
"Ren!" seru Revan manakala melihat Rendy sedang duduk terikat pada sebuah kursi di dalam ruangan itu. Mata Rendy membola seakan memperingatkan Revan untuk tidak masuk, namun Revan terlambat menyadarinya. Lais juga berusaha mencegah Revan tetapi pria itu kalah cepat dengan seorang pria yang tiba-tiba membekap Revan dari belakang dan membiusnya dengan sapu tangan. Seketika tubuh Revan lemas.
Lais mengepalkan tangannya. Kini ia sendirian dan ia harus bisa mengatasi masalah ini. Ia harus mampu menyelamatkan bukan hanya Aruna tapi juga Revan dan Rendy. Melihat orang-orang yang ia sayangi berada dalam bahaya, keberanian Lais muncul. Ia bersiap saat pria yang membius Revan berjalan ke arahnya. Lais mundur mencari tempat yang lebih luas. Lais sebenarnya bukan pria lemah. Ia mampu bela diri namun selama ini tidak pernah menggunakan kemampuannya secara nyata selain saat berlatih. Kini ia dihadapkan pada kenyataan, perkelahian yang sebenarnya.
Pria bertubuh besar dan berwajah sangar itu terus merangsek maju. Melihat wakah tampan Lais, ia yakin pria dihadapannya ini selemah temannya. Rendy menatap kedua pria yang hendak bertarung itu dengan tatapan khawatir dan juga cemas.
Pria besar itu mulai melayangkan pukulan tangan kanannya ke arah Lais. Lais mengelak dengan gesit. Pria itu tampak tidak senang karena serangannya meleset. Ia kembali menyerang. Lagi-lagi Lais menghindar.
"Hai bocah tampan! Apa kau hanya bisa mengelak, ha?! Ayo hadapi aku!" tantang pria besar itu.
Ini hanya latihan. Ku anggap dia lawan latihan. batin Lais mengatasi groginya.
"Majulah!" tantang Lais. Ia bertekad kali ini akan membalas serangan pria.
Pria itu kembali menyerang. Ia mengayunkan tangan kanannya. Sasarannya adalah wajah tampan Lais. Lais merunduk dan memutar tubuhnya lalu dengan cepat ia mengayunkan kakinya menendang tengkuk pria itu hingga ia tersungkur mencium lantai.
Pria itu bangun dan menggeram. Darah keluar dari hidungnya karena menabrak lantai dengan keras.
"Kau!! Cari mati kau ya!!"
Dengan membabi buta ia menyerang Lais. Lais dengan cekatan menghindar dan membalas. Setelah beberapa kali serangannya mampu mengenai lawannya, Lais semakin percaya diri. Pria sangar oti dibuatnya babak belur.
Rendy bernafas lega saat tahu Lais mampu menjaga diri.
"Dasar lemah!" sebuah suara menghentikan perkelahian antara Lais dan pria sangar itu. Angela muncul sambil menyeret Aruna yang tangannya terikat.
"Tuan!" seru Aruna cemas melihat Lais berdiri sendirian menghadapi pria sangar itu. Mata Lais menatap penuh rindu pada Aruna. Tubuhnya menjadi bergetar saat ia bersitatap dengan Angela.
Aruna kian cemas melihat kondisi Lais. Sedangkan Angela justru tertawa sinis.
"Hahaha dasar pria penyakitan!" cemoohnya pada Lais.
"Suamiku bukan pria penyakitan!" teriak Aruna tidak terima dengan ucapan Angela. Ia berontak dan Angela justru menarik rambutnya.
"Aww " Aruna berteriak kesakitan.
__ADS_1
"Lepaskan istriku!" bentak Lais dengan suara sedikit bergetar.
Angela kian kencang tertawa.
"Sayang sekali. Aku tidak boleh menyakitimu. Jika tidak, pasti aku sudah menyuruh pengawal ku menghajarnu." ejek Angela.
Lais terus berusaha menguasai dirinya, mengatasi rasa takutnya pada Angela. Mengusir bayangan menakutkan saat dulu ia diculik Angela.
"Apa maumu?" tanya Lais. "Lepaskan istriku, aku akan memberikan apapun yang kau mau."
"Hahaha... Oh ya? Apa kau juga akan memberikan kedua teman tampanmu itu padaku?" kata Angela dengan senyum yang menggoda.
Lais terdiam. Ia tahu apa maksud Angela. Wanita penyuka pria muda.
"Tuan! Tuan jangan dengarkan wanita iblis ini! Arrgh!" Aruna kembali mengaduh saat Angela menarik kuat rambutnya.
"Jangan sakiti istriku!" Hilang sudah rasa takut Lais demi melihat wajah kesakitan Aruna. Ia maju mendekati Angela namun pria sangar lawannya tadi segera menghadangnya. Lais menghantam wajah pria itu dengan keras hinga ia terhuyung ke samping.
Aruna memekik ngeri. Angela terbelalak tak percaya kalau pria penyakitan dihadapannya itu mampu memukul dengan kekuatan sebesar itu
Ia kemudian menyerang Lais, namun Lais berhasil. menyarangkan dua pukulan dan satu tendangan ke tubuhnya hingga pria itu terjerembab dan tidak bangun lagi.
Setelah melumpuhk
an pengawal Angela, kini Lais menatap tajam Angela.
"Lepaskan dia atau..."
"Atau apa ha?! Kau maju selangkah saja, dia akan mati!" ancam Angela. Ia menghunuskan pisau ke leher Aruna membuat Lais terdiam.
Aruna khawatir Lais akan kembali mengingat trauma masa kecilnya, segera ia berkata, "Tuan, aku tidak apa-apa." Aruna berusaha menenangkan Lais yang sedang memikirkan cara untuk membebaskan Aruna, Revan dan Rendy tanpa melukai salah satu dari mereka.
"Lepaskan dia, Angela!" sebuah suara bariton yang penuh wibawa mengagetkan Angela Ia menatap ke arah pria yang baru saja datang.
"Papa!" seru Lais.
__ADS_1
Angela terbelalak kaget saat Lais memanggil papa pada pria itu. Ia langsung mengingat kejadian dimana ia menculik anak dari pria yang berdiri dengan angkuh dihadapannya.
"Robert. Bagaimana kau sampai kemari?" kata Angela gugup.
"Lepaskan Aruna. Kenapa kau menculik menantuku?" tanya Tuan Robert. "Kau masih tidak berubah ternyata. Apa harta yang aku kasih masih kurang banyak?" Ada nada marah dalam kata-kata Tuan Robert.
"Aku.. aku." Angela tidak mampu menjawab. Ia kehabisan kata saat tertangkan basah oleh Tuan Robert.
"Dan kau masih suka bermain dengan pria pria muda juga ha?"
"Tidak. Aku sudah tidak, pernah melakukannya Robert. Percayalah!" Angela menjatuhkan pisaunya dan melepaskan cengkeraman tangannya dari pergelangan tangan Aruna. Ia mendekati Tuan Robert dan memegang lengan Tuan Robert.
Tuan Robert memalingkan mukanya. Sementara Lais segera melepaskan ikatan tangan Aruna.
"Robert, percayalah. Hanya kau satu satunya." Angelina terus berusaha meyakinkan Tuan Robert
Lais tersentak mendengar ucapan Angela.
"Pa?!" kata Lais meminta penjelasan.
"Dia anakmu?" tanya Angela. "Dia anak. kecil yang waktu itu?" Wajah Angela memucat.
"Kenapa Angel?Kenapa kau mengulangi kesalahan yang sama. Apakah kurang pemberian dariku?" keluh Tuan Robert.
"Pa!" Lais menyela percakapan antara papanya dan Angela. "Jelaskan semua ini!" katanya dengan nada marah. Ia bukan anak kecil lagi. Ia bisa menebak apa yang terjadi antara papanya dan Angela. Wanita yang telah membuatnya trauma.
"Maafkan papa Lais." jawab Tian Robert lemah.
"Papa tidak perlu minta maaf padaku, tapi pada mama!" seru Lais. Ia lalu menarik tangan Aruna dan meninggalkan mereka. Saat melewati ruangan tempat Revan dan Rendy, Lais sudah tidak melihat kedua pria itu. Ia berpikir kalau kedua pria itu telah berhasil. melarikan diri.
Tanpa Lais dan Tuan Robert sadari, ada tiga pasang telinga yang menguping percakapan mereka dari balik dinding. Senyum kemenangan tersungging di bibir salah satu dari ketiganya karena rencananya berhasil.
"Ayo kita pergi!" kata wanita itu sambil. berlalu diikuti kedua wanita yang lain.
Yaah.. Tuan Robert main belakang sama Angela.
__ADS_1