Menikahi Pria Tak Sempurna

Menikahi Pria Tak Sempurna
Hukuman Untuk Tuan Robert


__ADS_3

"Apa yang kamu lakukan!" Nyonya Robert berusaha berontak dari pelukan suaminya yang ternyata hanya pura-pura lemah dan limbung.


Tuan Robert tidak memberi kesempatan istrinya lepas dari pelukannya. Bahkan ia semakin banyak mengukir tanda cinta di leher putih sang istri membuat Nyonya Robert berteriak-teriak karena rasa geli dan nikmat.


"Kau tahu? Lama sekali aku memimpikan hal ini. Namun keangkuhan dan harga diriku, membuatku tidak mau mengakui kalau aku selalu mendambakanmu. Asal kau tahu, tiap kali aku menyentuhmu, aku selalu melakukannya dengan penuh cinta."


Tuan Robert menatap mesra wajah cantik dihadapannya.


"Maafkan aku, percayalah aku akan berubah. Beri aku kesempatan." Tuan Robert menggenggam kedua telapak tangan istrinya lalu menciuminya bergantian.


"Aku memaafkanmu, namun jika kau ingin aku melupakan semua, aku tidak bisa. Jadi kuharap kau bisa mengerti, kalau aku ..."


"Aku mengerti." Tuan Robert meletakkan telunjuknya di bibir Nyonya Robert.


"Asal kau memaafkan dan tidak meninggalkanku, mau mendampingiku terus, itu sudah cukup. Luka di hatimu, aku akan mengobatinya perlahan."


Nyonya Robert menatap dalam ke mata suaminya. Ia menemukan kesungguhan dan kejujuran itu. Ia lalu membiarkan dirinya masuk ke dalam dekapan hangat sang suami. Tuan Robert tersenyum bahagia.


tok tok tok


Mereka langsung menjauhkan diri saat mendengat pintu kamar di ketuk.


"Maaf, saya mengantarkan kursi roda untuk tuan." seorang perawat masuk. Di belakang perawat bersiri Anton yang masih menatap bingung sepasang suami istri itu.


"Terima kasih, sus." ucap Nyonya Robert lalu mendekati sang perawat dan mengambil alih kursi roda untuk suaminya.


"Biat saya saja Nyonya." Anton mengambil kursi dari tangan Nyonya Robert lalu mendorongnya mendekati Tuan Robert.


"Silahkan, Tuan!" ucapnya sopan sambil menunduk. Anton tidak berani menatap mata Tuan Robert yang memandangnya dengan tajam.


"Aku tidak cacat, Ton. Jadi tidak butuh kursi roda. Bawa koper pakaianku. Aku akan berjalan bersama istriku." tolak Tuan Robert dengan suara dingin.


"Ba..baik, Tuan."


Anton langsung mengambil koper dan menyeretnya keluar.


"Ayo sayang!" Tian Robert mengulurkan tangannya.


Nyonya Robert hanya menatapnya aneh.


"Kau tidak akan membiarkan suamimu berjalan sendiri dan terjatuh kan?"


Nyonya Robert menyebikkan bibirnya. "Modus saja terus."


Tuan Robert tertawa gemes melihat bibir istrinya mencebik. Ia mencoleknya.


"Apaan sih. Sudah tua. Ingat umur!" semprot Nyonya Robert.


"Umur boleh tua, tapi tenaga." Tuan Robert mengangkat tangannya yang mengepal.


Nyonya Robert melengos. Ia sadar kalau suaminya memang selalu menjaga tubuh sehingga bentuknya masih bagus meski sudah berumur. Tidak gendut apalagi buncit.


"Ayo!"


Nyonya Robert akhirnya mendekat dan membiarkan suaminya merangkul pinggangnya.


"Kamu nggak ingin melihat cucumu?"


"Tentu aku ingin. Bawa aku ke sana ya sayang!" Tuan Robert berkata sambil menggelitik pinggang istrinya.


"Ish, apaan sih. Geli tahu."

__ADS_1


Tuan Robert mengulum senyum.


"Aku kangen." bisiknya ke telinga Nyonya Robert. Hembusan nafas Tuan Robert yang menyapu telinga Nyonya Robert membuat rambut-rambut di tubuh wanita itu meremang.


"Kan tiap hari ketemu." jawab Nyonya Robert gugup.


"Kangen yang lain." Kembali Tian Robert berbisik. Kali ini ia sambil.mengecup telinga istrinya.


"Ah, ingat tempat. Dasar pak tua mesum." gumam Nyonya Robert kesal.


"Pak Tua mesum ini suamimu lo sayang."


"Itulah hukuman buatku." keluh Nyonya Robert.


Tuan Robert tertawa.


Di kamar Aruna. Lais sedang berbincang dengan Revan via telepon


"Apa yang kau katakan?" Suara Lais meninggi.


"Aku melihat Anton membawa Angela. Katanya ia dipukul Tuan Robert hingga pingsan." jawab Revan dari seberang


Lais diam. Berbagai macam pikiran berkecamuk di kepalanya.


"Kemana Anton membawanya?"


"Aku tidak tahu. Yang jelas ia menyekapnya sampai surat pernyataan cerai selesai di buat. Dan pasti ia akan memaksa Angela tanda tangan."


"Begitu, ya. Baguslah. Setidaknya mamaku tidak akan menderita karena wanita itu lagi."


"Bagaimana Aruna dan kedua bayimu? Maaf aku belum sempat lihat."


"Nggak papa. Mereka sehat kok. Anak dan istrimu baika juga kan?"


"Baik. Aku akan kesana saat ada yang menemani istriku."


"Ok. Aku tunggu."


Panggilanpun berakhir.


"Sayang, berangkatlah. Aku tidak apa-apa kok sendirian."


"Iya. Nanti kalau bu Ira datang. Tadi aku sudah memintanya datang." Lais mendeka ke box bayi. Ia menatap kedua anaknya yang lelap. Lalu berjalan ke arah Aruna.


"Apa masih sakit?"


"Apanya?"


"Itu. Masih sakit ya? Mengeluarkan dua bayi pasti sangat menyakitkan."


Aruna menggeleng, "Sakit memang, tapi sakitnya hilang saat melihat mereka."


"Jadi sudah nggak sakit?"


Aruna mengangguk.


"Jadi sudah bisa dikunjungi?"


"Apa?!? Ya belum lah. Tunggu empat puluh hari lagi."


"Ah kelamaan, apa tidak bisa dipercepat? Tanyakan ke perawat, mungkin ada obat untuk mempercepatnya!" Lais berkata sambil menduselkan wajahnya ke dada Aruna.

__ADS_1


"Nggak bisa sayang. Sabar." Aruna mengelus kepala Lais.


"Hm." Lais hanya mendengus.


tok tok tok


Lais langsung menarik kepalanya saat terdengar ketukan di pintu. Ia dan Aruna mengarahkan pandangannya ke.pintu.


Nyonya Robery masuk bersama dengan Tuan Robert.


"Mama. Tuan. Kalian datang." seru Aruna gembira.


Wajah ceria Tuan Robert langsung cemberut saat Aruna masih saja memanggilnya tuan.


"Cucu oma." Nyonya Robert melepaskan tangan Tuan Robery yang membelit pinggangnya. Ia langsung bergegas mendekati kedua cucunya.


Tuan Ribert terhuyung saat tanpa sengaja Nyonya Robert menghempaskan tangannya.


"Sayang, kau hampir membuatku jatuh." serunya.


Aruna dan Lais saling pandang mendengar Tuan Robert memanggil sayang.


"Aku keluar dulu." Lais mengecup.kening Aruna lalu hendak keluar.


"Lais! Papa ingin bicara." Tuan Robert menahan langkah Lais.


Lais diam abai.


"Cepatlah. Aku sibuk." jawab Laia dingin.


Tian Robert mendekat. Ia menyentuh lengan Lais.


"Papa minta maaf. Papa tahu kesalahan papa sangat besar padamu. Papa juga tahu jika permintaan maaf papa tidak akan bisa mengembalikan semuanya. Papa hanya berharap, kita bisa membangun keluarga yang sehat untuk cucu-cucu papa. Papa tidak mau mereka melihat kita terus berselisih. Jadi Lais, papa mohon maafkan papa." ucap Tuan Robert dengan suara bergetar.


Mata Aruna membola. Dia tidak.percaya kalau Tuan Robert yang angkuh itu akan merendahkan diri meminta maaf pada Lais.


Lais melengos.


Aruna dan Nyonya Robert memandang ayah dan anak itu dengan tatapan sendu.


"Maafkan papa. Hukum papa jika itu bisa membuatmu memaafkan papa." kembali Tuan Robert mengiba.


"Papa yakin minta hukuman?" tanya Lais dingin.


"Ya. Papa rela kau menghukum papa, asal kau memaafkan papa." Hati Tuan Robert sedikit berbunga saat Lais menanggapinya.


"Baiklah. Selama tiga bulan, papa harus tinggal sendiri. Tanpa berhubungan dengan kami. Aku yakin itu tidak sulit bagi papa kan?"


"Lais, papa bukan lagi orang yang dulu. Papa ingin melihat cucu papa. Bagaimana kamu bisa membiarkan papa tidak melihat mereka?" binar bahagia dalam hati Tuan Robert memudar mendengar syarat Lais.


"Hanya tiga bulan. Mama akan tinggal denganku."


"Eh..itu..." Tuan Robert kaget saat tahu ia juga tidak bisa bersama dengan istrinya. Padahal ia sudah merancang hal yang indah indah bersama Nyonya Robert.


"Keberatan?!"


Dengan berat, akhirnya Tuan Robert menggeleng.


"Tapi untuk malam ini, ijinkan mamamu menemani papa. Papa belum pulih benar jadi papa butuh mama."


"Aku akan kirim perawat." jawab Lais tegas.

__ADS_1


"Oh." Tuan Robert langsung lemas sambil menatap istrinya melas.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2