
Nyonya Robert melirik jam di dinding berkali-kali. Ia gelisah karena Lais dan Aruna tak kunjung tiba. Biasanya anak dan menantunya akan datang pagi untuk bergantian menjaga Tuan Robert.
"Nyonya duduk saja dengan tenang. Mungkin mereka terkena macet." Mak Nah menenangkan Nyonya Robert.
"Bukan begitu, Mak. Aku tidak bisa menghubungi keduanya." Nyonya Robert mendesah cemas.
tok tok tok.
Pintu kamar dibuka dari luar. Seorang dokter dan dua perawat masuk.
"Selamat pagi, Nyonya!" sapa dokter yang merawat Tuan Robert. Nyonya Robert mengangguk sambil tersenyum ramah.
"Tumben, biasanya saat visit saya akan menjumpai menantu Nyonya yang cantik itu. Kemana dia?" tanya sang dokter.
Tuan Robert memasang telinga saat mendengar dokternya memuji Aruna.
"Itulah dokter, saya juga sedang menunggunya." balas Nyonya Robert dengan wajah gelisah.
"Sayang sekali ya." gumam sang dokter.
"Kenapa sayang?!" Tuan Robert menyambar dengan ketus.
"Ah Tuan. Sampai lupa." sang dokter lalu mendekati Tuan Robert.
"Kenapa dokter bilang sayang tadi? Apa karena tidak berjumpa dengan menantuku? Dia memang cantik, tapi dia istri anakku." Tuan Robert memandang geram sang dokter. Ia mengira sang dokter bermaksud menggoda Aruna.
Nyonya Robert menggeleng-gelengkan kepalanya melihat keposesifan Tuan Robert terhadap menantunya
Hmm dulu saja dihina-hina, sekarang disayang-sayang.
Sang dokter tertawa. Dia lalu mulai mengecek perkembangan Tuan Robert sambil bicara, "Tuan benar. Saya memang merasa sayang tidak bertemu dengannya. Saya akui dia bukan hanya cantik dan menarik, tapi dia baik dan pintar. Tapi tuan jangan khawatir, saya hanya sebatas suka, tidak lebih. Karena saya pria setia. Tidak peduli apapun, saya tidak akan menduakan istri saya."
Jleb.
Jawaban sang dokter langsung menusuk hati tuan Robert. Ia merasa jawaban itu ditujukan padanya. Tuan Robert langsung melengos malas.
"Keadaan tuan sudah jauh lebih baik. Jika besok tetap dalam kondisi ini, tuan bisa pulang dan rawat jalan saja." Kata sang dokter sambil mencatat perkembangan kondisi tuan Robert.
"Hem." dengus Tuan Robert.
"Jadi besok sudah boleh pulang dokter?" Nyonya Robert memastikan.
"Iya. Setelah hasil pemeriksaannya besok keluar dan hasilnya bagus, maka Tuan Robert sudah boleh pulang."
"Terimakasih dokter."
Sang dokter hanya mengangguk lalu keluar.
"Kenapa kau tidak menghubungi mereka?" tanya Tuan Robert begitu dokternya pergi.
__ADS_1
"Maksudmu Lais dan Aruna?"
"Siapa lagi." jawab Tuan Robert dengan nada kesal.
"Kau pikir yang aku lakukan dari tadi apa? Aku sudah berusaha menghubunginya tapi nggak bisa. Bahkan Revan dan Pak Munir juga sama." jawab Nyonya Robert sambil sibuk dengan ponselnya.
"Aku takut ada apa-apa dengan mereka."
"Jangan berpikir macam-macam. Mereka akan baik baik saja. Aku akan menyuruh Anton untuk mencari tahu." Tuan Robert lalu meraih ponselnya dan menghubungi Anton.
"Hallo, Tuan."
"Anton, kau cari Lais. Ia tidak bisa dihubungi!" titah Tuan Robert langsung.
"Baik, Tuan." jawab Anton.
Tuan Robert mengakhiri panggilannya.
"Sudah kamu tenang saja. Sebentar lagi Anton pasti akan memberi kabar." Tuan Robert menatap istrinya dengan tatapan sayang.
"Kemarilah!" pintanya kemudian.
Nyonya Robert mengernyitkan alisnya ngeri melihat tatapan mesra Tuan Robert yang justru ia rasakan sangat horor.
"Aku di sini saja." Nyonya Robert malah ngejugruk di sofa.
"Kemarilah! Aku butuh bantuanmu." rayu Tuan Robert.
"Apa?!" tanyanya galak.
Tuan Robert tersenyum. Tangannya terulur mencubit bibir manyun istrinya membuat Nyonya Robert melengos kesal.
Mak Nah yang bisa melihat situasi, keluar tanpa suara.
"Jangan usil. Butuh bantuan apa?" Mata Nyonya Robert mendelik.
"Jangan galak-galak! Nanti cantiknya hilang." Tuan Robert meraih tangan istrinya dan menggenggamnya.
"Apaan sih. Lepas!" Nyonya Roberr menyentakkan tangannya hingga lepas.
Tuan Robert tersenyum. "Kenapa aku baru nyadar kalau kamu semakin cantik saat galak begini."
"Gombal." Nyonya Robert berbalik. Saat ia akan melangkah, tangannya kembali dicekal oleh Tuan Robert.
"Bantu aku! Jangan pergi dulu!"
"Bantu apa? Jangan modus ya!" Nyonya Robert melayangkan tatapan mautnya.
Tuan Robert mengerutkan dahinya. Wajahnya berubah serius, "Kenapa dengan telingamu?" Ia menunjuk telinga istrinya.
__ADS_1
"Apaan sih? Telingaku nggak papa." jawab Nyonya Robert sambil berusaha melepaskan tangannya.
"Diam dulu!" Suara Tuan Robert tegas dan keras.
"Kenapa telingamu beda? Kayak bengkak deh yang sebelah. Apa sakit?" Mata Tian Robert terus menatap ke arah telinga Nyonya Robert.
"Tiap hari aku melihatnya sama nggak ada bedanya." Masih belum terpengaruh oleh ucapan suaminya.
"Justru karena tiap hari lihat jadi nggak tahi bedanya. Aku kan jarang lihat, jadi tahu. Serius ini apa telingamu sakit?" Tuan Robert menunjukkan wajah cemas.
"Jangan ngarang. Orang telingaku baik-baik saja." Nyonya Robert meraba telinganya. Meski mulutnya bilang baik-baik saja, namun hatinya mulai merasa khawatir melihat tampang serius suaminya.
"Coba aku lihat dari dekat, menunduklah!" Tuan Robert mengulurkan tangannya ke arah telinga istrinya. Nyonya Robert yang mulai was-was jika apa yang dikatakan suaminya itu benar, menunduk.
Saat wajah Nyonya Robert sudah mulai dekat, tangan Tuan Robert yang terjulur ke telinganya malah beralih ke tengkuknya. Ia menarik tengkuk Nyonya Robert dengan cepat dan melabuhkan ciuman di bibir istrinya.
Mata Nyonya Robert melotot kaget, tangannya bergerak hendak mendorong dada suaminya namun ia ingat jika suaminya baru operasi. Alhasil, tangan itu berhenti di udara.
Tian Robert yang melihat istrinya diam tanpa ada perlawanan, semakin menekan bibir Nyonya Robert. Ia bahkan menggigit kecil bibir bawah istrinya agar terbuka. Tangan kanannya beralih meraih pinggang Nyonya Robert dan menariknya hingga tubuh istrinya jatuh menimpanya.
Tuan Robert melepaskan tautan bibirnya saat ia merasakan nafas istrinya mulai tersengal. Tangannya tetap menahan tengkuk dan pinggang Nyonya Robert. Nyonya Robert terpaku syok dengan apa yang barusan terjadi.
"Maafkan aku." bisik Tuan Robert. "Jangan pergi dariku! Aku mohon." Mata Tuan Robert menatap istrinya lembut.
"Aku..aku."
"Aku sudah meminta Anton mengurus perceraianku. Percayalah, anak yang ia kandung bukan anakku. Maafkan kebodohanku. Aku berpikir dengan menjadi terhormat dan memiliki kekuasaan, hidupku akan bahagia. Namun sejak kalian pergi, hidupku terasa hampa. Selama ini aku terlalu angkuh untuk mau mengakui jika aku tidak bisa hidup tanpa kalian. Tapi kali ini, aku jujur. Aku membutuhkan kalian." Tangan tuan Robert mengelus pipi istrinya yang masih termenung memikirkan semua ucapannya.
"Maukah kau memaafkan aku? Aku akan mengembalikan perusahaan ke tangan Lais. Aku tidak akan mengurusinya lagi. Aku ingin hidup tenang bersamamu sambil.mengasuh cucu kembar kita."
"Kau serius?" bisik Nyonya Robert antara percaya dan tidak.
"Aku serius!" menatap mata Nyonya Robert intens.
"Agar kau semakin yakin, aku juga akan meminta maaf pada Lais dan Aruna." sambungnya.
Wajah pria itu menampakan ekspresi sungguh-sungguh. Ia menyalurkan semua perasaan sesalnya pada sorot mata yang syahdu.
Dia tampak bersungguh-sungguh. Haruskan aku memberinya kesempatan ke dua? Tapi bagaimana kalau dia mengulanginya lagi?
"Aku..aku..mmph."
Melihat istrinya ragu, Tuan Robert
kembali menarungkan bibirnya dengan bibir tipis manis yang sudah lama ia rindukan membuat yabg empunya kaget.
Nyonya Robert memejamkan mata saat gelenyar aneh yang sudah lama tidak ia rasakan kembali hadir berputar putar di tubuhnya. Makin lama ia makin menikmati sentuhan pria yang masih ia cintai meski telah membuatnya sakit.
Sepasang suami istri itu larut dalam rasa yang kembali membara setelah padam karena kehadiran orang ketiga hingga tidak menyadari ada sepasang mata yang terbelalak menyaksikan adegan live itu.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...