masuk ke rumah sakit
"Kau di sini. Tunggu Mak Nah datang!" hardiknya saat Anton bermaksud mengikutinya.
Apes deh. Di dalam di marahi istrinya, di luar di damprat suaminya.
Anton mengelus dada nelangsa
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1