
Tiga hari berlalu sejak menghilangnya Aruna dan juga kepergian Nisa. Lais masih dalam kondisinya yang harus memerangi rasa takut akibat traumanya. Dokter Sammy senantiasa mendampinginya, pun Revan selalu berusaha menguatkan Lais.
Ny. Robert nampak sangat terpukul melihat keterpurukan putranya itu. Ia berkali kali merengek pada suaminya agar menyuruh orang orangnya untuk mencari Aruna seperti dulu ia mencari Lais saat anak itu diculik.
"Aku sudah menyebar orang-orang kepercayaanku Ma. Tapi belum ada petunjuk satupun yang mereka dapatkan. Aruna bagai hilang ditelan bumi." jawab Tuan Robert untuk menenangkan rengekan istrinya.
"Tapi Lais, Pa. Lais akan kembali hancur kalau Aruna tidak segera ditemukan." derai air mata kembali membasahi kedua pipi Ny Robert mengingat nasib putranya itu.
Tuan Robert mengusap wajahnya dan menggertakkan giginya menahan rasa kesal atas sikap dan rengekan istrinya yang membuatnya tambah bingung.
"Papa keluar dulu. Mau angkat telpon." kata Tuan Robert saat ponselnya berdering.
Nyonya Robert memandangi wajah Lais yang sedang tertidur karena pengaruh obat yang diberikan dokter Sammy. Dielusnya wajah putranya itu. Ia menunduk lalu membisikkan sesuatu ke telinga Lais. Dia segera menarik kepalanya menjauh dari Lais saat pintu kamar Lais dibuka orang yang ternyata Tuan Robert.
"Dari siapa Pa?Apa ada kabar Aruna?" tanya Ny Robert sambil melihat wajah suaminya. Tuan Robert menggeleng.
"Pa, bukan papa kan yang menyuruh orang menculik Aruna?" tanya Ny Robert yang membuat suaminya langsung memberikan tatapan tajam menghunus ke arahnya.
"Apa mama sudah gila punya pikiran seperti itu, ha?" jawab Tuan Robert gusar.
"Ya, karena setahu mama, papa tidak menyukai Aruna." jawab Ny Robert masih dengan melihat wajah suaminya sambil meneliti ekspresinya. Ny Robert berusaha melihat kejujuran di wajah suaminya itu.
"Aku memang tidak menyukainya dan berharap Lais bisa mendapatkan wanita yang lebih darinya. Tapi aku masih waras untuk tidak membuat anakku sendiri hancur, Ma." jawab Tuan Robert tanpa ragu.
Ny. Robert mendesah. Ia kembali menatap wajah Lais.
"Kesembuhannya sudah di depan mata. Tapi sekarang kondisinya kembali ke titik semula." desah Ny Robert. Tuan Robert menghampiri istrinya dan memegang kedua pundak istrinya yang sedang duduk membelakangi nya.
"Terima kasih. Kasih sayangmu pada Lais sangat besar. Terima kasih. Lais beruntung memiliki kamu sebagai mamanya."
Nyonya Robert memegang tangan suaminya dan menepuk tangan itu.
"Dia anakku, tentu aku menyayanginya. " jawab Ny Robert.
__ADS_1
"Kalau begitu tenanglah. Kasih sayangmu dan doamu akan membantu kesembuhannya. Aku akan terus berusaha menemukan Aruna." Tuan Robert mencoba menenangkan istrinya.
"Pa, jika Lais nggak kunjung sembuh, dan Aruna nggak diketemukan. Kelanjutan keluarga Adley yang akan dipertaruhkan. Apa papa sudah memikirkan hal itu?" tanya Ny Robert.
Tuan Robert menghela nafas berat. "Apa kata nanti Ma." jawabnya pendek.
Mereka berdua menoleh ke arah pintu saat ada yang mengetuknya.
"Selamat siang Tuan, Nyonya." sapa Revan.
"Selamat siang. Bagaimana keadaan kantor?" tanya Tuan Robert mengingat sudah tiga hari ini Revan lah yang mengurusi segalanya.
"Masih bisa dihandle Tuan. Tapi banyak investor yang ingin bertemu dengan Tuan Lais. Sementara saya katakan Tuan Lais sedang ke luar kota."
"Baguslah.Jangan sampai mereka tahu kalau Lais dalam kondisi seperti ini." kata Tuan Robert mengingatkan Revan.
Revan mengangguk mengiyakan perintah Tuan Robert.
"Ayolah Ma. Mama juga haruan istirahat." bujum Tuan Robert. Akhirnya Ny Robert berdiri.
"Revan, aku titip Lais." kata Ny Robert sebelum pergi meninggalkan Lais.
Setelah kedua orang tua Lais pergi, Revan duduk di sisi Lais.
"Lais, istriku pergi mencari istrimu. Dan anehnya dia juga belum menemukan titik terang. Lais, ayo!Lawan rasa takumu itu. Bangkitlah. Kita pergi bersama mencari Aruna. Kau tahu aku sudah sangat merindukan Nisa. Tidakkah kau rindu pada Arunamu?" Revan bicara. Ia berharap kata-katanya masuk ke alam bawah sadar Lais yang tengah terlelap.
"Dulu kau takut dan tidak bisa berbuat apa-apa karena kau masih kecil. Sekarang lihatlah. Kau punya kuasa. Lais ayolah!!!" Revan terus bicara hingga ia lelah dan mulai putus asa. Revan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia benar benar putus asa. Ia tidak bisa menyuruh orang untuk bergerak mencari Aruna. Ia takut hal itu justru membahayakan Aruna karena ia sama sekali tidak tahu siapa musuhnya kini. Bayangannya hanya satu orang yang mungkin, Angela. Tapi jika Angela menculik Aruna pasti ada kaitannya dengan Rendy dan Rendy tidak mungkin melangkah sendiri tanpa memberitahu dirinya. Bahkan sekarang Rendy juga menghilang.
Kali ini kekuasaan Lais yang ada ditangannya sangat tidak berguna. Para pengawal Aruna juga tidak bisa memberikan keterangan apapun selain mereka melihat ada mobil yang menabrak mereka dan kepulan asap yang membuat mereka pingsan. Pun guru les Aruna yang baru.
"Akhirnya ocehanmu berhenti juga." Perkataan singkat Lais membuat Revan tersentak. Ia melepaskan kedua tangannya dari wajahnya dan menatap tajam ke arah Lais.
"Kau?!" seakan tak percaya Revan melihat Lais malah tersenyum.
__ADS_1
"Apa kabar?" sapa Lais masih dengan senyumnya. Ia bangun dari tidur dan duduk.
Revan menonjok bahu Lais lalu memeluknya. "Maaf!" bisiknya pada Lais.
"Aku yang seharusnya minta maaf karena sudah membuatmu khawatir." Lais menepuk punggung Revan.
"Sudah. Jangan cengeng. Kita harus mencari Aruna." kaya Lais sambil. melepas pelukan Revan. Lais menyibak selimut yang masih menutupi bagian tubuhnya kemudian turun dari ranjang.
"Tunggulah di luar! Aku mau mandi." kata Lais.
"Kau yakin?" Revan masih tidak percaya melihat perubahan Lais yang begitu mendadak bagai sebuah keajaiban.
Lais mengangguk. "Kau benar, aku harus mampu mengatasi ini dan aku tidak mau Aruna mengalami hal yang sama denganku."
"Lais! Kau begitu tenang. Apa benar kau baik-baik saja?"
"Sudah, keluarlah!" Lais mendorong tubuh Revan agar keluar dari kamarnya. Lais menutup pintu kamar begitu Revan sudah ada di luar. Ia berdiri sambil. menempelkan badannya di pintu. Matanya terpejam dan tubuhnya bergetar.
Aku harus bisa melawan ini semua. Aku tidak boleh lemah. Aruna membutuhkan aku.
Dengan terseok Lais melangkah ke kamar mandi. Ia membayangkan Aruna dan mengingat semua perkataan Aruna. Lais membayangkan bahwa saat ini ia tidak sendirian. Akan ada banyak orang bersamanya. Tidak seperti saat di kamar yang kecil dan pengap itu.
Setelah cukup lama berusaha, perlahan Lais mampu menguasai rasa takutnya. Kini ia menatap penampilannya dalam pantulan cermin.
"Tunggu aku sayang. Aku akan menyelamatkanmu." gumam Lais.
...🍃🍃🍃...
Jangan lupa like n comentnya ya...
mohon dimaafkan lama upnya
karena banyak kesibukan
__ADS_1