
"Sayang, kau yakin akan mengirim Mak Nah ke rumah sakit?" Aruna terus bertanya sambil.mengekori kemanapun Lais pergi. Ia merasa kaget saat mendengar kalau suaminya memutuskan mengirim mak Nah ke rumah sakit untuk menjaga anak dari orang yang sudah menolong mamanya.
"Ya. Itu yang terbaik." tegas Lais.
"Tapi Mak Nah kan tidak mengenal orang itu. Kasihan kan."
"Aruna, untuk saat ini mengirim Mak Nah ke sana adalah yang terbaik. Terbaik buat mama, dan buat Bu Ira juga." Lais memegang bahu Aruna dengan kedua tangannya. Matanya menatap manik hitam Aruna.
"Bu Ira?Kenapa bawa-bawa Bu Ira?" Aruna balas menatap Lais bingung.
"Sini duduk! Aku akan cerita dikit." Lais membimbing Aruna untuk duduk.
"Jadi singkatnya, Mak Nah dan Pak Munir pernah memiliki hubungan asmara, bahkan mereka mengikat janji setia. Sayangnya Pak Munir mengingkari sumpah setia mereka dengan menikahi Bu Ira. Sekarang mereka bertemu kembali. Aku khawatir rasa bersalah Pak Munir bisa menimbulkan penderitaan pada Bu Ira."
Aruna mengangguk angguk.
"Mm jadi begitu. Ya kalau begitu ceritanya memang mengirimnya jauh dari Pak Munir adalah yang terbaik."
"Tuh kan. Kamu juga punya pikiran yang sama denganku." Lais menekan dahi Aruna dengan telunjuknya.
"Ok, biar aku yang bicara dengan Mak Nah!"
"Begitu lebih baik." Lais bangkit, mengecup kening Aruna lalu melangkah pergi.
Di rumah sakit.
Anton mondar-mandir. Ia menunggu kedatangan Mak Nah dengan gelisah.
"Tuan Anton!" Suara lembut seorang wanita membuat Anton menoleh.
"Mak Nah, akhirnya Mak datang juga. Ayo, ikut aku, Mak!"
Mak Nah mengangguk dan segera mengikuti langkah kaki Anton.
"Tuan, Mak Nah sudah datang." Lapor Anton begitu ia dan Mak Nah sampai di kamar rawat anak Pak Malik.
Tiga kepala yang ada di dalam kamar langsung menoleh.
Mata Pak Malik melebar saat melihat wajah Mak Nah.
Dia
"Mak Nah, senang melihatmu." Nyonya Robert bangun dan menyambut Mak Nah.
"Nyonya, anda tidak apa-apa? Kenapa anda pergi tanpa memberitahu saya? Saya cemas memikirkan anda."
Nyonya Robert hanya tersenyum menjawab serentetan pertanyaan Mak Nah.
"Itu karena dia sangat mengkhawatirkan aku, Mak." sambar Tuan Robert. Ia mendekat dan merangkul pinggang istrinya posesif.
Mak Nah, Anton dan Pak Malik membuang muka jengah melihat kemesraan yang dipertontonkan oleh Tuan Robert.
"Ish, lihat tempat." Nyonya Robert menepis tangan suaminya dari pinggang ramping miliknya.
__ADS_1
"Mak, kenalkan ini Pak Malik."
Pak Malik mengangguk begitu namanya disebut. Mak Nah membalas dengan anggukan serupa.
"Pak Malik ini sudah berjasa menyelamatkan aku, jadi sekarang untuk membalas budinya, maukah Mak Nah menolongku menjaga putrinya yang sedang sakit ini?"
"Pak Malik harus bekerja. Dia tidak akan tenang bekerja jika putrinya nggak ada yang menemani." Nyonya Robert menjelaskan kondisi Pak Malik.
Kemana istri pria ini? Atau saudaranya yang lain. Mengapa nggak ada yang membantunya menjaga anaknya ini"
"Mak!"
Panggilan Nyonya Robert menyadarkan Mak Nah dari lamunannya.
"Eh iya Nyonya. Saya akan membantu Nyonya menjaga anak ini."
Begini juga baik. Dengan berada di rumah sakit, aku bisa menjauh dari Munir dan Ira. Belakangan ini aku benar-benar kesulitan menempatkan diriku di rumah besar itu.
"Baguslah. Masalah sudah teratasi. Pak Malik, saya dan istri pamit dulu. Jika ada apa-apa, sampaikan saja ke saya dan jangan sungkan."
"Terima kasih, Tuan." Pak Malik tersenyum.
"Mak, baik-baik di sini ya! Aku pulang dulu." Nyonya Robert memeluk Mak Nah sebelum akhirnya dibawa Tuan Robert pergi.
Kini tinggallah Mak Nah, Pak Malik dan putrinya yang masih belum sadarkan diri.
Mereka saling diam, canggung.
"Maaf, jadi merepotkan anda." Pak Malik memecah keheningan.
Pak Malik tersenyum tipis.
"Putri anda? Dia sakit apa?" Mak Nah bertanya sambil mengamati gadis yang mau beranjak remaja yang sedang berbaring tenang di depannya.
"Ia mengalami kelainan jantung sejak kecil. Ada sekat yang bocor, jadi harus dioperasi." jawab Pak Malik dengan nada sedih.
Kasihan sekali. Masih kecil sudah menderita sakit yang berat.
Mak Nah mendekat dan mengelus surai hitam putri Pak Malik penuh rasa sayang.
Pak Malik menatapnya.
Dia keibuan sekali. Nampak jelas rasa sayang yang ia salurkan lewat elusan tangannya.
"Sebelum operasi, bagaimana ia melewati hari-harinya?"
Pertanyaan Mak Nah mengagetkan Pak Malik.
"Seperti anak pada umumnya, hanya saja ia tidak bisa terlalu capek, mudah lelah, sering sesak nafas. Semula aku mengira penyakit biasa hingga belakangan ia mulai sering pingsan. Saat aku memeriksakan, dokter memutuskan untuk mengoperasinya sebelum terlambat."
Mak Nah mendengarkan kisah yang dituturkan Pak Malik sambil terus menatap gadis kecil itu.
"Maaf, kalau boleh tahu, dimana ibunya?"
__ADS_1
"Ibunya sudah meninggal saat melahirkannya." lirih Pak Malik.
"Oh, maaf."
"Tidak apa-apa."
Melihat usia Pak Malik ini, sepertinya nggak berbeda jauh denganku. Tapi kenapa anaknya masih sekecil ini?
"Anda pasti heran mengapa pria seusia saya memiliki anak yang lebih pantas menjadi cucu saya."
Mak Nah kaget. Ia mendongak menatap Pak Malik. Tatapan mereka bertemu. Mak Nah langsung mengalihkan pandangannya kembali ke putri Pak Malik.
"Dia datang setelah kami menanti untuk jangka waktu yang lama. Istri saya hamil saat usianya rentan. Sebenarnya dokter sudah menyarankan untuk mengambil bayinya karena usia dan kesehatan istri saya tidak mendukung kehamilannya. Tapi istri saya bersikukuh ingin melahirkan anak yang telah lama kami nantikan."
Wanita yang hebat. puji Mak Nah
"Istri saya mengidap asma. Saat proses melahirkan, asmanya kambuh. Ia mengalami sesak nafas hebat hingga akhirnya meninggal. Dan dokter segera melakukan operasi untuk menyelamatkan bayi kami. Dengan kebesaran Allah, bayi kami bisa diselamatkan."
Mak Nah menatap iba anak perempuan yang terbaring di hadapannya itu.
Kasihan sekali kau nak. Tidak bisa melihat ibu yang melahirkanmu.
"Maaf, saya harus bekerja. Saya nitip anak saya." pamit Pak Malik sambil berdiri.
"Ah iya. Silahkan! Saya akan menjaga..."
"Seruni. Namanya Seruni."
"Iya. Saya akan menjaga Seruni untuk anda."
"Terima kasih. Saya berangkat dulu. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Mak Nah menarik kursi agar dekat ke ranjang Seruni. Ia lantas duduk sambil terus menatap wajah manis Seruni. Karena lelah, Mak Nah akhirnya terlelap sambil duduk di sebelah Seruni.
Beberapa saat kemudian, Mak Nah terjaga karena merasakan sentuhan di kepalanya.
"Ibu."
Sayup-sayup, Mak Nah mendengar suara lirih memanggil ibu.
Mak Nak mengangkat kepalanya. Ia melihat Seruni sudah sadar dan sedang menatapnya.
"Ibu! Ibu datang? Apa ibu akan membawa Seruni pergi?"
"Seruni, kau sadar. Aku akan memanggil dokter."
"Ibu jangan pergi!" Seruni menahan tangan Mak Nah.
Anak ini pasti sangat merindukan ibunya hingga memanggilku ibu.
"Ibu tidak akan pergi. Ibu hanya akan memanggil dokter. Seruni baik-baik di sini ya!"
__ADS_1
"Janji, ibu tidak pergi!" Mata Seruni menatap penuh harap.
"Janji." Mak Nah mengelus rambut Seruni dan mengecup keningnya sebelum ia pergi untuk mengabarkan kesadaran Seruni kepada dokter.