Menikahi Pria Tak Sempurna

Menikahi Pria Tak Sempurna
Menjelaskan


__ADS_3

Hati Aruna menghangat menerima perhatian Tuan Robert yang ia sampainya dengan caranya sendiri. Acuh namun peduli. Begitulah Aruna menggambarkan Tuan Robert sekarang.


Aku akan menguji Tuan Robert lagi. Apa ia benar-benar perhatian atau tadi hanya tindakan tidak terduganya saja.


Aruna lalu berpura-pura meringis dan mendesis. Ia memasang wajah kesakitan. Tuan Robert mengamati Aruna dari tempatnya berbaring.


"Kau kenapa?"


 Aruna tidak menjawab. Ia semakin memasang wajah menahan sakit yang teramat sangat. Tangannya memegang perut buncitnya.


"Kau tuli ya? Kau kenapa? Apa perutmu sakit? Apa kau mau melahirkan?" Suara Tuan Robert mulai menunjukkan kepanikan.


Aruna tersenyum dalam hati.


"Hei wanita! Jawab aku!" bentaknya semakin panik.


Aruna yang sedang berakting, berjengkit kaget mendengar suara menggelegar Tuan Robert.


Apa aku harus menghentikannya sekarang. Aku sudah mendapatkan jawaban atas rasa penasaranku. Tuan Robert rupanya sudah mulai peduli padaku atau pada calon anakku. Kalau aku teruskan, aku takut malah berimbas pada jantungnya nanti.


Aruna mengurangi aktingnya sampai akhirnya ia menghentikan kepura-puraannya.


"Maaf Tuan. Tadi saya tidak bisa menjawab karena menahan sakit."


"Sekarang bagaimana? Kau harus periksa! Bisa sakit mendadak begitu, jangan-jangan kau mau melahirkan." kata Tuan Robert dengan suaranya dinginnya.


Aruna tersenyum. "Tidak perlu Tuan. Ini biasa saya alami."


"Apa?? Biasa kesakitan begitu? Apa Lais tidak pernah membawamu periksa? Awas saja anak itu. Sama istri sendiri tidak perhatian. Awas kalau sampai cucuku kenapa-kenapa" omel Tuan Robert yang tanpa sadar menunjukkan perhatiannya pada Aruna.


Maafkan Aruna Tuan.


Ceklek


"Assalamualaikum, Run!" Nyonya Robert dan Mak Inah tiba.


"Waalaikumsalam, Ma. Kok sudah tiba, Ma. Bukankah mama mau datang nanti sore." Aruna mengulurkan tangan mengambil tangan Nyonya Robert dan menciumnya. Aksinya itu tak luput dari pengamatan Tuan Robert.


"Ma! Ajaklah menantumu itu periksa. Tadi ia kesakitan." kata Tuan Robert.


Nyonya Robert menatap Aruna. "Kamu kesakitan?Kenapa? Apa kamu sudah mengalami kontraksi?"


Aruna menggeleng. Ia lalu mengambil ponsel dan mengetik apa yang ia lakukan tadi. Aruna menunjukkannya pada Nyonya Robert.


"Oh, dasar kamu ini." Nyonya Robert tersenyum.


"Tapi bagus juga. Ayo, mama antar ke dokter mumpung kita di rumah sakit." Nyonya Robert mengedipkan matanya memberi kode.


Aruna mengangguk.


"Aku membawa Aruna ke dokter dulu." pamit Nyonya Robert pada suaminya.


"Ya. Pergilah." kata Tuan Robert sambil menggerakkan tangannya menyuruh mereka segera pergi.

__ADS_1


"Mak Nah, kau jaga di sini dulu ya. Jika kau enggan duduk di dalam, Mak Nah bisa duduk di luar."


Mak Nah mengangguk. Ia mengikuti Aruna dan Nyonya Robert keluar. Mak Nah memutuskan duduk di luar kamar karena tidak enak jika dia hanya berduaan dengan Tuan Robert.


"Kamu usil banget." Nyonya Robert tertawa. Mereka kini duduk di taman rumah sakit.


"Habis Aruna penasaran Ma. Aruna pengen tahu apakah Tuan Robert beneran peduli sama anak Aruna." Aruna ikut tertawa.


"Mama tau enggak, tadi tuh pas Tuan Robert jatuhin gelas dan pecah, ia membentak Aruna saat Aruna ingin mendekat."


"Oh ya. Dasar si tua itu."


"Eits mama jangan salah sangka dulu. Ia membentak Aruna bukan karena tidak menginginkan Aruna mendekatinya tapi karena khawatir Aruna terkena pecahan kaca."


"Masa?" Nyonya Robert menatap tak percaya.


"Iya, Ma. Aruna juga kaget saat mengetahuinya. Tuan Robert bahkan memanggil perawat buat memeriksa kaki Aruna yang sempat tergores pecahan gelas."


"Jadi kakimu terluka? Apa sekarang nggak papa? Mana mama periksa?" Nyonya Robert menunduk hendak memeriksa telapak kaki Aruna.


"Ma, Aruna nggak papa. Sudah dikasih obat tadi sama perawat." Aruna menahan tubuh Nyonya Robert agar tidak jadi menunduk.


"Bener?" Nyonya Robert memastikan.


"Iya." Aruna mengangguk memastikan kalau dirinya tidak apa-apa.


"Nah, pada saat itulah Aruna sadar kalau Tuan Robert peduli. Bahkan ia membentak perawat yang mengobati Aruna. Begini nih, cepat obati, jangan sampai terjadi apa-apa dengan cucuku! Begitu, Ma." Aruna menirukan ucapan Tuan Robert.


"Iya, Ma. Sepertinya Tuan Robert sudah mulai berubah. Jadi Aruna harap mama memberinya kesempatan jika nanti Tuan Robert meminta maaf dan ingi berbaikan."


Nyonya Robert tersenyum getir.


"Entahlah Run. Hati ini sudah terlanjur sakit. Bukan sehari dua hari aku menahannya. Dari Lais kecil sampai sedewasa ini. Mama menahannya demi Lais. Sekarang Lais sudah ada kamu dan dia juga sudah sembuh dari traumanya. Mama bisa melepaskan semua yang membuat mama sedih dan menderita. Mama ingin hidup tenang di sisa usia mama."


Aruna memeluk Nyonya Robert, "Maafin Aruna, Ma. Aruna tidak mengetahui seberapa dalam penderitaan mama."


"Nggak papa. Mama tahu kebaikan hatimu. Kamu pemaaf. Mama pasti akan memaafkan Pak Tua itu tapi bukan berarti mama masih harus hidup dengannya kan?" Nyonya Robert balas memeluk Aruna.


"Aruna dukung apapun keputusan mama."


"Ayo, kita ke kamar. Kasihan Mak Nah." Nyonya Robert mengurai pelukannya. Ia berdiri lalu mengulurkan tangannya membantu Aruna.


Malam hari.


Aruna sudah pulang dijemput Lais. Tinggallah Nyonya Robert dan Mak Nah yang menjaga Tuan Robert.


Nyonya Robert duduk berselonjor di sofa panjang. Mak Nah memijat kakinya.


"Sudahlah Mak! Mak kan juga pasti capek. Nggak perlulah memijat kakiku!"


"Nggak papa Nyonya, tadi saya lihat jalan Nyonya agak pincang. Apa ada yang sakit pada kaki Nyonya?"


Tuan Robert memasang telinga.

__ADS_1


Apa dia sakit?


"Entahlah Mak. Tulang lututku sedikit ngilu."


"Hem!!" Tuan Robert berdehem membuat Nyonya Robert menoleh. Ia langsung menarik kakinya dan bangkit lalu berjalan ke arah Tuan Robert.


"Apa ada yang kamu butuhkan?" tanya Nyonya Robert dengan sikap formal. Tidak sehangat pasangan suami istri seperti biasanya. Ia berdiri dan tidak mendekat ke suaminya.


"Anak itu bukan anakku." jawab Tuan Robert sambil menatap mata istrinya.


Nyonya Robert tahu anak mana yang suaminya maksud. Anak yang dikandung Angela.


"Wanita itu selingkuh, dan aku, semenjak apa yang ia perbuat pada menantu kita, aku tidak pernah menyentuhnya. Memang aku menyembunyikan dan tidak menghukumnya. Semua demi citra baik perusahaan. Tapi aku bersumpah. Aku tidak pernah menyentuhnya."


Nyonya Robert membalas tatapan suaminya. Ia melihat kejujuran di mata itu.


"Jadi itu yang membuatmu colapse. Kenyataan kalau kamu diselingkuhi oleh wanita pujaanmu." balas Nyonya Robert sinis dan dingin.


"Bagaimana rasanya? Sakit bukan? Rasa sakit itulah yang selama ini aku rasakan." Nyonya Robert melengos menyembunyikan matanya yang mulai penuh.


Mak Nah yang tahu kalau tidak seharusnya ia mendengarkan obrolan suami istri itu melangkah keluar kamar.


Tuan Robert diam. Ia mengakui kalau ia sangat kaget saat tahu Angela selingkuh di belakangnya.


"Bukan perselingkuhannya yang membuatku kaget, tapi pria yang berselingkuh dengannya."


"Apa bedanya?" Nyonya Robert tertawa sinis.


"Beda, jelas beda. Aku tidak sakit hati ia selingkuh dengan siapapun karena sesungguhnya tidak ada perasaan apapun padanya. Aku hanya memanfaatkannya untuk menguasai perusahaan papanya. Kalau aku menikahinya, karena hanya itu satu-satunya jalan."


"Untuk apa menjelaskan semuanya sekarang?Nggak ada gunanya. Apapun alasanmu, yang aku tahu kamu sudah menduakanku dan itu sangat menyakitkan. Segeralah sembuh karena aku ingin bebas." Nyonya Robert tidak lagi bisa menahan diri.


"Jangan harap aku melepaskanmu?" dengus Tuan Robert.


"Untuk apa kau mempertahankanku jika aku ini tidak ada artinya di matamu?" pekik Nyonya Robert. Airmata mulai meluncur membasahi pipinya.


Karena aku mencintaimu. Kau ibu dari anakku


Kata-kata yang hanya mampu Tuan Robert ucapkan dalam hati. Mulutnya diam terkunci melihat istrinya menangis.


"Jangan menangis." ucap Tuan Robert lirih.


"Aku akan menceraikan Angela."


"Tak ada gunanya." Nyonya Robert hendak kembali ke sofa namun Tuan Robert meraih tangannya.


"Lepaskan!"


Maaf


Kembali kata itu hanya mampu diucapkan Tuan Robert dalam hati.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2