
Lais duduk dengan santai.
"Aku sudah ada di sini. Apa yang kalian inginkan?" Suara Lais tegas.
"Kami ingin melakukan pemilihan CEO baru." jawab salah seorang dari anggota dewan direksi yang langsung disahuti pernyataan setuju dari yang lain.
"Tapi bukankah dalam perturan perusahaan, CEO hanya dipegang oleh mereka yang memiliki saham terbesar?" Tuan Rony, anggota direksi yang setia pada Tuan Robert menyampaikan pendapatnya.
"Anda benar. Maka dari itu kami meminta pemilihan. Bukankah pemegang saham terbesar sekarang bukan keluarga Robert lagi?" Tuan Fahmi menjawab dengan percaya diri dan pongah.
Lais mengernyitkan alisnya.
Hm. Rupanya dia provokatornya. Ok, sampai di mana kemampuanmu.
"Begitukah? Jika bukan keluarga Robert, lalu siapa?"
"Kalian belum tahu. Sebentar lagi orangnya akan datang dan bergabung dengan kita. Tadi calon CEO baru juga sudah tiba bahkan sudah mencoba ruang CEO." Fahmi penuh kesombongan.
"Tuan Fahmi, kenapa anda bermain teka-teki. Katakan saja tidak perlu menundanya!" Lais menatap tajam Fahmi seolah ingin merobek mulut yang selalu tersenyum sinis meremehkan itu.
Anton yang duduk dekat Lais mendekat dan berbisik. Lais mengangguk. Anton lalu berdiri meninggalkan ruang meeting.
"Sebaiknya pemilihan CEO baru kita tunda menunggu keadaan Tuan Robert membaik." usul Tuan Rony. Beberapa direksi menyetujuinya namun tidak dengan kubu Fahmi.
"Kenapa harus menunggu dia. Dia sadar atau tidak saja kita tidak tahu." ejek Fahmi.
Lais menggenggam erat tangannya. Meski ia tidak akur dengan tuan Robert, namun mendengar ada orang yang menyumpahi papanya agar tidak sadar membuat darahnya mendidih juga.
"Kalian tidak perlu khawatir. Papaku sudah sadar." Lais menyelidik Fahmi. Melihat efek dari ucapannya pada pria itu.
Fahmi tampak kaget. Tapi hanya sebentar. Kemudian ia memasang wajah tenang.
"Syukurlah kalau dia sadar, meski berita ini masih diragukan." sarkasnya.
"Jadi, pertemuan ini selesai. Pemilihan CEO baru menunggu kehadiran CEO lama." tegas Lais. Ia langsung berdiri dan meninggalkan ruang meeting.
Di luar, Lais berpapasan dengan Anton.
"Apa yang kau temukan?"
"Kita bicara di ruangan saya saja tuan muda."
Lais duduk di kursi Anton. Anton menaruh map berisi laporan penyelidikan yang ia lakukan. Lais membacanya dengan seksama.
"Dekati mereka yang masih setia. Beli saham mereka atas namaku. Kita akan menggulung orang-orang sombong ini." Laia mengepalkan tangannya.
"Jika sahamku ditambah milik papa dan mama, kemudian ditambah punya mereka akan bisa menyainginya. Lakukan dengan cepat dan diam-diam."
__ADS_1
"Baik tuan muda! Lalu bagaimana dengan wanita itu?"
"Biarkan dia sementara menikmati perannya."
Lais bangun dari duduknya.
"Aku akan ke perusahaanku. Urusan di sini aku serahkan padamu."
"Baik tuan!"
***
"Minumnya, yang!" Aruna menaruh secangkir kopi di meja dekat Lais yang sedang sibuk bekerja.
"Makasih istriku yang baik." Lais menghentikan kegiatannya untuk menarik tangan Aruna agar istrinya itu mendekat lalu meraih tengkuknya dan memberi kecupan di kening Aruna.
"Masih banyak ya kerjaannya?" Aruna memandang layar laptop Lais.
"Tinggal dikit. Kenapa?"
"Aku sudah ngantuk." Aruna duduk di kursi dekat Lais lalu menaruh kepalanya di bahu suaminya.
Lais mengelus puncak kepala Aruna. "Sabar ya! Sebentar lagi."
Aruna mengangguk.
"Aku sudah melakukannya, tapi mama bersikukuh menunggui papa."
"Mama wanita yang baik. Padahal papa sudah menyakitinya namun ia tetap mau merawatnya."
"Kamu tahu yank, penyesalan terbesar itu saat kita menyakiti orang namun orang yang kita sakiti justru tetap berbuat baik pada kita. Mungkin mama ingin papa merasakannya, dan papa memang pantas merasakan penyesalan yang tak berujung agar tidak lagi mengulang kesalahan."
"Membalas kejahatan dengan kebaikan."
"Ya. Mama selalu mengajariku membalas kejahatan dengan kebaikan. Namun aku punya prinsip yang sedikit berbeda. Aku tidak selalu membalas dengan kebaikan, kadang harus dengan kejahatan juga agar orangnya jera. Karena ada orang orang jahat yang tidak mempan meski sudah kita baikin. Yang ada mereka justru malah menekan dan memojokkan kita. Bahkan sampai menghancurkan kita. Kau paham?"
Lais melirik dengan ekor matanya saat tidak mendengat jawaban Aruna. Ia tersenyum melihat Aruna sudah lelap.
Lais bergerak perlahan memutar tubuh. Ia menyangga kepala Aruna. Lais bangkit dengan sangat hati-hati agar tidak membangunkan Aruna. Ia lalu menggendong Aruna dan membawanya ke atas ranjang.
Lais menaruh tubuh Aruna dengan perlahan kek atas ranjang. Ia lalu menyelimuti Aruna. Saat dirinya akan beranjak meninggalkan Aruna untuk kembali bekerja, Aruna terbangun dan mencekal tangannya.
"Temani aku tidur!" Ia merengek manja
"Baiklah." Lais lalu masuk.ke selimut dan berbaring di samping Aruna. Aruna langsung menyusup ke dalam pelukan Lais. Ia menarik nafas dalam dalam untuk menghirup aroma Lais yang selalu menenangkan itu.
Lais mengusap rambut Aruna. Tangan yang satunya mengelus perut besar Aruna. Dalama hati Lais menghitung berapa lama lagi anak-anaknya akan lahir.
__ADS_1
***
"Ma! Pulang ya! Istirahat! Biar Lais yang kaga papa!" Lais membujuk mamanya yang sudah lima hari menjaga Tuan Robert di rumah sakit tanpa mau digantikan.
"Mama nggak papa nak. Kamu kan sibuk bekerja, jadi biar mama yang di sini. Mama masih punya kewajiban merawatnya. Dia masih suami mama."
"Iya Ma. Lais paham. Tapi mama juga butuh istirahat. Selama di sini mama tidak bisa istirahat dengan baik. Lihat kondisi mama sekarang!" Lais memandang mamanya dengan cemas.
"Atau begini saja. Mama bisa istirahatbdi hotel dekat rumah sakit ini. Aku akan menyewa satu kamar buat mama. Jadi mama bisa kapan saja datang ke sini. Nanti aku akan meminta Bu Ira menemani mama. Bagaimana?"
Nyonya Robert tersenyum. Hatinya tersentuh dengan sikap bakti Lais.
"Aruna lebih membutuhkan Bu Ira daripada mama."
Dalam hati, Lais membenarkan ucapan mamanya, tapi ia tidak bisa membiarkan mamanya sendirian sedangkan dirinya sangat disibukkan dengan urusan perusahaan papa dan perusahaannya sendiri.
Ketika Lais tertegun mencari solusi masalah mamanya, Roby datang didampingi Gerald. Bersama mereka juga datang seorang wanita paruh baya.
"Mak Nah!" Nyonya Robert gembira melihat Mak Nah, wanita yang selalu menemaninya saat hidup di kampung.
"Rob! Rald!" Lais menjabat tangan keduanya.
"Bagaimana keadaannya?"
"Masih belum ada tanda tanda akan sadar."
"Apa aku boleh masuk?"
Lais melihat Roby. "Silahkan tapi jangan mengatakan sesuatu yang membahayakannya. Kamu pahamkan?"
Roby mengangguk. Ia lalu masuk.
"Mak Nah. Bagaimana bisa datang bersama Roby?" Nyonya Robert menarik Mak Nah agar duduk di sebelahnya.
"Tian Roby menyuruh orang menjemput saya. Orang itu bilang Nyonya membutuhkan saya, jadi saya mengikuti ajakan mereka."
"Mak Nah. Kamu ini sembrono sekali. Main ikut saja pada orang asing. Bagaimana kalau mereka orang jahat?"
"Saya tidak berpikir sampai ke situ. Saya sangat cemas mendengar nyonya dalam kesulitan."
Nyonya Robert kembali memeluk Mak Nah.
"Ma, Mak Nah sudah ada di sini. Jadi bagaimana dengan usul Lais?"
Nyonya Robert mengangguk. "Kau aturlah!"
Lais langsung menghubungi Revan agar menyewakan kamar hotel terdekat dengan rumah sakit tempat papanya di rawat.
__ADS_1